Jebakan Satu Malam Duda Liar

Jebakan Satu Malam Duda Liar
Susah mendapat izin


__ADS_3

Sesudah puas berciuman, Javier pun melepas bibirnya dan spontan menyeka bekas liur mereka di bibir gadisnya mengenakan jadi miliknya. Jujur Mawar semakin grogi dibuatnya, apalagi mereka sangat dekat kali ini. Mawar juga masih tak percaya, kalau tadi akhirnya ia berciuman dengan Javier. Padahal, selama ini pria itu selalu memaksanya dan selama itu juga Mawar terus saja menolaknya.


Akan tetapi, hari ini semuanya terasa begitu berbeda. Mawar yang biasanya selalu menolak tiap kali Javier ingin berbuat mesum padanya, tadi justru gadis itu terdiam saja menerima apa yang dilakukan Javier padanya. Mawar sendiri tak mengerti mengapa ia melakukan itu, namun ia sama sekali tidak menyesal karena telah merasakan lembutnya bibir milik Javier yang begitu menggoda dirinya.


"Kak, mau masuk dulu gak? Aku buatin minum gitu buat kak Vier, soalnya kan kamu udah anterin aku sampai sini. Gak enak lah kalau aku gak tawarin minum atau apa ke kamu," ucap Mawar lirih.


Javier menggeleng, "Gak perlu, tadi aja udah cukup buat aku. Itu bikin rasa haus di tenggorokan aku hilang kok sayang," ucapnya sembari menghirup leher sang gadis dan sesekali mengecupnya.


"Kamu yakin kak? Yaudah, kalo gitu aku masuk ya? Kamu hati-hati di jalan pulangnya!" ucap Mawar.


"Okay, kamu duluan gih yang masuk! Nanti begitu aku mastiin kamu udah aman, baru deh aku bakal pergi dari sini," ucap Javier.


Mawar manggut-manggut paham, lalu masuk ke dalam rumahnya sesuai permintaan Javier. Setelah itu, barulah Javier tersenyum lebar dan berbalik untuk bersiap kembali ke mobilnya. Akan tetapi, langkah Javier terhenti ketika tiba-tiba seorang pria berdiri di depannya dan menatap tajam ke arahnya disertai tangan yang terkepal kuat.


"Si-siapa kamu?" tanya Javier dengan gugup.


Laki-laki itu hanya terdiam dan terus menatap tajam wajah Javier tanpa berkata apa-apa, sehingga membuat Javier semakin kebingungan kali ini. Apalagi, baru sekarang Javier melihat sosok pria tersebut dengan mata kepalanya. Javier pun sangat penasaran, siapa kiranya pria itu dan apa hubungannya dengan Mawar.


"Seharusnya saya yang tanya ke kamu, siapa kamu itu? Kenapa kamu bisa sama anak saya dan datang ke rumahnya ini?" ujar si pria.


Deg


Betapa syoknya Javier, rupanya sosok pria yang kini ada di hadapannya adalah seorang ayah dari gadis yang ia sukai. Tentu saja ekspresi Javier langsung berubah, ia tersenyum lalu menyapa pria tersebut dengan ramah sambil mencium tangannya. Javier tak ingin membuat pria itu marah padanya, itulah alasan Javier tiba-tiba ramah sekarang.


"Oh, halo om! Salam kenal, saya Javier! Saya kekasih anak om itu," ucap Javier dengan ramah.

__ADS_1


"Ck, kenapa Mawar gak pernah bicara apa-apa ke saya kalau dia sudah punya pacar? Dimana kamu bisa kenal sama Mawar, ha? Dari penampilan kamu, sepertinya juga kamu bukan orang yang baik!" ucap si pria menegurnya.


"Hah? Waduh om, saya gini-gini baik kok om!" ucap Javier tampak gugup.


"Tadi kamu bilang nama kamu Javier kan? Kamu ketemu dimana sama anak saya, terus kenapa belakangan ini Mawar gak pernah pulang ke rumah?" tanya pria itu lagi.


"Eee sa-saya...." Javier terlihat gugup, ia bingung harus menjawab apa kali ini.


