Jebakan Satu Malam Duda Liar

Jebakan Satu Malam Duda Liar
Tuduhan Clara


__ADS_3

Kini akhirnya Maysa berhasil lepas dari jeratan Clara yang ganas itu, Maysa pun tiba di sebuah restoran dekat kantornya bersama Dean serta Clarissa yang setia menemani. Maysa sungguh tak menyangka, kehadiran Clara di kantornya benar-benar membuat dirinya semakin emosi. Bisa-bisanya Clara sengaja menghinanya di hadapan para karyawan kantor, padahal Maysa sudah berusaha menahan emosinya.


Dean dan Clarissa pun berusaha terus menenangkan Maysa agar tidak terpancing, mereka tahu jika apa yang dikatakan Clara memang sangat kurang ajar dan begitu menyakiti hati Maysa. Namun sebagai seorang bos, Maysa harus bisa menahan diri dan menunjukkan bahwa ia adalah pimpinan yang baik. Untungnya Maysa masih mau mendengar kata-kata Dean tadi, kalau tidak bisa saja para karyawan disana tak akan percaya lagi padanya.


"Bu, ibu yang tenang ya! Ini cobaan bu Maysa sebagai pimpinan baru kita, tapi saya yakin kalau ibu pasti bisa melewati semua kok!" ucap Clarissa.


"Benar bu, dan juga saya sama Risa pasti akan selalu ada disisi ibu kok. Kami akan bantu ibu untuk melewati semuanya, seperti permintaan bos Harold melalui surat itu!" sahut Dean.


Maysa tersenyum kali ini, "Terimakasih ya, kalian memang sangat baik!" ucapnya.


Ketiganya bersulang kali ini untuk hari pertama Maysa sebagai pimpinan di kantor mereka, ya walau sebenarnya Maysa agak ragu dan masih takut untuk bisa memimpin perusahaan sebesar itu. Apalagi, Maysa benar-benar tidak mengetahui apapun mengenai perusahaan suaminya itu.


"Sekali lagi selamat ya bu, karena bu Maysa sudah menjadi pemimpin di perusahaan ini!" ucap Clarissa.


"Terimakasih Risa, saya juga senang kok. Saya harap kalian berdua memang bisa terus membantu saya dalam mengurus perusahaan ini!" ucap Maysa.


Dean dan Clarissa kompak mengangguk, lalu meminum minuman milik mereka masing-masing. Keduanya juga sama sekali tidak pernah meragukan sosok Maysa, meski mereka tahu kalau Maysa adalah orang baru di bisnis itu. Justru mereka berdua tampak yakin dengan Maysa, mereka percaya kalau Maysa bisa memimpin perusahaan.


"Oh ya, kalian ada yang tahu gak sih kabar mas Harold sekarang gimana? Saya gak pernah dapat telpon tuh dari dia, terus chat saya juga gak dibaca sama sekali. Jujur saya cemas banget sama suami saya itu," tanya Maysa begitu penasaran.


"Eee...." baik Dean maupun Clarissa, sama-sama berpaling dan kebingungan menjawabnya.


Melihat ekspresi wajah dari Dean serta Clarissa saat ini, semakin membuat Maysa curiga dan mengira jika ada yang disembunyikan darinya. Maysa pun tak berhenti mencecar kedua karyawannya itu untuk mau berkata jujur, karena ia sungguh merindukan sosok suaminya. Bagaimanapun, Maysa sangat ingin mengetahui kabar mengenai Harold tentunya.


"Kalian kenapa gelisah gitu? Apa kalian tau sesuatu tentang suami saya? Kalau memang iya, tolong kalian jujur sama saya sekarang!" ucap Maysa.

__ADS_1


"Ti-tidak bu Maysa, kami tidak tau apa-apa. Bahkan, kami juga tidak bisa menghubungi bos Harold. Situasi kita sama bu, saya pun juga mencemaskan bos Harold sekarang," ucap Dean lirih.


"Ah masa? Kalian gak lagi bohongin saya kan?" tanya Maysa coba memastikan.


Dean melirik sekilas ke arah Clarissa, kemudian menggeleng secara bersamaan dan meyakinkan Maysa kalau mereka tidak berbohong. Meski Dean sebenarnya tahu apa yang dilakukan Harold saat ini di luar kota, namun sesuai perintah maka Dean tak akan menceritakan semua itu kepada Maysa.


