
Maysa tampak sangat syok begitu mendengar kabar dari Javier mengenai kepergian adiknya, ia reflek menggeleng dan tak percaya kalau saat ini Saskia telah tiada. Maysa pun menangis terisak, rasanya ia begitu syok dan bersedih karena mendapat kabar duka tersebut. Setelah ia kehilangan bayi di dalam kandungannya, kini malah adik tercintanya lah yang dinyatakan meninggal dunia oleh dokter disana.
Javier yang berdiri tepat di sebelahnya, kini mendekat untuk coba menenangkan wanita itu. Jujur Javier merasa tidak tega saat melihat reaksi Maysa saat ini, apalagi Maysa adalah orang yang menjadi tanggung jawab baginya. Javier tentu tak ingin jika Maysa tersakiti dan bersedih seperti ini, ia pun berlutut di hadapan Maysa lalu meraih dua tangan wanita itu untuk digenggam dengan erat.
"Maysa, kamu yang sabar ya! Aku tau ini berat banget buat kamu, karena kamu harus kehilangan dua orang yang kamu sayangi dalam waktu berdekatan. Tapi, kamu harus tetap kuat ya Maysa!" ucap Javier membujuknya.
Maysa menarik tangannya, ia gelengkan kepala secara perlahan dan menatap ke arah lain disertai tangis yang terus keluar di wajahnya. Maysa tak mungkin bisa tenang semudah itu saat ini, kehilangan dua orang yang ia sayangi sekaligus tentu sangat menyakitkan baginya. Namun, Javier kembali berusaha menenangkan wanita itu.
"Gak semudah itu buat aku tenang, Javier! Kamu pasti paham kan soal itu? Kehilangan bayi aku aja itu udah berat banget buat aku, apalagi sekarang kamu bilang kalau adik aku juga meninggal!" ujar Maysa.
"I-i-iya Maysa, emang aku ngerti kok. Kamu boleh nangis sepuas kamu sekarang, luapkan aja semua kesedihan kamu itu disini!" ucap Javier.
"Aku mau ketemu Saskia," pinta Maysa.
Javier terkejut mendengarnya, ia menatap ke arah Dean seolah meminta bantuan dari pria itu terkait permintaan Maysa barusan. Memang wajar jika Maysa ingin bertemu dengan adiknya saat ini, sebab Maysa masih belum yakin jika Saskia telah tidak. Ya wanita itu ingin memastikan sendiri, apakah yang dikatakan Javier tadi benar.
"Kenapa kalian malah diam? Aku mau ketemu Saskia sekarang, aku mau lihat sendiri kondisinya!" sentak Maysa.
"Iya Maysa iya, kamu gak perlu emosi ya! Aku bakal antar kamu ketemu sama Saskia," ucap Javier.
Javier sempat memberi kode pada Dean kalau kali ini biar ialah yang mengantarkan Maysa menuju ruang tempat Saskia berada, saat ini memang Saskia masih ditempatkan di ruang sebelumnya dan belum dipindahkan ke kamar jenazah. Sehingga, Javier langsung mendorong kursi roda Maysa ke arah ruangan Saskia.
"Vier, ayo cepat dong jalannya! Aku mau lihat Saskia, aku yakin dia itu masih hidup!" pinta Maysa.
Javier mengangguk saja, kemudian mempercepat langkahnya sesuai permintaan Maysa untuk membawa wanita itu ke dalam ruangan Saskia. Meski ia khawatir Maysa akan semakin bersedih, namun Javier harus melakukan itu. Ya Javier kini mulai melangkah masuk ke dalam ruangan itu bersama Maysa, terlihat Saskia juga sudah ditutupi sebuah kain dan membuat Maysa terkejut.
__ADS_1
"Saskia!" Maysa berteriak keras, berusaha mendekat ke arah tubuh adiknya itu disertai isakan tangisnya.
Sementara Javier terdiam di tempat, karena ia mendapat sebuah telpon yang tak lain adalah dari Fauzan. Sontak Javier mengangkat sejenak telpon tersebut, ia ingin memastikan apa yang hendak disampaikan Fauzan saat ini. Apalagi ia tahu, kalau sekarang Fauzan tengah ditugaskan untuk menjaga Melinda di rumah sakit yang lain.