"Saya Rendy, papanya Mawar! Saya gak akan pernah izinin kamu berpacaran dengan anak saya, paham kamu!" sela pria itu.


Javier tersentak, matanya terbelalak lebar dan jantungnya berdegup begitu kencang. Apa yang dikatakan Rendy barusan sungguh membuatnya amat bingung, pastinya akan sangat sulit untuk bisa mendapat restu dari Rendy nantinya.




Tapi sebelum sempat memasuki rumahnya, Maysa dihadang oleh Theo yang berjaga di dekat gerbang. Sontak Maysa menghentikan langkahnya, menatap heran ke arah Theo dengan ekspresi terkejut serta penasaran. Maysa tak mengerti mengapa Theo tiba-tiba menghadangnya, padahal ia sedang terburu-buru kali ini untuk menemui Zanna.


"Duh, kamu ngapain sih Theo? Minggir ah, saya ini mau ketemu sama Zanna di dalam!" ucap Maysa dengan tergesa-gesa.


"Sebentar bu, dengerin saya dulu! Saya cuma mau kasih tahu ke bu Maysa, kalau sekarang ini non Zanna lagi gak ada di rumah. Kemarin itu bu Clara datang kesini buat bawa paksa non Zanna, dan kami gak bisa berbuat apa-apa bu," jelas Theo.


"Apa? Kok bisa sih Zanna dibawa sama Clara, kamu ini kerjanya gimana Theo? Suami saya itu bayar kamu buat jaga Zanna loh, tapi gitu aja kamu malah gak bisa!" ucap Maysa dengan tegas.


"Ma-maaf bu, kami kecolongan! Bu Clara lebih dulu datang ke sekolah non Zanna, terus beliau berhasil bujuk non Zanna buat ikut sama dia. Saya dapat kabar ini dari salah satu guru yang mengajar disana bu," ucap Theo.

__ADS_1


"Kurang ajar! Yaudah, kamu temenin saya ke rumah Clara sekarang! Kamu tau kan?" pinta Maysa.


"Tau sih bu, tapi kita mau apa bu?" tanya Theo.


"Pake nanya lagi, ya jelas lah saya mau ambil balik Zanna dari tangan Clara! Saya gak mau kalau mas Harold sampai tau, dia pasti bakal marah besar Theo!" ucap Maysa.


"Ta-tapi bu...."


"Cepat Theo, kalau enggak saya minta bantuan pengawal yang lain aja!" sela Maysa.


"Ba-baik bu, mari saya antar!" ucap Theo menyerah.


Mau tidak mau, Theo pun terpaksa menuruti kemauan Maysa untuk mengantarnya ke rumah Clara. Meski, sebenarnya Theo merasa ragu dan khawatir karena ia cemas jika Maysa serta Clara akan terlibat keributan nantinya. Apalagi yang ia tahu, kedua wanita itu tidak pernah akur dan terus saja saling bertengkar setiap bertemu.


Akhirnya Theo mengajak Maysa pergi ke mobilnya, mereka pergi berdua dan meninggalkan para pengawal yang lain disana. Ya tadi Maysa memang diantar oleh Hendi dari rumah sakit, sedangkan Fauzan ditinggal disana untuk menjaga ibunya. Namun, sekarang tujuan Maysa harus berubah lantaran ia tahu kalau Zanna dibawa pergi oleh Clara.


Bagaimanapun, sebagai ibu sambungnya tentu Maysa tak akan rela bila Zanna ada di tangan Clara saat ini. Maysa hanya ingin mengantar Zanna kembali dan membawanya pulang, ia tak mau sampai suaminya tahu mengenai hal itu. Bisa-bisa, nanti seluruh pengawal di rumahnya akan mendapat hukuman dari Harold yang memang kejam itu.


"Theo, ayo lebih cepat lagi! Saya gak mau Zanna terlalu lama ada di rumah Clara, dia harus kembali ke rumah kita!" titah Maysa.


"Baik bu, ini saya sudah cepat kok!" ucap Theo patuh.


Maysa terus berharap-harap cemas, ia menggigit jarinya dan memikirkan kondisi Zanna saat ini yang tengah bersama Clara.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2