"Iya bu, kami memang tidak tahu apa-apa. Tapi kalau kami nanti dapat kabar tentang bos Harold, kami pasti akan berikan kabar itu ke ibu!" ucap Dean.


"Baiklah, saya percaya sama kalian!" singkat Maysa.


Dean tampak tidak enak hati pada Maysa, apalagi Maysa begitu mencemaskan suaminya dan ingin sekali mengetahui kabar mengenai Harold yang sekarang masih bertugas di luar kota sana.




Dean serta Clarissa yang melihat itu pun panik, mereka spontan mengejar Maysa dengan cepat untuk mencoba menahan wanita itu. Mereka khawatir jika Maysa akan terbawa emosi, apalagi saat ini Maysa memang tengah cemas setelah tak mendapat kabar mengenai suaminya. Bisa saja Maysa melampiaskan itu kepada Clara, dan mereka tak akan membiarkan hal itu terjadi.


"Hey Clara, bangun kamu! Mau apa kamu masih ada disini, ha?" tegur Maysa.


Clara menyeringai, ia bangkit dari kursi yang ia duduki dan menatap ke arah Maysa yang kini berada tepat di hadapannya. Rasanya Clara memang sengaja ingin memancing emosi Maysa, supaya para karyawan disana tak menyukai wanita itu lagi. Entah apa alasannya, tapi yang pasti Clara tidak suka apabila Maysa menjadi pemimpin di kantor itu.


"Maysa, kamu itu emosian banget ya jadi orang? Pemimpin kok gak bisa kasih contoh yang baik kepada bawahannya?" cibir Clara.


"Kamu diam ya Clara, lebih baik kamu pergi sekarang!" sentak Maysa.

__ADS_1


"Tenang dulu Maysa, kita bicara baik-baik! Aku ini kasihan loh sebetulnya sama kamu, karena kamu cuma dijadikan sebagai pion oleh suami kamu sendiri. Apa kamu gak sadar itu?" ucap Clara.


"Maksudnya apa?" tanya Maysa tak mengerti.


"Ya coba kamu pikirin deh, udah berapa lama suami kamu itu pergi? Kamu gak curiga apa kalau dia disana ada perempuan lain?" ucap Clara.


Deg


Maysa tersentak dan membuka mulutnya, entah mengapa ia mulai terpengaruh dengan ucapan Clara mengenai suaminya itu. Pasalnya, Maysa juga belum mendapat kabar apapun dari Harold sampai sekarang ini. Memang bisa saja apa yang dikatakan Clara itu benar, mengingat dulu Harold juga sosok orang yang menggilai wanita.


"Gimana Maysa, benar kan dugaan aku itu?" ucap Clara terus menggodanya.


Maysa menggeleng pelan, ia tak mungkin percaya pada dugaan tak beralasan dari Clara itu. Lagipula, ia yakin sekali kalau Harold suaminya tak akan mungkin berkhianat darinya. Maysa justru menduga jika Clara hanya ingin mengadu domba dirinya dengan Harold, sehingga Clara sengaja berkata seperti itu padanya.


"Bu Clara, tolong anda jangan buat keributan lagi disini! Semua yang anda katakan itu sudah fitnah namanya, dan itu tidak bisa dibenarkan!" Dean menyela dan menegur wanita itu.


"Kenapa Dean? Kamu belain Harold karena dia bos kamu kan? Padahal, aku yakin banget kamu pasti juga tau sesuatu tentang dia!" ucap Clara.


"Itu tidak benar bu, bos Harold tidak pernah selingkuh di belakang bu Maysa. Anda tolong jangan buat persepsi yang tidak-tidak! Ucapan anda itu bisa saya laporkan ke bos Harold, supaya anda dituntut!" ucap Dean mengancam.


"Silahkan, ayo tuntut saja saya! Toh saya cuma mengatakan fakta yang sebenarnya, kalau Harold itu suka sekali memainkan wanita," kekeh Clara.


Baik Maysa ataupun yang lainnya kini kompak terdiam dengan mata membulat lebar, mereka tak menyangka kalau Clara akan seberani itu dan mengatakan hal yang tidak-tidak mengenai Harold. Tentu saja Maysa tak semudah itu percaya pada Clara, mengingat selama ini Clara memang tak menyukai Harold dan keluarganya.


"Aku bingung banget sekarang mas, apa aku harus percaya sama Clara atau sama kamu? Tapi, hilangnya kamu selama beberapa Minggu ini bikin aku cemas mas," batin Maysa.

__ADS_1


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2