Jebakan Satu Malam Duda Liar

Jebakan Satu Malam Duda Liar
Kepergian Harold


__ADS_3

Hari berganti, pagi-pagi sekali Harold telah bersiap untuk berangkat menuju bandara mengejar penerbangan yang akan ia lakukan sekitar dua jam lagi. Pria itu membawa satu buah koper yang berisi barang-barang miliknya, dengan dibantu oleh Maysa kini Harold tengah berdiri di depan cermin sembari merapihkan pakaian serta dasinya yang tentu dipasang oleh sang istri.


Sejujurnya Maysa amat tak mengizinkan Harold untuk pergi, wanita itu tidak bisa berpisah jauh dengan Harold apalagi dalam waktu yang lama. Entah Maysa dapat bertahan atau tidak, karena pasti akan banyak yang terjadi selama Harold tiada nanti. Apalagi, Maysa juga harus menjaga Zanna dari kejaran Clara yang masih saja menginginkan gadis kecil itu untuk tinggal bersamanya.


"Mas, yakin nih kamu mau pergi tinggalin aku? Ayolah mas, dipikirin lagi dong niat kamu ini! Minimal kamu perginya setelah anak kita lahir aja, kasihan loh dia pengen ada di dekat ayahnya terus tahu!" ucap Maysa merengek.


Harold tersenyum dan berbalik menatap wanitanya, memang berat bagi Harold untuk pergi jauh dari Maysa yang tengah mengandung itu. Namun, semua yang ia lakukan saat ini adalah demi kebaikan keluarga yang ia sayangi itu. Tidak mungkin Harold akan tega, jika sampai mister Rendy melakukan hal buruk kepada Maysa maupun Zanna.


Perlahan Harold meraih tangan Maysa dan menggenggamnya erat, ia usap dengan lembut punggung tangan wanita itu sambil menatap wajah Maysa disertai senyuman lebarnya.


"Maafin aku ya sayang, aku terpaksa ngelakuin ini semua demi kelangsungan hidup kita! Kalau aku gak pergi sekarang, mungkin aja bakal terjadi banyak masalah yang akan datang ke keluarga kita nantinya sayang," ucap Harold.


Maysa terbelalak kaget, "Maksud kamu apa mas? Apa perusahaan kamu udah mau bangkrut sampai kamu harus begini?" tanyanya.


Harold terkekeh seraya menggelengkan kepalanya, ia tak mengira Maysa akan berkata seperti itu dan menduga yang tidak-tidak. Namun, saat ini Harold juga tidak bisa mengatakan yang sejujurnya kepada Maysa karena ia khawatir Maysa akan cemas dan terus memikirkannya disana.


"Mas, aku gak masalah kok kalau kita hidup sederhana nantinya. Buat apa aku hidup mewah kayak gini, tapi kamu malah pergi?" ucap Maysa.


"Hey hey hey, tenang dulu sayang! Aku pergi tuh gak ada hubungannya sama perusahaan aku yang bangkrut, kamu jangan mikir kesana dong! Perusahaan aku baik-baik aja kok," ucap Harold.


"Ya terus alasan kamu pergi itu apa? Kenapa kamu harus tinggalin aku selama itu?" tanya Maysa lagi.


Harold kembali terdiam seraya menundukkan wajahnya, ia ragu dan tak sanggup untuk menceritakan semua kepada Maysa. Sedangkan Maysa mulai jengkel dibuatnya, dan kini wanita itu berbalik lalu pergi dari kamar meninggalkan suaminya begitu saja.


"May, Maysa tunggu sayang!" Harold tampak panik dan berusaha mengejar wanita itu ke luar.

__ADS_1


Akhirnya Harold berhasil menahan lengan istrinya dan mencegah wanita itu, Maysa pun terpaksa berhenti meski sekarang ia sangat kesal lantaran Harold tak mau menceritakan semua masalahnya kepadanya saat ini.


"Apa lagi sih mas? Kalau kamu mau pergi, yaudah sana kamu pergi aja! Kamu gausah perduliin aku atau calon anak kita ini!" sentak Maysa.


Deg


Harold terdiam seketika, pria itu sungguh bingung dan tak tahu harus apa. Ia tidak bisa jika harus memilih diantara keluarga atau pekerjaannya, terlebih ia sekarang berada dalam ancaman mister Rendy yang kejam itu. Harold memang sudah melakukan kesalahan, dimana ia berani bermain-main dengan orang seperti mister Rendy.




