Jebakan Satu Malam Duda Liar

Jebakan Satu Malam Duda Liar
Pemberian tak terduga


__ADS_3

Ciiittt


Harold terpaksa menginjak remnya dan menghentikan mobilnya dengan cepat saat tiba-tiba sebuah motor berhenti tepat di hadapannya, Harold sungguh terkejut dan tak mengerti siapa pemotor yang ada di depannya itu. Pria itu pun berusaha menenangkan nafasnya, sebab motor itu amat membuatnya terkejut dan emosi.


Akhirnya Harold turun dari mobilnya dan berniat menemui si pemotor itu, ia berjalan mendekat ke arah motor itu untuk memastikan siapa dirinya dan apa maksudnya mencegat mobilnya. Harold menunjuk si pria pemotor tersebut, memintanya untuk turun dan membuka helm serta memperlihatkan siapa wajahnya.


Pemotor itu mengangguk menuruti kemauan Harold, ia turun dari motornya dan melepas helm yang ia kenakan itu serta menoleh ke arah Harold. Senyum mengembang di kedua pipinya, membuat Harold begitu terkejut melihat sosok orang yang ada di hadapannya saat ini. Harold tak menyangka, bahwa pria pemotor itu adalah orang yang tadi juga ia temui di rumah Maysa.


"Hahaha, jadi anda yang cegat saya? Anda ini mau apa sih, ha?" tanya Harold dengan bingung dan tawa meledek.


Ya lelaki itu adalah Peter, alias mantan Maysa yang tadi tak sengaja ditemui Harold di rumah wanita itu. Harold tampak heran dengan kelakuan Peter, ia bingung apa yang hendak dilakukan pria itu saat ini dengan mencegatnya. Padahal, Harold tak merasa bahwa ia memiliki masalah dengan pria itu.


"Perkenalkan, gue Peter pacarnya Maysa. Gue lihat-lihat lu sama Maysa sekarang makin dekat, jadi gue minta lu mending jauhi dia deh karena Maysa itu cuma punya gue!" ucap Peter.


"Cih, gak salah tuh anda bicara begitu? Maysa pacar anda? Masa sih?" kekeh Harold.


"Loh, memangnya apa yang salah? Beneran kok Maysa pacar gue, jadi lu gausah ngarep deh bisa jadian sama dia!" sentak Peter.


"Oh ya? Bukannya anda sendiri yang sudah melepeh dan membuang Maysa begitu saja ya? Anda lupa dengan itu?" tanya Harold meledek.


Peter menggeleng dengan cepat, "Ya emang gue pernah tinggalin dia, tapi gue gak merasa kalau gue sama dia udah putus. Jadi, sampai sekarang Maysa masih jadi milik gue!" jawabnya tegas.


Harold senyum-senyum dibuatnya, ucapan Peter barusan benar-benar membuatnya merasa ingin tertawa saat itu juga. Bisa-bisanya Peter masih mengakui Maysa adalah kekasihnya, padahal sebelumnya Peter sendiri yang sudah membuang dan memutuskan hubungan dengan Maysa.


"Bisa-bisanya anda mengatakan seperti itu, dasar laki-laki tidak tahu diri! Jika memang anda pacar Maysa, kemana anda sewaktu dia membutuhkan bantuan ha?" ucap Harold.


Peter terdiam tak berkutik, menunduk sejenak dan belum tahu harus mengatakan apa. Selama ini ia memang tidak ada di samping Maysa, saat wanita itu membutuhkan bantuannya. Bahkan, Peter malah dengan teganya menghina Maysa lalu meminta wanita itu menjauh darinya.


Harold menyeringai penuh kepuasan, ia senang melihat ekspresi Peter saat ini yang seperti tengah kebingungan. Ia tidak pernah sama sekali takut pada pria itu, karena ia tahu kalau Maysa akan memilihnya dan tak akan mungkin mau menerima Peter yang tentunya sudah menyakiti perasaannya dengan sangat kejam.


"Saya yang selalu membantu Maysa selama ini, bukan anda. Jadi, anda jangan berharap dapat memiliki dia kembali!" tegas Harold.


