
Keesokan harinya, Maysa yang hendak membuang sampah di luar rumahnya dibuat terkejut saat tak sengaja melihat keberadaan Harold di depannya yang seperti tengah menunggu dirinya. Tentu saja wanita itu sampai terperangah, bahkan kantung sampah di tangannya itu terjatuh lantaran ia kaget dengan adanya Harold disana. Padahal semalam ia sudah memastikan betul, kalau Harold telah pergi dari rumahnya dan kembali ke tempat tinggalnya.
Namun, ya kali ini pria itu malah sudah berada di depan rumahnya dan membawakan satu bucket bunga untuknya. Harold tersenyum saja sembari memandangi wajah wanitanya, perlahan dia juga mendekat dan menyodorkan bunga itu kepada Maysa tanpa rasa ragu. Maysa hanya terdiam tak mengerti, ia bingung mengapa Harold bersikap seperti itu padanya dan sungguh berbeda jika dibanding saat pertama kali mereka bertemu.
"Tuan, maksud anda itu sebenarnya apa sih? Kenapa anda sekarang terus-terusan dekati saya, apa yang sedang tuan rencanakan?" tanya Maysa curiga.
Harold terkekeh kecil dan menundukkan wajahnya, ia menggaruk keningnya seraya menurunkan kembali tangannya yang memegang bunga itu karena ia hendak menjelaskan lebih dulu pada Maysa apa maksud ia datang kesana pagi ini.
"Saya kan sudah katakan berulang kali, saya mau menikahi kamu Maysa. Hutang kamu itu cuma bisa lunas kalau kamu setuju dengan syarat saya itu," ucap Harold sambil tersenyum.
Maysa menggeleng pelan, "Gak tuan, saya gak mau menikah sama anda!" ucapnya tegas.
"Itu terserah kamu, tapi saya akan terus datang kesini dan menagih semua hutang-hutang kamu! Kecuali, kamu mau merubah pikiran kamu dan menikah dengan saya!" ucap Harold mengancam.
"Maaf tuan, saya ini gak mungkin menikah dengan orang jahat seperti tuan yang sudah tega merenggut kesucian saya secara paksa!" ketus Maysa.
"Tapi, ujung-ujungnya kamu menikmati juga kan permainan saya Maysa? Buktinya belakangan ini kamu selalu meneriakkan nama saya saat kita bermain di ranjang," goda Harold.
Maysa menggeleng kesal dan mencoba melewati tubuh pria itu, tetapi usahanya dengan mudah digagalkan oleh Harold yang menghalanginya. Harold sengaja berdiri tepat di hadapan Maysa, sehingga membuat wanita itu tidak bisa kemana-mana dan harus terus berada disana.
"Kamu itu mau kemana? Izinin aku masuk ke dalam, kita bahas rencana pernikahan kita!" pinta Harold.
Maysa benar-benar jengkel kali ini, ia mendorong tubuh Harold sampai terhuyung ke belakang dan nyaris terjatuh. Untungnya Harold masih bisa menahan diri, tetapi hal itu membuat Maysa memiliki ruang untuk pergi dan membuang sampahnya pada tempat yang tersedia karena itu memang tujuannya sejak awal.
Disaat Harold hendak menyusul Maysa, tanpa diduga Saskia muncul lebih dulu dari dalam rumahnya dan menyapa pria tersebut. Sontak Harold mengurungkan niatnya, ia menoleh lalu tersenyum ke arah Saskia. Kini gadis itu pun mendekat, merasa penasaran mengapa Harold pagi-pagi begini sudah datang ke rumahnya.
"Kak Harold, kok udah datang aja? Pasti mau ketemu mbak Maysa ya? Wah pake dibawain bunga segala, aku jadi iri deh!" ujar Saskia.
Harold tersenyum dibuatnya, "Haha, iya Saskia. Saya kesini karena mau ketemu Maysa, sekaligus membahas tentang pernikahan kami. Kan kamu tahu sendiri, saya dan kakak kamu itu akan melangsungkan pernikahan nanti," ucapnya.
