
Zanna tersenyum lebar, kemudian mengajak papanya untuk segera kembali melangkah. Harold menurut saja, ia bangkit dan menggandeng tangan Zanna lalu mulai berjalan kembali mendekati pintu rumah tersebut. Tanpa menunggu lama, Harold segera mengetuk serta memanggil nama Maysa.
Tak lama kemudian, terdengar suara langkah kaki dari dalam sana disertai balasan yang terdengar seperti suara Maysa. Harold pun tersenyum dan menghentikan ketukannya, dan benar saja bahwa saat pintu dibuka Maysa lah yang keluar menyambut mereka dengan wajah terkejutnya.
Semalam, Harold memang mengantar Maysa pulang ke rumah kontrakan sesuai kemauan wanita itu. Meski Zanna terus merengek agar Maysa mau tidur di rumahnya, namun Harold akhirnya tetap mengiyakan permintaan Maysa dan memberi pengertian pada putrinya itu.
"Halo mama Maysa!" Zanna langsung menyapa calon mamanya itu dengan senyuman lebar disertai lambaian tangannya.
Maysa terbelalak kaget ketika melihat keberadaan Zanna serta Harold disana, apalagi saat Zanna menyapanya dengan manis dan melambaikan tangan ke arahnya. Maysa tentu tak menyangka jika Zanna hadir di rumahnya bersama Harold sepagi ini, padahal ia sendiri saja baru selesai mandi.
"Nah sayang, salim dong sama mama Maysa!" suruh Harold pada putrinya.
Zanna mengangguk setuju, tanpa membantah ia segera meraih satu tangan Maysa dan mengecup punggung tangannya dengan lembut. Membuat Maysa tersenyum, lalu reflek mengusap puncak kepala gadis mungil itu. Maysa sangat senang kali ini, karena Zanna memang sudah seperti putri kandungnya.
"Mas, ada apa kamu kesini sama Zanna? Terus kenapa gak kabarin aku dulu? Aku sampai kaget loh lihat kamu tadi," tanya Maysa dengan heran.
"Eee iya, ini—"
"May, siapa yang datang itu??" baru saja Harold hendak menjelaskan, tetapi tiba-tiba Melinda alias ibu dari Maysa sudah lebih dulu berteriak dan menuju kesana.
Baik Maysa ataupun Harold kini sama-sama terdiam, karena mereka terkejut ketika Melinda sudah berada di dekat mereka saat ini. Ya Melinda pun terlihat kaget ketika melihat Harold berada di rumahnya, namun matanya langsung membulat heran saat menyadari sosok gadis kecil yang ada di sebelah Harold dan tengah tersenyum menatapnya.
"Eh Harold, jadi ternyata kamu yang datang ke rumah pagi-pagi begini? Oalah ya ampun, ibu kira tadi siapa loh! Selamat datang ya Harold, ibu senang banget sama kehadiran kamu disini!" ucap Melinda.
"Ah i-i-iya bu, saya juga senang banget kalau datang kesini. Apalagi ketemu sama anak ibu yang cantik jelita ini!" ucap Harold sambil tersenyum.
"Ahaha, kamu romantis banget ya Harold? Oh ya omong-omong, ini anak siapa Harold?" tanya Melinda menunjuk ke arah Zanna.
Seketika Harold terdiam memandangi putrinya itu, ia bingung apakah ia harus mengatakan yang sebenarnya pada Melinda mengenai Zanna atau tidak saat ini. Harold khawatir jika nantinya Melinda akan emosi padanya atau bahkan tidak memberi izin ia untuk menikah dengan Maysa, apabila ia jujur dan mengakui bahwa Zanna adalah putrinya.
"Umm bu, perkenalkan ini putri saya namanya Zanna! Ayo sayang, kamu salim sama nenek ya!" jawab Harold dengan gugup.
Melinda terkejut mendengarnya, matanya terbelalak lebar mengetahui bahwa Zanna merupakan anak kandung dari pria itu. Melinda pun menatap Maysa saat ini, ia masih tak menyangka kalau Harold ternyata sudah memiliki seorang anak. Selama ini, ia kira Harold masih single dan itu sebabnya ia mengizinkan putrinya menikah dengan pria itu.