"Oh, berarti lu juga pengen milikin Maysa ya? Enak banget lu ngomong begitu, Maysa itu cuma boleh jadi milik gue dan selamanya akan terus begitu!" ucap Peter tak mau kalah.


"Terserah apa kata anda, kita buktikan saja siapa yang akan dipilih oleh Maysa nanti!" tantang Harold.


Keduanya saling bertatapan dengan sorot mata tajam, Peter seakan tak takut dengan tantangan yang diberikan Harold barusan. Bagi Peter, hingga kini Maysa pasti masih mencintainya dan wanita itu tidak akan mungkin menerima Harold atau laki-laki lain selain dirinya.




Maysa keluar dari cafe tepat pukul satu malam, ia kesulitan mencari taksi maupun ojek online mengingat saat ini suasana di sekitarnya sudah sepi dan gelap. Maysa pun terlihat kebingungan, ia coba memesan terus melalui ponselnya sembari menatap sekitar karena khawatir ada orang jahat atau orang yang ingin berbuat iseng padanya.


Wanita itu benar-benar bingung saat ini, pasalnya dimana-mana pun sudah tidak ada kendaraan lagi yang bisa ia gunakan untuk pulang. Maysa akhirnya memilih berjalan menjauh dari cafe, berusaha mencari kendaraan umum di sekitar sana sambil terus memainkan ponselnya.

__ADS_1


Namun, tiba-tiba saja ada seseorang yang menepuk pundaknya dari belakang. Maysa terkejut bukan main karena mengira itu adalah orang jahat yang hendak menyakitinya, tetapi begitu ia menoleh rupanya Javier alias bosnya di cafe itu lah yang datang dan menemuinya kali ini. Bahkan, pria itu sudah tersenyum serta menatap ke arahnya.


"Hai Maysa! Kamu pasti lagi bingung ya cari kendaraan buat pulang? Ayo bareng saya aja, saya bisa anterin kamu sampai ke rumah!" ujar Javier.


Maysa terdiam sesaat, ia tak tahu harus menjawab apa pada tawaran bosnya saat ini. Sebenarnya ia ingin sekali menerima tawaran Javier barusan, namun entah kenapa ia tidak berani menerimanya karena ia merasa telah sering sekali merepotkan Javier dan tidak mau terus begitu.


"Eee terimakasih atas tawarannya, pak. Tapi, saya bisa pulang sendiri kok," ucap Maysa menolak.


"Loh kenapa begitu Maysa? Saya cuma mau bantu kamu supaya bisa pulang loh, saya tidak ada niatan buruk atau yang lainnya. Ini sudah malam, kamu memangnya tidak takut kalau terjadi apa-apa sama kamu nantinya?" ucap Javier.


"Saya tidak apa-apa kok pak, saya bisa jaga diri saya sendiri. Saya gak mau ngerepotin bapak terus, apalagi kalau nanti ada karyawan lain yang lihat. Saya takut mereka salah paham," ucap Maysa.


"Itu tidak akan terjadi Maysa, kamu tenang saja dan tidak usah memikirkan itu!" ucap Javier.


Maysa kini coba memikirkan tawaran yang diberikan bosnya, karena jujur ia juga tak tahu akan pulang menggunakan apa setelah tidak adanya kendaraan. Maysa pun kembali menatap wajah Javier dan dengan gugup mengatakan bahwa dirinya bersedia menerima ajakan pria itu, meski Maysa masih tetap merasa tidak enak pada Javier saat ini.


Javier yang mendengar jawaban dari Maysa pun tampak senang, ia langsung mengajak dan membawa Maysa pergi menuju mobilnya yang terparkir di depan cafe. Maysa menurut saja, kali ini ia masuk ke dalam mobil dan terduduk bersama Javier yang berada di sebelahnya. Suasana canggung pun menyelimuti keduanya, terutama bagi Maysa yang belum pernah secanggung ini.


