Jebakan Satu Malam Duda Liar

Jebakan Satu Malam Duda Liar
Pagi yang panas


__ADS_3

Hari sudah semakin larut, namun kondisi Melinda belum juga membaik dan membuat Maysa serta Saskia merasa panik memikirkan keselamatan ibu mereka itu. Maysa sampai tidak bisa duduk tenang saat ini, pikirannya terus saja mengarah pada sang ibu yang sedang berjuang di dalam sana. Rasanya hidup Maysa hancur begitu mendengar ibunya masuk rumah sakit, apalagi dalam kondisi kritis.


Harold setia menemani istrinya disana, ia terus berusaha menenangkan Maysa dan membujuk wanita agar mau beristirahat. Harold tidak ingin Maysa ikut terluka nantinya, apalagi saat ini Maysa juga tengah mengandung anaknya. Harold khawatir Maysa akan terjatuh sakit jika tidak mau istirahat, meski Harold sendiri tahu rasa cemas yang saat ini tengah dirasakan oleh Maysa dan juga adiknya.


"Sayang, kamu tidur dulu ya! Ini sudah malam loh, gak baik ibu hamil seperti kamu masih melek kayak gini. Apa kamu gak khawatir kondisi anak kita memburuk nanti? Biar gimanapun, kamu juga harus pikirin kondisi kamu dan anak kita!" bujuk Harold.


Maysa menggeleng, "Gak mau mas, gimana aku bisa istirahat coba kalau ibu aku masih kritis begini?" ucapnya tegas.


"Aku ngerti sayang, tapi kan kamu lagi hamil. Kamu harus banyak istirahat!" ucap Harold.


Maysa menghentak tangannya saat Harold berusaha meraih dan menggenggamnya, ia tidak senang jika Harold terus memaksanya untuk beristirahat. Maysa pun menjauh dari suaminya, membuat Harold makin bingung dan tak tahu harus bagaimana. Maysa memang keras kepala, tidak ada yang bisa memberitahu wanita itu untuk saat ini.


"Sekali lagi aku mohon sama kamu sayang, kamu harus istirahat! Aku gak mau kamu jatuh sakit juga nanti, ini sudah malam banget loh sayang!" ucap Harold kembali merengek.


"Kamu bisa diam gak sih, mas? Aku itu belum ngantuk, kalau kamu mau tidur ya kamu tidur aja sendiri sana! Aku juga gak butuh kamu ada disini!" sentak Maysa.


Deg


Harold benar-benar terkejut mendengar ucapan yang dilontarkan istrinya, jantungnya sampai nyaris berhenti berdetak karena perkataan Maysa itu. Sungguh Harold tak menyangka jika Maysa berani berkata seperti itu, namun saat ini ia memaklumi itu semua mengingat Maysa masih dalam suasana sedih setelah ibunya dalam kondisi kritis.


"Mbak, mbak gak boleh bicara begitu sama kak Harold! Ibu bisa dirawat disini itu karena dia loh, jadi mbak jangan kayak gitu ya!" ucap Saskia menyela.


Perkataan Saskia membuat Maysa sadar akan kesalahannya tadi, memang seharusnya Maysa tak boleh mengatakan itu pada suaminya sendiri. Sontak Maysa beralih menatap wajah Harold, ia dekati pria itu dan memasang wajah bersalah. Suasana hatinya saat ini sedang tidak baik-baik saja, karena ia begitu mencemaskan ibunya.


"Mas, aku minta maaf ya! Gak seharusnya aku bicara begitu ke kamu, sebagai seorang istri aku gak pantas bilang kayak gitu ke suami aku sendiri. Maafin aku ya mas!" ucap Maysa tampak menyesal.


"It's okay sayang, itu bukan suatu masalah yang besar buatku," ucap Harold tenang.


"Kalo gitu aku harap kamu ngerti mas, aku gak bisa istirahat sekarang. Aku cemas banget sama ibu, aku mau tau kondisi ibu!" ucap Maysa.


"Tapi Maysa, kamu itu harus istirahat yang cukup loh!" ucap Harold memelas.


Wanita itu menggeleng dan justru mengalihkan pembicaraan, ia teringat pada Zanna yang saat ini sedang di rumah tanpa ada yang menemani. Apalagi, mereka semua saat ini berada di rumah sakit dan Zanna hanya sendiri disana. Maysa pun mengingatkan Harold mengenai Zanna, karena ia juga tak mau Zanna terluka.