"Halo nek, aku Zanna!" tanpa ragu, Zanna mendekat ke arah Melinda dan coba mencium tangan wanita itu sesuai perintah papanya.
"I-i-iya sayang.."
Melinda masih benar-benar gugup saat ini, ia membiarkan Zanna mencium tangannya tetapi matanya tak bisa beralih dari wajah Maysa seolah meminta penjelasan. Melinda tentu tak percaya jika putrinya akan menikah dengan seorang duda yang sudah memiliki satu orang anak, padahal Maysa saat ini masih single dan belum pernah menikah.
"Bu, saya mau minta izin sama ibu. Jadi rencananya, saya pengen ajak Maysa untuk antar Zanna ke sekolah. Soalnya tadi Zanna merengek buat diantar sama Maysa," ucap Harold.
"Oalah, jadi itu alasan kenapa kamu kesini sama Zanna mas?" ujar Maysa.
Harold menganggukkan kepalanya, "Benar May, kamu bisa kan ikut sama saya anterin Zanna sekarang?" ucapnya.
"Bisa kok mas, kenapa enggak? Zanna kan bakal jadi anak aku juga nanti," ucap Maysa tersenyum.
__ADS_1
Melinda tampak menggelengkan kepalanya seolah bingung dengan sikap Maysa barusan, ia pun mencekal lengan Maysa dan mengajak putrinya masuk ke dalam untuk berbicara sejenak dengannya. Sepertinya Melinda masih bingung mengapa Maysa mau menerima Harold, padahal sudah jelas Maysa tahu kalau Harold memiliki anak.
"Kamu harus jelaskan sesuatu dulu ke ibu sekarang!" pinta Melinda pada putrinya.
"I-i-iya bu, sebentar ya mas?" gugup Maysa.
Tanpa banyak bicara lagi, Melinda segera membawa Maysa masuk ke dalam rumah untuk berbincang berdua. Sedangkan Harold serta Zanna tetap berada di depan sana dengan wajah kebingungan, terutama Zanna yang terus saja menatap papanya dan bertanya mengenai apa yang terjadi.
•
•
Di dalam, Melinda kini melepaskan tangan Maysa lalu fokus menatapnya sembari memperlihatkan wajah kesalnya setelah mengetahui Maysa akan menikah dengan seorang duda. Melinda tak habis pikir dengan kelakuan putrinya itu, sebab yang ia mau adalah Maysa menikah dengan lelaki yang tentunya masih single seperti dirinya.
Maysa sendiri pun tampak kebingungan dan tak tahu harus berbicara apa saat ini, ia memalingkan wajahnya sembari menggaruk-garuk kepala yang tak gatal karena bingung. Sebenarnya ia memang tidak ingin menikah dengan Harold, namun paksaan dari laki-laki itu lah yang membuatnya akhirnya terjebak ke dalam pernikahan ini.
"May, kenapa kamu gak pernah bilang ke ibu kalau Harold sudah punya anak? Tahu gitu kan ibu gak akan pernah kasih restu buat kalian, kamu tega ya bohongin ibu Maysa!" kesal Melinda.
Maysa reflek menggelengkan kepalanya dan mengelak dari tuduhan ibunya itu, ia mencoba menjelaskan kalau ia tidak berniat membohongi sang ibu sebelumnya. Ia memang sudah memiliki niat untuk mengatakan itu padanya, namun hanya saja ia belum memiliki waktu yang pas.
"Aku baru mau jelasin semuanya ke ibu, tapi mas Harold udah keburu datang sama Zanna kesini. Ibu jangan marah ya bu, kalau ibu gak setuju aku nikah sama mas Harold gapapa kok bu!" rengek Maysa.
"Jelas ibu gak setuju, ibu gak mau anak ibu ini menikah dengan laki-laki yang sudah memiliki anak!" tegas Melinda.