"Kita mulai jalan sekarang ya? Kalau nanti ada yang mau kamu beli atau pengen mampir kemana dulu, bilang aja ke saya!" ucap Javier sembari mengemudikan mobilnya.


Maysa menoleh dengan bingung, "Enggak pak, saya mau langsung pulang aja. Udah jam segini, saya khawatir keluarga saya cemas," ucapnya.


"Oh okay, kamu arahkan saja saya sampai ke rumah kamu!" ucap Javier yang diangguki oleh Maysa.


Akhirnya mereka lebih banyak diam, jarang sekali ada obrolan di dalam mobil itu selain ketika Maysa menunjukkan arah jalan menuju rumahnya. Javier benar-benar senang bisa mendapat kesempatan untuk berdua dengan Maysa, karena belakangan ini ia memang menginginkan hal itu terjadi.




Perlahan Maysa pun mendekati mereka yang sedang sibuk disana, ia menggeleng-gelengkan heran sekaligus penasaran. Ia bingung siapa sebenarnya yang memesan barang-barang tersebut, dan mengapa orang-orang itu malah menurunkan semua barangnya di depan rumahnya.


"Permisi pak, ini kenapa semuanya ditaruh di depan rumah saya ya? Perasaan saya gak merasa pesan semua ini deh," tanya Maysa pada pria itu.


Salah seorang pria disana pun menoleh ke arahnya dan memberikan jawaban, "Ah iya mbak, benar kok ini barangnya memang dipesan dan diantar ke alamat ini. Saya gak salah kok," ucapnya.


"Loh tapi pak, saya—"


Maysa menghentikan ucapannya, ketika tiba-tiba mobil Harold muncul dan berhenti di dekatnya. Maysa pun mengalihkan pandangannya menatap ke arah Harold yang baru turun dari mobilnya, ia menebak jika semua ini adalah ulah Harold dan ia benar-benar jengkel padanya.


"Hai Maysa, selamat pagi!" Harold berhasil mendekatinya dan menyapa wanita itu.


Maysa tampak memberikan tatapan tajam kepada Harold sembari melipat kedua tangannya di depan, lagi-lagi ia harus dibuat kesal dengan kelakuan Harold yang menurutnya sangat menyebalkan. Ia menyesal telah menerima bantuan darinya, karena kini ia tidak bisa hidup bebas dan selalu saja diganggu oleh pria itu.


"Kenapa kamu ngelakuin semua ini, mau kamu itu apa sih?" tanya Maysa dengan nada ketus.

__ADS_1


Harold tersenyum dibuatnya, "Ahaha, melakukan apa sih Maysa? Saya perasaan datang baik-baik loh, kamu itu kenapa ketus gitu?" ujarnya heran.


"Gausah pura-pura deh, kamu pasti kan yang kirim semua ini kesini!" kesal Maysa.


"May, saya kan cuma mau bantu kamu dan keluarga kamu. Apapun yang bisa saya lakukan, pasti akan saya lakukan untuk kamu. Terima semua ini ya, saya ikhlas kok berikan barang-barang ini untuk kamu!" ucap Harold sambil tersenyum.


Maysa menggeleng cepat, "Gak, saya gak mau. Mending kamu bawa lagi semua barang ini ke rumah kamu, saya masih bisa mencukupi kebutuhan keluarga saya sendiri kok!" ucapnya tegas.


"Sudahlah Maysa, saya ini kan calon suami kamu. Jadi, saya harus membiasakan diri untuk bisa memenuhi kebutuhan kamu dan memberi nafkah untuk kamu sayang!" ucap Harold.


"Jangan ngada-ngada deh! Saya gak butuh semua ini, mending kamu bawa pergi semua ini sana! Kalau enggak, saya akan lapor ke pak RT setempat biar kamu dikeroyok ramai-ramai!" ancam Maysa.


Harold terkekeh mendengarnya seraya menggelengkan kepala, ia tak perduli dengan ucapan Maysa barusan. Justru kini Harold malah meminta anak buahnya untuk menurunkan semua barang yang ia pesan tadi dan membawanya ke dalam rumah Maysa, meski Maysa melarangnya tetapi Harold tetap tak mau mendengarnya.


