Jebakan Satu Malam Duda Liar

Jebakan Satu Malam Duda Liar
Kabar menyedihkan


__ADS_3

Melinda yang masih terbaring di rumah sakit, kini tiba-tiba membuka matanya dan teringat pada sosok Saskia yang merupakan putrinya itu. Ia terbangun, menatap sekitar dan melihat seorang suster tengah merapihkan kamar disana. Sontak Melinda berusaha mengeluarkan suaranya, meski sulit namun ia terus berjuang sampai si suster akhirnya mendengar dan menoleh ke arahnya.


Sontak suster itu tampak sangat bahagia, ia segera mendekati Melinda dan berdiri tepat di sampingnya. Ia bertanya sambil tersenyum, karena sepertinya Melinda sedang membutuhkan sesuatu. Ya entah kenapa Melinda bisa seperti ini, kondisinya secara tiba-tiba membaik dan mampu sadarkan diri. Padahal, sebelumnya ia sempat kembali drop dan membuat dokter frustasi merawatnya.


"Ada apa bu? Apa ibu perlu sesuatu? Mau saya panggilkan dokter, bu?" tanya suster itu dengan wajah penasarannya.


Melinda menggeleng, "Bu-bukan itu, a-anak saya. Sa-saya ma-mau ketemu me-mereka," jawabnya tergagap.


"Ohh, ibu mau ketemu anak-anak ibu? Sebentar ya bu, saya keluar dulu?" ucap suster itu.


Melinda mengangguk kali ini, ia sungguh mencemaskan kondisi anak-anaknya entah karena apa, terutama Saskia yang terus saja muncul di kepala Melinda saat ia pingsan tadi. Sedangkan sang suster kini melangkah ke luar menemui dua orang pengawal yang masih berjaga disana, ya mereka adalah Hendi dan Fauzan.


"Permisi pak!" suster itu menyapa kedua pria tersebut dan membuat mereka menoleh bersamaan.


"Eh iya sus, ada apa? Apa ada yang bisa kami bantu?" tanya Fauzan terlihat begitu penasaran setelah melihat suster itu muncul di dekatnya.


"Begini pak, pasien sudah sadar sekarang. Tapi, beliau meminta untuk bertemu dengan anak-anaknya. Apa mereka bisa datang sekarang, pak?" ucap suster itu menjelaskan maksudnya.


"Eee biar kami coba hubungi salah satu dari mereka dulu, sus. Nanti akan kami kabari lagi setelah dapat jawabannya," ucap Fauzan.


"Baiklah, ditunggu ya pak?" ucap suster itu.


Fauzan mengangguk kecil, lalu mengambil ponsel miliknya dari saku jas dan langsung coba menghubungi Javier selaku adik dari bos mereka. Ya sebab saat ini memang Javier lah yang ditugaskan untuk menjaga Maysa serta Saskia, setelah Harold harus pergi jauh menjalankan misinya sesuai perintah dari Rendy.


"Gimana bro, bisa gak?" tanya Hendi menepuk pundak Fauzan.


"Gak diangkat bro, gimana ini ya?" jawab Fauzan.

__ADS_1


Mereka berdua pun tampak kebingungan, seolah tak tahu harus bagaimana untuk bisa membawa Maysa atau Saskia ke rumah sakit. Apalagi, sekarang suster itu tampak menunggu jawaban dari mereka mengenai dua orang putri dari Melinda. Terpaksa Fauzan harus berkata yang sejujurnya kepada suster itu, karena memang Javier tak bisa dihubungi.


"Maaf sus, saya sudah coba telpon mereka tapi tidak bisa! Mungkin saya harus datangi tempat mereka dulu, apa bu Melinda di dalam sana bisa menunggu?" ucap Fauzan.


"Eee kalau itu saya kurang tahu pak, tapi sepertinya pasien sangat ingin bertemu dengan anak-anaknya. Mungkin juga karena teringat dengan mereka, maka pasien bisa sadarkan diri saat ini. Sebaiknya tolong diusahakan dengan cepat ya pak!" ucap suster.


"Iya sus, saya pergi sekarang juga untuk menemui salah satu dari mereka!" ucap Fauzan.


Suster itu mengangguk, kemudian Fauzan meminta Hendi tetap disana menjaga Melinda agar tidak terjadi sesuatu yang tak diinginkan. Hendi tentu saja menyetujui itu, karena bagaimanapun menjaga Melinda adalah tugasnya kali ini. Dengan cepat Fauzan pergi dari sana, demi bisa menemui Javier walau ia tidak tahu dimana lelaki itu berada.




