
Maysa benar-benar merasa bingung saat ini, sebab ia tak berhasil menemukan Zanna dan membawa gadis itu kembali ke rumahnya. Maysa tak tahu harus mencari Zanna kemana lagi, pasalnya ia juga belum mengetahui kemana Clara membawa Zanna pergi. Ya tadi Maysa sudah mencari Clara di rumah wanita itu, tetapi nyatanya Clara ataupun Zanna tidak ada disana dan hanya ada sebuah kekosongan.
Pikiran wanita itu terasa kacau, ia sungguh risau karena tak tahu menahu mengenai keberadaan Zanna saat ini. Maysa benar-benar cemas, andai saja kemarin ia bisa turut serta membawa Zanna ke rumah sakit bersamanya, maka mungkin kejadian seperti ini tidak akan terjadi. Namun, apa gunanya penyesalan jika semua telah terlanjur terjadi.
"Bu, ini kita mau kemana lagi ya? Saya bingung nih bawa mobilnya, soalnya daritadi ibu juga gak mau bilang sih kemana tujuan kita," tanya Theo.
Maysa melirik sinis ke arah Theo, "Kenapa kamu tanya saya? Kan kamu yang lebih tahu tentang Clara dibanding saya, jadi kamu pasti juga tahu kemana biasanya Clara suka pergi kalau sama Zanna!" ucapnya dengan ketus.
"Waduh, kalau itu saya juga kurang tahu bu!" ucap Theo merasa takut.
"Haish, kamu tuh apa sih yang tahu? Yaudah, sekarang terserah kamu mau bawa saya kemana! Pokoknya saya mau Zanna ketemu, karena saya khawatir banget sama dia!" ucap Maysa.
"Ba-baik bu, saya akan usahakan untuk menemukan non Zanna! Tapi, sebaiknya bu Maysa saya antar pulang aja ya?" ucap Theo.
"Hah? Ya jangan lah Theo, saya gak bisa tenang di rumah gitu aja kalau Zanna belum ketemu! Saya gak mau pulang ya Theo, udah kamu lanjut aja jalan sekarang!" pinta Maysa.
"Siap bu!" ucap Theo patuh.
Disaat mereka sedang kebingungan mencari dimana Zanna, tiba-tiba saja mobil yang mereka tumpangi itu tak sengaja menabrak seseorang di depan. Sontak Theo dan Maysa kompak terkejut, dengan cepat Theo menghentikan mobilnya lalu terlihat panik saat melihat seorang pria tergeletak di depan mobilnya seperti tak berdaya.
"Duh Theo! Kamu ini gimana sih? Kenapa kamu bisa nabrak orang kayak gitu coba?" tegur Maysa.
"Maaf bu, tapi saya gak sengaja! Lagian tadi saya gak lihat ada orang nyebrang, tiba-tiba aja tuh orang nongol di depan saya bu," ucap Theo beralasan.
"Udah gausah alasan aja kamu, mending kamu keluar terus cek kondisinya!" titah Maysa.
__ADS_1
Theo mengangguk patuh, lalu tanpa berpikir panjang ia pun turun dari mobilnya untuk mengecek kondisi pria yang tadi ia tabrak. Sedangkan Maysa tetap berada di dalam mobil menunggu sekaligus memantau Theo dengan penasaran, karena Maysa tampak cukup curiga dengan kejadian tabrakan yang baru saja terjadi di depan matanya.
"Hey mas! Gapapa kan mas?" perlahan Theo mulai mendekati pria yang ditabraknya, ia begitu cemas karena pria tersebut tidak menjawab pertanyaannya.
"Mas, mas sadar mas!" ucap Theo kembali.
Disaat Theo mengulurkan tangannya dan hendak menyentuh punggung si pria, tanpa diduga pria itu bergerak lalu bangkit dengan cepat. Saat itu juga Theo terkejut, apalagi pria itu menodongkan pisau ke arahnya dan mengancamnya. Theo pun mengangkat kedua tangannya, merasa takut dan memohon ampun pada si pria.
"Serahin semua harta lu sekarang, atau gue tusuk leher lu sama pisau ini!" ancam si pria.