"Ayo pak, bawa semuanya ke dalam rumah di depan itu! Jangan sampai ada yang ketinggalan, kalian dengarkan saja perintah saya!" suruh Harold.


"Eh tunggu tunggu, gak bisa main sembarangan aja kayak gini dong tuan! Saya gak mau terima barang ini, tuan jangan maksa saya dong! Nanti pasti tuan masukkan semua ini ke daftar hutang saya, kan?" ucap Maysa menghalangi.


"Tenang Maysa, itu tidak akan terjadi kok!" ucap Harold dengan santai.


Harold kembali memerintahkan orang suruhannya, dan tentu saja orang-orang itu terus membawa semua barang itu sampai ke halaman rumah Maysa. Maysa mencoba menahannya, namun ia dihadang oleh Harold yang kini mencekal lengannya. Maysa pun tampak semakin kesal, tetapi tak ada yang bisa ia lakukan selain pasrah.


Tak lama kemudian, Saskia juga keluar dari rumahnya dan ikut terkejut melihat banyak orang datang ke rumahnya sembari membawa barang seperti karung beras dan bahan makanan lainnya. Saskia tak mengerti awalnya, tapi ketika melihat Harold dan Maysa di depan sini kini Saskia pun tersenyum lebar lalu mendekati mereka.


"Wah kak, ini pasti barang-barangnya dari kak Harold ya? Makasih banyak ya kak, ibu pasti senang banget deh dapat barang sebanyak ini dari kakak!" ucap Saskia tampak bahagia.


"Ya sama-sama, Saskia. Kalian itu kan udah jadi keluarga saya juga, ya saya pastinya gak mau lihat kalian kesusahan. Apalagi sebentar lagi saya dan Maysa akan resmi menikah, tentunya kamu dan ibu juga akan menjadi keluarga saya," ucap Harold.


"Gak Sas, kamu jangan dengerin kata-kata dia! Dia itu cuma manusia halu, aku gak ada mau nikah sama dia kok!" elak Maysa menyela.


Harold tersenyum dan merangkul pundak wanitanya itu di hadapan Saskia dengan erat, "Udah Maysa, kamu gak perlu malu-malu gitu di depan Saskia! Akui aja ke adik kamu ini, kalau kamu emang cinta dan mau nikah sama saya!" ucapnya lembut.


"Ish, saya gak pernah ya bilang kayak gitu!" Maysa mengelak dan melepaskan diri.


"Mbak, kok mbak bilangnya gitu sih? Perasaan kak Harold ini baik banget loh, harusnya mbak senang bisa dapat calon suami sebaik kak Harold ini!" ucap Saskia tersenyum lebar.


Maysa terdiam seraya memalingkan wajahnya, ingin sekali ia mengungkap kebenaran mengenai siapa Harold itu di hadapan adiknya. Akan tetapi, Maysa tak mau membebani pikiran Saskia dengan masalah yang sedang ia alami saat ini. Untuk itu Maysa pun tersenyum saja mendengar kata-kata dari Saskia, meski di dalam hatinya ia sangat kesal.


"Yaudah Saskia, kamu mau sekolah kan ya? Bareng sama kakak aja yuk, sekalian saya juga mau antar Maysa ke kampusnya!" tawar Harold.


Maysa langsung menyorot tajam wajah Harold saat ini seolah tak terima dengan perkataan pria tersebut barusan, sedangkan Saskia malah terlihat sangat antusias dan menerima tawaran Harold untuk berangkat bersamanya. Ya Saskia pun mengiyakan ajakan Harold itu, bahkan gadis itu sangat tidak sabar pergi segera dari sana.


Akhirnya Maysa tak memiliki pilihan lain, ia juga terpaksa mengikuti kemauan Harold karena tak mungkin ia membiarkan Saskia berdua bersama Harold di mobil. Mereka bertiga pun sama-sama masuk ke dalam mobil milik Harold, setelah Maysa memberitahu ibunya mengenai barang-barang yang dibelikan oleh Harold tersebut.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2