
Harold membawa Maysa ke dalam restoran mewah yang sudah ia sewa khusus untuk mereka berdua, malam ini Harold ingin menikmati waktu berdua dengan istrinya itu sebelum besok ia akan pergi ke luar negeri bersama mister Rendy. Meski berat rasanya bagi Harold untuk melakukan itu, namun ia sendiri juga tak bisa berbuat apa-apa.
Maysa tentu amat bahagia dengan kejutan yang diberikan Harold saat ini, ia tak menyangka Harold telah menyiapkan banyak kejutan untuknya dan membuatnya serasa menjadi sosok istri yang paling bahagia di muka bumi. Kini keduanya duduk saling berhadapan disana, dan di depan mereka sudah terdapat makanan yang cukup banyak dan bervariasi sesuai kesukaan wanita itu.
Harold benar-benar mencintai Maysa, itu sebabnya ia sangat berat jika harus meninggalkan Maysa sendiri di rumahnya nanti. Meski terdapat banyak pengawal dan juga keluarganya, tapi tetap saja Harold tidak akan tenang jika bukan dirinya sendiri yang memastikan bahwa Maysa akan baik-baik saja dan tidak terluka.
"Mas, ini semua terlalu berlebihan gak sih? Kamu kok ya selalu aja gak bilang dulu kalau mau ajak aku makan malam begini?" ucap Maysa masih syok.
"Ya enggak dong, masa aku bilang? Kalau bilang, nanti jadinya bukan kejutan dong. Lagian aku kan pengen bikin kamu happy sayang, setelah semalam kamu sedih karena nyariin aku," ucap Harold.
"Ih kebiasaan kamu mah selalu bisa godain aku, dasar duda liar yang mesum!" cibir Maysa.
__ADS_1
"Hahaha, mesum-mesum gini juga kamu suka kan? Buktinya kamu tadi sampai gak mau udahan pas main sama aku," goda Harold.
"Mas Harold ih!!"
Maysa yang kesal pun menyerang lengan Harold dengan berbagai cubitan, ia tak terima jika Harold terus menggodanya seperti itu. Bukannya marah atau emosi, Harold justru tertawa puas dengan apa yang dilakukan Maysa saat ini. Harold pastinya akan merindukan momen seperti ini nantinya, yang tak mungkin bisa ia dapatkan dari wanita lain.
Tiba-tiba saja, wajah Harold berubah menjadi melamun seperti tengah memikirkan sesuatu. Maysa menyadari hal itu dan tampak penasaran, ya tentu Maysa heran mengapa mendadak Harold malah terdiam bersedih saat ini. Padahal, sedari tadi pria itu terus saja tertawa dan menggodanya tanpa henti.
Harold pun tersadar kembali dan reflek menatap wajah istrinya, ia tersenyum tipis lalu meraih satu telapak tangan Maysa untuk digenggam. Harold mengusap lembut tangan mulus itu, sembari memikirkan nasibnya disana nanti. Rasanya cukup sulit bagi Harold untuk menceritakan semua itu kepada istrinya, karena ia khawatir Maysa tidak akan rela ditinggal olehnya dalam waktu lama.
"Mas, kamu itu sebenarnya kenapa sih? Ada yang lagi kamu sembunyiin ya dari aku? Kalau iya, kamu kasih tahu dong ke aku, mas!" pinta Maysa.
__ADS_1
"Eee gak ada kok sayang, kita makan aja yuk! Kasihan ini makanannya nanti pada dingin dianggurin terus, ngobrolnya kan bisa nanti lagi!" ucap Harold mengalihkan pembicaraan.
Maysa merengut dibuatnya, "Mas, aku gak suka ya kalo kamu alihin topik kayak gitu!" ujarnya kesal.
"Hah? A-aku kan cuma pengen kita makan dulu sayang, iya deh nanti aku cerita ke kamu. Tapi, setelah kita berdua selesai makan ya?" bujuk Harold.
"Gak mau, pokoknya cerita sekarang atau aku ngambek nih sama kamu!" pinta Maysa.
Harold terdiam saat itu, ia menunduk lesu seraya menghela nafasnya dan berpikir keras apakah ia harus menceritakan semua itu pada Maysa atau tidak. Sedangkan Maysa sudah sangat penasaran disana, wanita itu terus mencecar Harold dan meminta Harold menjelaskan semua mengenai penyebab mengapa pria itu tiba-tiba bersedih.
•
__ADS_1
•