Jebakan Satu Malam Duda Liar

Jebakan Satu Malam Duda Liar
Teringat anak


__ADS_3

Vino pergi dari kamar Zanna untuk menemui salah seorang pengawal di tempat itu, ya kini Vino akan terus berusaha untuk bisa membawa Clara kembali ke kamar tempat Zanna berada. Jujur Vino tidak tega melihat Zanna terus bersedih seperti tadi, apalagi gadis itu memang masih sangat kecil. Zanna tentu saja membutuhkan kehadiran mamanya terlebih dalam situasi genting seperti sekarang ini.


Pria itu tiba di depan gudang tempat Clara disekap oleh Rendy dan dijadikan budak pemuas, Vino pun menemui dua orang pengawal yang sedang berdiri tepat di depan pintu sambil menikmati cemilan. Vino agak ragu untuk meminta bantuan mereka, karena yang ia tahu orang-orang itu justru senang setelah mendengar Rendy menjadikan Clara sebagai wanita pemuas untuk mereka saat ini.


"Heh kalian!" Vino menegur keduanya, yang sontak langsung membuat dua pria itu menoleh secara bersamaan ke arahnya.


"Eh lu Vino, ada apaan sih? Ngagetin kita aja lu, gak lihat apa kita lagi asyik-asyik makan nih? Apa lu mau juga singkong goreng buatan Anita ini, hm?" ucap seorang pengawal bernama Baron.


"Ah enggak kok, buat kalian aja itu mah!" ucap Vino menolak disertai senyuman lebar.


"Terus lu ngapain dateng kesini?" tanya Baron.


Vino tersenyum dan terduduk di sebelah kedua temannya, ia bingung harus berkata mulai darimana untuk menjawab pertanyaan Baron. Vino khawatir Baron serta Rony akan curiga padanya jika ia mengatakan kalau saat ini ia ingin meminta pada mereka untuk melepaskan Clara, sebab Vino sungguh kasihan melihat kondisi Zanna tadi.


"Saya ini mau bicara sama kalian berdua, boleh kan sekedar ngobrol doang?" ucap Vino lirih.


"Bicara apa sih Vin?" tanya Baron penasaran.


"Itu tahanan yang di dalam, apa gak boleh balik ke kamarnya aja? Saya kasihan loh sama anaknya yang ditinggal sendirian, dia daritadi nangis terus sampai gak tega saya," jawab Vino sambil menunduk.


"Ck, jadi lu jauh-jauh kesini cuma buat omongin itu? Yah elah Vin, kalo soal itu sih gue mah gak bisa bantu! Yang berhak buat tentuin dimana tempat tahanan ditawan, itu kan si bos. Lah kita mah kan cuma pesuruh Vino," ucap Baron geleng-geleng.


"Iya sih Bar, tapi apa kalian gak bisa bantu saya gitu? Saya cuma mau pertemukan Clara sama Zanna lagi sebentar, kalian mau ya?" pinta Vino.


Sontak Baron dan Rony kompak menatap wajah satu sama lain, mereka terkejut sekaligus tak mengerti mengapa tiba-tiba Vino berubah seperti itu. Biasanya Vino tidak pernah perduli dengan siapa yang ada di dalam tahanan Rendy, tetapi saat ini Vino justru berusaha keras untuk meminta mereka membantunya mengeluarkan Clara dari sana.


"Loh loh, ini ada apa sih sama lu Vino? Kenapa mendadak lu jadi perhatian gini sama tahanan bos Rendy, hm?" tanya Rony tampak kebingungan.


"Gak ada apa-apa kok, saya cuma kasihan sama Zanna. Ini kan pertama kalinya bos Rendy nahan gadis sekecil itu, saya gak tega aja lihatnya!" ucap Vino dengan tegas.


"Iya juga sih, bener emang apa yang lu bilang. Kita juga gak nyangka si bos bakal sekap anak sekecil Zanna," ucap Baron.


