Jebakan Satu Malam Duda Liar

Jebakan Satu Malam Duda Liar
Bikin adek buat Zanna


__ADS_3

Setelah berpikir dalam waktu yang cukup lama, akhirnya Harold memutuskan untuk mengikuti kemauan Maysa dan pulang ke rumah bersama istrinya itu. Harold tidak mau jika ia membuat Maysa kecewa seperti tadi, karena ia khawatir Maysa akan membenci dirinya nanti. Apalagi, Harold amat mencintai wanita itu dan tak akan mungkin bisa kehilangan sosok Maysa sampai kapanpun.


Akan tetapi, saat Harold menggandeng tangan Maysa dan hendak mengajaknya pergi dari rumah sakit itu, tiba-tiba saja dokter muncul dari dalam ruang rawat Clara untuk memberi kabar. Akibatnya, Harold terpaksa mengurungkan niatnya karena tidak mungkin ia mengabaikan dokter tersebut. Untungnya Maysa juga bisa mengerti, meski terlihat raut kesal di wajah wanita itu karena Harold malah berhenti dan tidak jadi pulang bersamanya kali ini.


"Ah dok, gimana kondisi mantan istri saya? Apa dia baik-baik saja?" tanya Harold begitu cemas.


"Alhamdulillah, pasien hanya mengalami gejala hilang ingatan sementara. Hal itu dikarenakan terjadi benturan pada bagian kepala pasien saat mengalami kecelakaan sebelumnya, tapi beruntung beliau tidak mengalami cidera yang parah," jawab sang dokter.


"Oh syukurlah, saya lega dengarnya! Dok, kalo gitu saya minta dokter tangani mantan istri saya dengan baik ya dok!" ucap Harold.


"Baik pak, tentu saja saya akan melakukannya karena itu sudah menjadi tugas dan tanggung jawab saya! Bapak tenang saja, tidak perlu khawatir dengan kondisi pasien!" ucap dokter menyanggupi.


"Terimakasih dok," ucap Harold singkat.


Setelah dokter itu pergi, Harold kembali menatap ke arah istrinya yang ada di sebelahnya. Ia heran ketika melihat Maysa sudah kembali merengut seperti itu, apalagi genggaman tangannya sudah terlepas dan membuat ia semakin bingung. Namun, dengan cepat Harold merangkul serta mencolek pipi wanita itu bermaksud menggodanya.


"Sayangku, kamu kenapa lagi sih? Aku ada salah sama kamu, hm?" tanya Harold pada istrinya itu.


Maysa hanya menggeleng sembari melipat kedua tangannya di depan, ia terus cemberut sambil menghela nafas kasarnya di dekat sang suami. Entah mengapa rasanya Maysa malas sekali membahas semua itu kembali kepada suaminya, karena ia merasa sudah lelah memberitahu pada Harold kalau dirinya tak suka dengan sikap pria itu yang lebih memperhatikan Clara dibanding dirinya.


"Kamu marah ya sama aku? Apa gara-gara aku tadi gak jadi pergi dan malah bicara sama dokter, iya?" Harold kembali bertanya kepada Maysa kali ini.


"Itu kamu tau, terus kenapa kamu malah tanya lagi?" ucap Maysa dengan ketus.


Harold pun tersenyum dan mengecupi wajah sang istri berulang kali, ia terus mencoba untuk membujuk istrinya itu saat ini agar tidak terus cemberut seperti itu. Apalagi, Harold tak menyukai jika Maysa merasa cemburu padanya sampai kecewa dan tak mau berbicara dengannya.

__ADS_1


"Aku minta maaf ya sayang? Aku kan tadi harus denger penjelasan dokter dulu, gak enak lah kalau aku main pergi gitu aja. Masa iya ada dokter keluar terus kita malah gak perduli?" ucap Harold.


"Ck, alasan aja kamu mas! Bilang aja kamu emang masih perduli sama Clara!" ujar Maysa.


"E-enggak kok sayang, aku cuma perduli dan perhatian sama kamu. Udah ya kita pulang aja yuk, jangan ngambek terus ah!" goda Harold.


"Nyenyenye..."


Maysa memainkan bibirnya secara berulang-ulang yang membuat Harold makin merasa gemas padanya, sontak Harold mendekap erat tubuh Maysa dan langsung menyatukan bibir mereka disana. Harold seolah tak perduli dengan keberadaan para pengawalnya yang ada di dekatnya, sampai-sampai mereka semua harus menutup mata dan bahkan ada yang berbalik agar tidak melihat hal itu.


