
Maysa kini berada di meja administrasi, ia hendak mengurus semua biaya rumah sakit atas nama ibunya yang mendapat perawatan tadi. Namun, Maysa terkejut ketika ternyata semua biaya yang disodorkan padanya itu sangat mahal dan sulit bagi dirinya untuk bisa membayar semua itu. Apalagi sekarang ini ia baru bekerja, maka sangat tidak mungkin Maysa bisa mendapat uang sebanyak itu.
Wanita itu pun teramat bingung, ia coba meminta keringanan dari pihak rumah sakit terkait biaya yang harus dirinya bayar. Akan tetapi, mereka tidak perduli dan malah meminta Maysa untuk segera membayar semuanya karena antrian disana sudah sangat panjang. Maysa tampak sangat bingung, bahkan ia sampai dihujat oleh para pasien lain yang hendak membayar disana karena ulah Maysa sendiri.
"Mbak, kalau begitu saya akan bayar setengahnya dulu ya? Saya janji akan melunasi semuanya nanti, tapi saya mohon mbak berikan saya waktu!" ucap Maysa memelas.
Petugas itu menjawab dengan lembut, "Tidak bisa mbak, disini bukan warung dan tidak ada yang namanya hutang," ucapnya.
"Tapi mbak, saya—"
Ucapan Maysa terputus karena tanpa diduga seseorang datang dan menyodorkan sejumlah uang ke atas meja dengan gagahnya, sontak Maysa terkejut lalu menoleh ke samping untuk memastikan siapa yang datang itu. Kedua bola mata Maysa membelalak seketika, ternyata sosok pria yang muncul kali ini merupakan Harold alias orang yang telah merenggut kesuciannya kala itu.
"Biar saya yang bayar semua biaya rumah sakitnya, mbak. Ambil saja semua uang ini!" ucap Harold dengan gagah pada petugas rumah sakit itu.
"Baik pak!" ucap petugas itu menurut.
"Tunggu! Saya tidak mau terima apapun dari dia, jangan diambil uangnya mbak!" Maysa menyela dan mencegah petugas itu mengambil uang milik Harold.
"Hey, sudahlah tidak usah canggung begitu! Anggap semua ini bantuan dari saya," ucap Harold.
"Saya tidak sudi menerima bantuan dari pria keji seperti anda, tuan! Lebih baik anda pergi dan jangan kita campur urusan saya!" sentak Maysa.
"Kesombongan kamu itu akan membunuh ibu kamu, May. Kalau kamu menolak uang ini, maka beliau juga bisa mati karena tidak mendapat penanganan lanjut dari pihak rumah sakit!" ucap Harold.
Deg
"Jangan lancang tuan! Anda tidak mempunyai kuasa apapun tentang kematian seseorang, jadi sebaiknya anda diam!" ucap Maysa tegas.
__ADS_1
"Okay, saya minta maaf. Tapi, ambil saja uang ini dan bayar semuanya Maysa! Jika kamu menolak bantuan dari saya, maka anggap lah ini sebagai hutang yang harus kamu lunaskan ke saya nantinya!" ucap Harold memberi solusi pada wanita itu.
Maysa terdiam sejenak memikirkan itu, tapi kemudian tiba-tiba saja Harold langsung menyerahkan uang itu kembali kepada si petugas sebagai bayaran pengobatan Melinda. Tentu saja Maysa tidak dapat berbuat banyak selain menyetujui saja permintaan Harold, sebab dirinya pun juga tidak ingin ibunya kenapa-napa nanti.
"Semuanya sudah saya bayarkan, kamu hanya perlu membayar uang itu ke saya nanti. Sekarang kamu bisa tenang, Maysa!" ucap Harold tersenyum lebar.
Setelah mengatakan itu, Harold pun memutuskan pergi meninggalkan Maysa. Namun, Maysa yang masih ingin berbicara dengannya akhirnya bergerak cepat menyusul pria itu. Ya Maysa memanggilnya, menahan pergerakan Harold dengan cara mencekal lengannya dari belakang sampai Harold tidak bisa pergi dan terpaksa menghentikan langkahnya.
"Tunggu!" ucap Maysa setelah berhasil berdiri di hadapan pria itu saat ini.
