
Harold kembali beraksi, kali ini ia datang ke wilayah kekuasaan Rendy yang lainnya. Daerah ini bisa dibilang merupakan daerah yang paling ramai dan menguntungkan bagi Rendy, itu sebabnya Harold datang kesana untuk mengambil alih wilayah tersebut dalam misi balas dendamnya. Semua tindakan jahat yang telah dilakukan Rendy padanya dan keluarganya, membuat dendam di dalam diri Harold membara dan ingin membalasnya.
Akhirnya Harold berhasil menjual barang paling berharga miliknya kepada dua orang klien dari Rendy, ia pun tersenyum puas dan merasa kalau misi yang rencanakan akan berhasil. Kini Fandy mendekat ke arahnya, menyerahkan sejumlah uang di tangannya kepada Harold. Ini merupakan hasil yang sangat bagus bagi Harold, karena pasti semua itu akan membuat Rendy merasa geram dan mengalami kerugian yang sangat besar.
"Bos, kita berhasil. Hampir setengah klien mister Rendy yang ada di wilayah ini, sudah dalam genggaman kita. Sebentar lagi, seluruh daerah ini juga akan menjadi milik kita," bisik Fandy.
"Hm, itu bagus Fandy. Kerja kamu dan seluruh anak buah kamu memang luar biasa! Saya suka kalau begini caranya, tapi ingat kalian jangan cepat puas! Masih banyak daerah-daerah lain yang belum kita datangi," ucap Harold.
"Siap bos, saya juga sudah menyebarkan seluruh anak buah kita ke daerah-daerah milik mister Rendy!" ucap Fandy.
Harold mengangguk sambil tersenyum, ia memakai semula kacamata hitam miliknya dan memerintahkan Fandy untuk kembali ke dalam mobil. Kini Harold berencana menemui Dean sang asisten pribadinya, ia akan membahas rencana lainnya dalam rangka balas dendam terhadap Rendy yang sudah ia persiapkan sedari lama.
"Ayo Fandy, antar saya sekarang ke perusahaan saya!" titah Harold yang diangguki oleh Fandy.
Setelahnya, mereka sama-sama bergegas menuju kantor milik Harold dan membiarkan anak buahnya untuk menjalankan tugas darinya. Harold yakin sekali semua rencananya akan berhasil, mengingat ia telah menyebar seluruh anak buahnya ke berbagai wilayah yang dikuasai oleh Rendy.
"Kamu tunggu waktu saja Rendy, saya akan balas semua perbuatan kamu ke saya dan juga keluarga saya! Oh ya, tapi saya belum tahu siapa saja keluarga mister Rendy," batin Harold.
"Fan, kamu tahu soal keluarga mister Rendy? Saya perlu informasi sebanyak-banyaknya tentang mereka, bisa kamu bantu saya?" tanya Harold.
Fandy mengangguk, "Bisa bos, saya kebetulan sudah kenal lama dengan mister Rendy. Dari yang saya tahu, mister Rendy punya dua istri. Lalu, beliau punya satu anak perempuan," jelasnya.
"Bagus, siapa anaknya dan dimana dia sekarang?" tanya Harold lagi.
"Eee saya cuma tau namanya aja bos, untuk alamat lengkapnya saya gak tau. Mister Rendy gak pernah kasih tau banyak info tentang anaknya," jawab Fandy.
"Gapapa, siapa nama anaknya itu?" Harold semakin penasaran dan ingin mengetahuinya.
__ADS_1
"Mawar Calista, bos." Fandy memberitahu nama lengkap dari putri mantan bosnya itu kepada Harold.
Deg
Sontak Harold membelalakkan matanya, ia merasa tidak asing dengan nama yang disebutkan oleh Fandy barusan. Ya Harold pun coba mengingat-ingat itu di kepalanya, karena ia yakin sekali kalau ia pernah mendengar nama yang persis seperti apa yang disebutkan Fandy barusan.
"Mawar? Saya sepertinya pernah dengar nama itu, tapi dimana ya?" gumam Harold.
Tak lama kemudian, Harold pun teringat ketika Javier mengenalkan kekasih hatinya kepadanya saat di rumah sakit beberapa waktu lalu. Harold ingat betul kali ini, Mawar adalah nama yang sama dengan nama dari kekasih adiknya itu. Namun, Harold masih ragu apakah mereka adalah orang yang sama atau semua ini hanya kebetulan.
•
•
"Terimakasih atas waktunya, bu Maysa. Saya senang sekali dapat berinvestasi di perusahaan milik ibu ini," ucap salah seorang investor.