Saskia terbelalak ketika mendengar perkataan Harold barusan, gadis itu tak menyangka jika Harold memang seserius ini untuk menikahi kakaknya dan tidak hanya sekedar main-main.
Maysa yang sudah selesai membuang sampah, terkejut bukan main ketika menyadari adiknya sudah muncul disana dan tengah berbincang dengan Harold. Tentunya Maysa tak mau jika Harold sampai mengatakan yang tidak-tidak kepada adiknya itu, apalagi mengenai kejadian dimana dirinya kehilangan kesucian di tangan si pria.
Maysa langsung menghampiri mereka dan mencegah keduanya terlalu lama berbincang, meski ia tak tahu apakah dirinya sudah terlambat atau belum. Maysa pun spontan mendorong tubuh adiknya, menjauh dari Harold agar tidak terkena pengaruh dari pria itu nantinya.
"Sas, kamu mending masuk ke dalam deh! Biar aku yang bicara dan nemenin Harold disini," suruh Maysa.
"Tapi mbak, kenapa kak Harold gak disuruh masuk ke dalam aja? Kan enak tuh bicaranya bisa sambil duduk terus minum-minum, daripada disini malah berdiri begitu!" ucap Saskia.
"Gak Sas, udah kamu masuk aja sana temenin ibu!" ujar Maysa.
Akhirnya Saskia hanya bisa mengangguk pelan menuruti perintah kakaknya, ia pun masuk lebih dulu ke dalam rumahnya meninggalkan mereka disana. Sedangkan Maysa langsung menarik tangan Harold, membawa pria itu pergi dari sana dan mencari tempat yang aman.
•
•
Harold dibawa ke sebuah taman di dekat rumah itu, barulah kini Maysa melepaskan tangan pria itu dan menatapnya dengan tajam. Sedangkan Harold sendiri hanya bersikap santai sambil tersenyum, ia senang saat Maysa tadi memegang tangannya dan membawa dirinya ke taman untuk diajak berbicara berdua agar tidak mengganggu keluarganya.
__ADS_1
"Kamu pasti sengaja ya bawa saya kesini, supaya kita bisa leluasa berduaan tanpa ada yang ganggu? Kamu mau saya apain, hm?" goda Harold.
Maysa tersentak, mengepalkan tangannya dan menatap tajam wajah pria itu. Emosinya mencuat lantaran Harold dengan santainya berbicara seperti tadi, sungguh Maysa kesal dan ingin saja menampar wajah pria tersebut jika tidak di tempat umum.
Wanita itu mengelak, mengatakan jika dirinya membawa Harold kesana agar pria itu tidak bisa mengatakan hal yang aneh-aneh kepada adik maupun ibunya. Tentu Maysa tak mau Harold melakukan itu, karena ia khawatir ibunya akan percaya lalu menganggap Harold memang pacarnya yang ingin menikahi dirinya.
"Saya tahu, kamu gak suka sama saya dan kamu benci banget sama saya. Tapi, saya sekarang sudah berubah loh Maysa. Saya mau tanggung jawab, saya akan menikahi kamu!" bujuk Harold.
Maysa menggeleng tak percaya, "Berhenti bicara omong kosong seperti itu, tuan! Wanita mana yang mau dinikahi tanpa cinta?" ucapnya tegas.
"Saya mencintai kamu, dan saya rasa kamu juga begitu. Hubungan kita memang belum lama, tetapi saya sudah sangat mencintai kamu Maysa. Kalau kamu tidak percaya, belah saja dada saya!" ucap Harold tampak serius.
Maysa malah menunjukkan ekspresi hendak muntah ketika mendengar ucapan Harold, tentunya itu membuat Harold merasa gemas dan spontan menangkup wajahnya. Maysa tak sempat berontak atau mengelak, karena pria itu bergerak begitu cepat dan membuat Maysa pasrah saja tanpa dapat melakukan apapun.
"Dengarkan saya Maysa, saya sedang serius dan tidak bercanda! Saya cinta sama kamu, saya mau kamu jadi istri saya! Saya ketagihan dengan tubuh kamu itu, dan saya tidak rela jika ada lelaki lain yang menyentuh kamu!" tegas Harold.