Deg
"Bu, i-ibu serius bicara begitu? Tapi kan bu, semua sudah diurus sama mas Harold. Kasihan dong dia kalau aku batalin pernikahannya gitu aja!" ucap Maysa tampak kebingungan.
"Ibu gak perduli, pokoknya kamu gak boleh nikah sama Harold!" tegas Melinda.
"Tapi bu, a-aku udah terlanjur juga jatuh cinta sama mas Harold. Aku gak mungkin bisa pisah dari dia bu, nanti bakal sulit buat aku moveon dari mas Harold. Aku mohon bu, ibu kasih restu ya buat aku menikah sama mas Harold!" bujuk Maysa.
"Apa? Kamu beneran jatuh cinta sama pria itu?" tanya Melinda dengan wajah terkejut.
Maysa manggut-manggut perlahan, ia sungguh malu untuk mengakui itu di hadapan ibunya kalau memang ia sudah mulai menyukai Harold. Meski awalnya ia menikah karena terpaksa, tetapi memang perlahan-lahan dirinya mulai bisa merasakan cinta pada pria itu yang sudah banyak berbuat baik padanya termasuk menolong keluarganya.
"Jadi gimana bu, ibu mau kasih restu kan buat aku nikah sama mas Harold? Dia emang sudah punya anak bu, tapi aku sayang sama dia!" ucap Maysa.
Melinda terdiam sesaat dan coba berpikir keras untuk menjawabnya, ia sejujurnya tidak menyukai putrinya menikah dengan laki-laki yang sudah memiliki anak. Namun jika memang Maysa sendiri lah yang menginginkannya, maka Melinda tidak bisa berbuat apa-apa saat ini.
"Yasudah, ibu gak mungkin bisa tolak kemauan kamu sayang. Yang terpenting kamu hidup bahagia selalu sama pria pilihan kamu itu, ibu cuma bisa doakan yang terbaik untuk kalian!" ucap Melinda.
"Makasih bu!" ucap Maysa sembari mendekap tubuh ibunya dengan erat dan tampak sangat bahagia.
•
•
__ADS_1
Singkat cerita, Maysa telah bersama Harold serta Zanna dan kini tiba di lokasi sekolah gadis kecil itu. Mereka pun sama-sama turun dari mobil, lalu dengan senangnya Zanna melangkah di tengah-tengah antara papanya serta calon mama barunya itu sambil bergandengan tangan.
Zanna tampak begitu ceria hari ini, ya karena ini pertama kalinya ia diantar ke sekolah oleh Maysa yang sebentar lagi akan menjadi mamanya. Zanna juga sudah tak sabar untuk itu, ia ingin sekali tinggal bersama dan tidur bertiga dengan papa serta mama barunya itu nanti.
Ketiganya pun berhenti tepat saat Zanna tiba di depan gerbang sekolah, gadis mungil itu terlihat menyapa teman-teman dan juga gurunya dengan senyuman dan lambaian tangannya. Melihat keberadaan Maysa disana, membuat banyak orang penasaran dan juga bertanya-tanya tentunya.
Akhirnya Zanna mengenalkan Maysa kepada mereka sebagai mama barunya, membuat orang-orang disana serta Maysa sendiri tampak terkejut. Tak lupa Harold juga terkekeh mendengar ucapan polos putrinya itu, ia benar-benar tak menyangka Zanna akan dengan bangganya mengenalkan Maysa sebagai mamanya di depan teman-temannya.
Maysa pun menyodorkan tangannya kepada guru yang mengajar disana, juga tentu kepada murid teman-teman Zanna. Ya sekarang Zanna masih menjalani pendidikan tingkat bawah, yaitu taman kanak-kanak alias TK. Sehingga banyak sekali anak-anak yang lucu disana, membuat Maysa merasa nyaman untuk menemani Zanna.
Setelah waktu sekolah tiba, Zanna pun berpamitan pada orangtuanya dan berjalan masuk bersama guru serta teman-temannya. Sedangkan Harold dan juga Maysa masih saling menggandeng tangan saat ini sembari melambaikan tangannya, mereka terus memandang ke arah Zanna sampai gadis itu benar-benar hilang dari mata mereka.