"Hah? Jadi ini perampokan? Sial, bisa-bisanya saya terjebak sama modus kayak gini! Kurang ajar emang nih orang, dikasih hati minta jantung!" batin Theo menggeram kesal dan mengepalkan tangannya.
•
•
Begitu Mawar membuka pintu, yang pertama kali dilihatnya adalah sosok pria bermasker. Tentu saja Mawar sangat penasaran dan heran dibuatnya, ia pun mengira bahwa yang ada di depannya adalah orang jahat. Baru saja Mawar hendak berteriak, namun pria bermasker itu tiba-tiba menariknya dan menahan gerakan gadis itu dengan cepat.
"Lepas, lepasin aku! Siapa kamu? Tolong, tolong!!" Mawar berteriak panik dan meronta-ronta, tapi kemudian si pria itu membuka maskernya membuat Mawar melongok lebar.
"Sssttt, diam sayang! Tenang dulu sayang, ini papa!" ucap pria itu yang ternyata adalah Rendy.
"Papa??" lirih Mawar tampak begitu syok.
Rendy tersenyum sembari menatap wajah Mawar, ia usap wajah putrinya itu yang sudah cukup lama ia rindukan. Memang telah lama Rendy tak berjumpa dengan Mawar, semenjak dirinya terlalu sibuk mengurus urusan bisnisnya. Apalagi, Rendy juga tak tahu kemana Mawar pergi setelah gadis itu dibawa oleh Javier dan dipaksa tinggal di apartemennya.
__ADS_1
"Iya sayang, ini papa. Kamu kemana aja sayang? Kenapa kamu gak pernah ngabarin papa, hm?" ucap Rendy yang langsung memeluk putrinya itu.
Mawar terdiam selama beberapa saat, ia sungguh tak tahu harus menjawab apa pada papanya. Namun, Mawar sebenarnya senang karena bisa kembali bertemu dengan papanya itu. Pelukan mereka semakin erat, sampai kemudian Rendy melepaskan pelukan itu dan menangkup wajah Mawar sambil menatapnya secara intens.
"Sayang, kamu jawab papa sekarang! Apa kamu selama ini pergi dibawa laki-laki yang tadi anterin kamu itu? Kamu jujur aja sama papa, sayang!" pinta Rendy pada putrinya.
"Umm, papa masuk aja dulu yuk! Aku buatin minuman buat papa, pasti papa haus dan capek kan?" ucap Mawar mengalihkan pembicaraan.
Rendy menggeleng perlahan, tapi kemudian ia tak menolak tawaran putrinya itu dan melangkah masuk ke dalam rumah tersebut. Rendy beserta Mawar kini terduduk di ruang tamu sesuai ajakan gadis itu, tak lupa Rendy menutup dan mengunci pintu rumah untuk memastikan tidak akan ada yang melihat keberadaan dirinya disana.
"Pa, sebentar ya aku buatin minuman dulu di dapur?" ucap Mawar pamit dan hendak pergi.
Namun, Rendy justru menahannya. Ia melarang putrinya itu untuk pergi dari sana, karena ia hanya ingin mendengar jawaban dari putrinya itu mengenai kemana dia selama ini pergi. Rendy benar-benar cemas pada Mawar, tadinya ia mengira jika Mawar diculik oleh para musuh-musuhnya dan disekap di suatu tempat yang ia tidak ketahui.
"Mawar, nanti aja ya kamu buat minumannya! Kamu mending jawab papa sekarang, kamu itu darimana aja selama ini?" ucap Rendy dengan tegas.
Mawar menundukkan wajahnya, "Eee kalau aku cerita ke papa, apa papa gak akan marah?" lirihnya.
"Ya sayang, papa pasti gak bakal marah sama kamu. Papa cuma minta kamu jujur, karena papa cemas banget loh sama kamu sayang!" ucap Rendy.
"I-i-iya pa, aku itu diajak tinggal di apartemen teman aku. Orang yang papa lihat sewaktu aku pulang kesini," jawab Mawar dengan gugup.
"Apa??" Rendy terkejut bukan main mendengarnya.
...~Bersambung~...
__ADS_1
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...