"Kita pulang yuk, bikin adek buat Zanna!" bisik Harold di sela-sela ciumannya.


Deg




Mawar benar-benar tak menyangka ini semua akan terjadi padanya, dikala ia hanya memiliki seorang ayah di hidupnya justru kini Tuhan memanggil ayahnya dari kehidupannya. Mawar sungguh menyesal karena pernah bersikap tidak benar pada sang ayah yang merupakan mafia kelas kakap itu, ya bagaimanapun Rendy itu adalah ayah kandungnya.


Javier pun hanya bisa memantau momen itu dari jarak yang tak jauh, ia terus menatap Mawar dengan ekspresi penuh kasih dan perasaan tidak tega. Apalagi, ia sangat menyayangi Mawar dan tak akan rela jika melihat wanita yang dicintainya itu merasa tersakiti seperti yang kini sedang terjadi.


Javier mengepalkan tangannya, ia berjanji bahwa setiap tetes air mata yang jatuh dari wajah gadis itu akan menjadi sebuah penderitaan yang amat sangat bagi Harold beserta pasukannya nanti. Ia tak perduli lagi siapa status Harold saat ini, karena yang ia tahu Harold adalah seorang pembunuh dan tak pantas untuk dimaafkan.


"Sayang!" perlahan Javier menghampiri wanita itu dan ikut berjongkok di dekatnya.

__ADS_1


Mawar sontak menoleh ke arahnya begitu ia sadar ada telapak tangan yang menyentuh bahunya, ia menatap Javier dengan wajah sembab yang dipenuhi air mata. Kesedihan itu dapat dirasakan juga oleh Javier, bahkan kali ini pria itu menangkup wajah Mawar dan membantu menyeka air matanya.


"A-aku minta maaf kak, tapi aku gak bisa tahan diri buat gak menangis disini. Aku udah ingkar janji, karena masalahnya aku baru tau kalau papa udah gak ada," ucap Mawar sambil terisak.


Javier mengangguk kecil, "Aku paham kok sayang, aku juga gak mempermasalahkan itu. Tapi, kamu harus bisa ikhlas menerima semuanya! Kita doakan saja papa kamu supaya tenang disana, jangan sedih terus ya sayang!" ucapnya lembut.


"I-i-iya kak, aku bakal berusaha buat terima semua ini dan mencoba ikhlas kok. Walau ini berat banget buat aku, karena aku udah gak punya siapa-siapa lagi sekarang," ucap Mawar.


"Hey, jangan bilang begitu! Masih ada aku disini yang akan selalu temani kamu sayang," ucap Javier.


Mendengar kata-kata yang dilontarkan Javier barusan itu, Mawar mendadak merasa tenang dan tersenyum ke arahnya. Javier kini juga mulai berani merangkul dan memeluk gadis itu, ia mengusap punggung Mawar dengan lembut sembari memberi kecupan hangat pada keningnya.


"Yaudah, kita pulang yuk! Pamit dulu sama papa kamu, abis ini aku bakal bawa kamu ke suatu tempat yang indah," ucap Javier.


Mawar manggut-manggut setuju mendengar perkataan yang dilontarkan pria itu, ia tak sabar juga menanti tempat apa yang kiranya akan ditunjukkan oleh Javier padanya. Akan tetapi, berat juga rasanya bagi Mawar untuk pergi dari sana meninggalkan makam papanya itu.


"Pa, aku sama kak Vier pamit dulu ya? Papa yang tenang disana, aku janji bakal selalu doain papa sampai kapanpun! Maafin aku ya kalau aku belum jadi anak yang baik buat papa?" ucap Mawar.


Sebelum pergi, Mawar menyempatkan diri mengecup batu nisan itu dan memeluknya sesaat untuk melampiaskan rindunya. Teringat semua kenangan manis saat dirinya bersama sang ayah dulu, rasanya ia tak menyangka ini semua akan terjadi secepat ini dan papanya itu sudah tidak ada lagi di muka bumi ini.


"Maafin aku ya Mawar, aku gak bisa kasih tau kamu kebenaran tentang pembunuhan yang dilakukan Harold kepada papa kamu!" batin Javier.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...

__ADS_1


__ADS_2