"Ah udah lah gausah dipikirin, kalian itu nurut aja sama bos Rendy! Emangnya kalian pada mau dipecat, ha? Mau sekecil apapun Zanna, dia tetap tawanan bos Rendy! Buat apa kita kasihan sama dia?" ucap Rony menyela.


Vino menggeleng pelan, menurutnya tak ada gunanya ia terus berbicara dengan kedua orang pria yang tak memiliki rasa manusiawi itu.


__ADS_1



Disisi lain, Dean tengah berada di dalam mobilnya bersama Saskia yang baru saja ia jemput dari sekolahnya. Mereka pun berniat kembali ke rumah, apalagi Saskia tampak sudah tidak sabar untuk segera sampai di rumahnya. Dean tidak bisa berhenti tersenyum saat ini, karena ia duduk tepat di sebelah gadis yang ia sukai.


Saskia sendiri tak menyadari bahwa sedari tadi Dean terus memandangi wajahnya, ia masih fokus dengan layar ponselnya dan mengabaikan hal itu. Lalu tanpa diduga, Dean menginjak rem secara mendadak dan membuat Saskia begitu terkejut. Reflek Saskia menoleh ke arah pria itu, ia terlihat heran mengapa Dean tiba-tiba menghentikan mobilnya.


"Ish, ada apa sih kak? Kenapa berhenti coba?" tanya Saskia sembari mengusap dadanya.


"Sssttt, kamu gak lihat tuh di depan ada banyak pemotor parkir sembarangan? Gimana saya bisa jalanin mobilnya coba kalo gini, hm?" jawab Dean seraya menunjuk ke depan.


"Hah??" Saskia terkejut dan spontan menatap ke arah yang ditunjuk Dean.


Gadis itu menganga lebar begitu melihat ada banyak pemotor yang berhenti di depan mereka, tentu saja Saskia tampak ketakutan dibuatnya. Saskia tak ingin kejadian yang dulu menimpa Harold kembali terjadi pada mereka saat ini, ya ia ingat sekali saat dimana Harold babak belur dan masuk rumah sakit akibat dikeroyok oleh orang-orang tidak dikenal.


"Kak, gimana ini dong? Aku takut banget kak, mereka serem-serem lagi!" ucap Saskia panik.


Dean melirik sekilas wajah gadis di sampingnya, ia usap dengan lembut untuk menenangkan Saskia agar tidak terlalu panik kali ini. Setelahnya, Dean mengatakan jika ia akan turun ke luar menemui orang-orang di depan sana. Dean tak mau membuat Saskia cemas dan terluka, itulah alasan mengapa Dean harus memberanikan dirinya saat ini.


"Kamu diam aja disini ya Saski, jangan keluar kalau saya gak minta! Biar saya aja yang temuin mereka, saya mau tau apa niat mereka!" titah Dean.


"Tapi kak, nanti—"


Tanpa ragu, Dean ke luar dengan gagahnya untuk bertemu dengan orang-orang yang sudah berdiri seolah menunggunya disana. Saat itu juga mereka semua mendekat ke arahnya, menatap Dean disertai senyum seringai yang penuh arti. Dean sama sekali tak mengenali siapa mereka, wajah orang-orang itu sungguh asing baginya.


"Kalian siapa? Kenapa kalian cegat mobil saya, ha?" tanya Dean dengan tampang penasaran.


"Apa benar kamu anak buahnya Harold?" salah seorang dari mereka mendekat, lalu menanyakan hal itu kepada Dean.


"Ya, saya asisten tuan Harold. Ada apa kalian cari saya?" ucap Dean kebingungan.


"Baguslah, pekerjaan kita untuk menghabisi kamu bisa lebih mudah terselesaikan! Ayo semua, kita habisi dia!" ucap orang itu.


Deg


Dean melongok lebar mendengarnya, ia terkejut apalagi ketika orang-orang itu mulai maju dan menyerangnya secara brutal. Dean hanya bisa menangkis serta menahan serangan itu, karena ia tahu posisinya terjepit saat ini. Ia juga tak mungkin bisa melawan mereka semua, namun ia tidak akan menyerah begitu saja kali ini.


