
Maysa yang baru keluar bersama Saskia dibuat terkejut dengan keberadaan Clara disana, ya tampaknya Clara lah yang sedari tadi membuat keributan dan mencari masalah di depan sana. Sontak Maysa bergerak cepat menghampiri wanita itu, ia penasaran apa sebenarnya yang sedang diributkan oleh Clara dan para penjaga di rumahnya itu sampai terdengar ke dalam ruang dapur.
Melihat keberadaan Maysa di depan matanya, Clara langsung beralih menatapnya dan berniat mendekat ke arah wanita itu. Akan tetapi, para penjaga di dekatnya spontan menahan niat Clara yang ingin bergerak menghampiri Maysa. Ya sesuai perintah dari Harold, maka mereka ingin menjaga Maysa dari orang seperti Clara yang dianggap berbahaya.
"Ish lepas, kalian apa-apaan sih! Saya cuma mau ketemu Maysa, saya gak ada niat jahat kok disini. Asal kalian tahu, saya dan Maysa itu udah baikan dan diantara kami gak ada masalah lagi!" sentak Clara meronta-ronta.
Namun, dua orang penjaga itu tidak menggubris perkataan Clara dan tetap menahan lengan Clara agar tak mendekat ke arah Maysa. Mereka tidak ingin berbuat salah, karena pasti Harold nanti akan menghukum mereka jika sampai begitu. Meski Clara mengatakan bahwa ia telah baikan dengan Maysa, tapi tetap saja mereka harus berjaga-jaga.
"Pak Edwin, pak Sandi!" Maysa tiba di dekat mereka dan memanggil kedua penjaga itu.
"Siap bu Maysa! Tenang bu, kami sudah amankan bu Clara dan beliau tidak akan bisa masuk ke dalam rumah!" ucap Edwin.
"Jangan pak Edwin! Lepasin tangan Clara, kasihan dia kesakitan!" pinta Maysa.
Kedua penjaga itu kompak terkejut mendengar permintaan Maysa, mereka tak percaya jika Maysa malah meminta sesuatu yang tidak masuk akal. Kalau sampai Clara terlepas dari genggaman mereka, maka bukan tidak mungkin jika Clara akan berbuat nekat dan masuk ke dalam untuk menemui Zanna yang merupakan putrinya.
"Tapi bu, gimana kalau—"
"Gapapa pak, lepasin aja tangan Clara! Dia udah janji kok buat enggak macam-macam lagi, dia juga kemarin udah minta maaf sama saya!" sela Maysa.
"Eee ba-baik bu.." perlahan Edwin dan Sandi melepas lengan Clara sesuai permintaan Maysa.
Kini Clara pun tampak menghentak kesal dan langsung bergerak menghampiri Maysa disana, seperti biasa Clara tentunya akan berakting di depan Maysa untuk bisa meyakinkan wanita itu kalau ia sudah benar-benar berubah. Meski pada dasarnya, semua yang Clara lakukan hanyalah akting belaka dan ia tidak sungguh-sungguh memaafkan Maysa.
"Huh Maysa, untung aja kamu cepat-cepat keluar! Kalau enggak, tadi aku pasti udah diusir sama mereka ini!" ucap Clara mencibir.
__ADS_1
"Iya Clara, maaf ya atas sikap mereka? Kamu masuk aja yuk! Kamu pasti mau ketemu Zanna kan, kebetulan Zanna belum berangkat sekolah tuh!" ucap Maysa dengan ramah.
Di luar dugaan, Clara justru menggeleng dan menolak tawaran Maysa untuk masuk ke dalam menemui Zanna putrinya. Tentu saja Maysa merasa terkejut dengan sikap Clara saat ini, karena biasanya Clara selalu antusias untuk bisa menemui putrinya. Namun, semuanya sekarang tampak begitu berbeda dan membuat Maysa kebingungan.
"May, aku itu kesini mau ajak kamu jalan-jalan. Kamu mau kan temenin aku belanja di mall? Ya sekalian kita refreshing gitu, pasti kamu bosan kan diam di rumah terus sejak menikah?" ucap Clara.