"Hm, kenapa Maysa? Kamu pasti mau bilang terima kasih ke saya ya soal tadi? Sudahlah, kamu gak perlu berbuat itu Maysa!" ucap Harold.
"Bukan, saya cuma mau tanya sama tuan. Sebenarnya apa sih mau tuan?" ucap Maysa.
"Hah? Kok kamu tiba-tiba tanya begitu, emangnya ada apa? Perasaan saya cuma bantu kamu bayar biaya rumah sakit, kurang baik apa coba saya?" ucap Harold dengan santai.
"Ya saya tahu, tapi sebelumnya anda sudah melecehkan saya. Saya heran, kenapa sekarang anda malah bantu saya tuan?" ujar Maysa.
"Itu belum cukup, saya—"
Belum selesai Maysa berbicara, Harold sudah langsung mencengkram rahangnya dan berjalan mendekat dengan tatapan mengerikan. Maysa sampai kesulitan menelan saliva nya, bahkan juga jantungnya berdetak sangat kencang ketika Harold tepat berada di depannya. Wanita itu tentu trauma, dan dia tidak mau kejadian kemarin terulang lagi.
"Tu-tuan mau apa? Ini rumah sakit, tolong jangan macam-macam!" gugup Maysa.
Harold menyeringai, "Tidak Maysa, saya hanya ingin meminta kamu untuk diam dan jangan banyak bertanya!" ucapnya.
"Tapi saya masih ingin tahu sesuatu, mengapa anda selalu tahu posisi saya? Apa jangan-jangan anda sengaja melacak keberadaan saya?" ucap Maysa.
__ADS_1
"Tch!" Harold berdecih seraya mendorong wajah Maysa begitu saja dengan kasarnya.
"Untuk apa saya melacak kamu, Maysa? Kita bertemu disini tidak sengaja, karena kebetulan anak saya juga dirawat di rumah sakit ini," ucap Harold.
Deg
Maysa terkejut, apa tadi katanya? Anak? Bisa gila Maysa setelah tahu kalau orang yang merenggut kesuciannya ternyata telah memiliki seorang anak, lantas dia harus bagaimana saat ini? Tidak mungkin Maysa meminta tanggung jawab dari seorang yang sudah beristri, apalagi memiliki anak. Tentu saja Maysa sampai tak berkutik saat ini, dirinya bingung dan tak tahu harus apa.
"Kenapa diam? Kamu kaget ya karena pria setampan saya sudah memiliki anak?" tanya Harold dengan nada menggoda.
"Cih, kepedean banget sih anda! Saya diam karena saya gak nyangka aja, ternyata ada ya pria sekeji anda? Anda sudah memiliki anak, tetapi anda masih memperkosa seorang gadis malang seperti saya. Dimana perasaan anda, tuan?" ucap Maysa.
"Lantas mengapa saya harus mengasihani kamu, Maysa? Memangnya kamu ini siapa? Saya tidak perduli mau saya sudah punya anak atau belum, gairah itu tidak bisa saya tahan lagi Maysa!" ucap Harold tersenyum sinis.
"Loh kenapa? Bukannya anda sudah punya anak, itu artinya anda juga memiliki seorang istri kan? Kenapa tidak anda setubuhi saja dia?" tanya Maysa.
"Hahaha, saya ini duda, Maysa." sontak wanita itu terkejut mendengar pengakuan Harold, matanya sampai membulat seolah hendak copot setelah tahu bahwa Harold adalah seorang duda.
"Apa? A-anda??" Maysa sampai tidak bisa berkata-kata, ia merasa bahwa dirinya benar-benar kotor kali ini.
"Harold!" tiba-tiba saja, seseorang muncul dan memanggil nama pria tersebut dari kejauhan.
Disaat Harold dan Maysa menoleh, saat itu juga mereka menemukan sosok wanita tengah berjalan menghampiri mereka disana. Harold tahu betul siapa wanita itu, sebab dia adalah Clara alias mantan istrinya. Melihat ekspresi Clara yang marah, Harold pun tampak ketar-ketir dan berusaha sembunyi dibalik tubuh Maysa.
"Sembunyikan saya Maysa, sembunyikan saya!" pinta Harold.
"Eh eh eh, apaan sih? Anda jangan macam-macam ya, atau saya teriak nih!" Maysa tampak kebingungan dan heran mengapa Harold sampai setakut itu.
__ADS_1
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...