Deg
Maysa terkejut bukan main mendengar ucapan Harold, matanya membulat lebar dan tak tahu harus mengatakan apa pada pria itu.
"Ayo sekarang kamu ikut sama saya!" Harold beralih menggandeng tangan wanita itu.
"Ish, apaan sih? Anda mau bawa saya kemana? Jangan macam-macam ya, saya ini bisa teriak dan panggil warga disini supaya kamu dipukulin sama mereka semua!" sentak Maysa.
"Tahan dulu Maysa! Saya akan bawa kamu ke tempat spesial, pasti kamu bahagia!" bujuk Harold.
Tanpa menunggu lama lagi, Harold bergegas melajukan mobilnya dari sana dan pergi bersama Maysa. Sepanjang perjalanan, Maysa terus bertanya kemana mereka akan pergi. Namun, pria itu tak menjawabnya dan malah fokus menyetir serta menatap ke jalan sesuai keinginannya.
Wanita itu terus melihat ke sekeliling, ia heran kemana sebenarnya Harold membawanya pergi. Ia menduga-duga kali ini, coba menebak hendak kemana mereka saat ini. Sedangkan Harold hanya sesekali melirik ke arah Maysa, memberikan senyuman tipisnya dan mengedipkan matanya. Maysa sungguh muak, rasanya ia ingin segera lepas dari jeratan pria tua tersebut.
"Tuan, kita ini mau kemana sih? Ini sudah terlalu jauh dari rumah saya, saya gak mau ibu atau adik saya cemas nantinya!" kesal Maysa.
"Kamu tidak usah banyak bertanya, May! Diam saja dan ikuti permintaan saya!" sentak Harold.
Maysa menundukkan kepalanya, menuruti saja perintah pria itu tanpa melakukan perlawanan atau protes apapun. Wanita itu sungguh bingung, ia tidak tahu akan dibawa kemana oleh pria mesum tersebut. Ia khawatir jika nantinya Harold akan kembali mengulangi kegiatan mesumnya.
•
•
Singkat cerita, mereka tiba di sebuah rumah yang besar dan mewah bak istana. Maysa sungguh heran saat ini, tak mengerti rumah siapakah itu dan mengapa Harold membawanya kesana. Padahal yang ia tahu, ia tidak pernah datang ke rumah tersebut atau mengenal sosok orang yang memiliki rumah sebesar itu.
Maysa pun menatap wajah Harold dengan penuh penasaran, ia bertanya pada pria itu rumah siapa yang mereka tuju saat ini. Namun bukannya menjawab, Harold justru menggenggam tangan Maysa dan mengajaknya keluar dari mobil. Mereka kini sama-sama turun, meskipun Maysa masih merasa heran apa sebenarnya mau pria itu.
Harold terus melangkahkan kakinya mendekati rumah besar tersebut, dengan membawa Maysa yang ada di sebelahnya dan menggenggam tangan wanita itu tanpa mau melepasnya. Langsung saja Harold menekan bel disana, berharap orang di dalam sana mau membukakan pintu untuknya. Sedangkan Maysa masih tampak bingung, ia memilih diam karena tak tahu harus apa.
"Tuan, ini sebenarnya rumah siapa? Anda jangan macam-macam ya tuan, saya gak mau kalau tuan menjebak saya sekarang! Saya mau pulang deh, minggir tuan!" sentak Maysa.
Harold hanya tersenyum dan mengeratkan pegangannya pada lengan wanita itu, membuat Maysa tak mampu melakukan apapun lagi. Maysa benar-benar kesal, ia mengumpat di dalam hatinya sekaligus mencoba berontak dari cengkraman kasar pria tersebut. Namun, usahanya sia-sia karena tenaga Harold yang jauh lebih besar.
__ADS_1
Ceklek
"Papa!!" tak lama kemudian, pintu dibuka dan seorang gadis kecil menemui mereka dengan senyum manis seraya menghampiri Harold.