Javier tersentak ketika mendengar kabar dari Dean mengenai kepergian Saskia, ia tak percaya kalau gadis itu akan pergi secepat ini. Javier pun meneteskan air matanya, kesedihan yang ia rasakan kembali bertambah kali ini. Setelah keguguran Maysa, kini malah ia mendapat info bahwa Saskia telah tiada alias pergi untuk selamanya.


"Kamu pasti bohong kan Dean? Gak mungkin Saskia pergi secepat ini, kamu pasti lagi ngerjain saya kan! Jawab saya Dean, jawab!" Javier terlihat emosi dan masih tak bisa menerimanya.


Dean hanya terdiam seraya menggelengkan kepala, ia tak mampu menjawab apapun karena saat ini ia juga masih dalam kondisi berduka. Javier kini menarik kerah bajunya, mencengkram dengan kuat seolah menunjukkan betapa kesalnya ia. Javier sungguh tak percaya, ia yakin kalau Saskia adik iparnya itu masih hidup sekarang ini.


"Tatap mata saya, Dean! Kamu jangan berani-berani bohongi saya, kamu jujur sama saya sekarang! Gak mungkin Saskia meninggal, dia pasti masih hidup! Kalau kamu berani bilang begitu, kamu juga harus berani tanggung jawab!" sentak Javier.


"I-i-iya tuan, memang ini semua kesalahan saya. Kepergian non Saskia tidak seharusnya terjadi tuan, semuanya karena saya!" ucap Dean terisak.


"Baguslah kalau kamu sadar, lalu kenapa kamu tidak melindungi dia sebelumnya? Kenapa kamu malah membiarkan dia tertusuk, ha? Seharusnya kamu itu yang melindungi dia Dean!" ucap Javier.


"Maafkan saya tuan, saya juga tidak berdaya saat melihat non Saskia tertusuk!" ucap Dean lirih.

__ADS_1


"Aakkhh sial!" Javier mengumpat kesal.


Javier langsung mendorong kuat tubuh Dean sampai terjatuh ke lantai dengan posisi miring, ia lalu bangkit dan menangis sejadi-jadinya. Javier belum bisa membayangkan, bagaimana perasaan Maysa nanti begitu tahu semuanya. Setelah dia harus kehilangan bayinya, kini ada kabar juga kalau Saskia telah meninggal dunia.


"Vier!" tiba-tiba saja, terdengar suara lirih dari seorang wanita di dekat mereka.


Sontak Javier dan juga Dean kompak menoleh ke asal suara, mereka terkejut bukan main ketika melihat Maysa berada disana dengan kursi rodanya. Ya Maysa tampak duduk di kursi roda, ia muncul bersama seorang perawat di belakangnya. Tentu saja Javier sangat kebingungan, ia tak tahu harus mengatakan apa pada Maysa nantinya.


"Ini ada apa Vier, Dean? Kenapa kalian menangis kayak gini sih? Apa yang terjadi coba, gak ada masalah kan?" tanya Maysa penuh penasaran.


"Eee Maysa, kenapa kamu keluar sih? Kamu itu masih belum pulih benar loh," ucap Javier.


Maysa langsung menepis tangan Javier yang hendak membawanya pergi dari sana, ia masih penasaran dan ingin tahu apa yang terjadi. Firasatnya sungguh tidak enak, ia khawatir kalau ada sesuatu yang buruk tengah terjadi saat ini. Apalagi, tampak jelas kalau Javier dan Dean menangis secara bersamaan disana yang merupakan suatu hal mengejutkan.


"Jangan paksa aku buat pergi, Vier! Kamu jawab dulu pertanyaan aku, ada apa!" sentak Maysa.


Javier terdiam menunduk, "Okay, aku bakal cerita ke kamu sekarang. Tapi, aku minta kamu untuk tenang dan jangan terkejut ya dengarnya!" ucapnya agak berhati-hati.


Maysa mengernyitkan dahinya, "Kenapa kamu bicara begitu, emangnya ada apa sih?" tanyanya keheranan.


"Adik kamu, Saskia. Dia sudah enggak ada di dunia sekarang, dia dinyatakan meninggal karena luka tusukan di perutnya," jelas Javier.


Deg


Maysa melotot seketika, jantungnya seolah berhenti berdetak ketika mendengar jawaban Javier yang benar-benar mengguncang hatinya.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2