__ADS_1



Vino kini kembali ke kamar tempat Zanna berada, ia merasa ragu dan gugup sebenarnya untuk bertemu dengan Zanna kali ini. Ya pastinya Zanna akan kesal dan kecewa padanya, apalagi ia belum berhasil membawa Clara ke kamar itu. Namun, Vino berharap Zanna masih bisa memaafkannya dan mau berbicara dengannya walau hanya sebentar.


Vino datang tidak dengan kosong, ia membawa sebuah boneka beruang kecil di tangannya kali ini yang akan ia berikan kepada Zanna. Ia berharap dengan itu, maka Zanna dapat memaafkan dirinya dan tidak kecewa dengannya. Ia menghela nafas sejenak, sebelum mulai membuka pintu dan melangkah masuk ke dalam kamar itu.


"Halo Zanna cantik!" pria itu menyapanya, tersenyum lebar sembari menutup pintu rapat-rapat.


Sontak Zanna terkejut dan reflek menoleh ke arah pria tersebut, senyum terutas di bibirnya ketika ia melihat Vino telah kembali. Dengan cepat Zanna bergerak menghampiri Vino disana, matanya celingak-celinguk mencari sosok ibunya. Ya Zanna ingat betul janji Vino sebelumnya yang berkata akan kembali membawa ibunya, tapi lagi-lagi Zanna harus dibuat kecewa saat ini.


"Om, mana mama? Kok om cuma sendiri sih? Om pasti bohong lagi ya sama aku?" tanya Zanna dengan wajah merengut.


"Eee....." Vino terlihat kebingungan kali ini dan berusaha menemukan alasan yang tepat.


"Ah om mah bohongin aku terus, aku kecewa sama om! Kenapa sih om gak pernah bisa tepatin janji om?" protes Zanna.


"Zanna, dengerin om dulu! Om bukan gak tepatin janji, om udah berusaha tapi om belum berhasil sekarang ini. Om akan terus usahakan untuk kamu, pasti om bakal bisa bawa mama kamu kesini kok nanti!" ucap Vino.


"Aku gak percaya lagi sama om, karena om itu tukang bohong!" tegas Zanna.


Vino menggeleng dan meraih dua tangan gadis di hadapannya, ia coba membujuk serta meyakinkan Zanna kalau ia tidak akan berbohong kali ini. Selain itu, Vino pun juga menyerahkan boneka di tangannya kepada Zanna sebagai hadiah. Namun, sepertinya Zanna tak tertarik dengan itu dan malah membuang boneka tersebut sampai terjatuh ke lantai.


"Ini om ada hadiah buat kamu sayang, boneka ini sengaja om beliin buat jadi teman kamu selagi mama kamu gak bisa ada disini!" ucap Vino.


"Ck, aku gak mau om! Aku gak butuh boneka atau apalah itu, aku cuma mau mama!" sentak Zanna.


Vino sampai terbelalak menyaksikan bagaimana emosinya Zanna saat ini, ia tak menyangka Zanna akan sekesal itu karena kegagalannya. Vino pun berusaha memaklumi semua itu, ia tersenyum saja lalu mengambil kembali boneka itu. Vino tak menyerah, karena ia tahu kalau Zanna pasti akan dapat dibujuk olehnya.


"Kenapa kamu gak mau sayang, bukannya kamu suka sama boneka ya? Ini punyanya anak om dulu loh, dia suka banget sama boneka ini. Katanya kalau ada boneka ini, dia pasti gak akan kesepian," ucap Vino dengan mata berkaca-kaca.


Setiap kali mengingat mengenai anaknya, rasa sedih selalu muncul di dalam hatinya. Sampai sekarang, Vino belum bisa melupakan putri cantiknya itu meski sudah hampir bertahun-tahun waktu berlalu. Itulah mengapa Vino merasa kasihan saat melihat Zanna kali ini, apalagi gadis mungil itu harus menjadi tahanan di usianya yang masih belia.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


...|||...

__ADS_1


...Siapa yang setuju Dean mati?☺️...


__ADS_2