Kini Harold telah berada di halaman rumahnya, mobil yang akan ia tumpangi juga sudah bersiap disana bersama Adam alias sang supir. Namun, Harold cukup heran lantaran Maysa tidak mau ikut keluar menemuinya untuk yang terakhir kali. Sepertinya Maysa begitu emosi padanya saat ini, sehingga wanita itu tak mau muncul disana.


Zanna pun tampak memeluk erat papanya seolah tak ingin melepasnya, Zanna benar-benar sedih setelah mengetahui jika papanya ingin pergi jauh. Selama ini Zanna jarang mendapat waktu bersama sang papa, dan disaat ia sudah mulai berbahagia Harold justru mengatakan ingin pergi hari ini dalam waktu yang cukup lama entah sampai kapan.


Harold tersenyum dan reflek mengusap puncak kepala gadis itu, ia berjongkok di hadapan Zanna saat ini sambil terus membelainya. Jujur Harold juga tidak rela berpisah dengan putri tercantiknya itu, tapi apa mau dikata Harold tidak mungkin menolak permintaan mister Rendy dan harus menuruti semua yang diperintahkan oleh lelaki itu.


"Maafin papa ya sayang, papa gak bisa ajak kamu! Papa kan kesan itu mau kerja, bukan liburan. Kalau papa ajak kamu, nanti papa gak bisa kelarin urusan kerjaan papa. Mending Zanna disini aja ya, temenin mama sama yang lainnya!" ucap Harold.


"Tapi pa, aku kan maunya sama papa terus. Aku janji deh gak akan bandel disana!" ujar Zanna.


Harold terkekeh dan mengambil nafas sejenak, ia tangkup wajah putri kecilnya itu sambil terus berusaha meyakinkannya kalau ia tidak akan pergi lama dan pasti kembali kesana.


"Zanna gausah khawatir ya! Zanna doain papa aja, supaya urusan papa cepat kelar disana! Abis itu kan papa bisa pulang deh," ucap Harold.

__ADS_1


"Bener ya pa?" tanya Zanna memastikan.


Harold mengangguk sambil mencolek hidung putrinya, "Bener dong sayang, sejak kapan papa bohongin kamu sih?" jawabnya.


Akhirnya Zanna dapat memahami kesibukan papanya itu dan tidak lagi merengek meminta ikut dengan Harold ke Kanada, ya Zanna justru kembali memeluk papanya dan meminta papanya itu untuk menjaga kesehatan selama disana. Lalu, Zanna juga meminta pada Harold supaya tidak lupa menghubunginya nanti.


"Pa, nanti jangan lupa telpon aku ya! Soalnya aku pasti kangen banget sama papa!" pinta Zanna.


"Siap sayang, bukan cuma call tapi video call sekalian deh biar Zanna puas dan bisa lihat kondisi papa disana!" ucap Harold.


"Yeay asik!!" Zanna meloncat kegirangan.


Mereka pun berpelukan erat disana untuk yang terakhir kalinya, setelah itu barulah Harold menyudahi semuanya dan berpamitan kepada Zanna karena ia harus segera pergi. Zanna hanya bisa mengangguk disertai wajah sedihnya, dapat dipastikan bahwa gadis itu sangat kecewa dengan kepergian papanya saat ini.


"Yaudah, papa pergi dulu ya cantik? Bye sayang!" ucap Harold seraya melambaikan tangannya.


"Bye papa!!" balas Zanna dengan senyumnya.


Tak lupa Harold juga pamit kepada Melinda serta Saskia yang ada disana, ia mencium tangan ibu mertuanya itu lalu buru-buru melangkah ke dalam mobil agar tidak ketinggalan pesawat. Namun, ada rasa gundah di dalam hatinya saat mengetahui Maysa tak kunjung muncul disana untuk menemuinya. Padahal, sebentar lagi ia sudah akan berangkat menuju bandara.


"Maysa, maafkan saya! Kamu pasti kecewa sekali sama saya, sampai-sampai kamu gak mau keluar walau sebentar!" gumam Harold di dalam hatinya.


Harold pun menghela nafasnya, kemudian memerintahkan Adam untuk segera melaju meninggalkan rumah itu. Tanpa sadar Harold meneteskan air mata, disaat kepergiannya ini sosok istri tercintanya justru kecewa padanya dan membuat Harold tidak tenang dalam melakukan perjalanan kali ini.


"Selamat tinggal, Maysa!" batinnya.

__ADS_1


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2