Ya gadis mungil nan cantik itu ialah Zanna, putri kandung dari Harold dan sang mantan yakni Clara. Sontak Harold langsung terlihat bahagia, ia turut memeluk erat tubuh putrinya itu untuk meluapkan rasa rindu yang ia pendam. Bahkan, Harold sampai melupakan Maysa dan melepaskan tangannya begitu saja dari cengkeramannya.
"Duh Zanna, papa senang banget bisa ketemu kamu lagi! Kamu udah sehat sayang, hm? Baik-baik aja kan gak sakit lagi?" ucap Harold sembari mengusap rambut putrinya.
Zanna mengangguk pelan, "Udah pa, aku udah sehat. Kan mama yang rawat aku di rumah sakit," ucapnya.
"Ohh hahaha, syukurlah sayang! Papa senang lihat kamu bisa ceria lagi kayak gini, sehat terus ya sayang!" ucap Harold.
"Iya pa."
Zanna langsung beralih memandang sosok wanita di dekat papanya itu, ia penasaran dan ingin tahu siapa wanita tersebut. Matanya pun kembali menatap sang papa, seolah bertanya siapa wanita itu dan mengapa Harold datang membawanya kesana.
"Pa, tante itu siapa? Kok papa kesini sama dia sih?" tanya Zanna menunjuk ke arah Maysa.
Harold tersenyum lebar sembari mengangkat tubuh Zanna dan membawanya mendekati Maysa, ia memang ingin mengenalkan putrinya itu kepada calon ibu barunya.
Maysa sendiri nampak terdiam memperhatikan kejadian itu, ia baru tahu kalau ternyata itu adalah putri dari Harold. Ia benar-benar kagum dengan sikap Harold saat bersama putrinya, pria itu seolah memiliki kepribadian ganda yang jauh berbeda.
"Jadi ini anaknya tuan Harold? Lucu juga ya, beda banget sama papanya yang mesum itu!" gumam Maysa di dalam hatinya.
"Nah sayang, ini tuh namanya tante Maysa. Dia calon mama baru kamu Zanna," tiba-tiba saja, Harold sudah mendekati Maysa sembari menggendong Zanna dan mengenalkan mereka berdua.
Maysa terkejut bukan main, ia tak menyangka Harold akan seberani itu berbicara pada putrinya.
"Mama baru aku, maksudnya gimana pa? Aku bakal punya mama dua gitu ya, kayak teman aku di sekolah?" tanya Zanna pada papanya.
Harold mengangguk sambil tersenyum, "Benar sayang, yuk kamu kenalan sama tante Maysa!" ucapnya antusias.
"Halo tante, aku Zanna!" gadis mungil itu menurut, ia melambai disertai senyuman manisnya.
"Oh hai Zanna! Kamu cantik sekali, salam kenal ya tante ini Maysa!" balas Maysa seraya mendekati Zanna dan tersenyum lebar.
"Hahaha, mulai sekarang kalian harus saling akrab ya! Aku pengen kalian berdua bisa saling menyayangi, sebelum nantinya aku dan kamu akan melangsungkan pernikahan Maysa," ujar Harold.
Maysa terdiam saja seraya memalingkan wajahnya, ia benar-benar malu dan tak tahu harus mengatakan apa kali ini di hadapan Harold serta Zanna. Ia masih bingung, apakah semua ini memang keinginan Harold atau pria itu hanya menginginkan tubuhnya dan sedang merencanakan sesuatu untuk menjebak dirinya ke dalam sebuah rencana pria itu.
"Ehem ehem!! Ada apa ini??" tanpa diduga, Clara sang mantan muncul dari dalam sana menemui ketiga manusia itu dengan wajah bingung.
Clara terlihat kaget melihat Harold sudah ada disana bersama seorang wanita dan tengah menggendong Zanna, ia ingat betul siapa wanita yang bersama Harold itu karena sebelumnya mereka memang sudah bertemu saat di rumah sakit.
"Mas, ngapain kamu bawa perempuan ini kesini?" tanya Clara dengan ketus.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
__ADS_1