Keduanya saling berjabat tangan, sebelum sang investor pamit dari cafe tempat pertemuan mereka dan bergegas pergi. Maysa sontak merasa lega, ini meeting pertamanya bersama calon investor yang akan menggelontorkan dana dalam jumlah besar bagi perusahaan suaminya itu. Ia masih tak menyangka, kalau ternyata hari ini ia berhasil meyakinkan calon investor tersebut.
"Selamat ya bu, saya kagum dengan cara bu Maysa meyakinkan pak Helmi tadi!" ucap Clarissa.
Maysa tersenyum dibuatnya, "Makasih Risa, ini semua kan gak lepas dari pelajaran yang kamu berikan ke saya!" ucapnya lirih.
"Ah enggak kok bu, saya mah cuma bantu dikit kok," ucap Clarissa merendah.
Maysa pun menggeleng saja dan mengajak Clarissa untuk menghabiskan minuman mereka kali ini, ya karena sayang jika tidak dihabiskan mengingat minuman itu harganya sangat mahal. Apalagi, mereka juga belum memiliki jadwal lainnya hari ini dan masih bisa bersantai sejenak disana.
Akan tetapi, sesuatu yang tidak diduga terjadi. Maysa dibuat kaget saat seseorang datang mendekat ke mejanya dan menyapanya begitu saja, Maysa terbelalak ketika melihat Peter kembali muncul di hadapannya saat ini. Ia sungguh tak percaya, ternyata pria itu masih saja berusaha untuk mendapatkan hatinya kembali.
__ADS_1
"May, aku senang banget kita bisa ketemu disini sekarang! Aku udah tunggu momen ini dari lama loh, dan akhirnya kita bisa juga ketemu lagi kayak gini!" ucap Peter tampak antusias.
"Kamu mau apa lagi sih Peter? Kenapa kamu selalu aja ganggu hidup aku?" tanya Maysa dengan ketus.
Peter pun menggeleng dan menarik salah satu kursi, lalu duduk di dekat Maysa serta Clarissa tanpa rasa ragu sedikitpun. Peter juga memberanikan diri untuk memajukan tubuhnya mendekati Maysa, ia sengaja melakukan itu agar bisa lebih leluasa berbincang dan menatap wajah cantik wanita itu.
"Aku ini gak bermaksud ganggu hidup kamu loh Maysa, aku cuma pengen kita itu bisa bareng-bareng lagi kayak dulu," ucap Peter.
"Itu gak mungkin terjadi lagi Peter, semua itu cuma masa lalu," ucap Maysa.
"Ya aku tau, tapi aku akan tetap berusaha untuk bisa memiliki kamu lagi seperti dulu. Kamu pegang kata-kata aku ya Maysa, pasti aku bakal rebut kamu dari si jahat Harold!" ucap Peter dengan tegas.
"Gak Peter, jaga bicara kamu! Itu semua gak akan mungkin terjadi, kamu jangan macam-macam sama aku atau mas Harold!" sentak Maysa.
"Tunggu saja waktunya Maysa," singkat Peter.
Melihat senyuman tipis di wajah sang mantan, Maysa sontak ketakutan dan merasa jika saat ini Peter tidak main-main. Ia khawatir kalau Peter akan melakukan tindakan yang di luar batas, apalagi jika sampai Peter nekat untuk merebut kembali dirinya dari Harold. Pastinya itu merupakan sesuatu yang tidak benar, dan Maysa akan sangat cemas.
"Kamu gak bisa lakuin itu Peter, jadi jangan memaksa untuk melakukannya!" tegas Maysa.
Peter menghela nafasnya, "Maysa, sampai kapanpun aku akan tetap berusaha untuk memiliki kamu kembali. Aku ini masih cinta loh sama kamu, jadi biarkan aku menebus semua kesalahan aku ke kamu ya!" ucapnya dengan serius.
"Cukup Peter!" Maysa bangkit dari tempat duduknya dan terlihat begitu emosi.
Peter yang mendengar itu tampak terkejut, ia tak mengira Maysa akan semarah itu padanya dan memintanya untuk diam. Bahkan, Clarissa sampai harus menenangkan istri dari bosnya itu agar tidak terpancing emosi di tempat umum dan banyak pelanggan yang hadir. Usaha Clarissa pun berhasil, setidaknya Maysa bisa lebih tenang saat ini meski rasanya hati Maysa masih terasa panas akibat perkataan Peter sebelumnya.
...~Bersambung~...
__ADS_1
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...