Kini Harold pun hanya tinggal berdua dengan Maysa, ia langsung saja mendekati wanita itu dan merangkulnya sambil sesekali mencolek wajahnya dengan lembut. Maysa tampak malu-malu dibuatnya, pipinya memerah serta ia tak berani menatap ke arah pria itu saat ini.
"Mas, udah please jangan kayak gitu terus! Aku malu ah ada banyak orang disini, mending ayo kita cepat-cepat pergi deh dari sini! Zanna pasti pulangnya masih lama kan?" ucap Maysa.
Harold terkekeh dibuatnya, "Hahaha, it's okay Maysa. Iya deh kita pulang sekarang, kamu mau kita mesra-mesraan di tempat sepi ya? Yaudah, aku pasti bakal turutin kemauan kamu itu. Yuk kita pergi dari sini sayang!" ujarnya.
"Ah kamu mah ada-ada aja mas, aku gak pernah minta kayak gitu loh ke kamu!" kesal Maysa.
"Gapapa, gausah malu-malu begitu. Ayo kita ke mobil sekarang, aku gak bisa tahan kalau berduaan sama kamu terus!" bujuk Harold.
"Hm, iya deh mas."
Maysa menurut saja dengan perkataan calon suaminya itu, lalu ia pun pergi ke dalam mobil dan duduk berdua dengannya di kursi depan. Harold tampak terus memandang ke arahnya dan tersenyum lebar, bahkan perlahan pria itu mendekat sembari mengusap wajah wanitanya.
Maysa dibuat gugup saat ini, pasalnya posisi mereka sangat dekat dan wajah mereka juga saling berhadapan. Maysa tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, sebab Harold terlihat sudah memajukan bibirnya seolah bersiap menciumnya. Jantung Maysa berdegup sangat kencang, mungkin nyaris saja ia pingsan jika tidak bisa menahan diri.
Cup
Dan benar saja, Harold kini menempelkan bibirnya serta menyatukan bibir mereka. Lalu, pria itu mulai bergerak dan meminta Maysa untuk membuka bibirnya serta membiarkan Harold bermain di dalam rongga mulut wanita itu. Dengan senang hati Maysa menurutinya, ia pun membuka mulutnya dan langsung saja Harold tak menyia-nyiakan itu.
Harold terus melakukan itu dengan sangat liar sembari menahan tengkuk wanitanya, Maysa tak bisa berbuat apa-apa dan hanya pasrah menerima perlakuan Harold saat ini. Maysa juga belum terlalu bisa berciuman, sehingga ia lebih banyak diam dan tak tahu harus melakukan apa.
Setelah puas, Harold pun mengakhiri ciuman itu dan menyisakan sisa-sisa perciuman mereka di bibir Maysa. Tampak Harold menyekanya dengan telapak tangan, lalu tersenyum serta meninggalkan kecupan singkat di bibir wanita itu. Harold juga menatap serius ke arah Maysa, seolah tak ingin mengakhirinya.
"Kamu cantik sekali Maysa, rasa bibir kamu juga bikin saya ketagihan. Saya suka banget cium bibir kamu seperti tadi, love you!" lirih Harold.
Maysa menunduk karena malu, ia sampai tak berani menatap wajah calon suaminya itu. Namun, Harold malah menarik dagunya dan tersenyum saat melihat wajah memerah Maysa saat ini. Harold selalu suka dikala Maysa sedang tersipu, rasanya wanita itu terlihat lebih menggemaskan dari biasanya.
"Lucu deh kamu, kalau malu pasti selalu nunduk. Aku jadi makin sayang sama kamu!" ujar Harold.
Cup
Lagi-lagi Harold mengecup singkat bibirnya, Maysa pun terbelalak dan terdiam kaku atas perlakuan yang dilakukan Harold barusan. Laki-laki itu selalu saja berhasil membuatnya tersipu, entah karena ketampanan atau perlakuan manisnya kepada ia selama ini.
...~Bersambung~...
__ADS_1
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...