📞"Halo Fauzan! Ada apa kamu telpon saya?" tanya Javier di dalam telpon.
📞"Halo pak! Begini, saya cuma mau menginfokan kalau sekarang bu Melinda sudah sadarkan diri. Beliau meminta untuk bertemu dengan bu Maysa dan non Saskia," jelas Fauzan.
Deg
Javier tersentak, matanya mengarah ke tempat Maysa berada yang tengah menangisi jenazah adiknya di depan sana.
"Waduh! Gimana ini ya saya bilangnya sama Maysa?" batin Javier.
•
•
"Makasih ya sayang, kamu perhatian banget sih sama papa! Pake acara dibuatin kopi segala, kan papa jadi enak nih," kekeh Rendy.
"Ahaha, papa bisa aja deh. Oh ya, ini tumben banget loh papa bisa santai-santai disini sama aku. Emang papa gak ada urusan kerjaan ya? Atau papa malah sengaja bolos dari kerjaan papa gitu?" ucap Mawar.
"Eh ya enggak dong sayang, papa disini kan karena emang lagi kosong aja jadwal papa. Lagian papa juga masih mau berduaan sama kamu," ucap Rendy.
Mawar tersenyum mendengarnya, ia senang karena ternyata papanya masih sayang dan perduli padanya. Ia sangat ingin momen seperti ini terus terjadi, karena hanya papanya lah yang ia miliki untuk saat ini. Meski sampai sekarang, Mawar masih belum mengetahui apa pekerjaan yang dilakukan papanya itu di luar sana.
__ADS_1
"Oh ya sayang, pacar kamu itu kok gak datang lagi kesini sih? Padahal papa pengen bicara dan tanya banyak hal ke dia, soalnya dilihat-lihat dia itu serius banget sama kamu," tanya Rendy.
"Eee a-aku gak tahu kalau soal itu, pa. Mungkin aja dia lagi sibuk," jawab Mawar gugup.
Rendy meraih cangkir di meja dan menyeruput kopi buatan putrinya, terasa sangat nikmat dan hangat di dalam tenggorokannya kali ini. Rendy pun memuji kopi itu, karena sudah lama ia tak merasakan kopi seperti itu. Walau hanya sekedar kopi, namun Rendy sangat menikmatinya karena itu adalah buatan putrinya yang sangat ia sayangi.
"Kalo gitu papa mau tanya aja ke kamu, kamu itu cinta gak sama pacar kamu? Apa kamu juga mau serius sama dia, hm?" tanya Rendy.
"Ah papa kenapa nanya begitu sih? Aku kan jadi malu tau," ucap Mawar menunduk malu.
Rendy sontak menarik dagu putrinya itu, "Kamu gak perlu malu, jujur aja sama papa! Kalau emang kamu cinta sama pacar kamu itu, ya papa juga gak akan larang kamu kok!" ucapnya.
"Ih kita gausah bahas ini ya, pa? Lagian aku belum ada pikiran mau nikah kok, aku itu masih pengen meniti karir tau," ucap Mawar.
"Hm, jadi intinya kamu suka gak sama dia?" ucap Rendy mengulang pertanyaannya.
Mawar benar-benar bingung saat ini, ia sendiri juga belum tahu bagaimana perasaannya terhadap Javier. Jujur setiap ia berada di dekat pria itu, ia selalu merasa gugup dan seperti ada perasaan aneh di dalam dirinya. Akan tetapi, Mawar belum tahu pasti apakah itu adalah rasa cinta atau hanya sekedar kagum pada sosok Javier.
"Papa, mending papa abisin dulu deh tuh kopinya! Kalau udah dingin kan nanti gak enak loh, diminum ya!" ucap Mawar mengalihkan pembicaraan.
"Hadeh, kamu ini sama papa sendiri aja masih malu-malu!" Rendy menggeleng tak percaya.
Mawar pun tersenyum dan kembali menundukkan kepalanya, ia memang selalu tidak bisa jika harus berbincang mengenai Javier. Apalagi, sebelumnya Rendy memergoki sendiri saat dimana putrinya itu tengah bercumbu bersama Javier di depan rumah. Tentu saja Mawar merasa sangat malu, meski Mawar juga menikmati momen itu.
...~Bersambung~...
__ADS_1
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...