Deg
Maysa kembali terkejut dibuatnya, matanya terbelalak dan membuatnya bingung harus menjawab apa. Ajakan Clara memang menarik untuk diterima, karena belakangan ini Maysa juga mulai merasa bosan. Akan tetapi, Maysa belum bisa sepenuhnya percaya pada Clara walaupun wanita itu mengatakan kalau dirinya sudah berubah.
•
•
Mawar juga bingung mengapa dirinya sulit untuk meninggalkan Javier disana, padahal awalnya gadis itu sangat membenci Javier dan bersumpah tidak akan mau menemuinya lagi. Namun, saat ini justru Mawar sendiri yang ingin tetap disana bersama Javier dan menemani pria itu selama dirawat di rumah sakit karena menolongnya.
"Maw, kamu gak pulang? Emangnya kamu gak ngantuk apa, kan semalaman kamu kurang tidur loh? Pasti kamu capek juga kan?" tanya Javier.
Mawar tersenyum dan menggeleng pelan, "Enggak kok kak, saya udah biasa. Lagian saya harus tanggung jawab dengan menemani kamu disini sampai kamu sembuh," ucapnya.
"Makasih ya Mawar, saya gak nyangka kamu sepeduli ini sama saya!" ucap Javier dengan senang.
Gadis itu manggut-manggut saja tanpa berbicara apapun, rasanya Mawar begitu canggung tiap kali ada di dekat Javier yang ia benci itu. Awalnya memang Mawar membenci pria itu, tapi siapa yang menduga jika sekarang mereka malah berada di dalam satu ruangan berdua dan saling berdekatan meski dengan alasan Javier yang terbaring sakit.
Tak lama kemudian, seorang perawat masuk ke dalam sana membawakan sarapan untuk Javier sang pasien. Perawat itu pun meletakkan piring berisi nasi serta lauk pauk di atas nakas, tak lupa dengan gelas air mineral disana. Tentu saja Javier berharap Mawar lah yang akan menyuapinya saat ini, karena tidak ada orang lain selain gadis itu.
__ADS_1
"Maw, kamu mau kan suapin aku makan? Soalnya ini tangan aku masih susah buat digerakin, mungkin akibat berantem semalam. Kamu bisa kan?" pinta Javier sambil tersenyum lebar.
Sontak Mawar terkejut bukan main dengan apa yang dikatakan Javier barusan, malas sekali rasanya jika ia harus menyuapi pria yang telah merendahkan dirinya dan membuatnya malu di hadapan banyak orang kala itu. Namun, biar bagaimanapun Javier juga adalah orang yang sudah menolongnya semalam dan Mawar hutang budi untuk itu.
"Eee iya deh saya suapin kamu, tapi kamu jangan mikir macam-macam loh ya! Saya ngelakuin ini untuk balas budi aja ke kamu, kan semalam kamu udah tolong saya!" ucap Mawar mengingatkan.
"It's okay, saya juga gak punya pikiran aneh-aneh. Saya senang kamu mau bantu saya," ucap Javier.
Mawar memutar bola matanya, kemudian mengambil piring serta gelas yang ada di dekatnya itu dan mengarahkannya pada Javier. Pertama Mawar membantu Javier meminum air dari gelas tersebut, baru kemudian gadis itu mulai menyuapi Javier secara perlahan-lahan. Ada rasa gugup di dalam hatinya, belum pernah Mawar melakukan hal ini kepada laki-laki sebelumnya.
"Mmhhh, makanannya jadi enak banget kalau disuapin sama kamu! Padahal lauknya cuma kayak gini, tapi jadi spesial gara-gara kamu!" ujar Javier.
"Udah gausah lebay, makan aja sampai habis biar cepat sembuh!" ketus Mawar.
"Siap bos!" Javier tampak bersemangat, ini adalah kesempatan besar baginya untuk bisa lebih dekat dengan sosok gadis itu.
Setelahnya, Mawar pun terus menyuapi Javier sesuap demi sesuap. Tanpa terasa, makanan itu habis begitu cepat dan menandakan betapa lahapnya Javier dalam memakannya. Padahal, biasanya lelaki itu selalu tak menyukai masakan rumah sakit. Namun, semua berbeda ketika ada sentuhan Mawar di peralatan makan tersebut.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
...|||...
...Siapa yang suka makan di rumah sakit juga?...
__ADS_1