"Oh ya mas, Zanna sekarang sama siapa di rumah? Kamu gak awasin dia?" tanya Maysa.


Deg


•


•


Zanna baru bisa tertidur saat ini setelah Arum selaku pelayan di rumah itu membacakan dongeng untuknya, Zanna sebenarnya terus merengek minta dipertemukan dengan kedua orangtuanya tadi sebelum tidur. Hanya saja, Arum tidak bisa menuruti permintaan gadis itu mengingat saat ini baik Harold ataupun Maysa sedang berada di rumah sakit.


Arum pun merasa lega setelah Zanna dapat tertidur pulas, tapi kemudian ia mendengar suara bising dari arah luar rumah itu. Karena penasaran, Arum bergegas keluar dari kamar Zanna dan menemui seseorang yang berbuat keributan. Bagaimanapun, Arum khawatir Zanna akan terbangun kembali karena suara berisik wanita tersebut.


Saat di luar, betapa terkejutnya Arum ketika melihat Clara lagi-lagi sudah ada disana dan terlibat keributan dengan Theo yang menjaga rumah itu. Clara seperti ingin masuk ke dalam menemui Zanna, namun Theo tentu saja tak mengizinkannya. Clara tak terima dengan itu, sehingga ia terus saja mencari ribut dan memaksa untuk masuk.


"Kamu itu makin kurang ajar ya sama saya, Theo? Apa kamu sekarang sudah gak anggap saya lagi disini, ha? Saya ini statusnya masih ibu kandungnya Zanna loh, kamu ingat itu baik-baik!" geram Clara.

__ADS_1


Theo tampak kebingungan saat ini, ia sudah kehabisan cara untuk bisa menghadapi Clara dan mengusir wanita itu dari sana. Entah mengapa Clara selalu saja membuat kegaduhan, padahal berulang kali ia sudah mengusirnya. Bahkan, kini Clara datang ke rumah itu di larut malam seperti ini yang bisa saja membuat tidur Zanna terganggu.


"Kalau anda masih menganggap diri anda sebagai ibu kandung dari non Zanna, sebaiknya anda pergi sekarang dan kembali ke rumah anda! Non Zanna saat ini sedang tidur, kehadiran anda disini justru akan mengganggu tidurnya!" ucap Theo tegas.


"Lancang sekali kamu bilang begitu, saya ini ibunya dan saya gak mungkin mengganggu dia!" sentak Clara tampak begitu kesal.


Akhirnya Clara memaksa untuk masuk ke dalam sana dengan cara menerobos tubuh Theo, tetapi untungnya Theo masih sigap dan berhasil menahan Clara agar tidak masuk kesana. Theo hanya ingin menjalankan perintah, tapi sepertinya Clara tak mengerti dan terus saja memaksa masuk dan ingin menemui putrinya yang tengah tertidur.


"Ish, kamu minggir Theo! Jangan halangi saya buat ketemu anak kandung saya, kamu bisa berdosa loh!" ucap Clara dengan tegas.


"Maaf bu, tapi saya tidak bisa membiarkan bu Clara masuk ke dalam!" ucap Theo.


Arum yang sedari tadi menyaksikan keributan itu, memilih mendekat dan membantu Theo untuk menjelaskan pada Clara. Saat ini Zanna memang baru tertidur, kehadiran Clara tentunya dikhawatirkan akan membuat Zanna terganggu. Apalagi, Zanna itu sulit untuk tidur karena terus saja memikirkan papa maupun mamanya.


"Permisi semuanya, saya mau minta maaf kalau dianggap ikut campur! Tapi, saya kesini cuma mau menjelaskan kalau sekarang non Zanna baru aja tidur. Jadi, tolong jangan pada berisik ya! Saya gak mau non Zanna kebangun lagi," ucap Arum.


"Heh jangan sok ngatur saya ya kamu! Kamu itu cuma pembantu disini, gausah sok paling tau tentang anak saya ya! Saya lebih tau daripada kamu, jadi kamu mending diem deh!" sentak Clara.


Arum tersentak, begitupun dengan Theo yang sudah sangat pusing meladeni sikap Clara.


•


•


Drrrtt drrrtt


Harold yang tengah terduduk sembari merangkul istrinya, merasa terkejut saat tiba-tiba ponselnya berbunyi. Perlahan ia mengambil ponselnya dari saku celana agar tidak membangunkan Maysa, sebab saat ini Maysa tengah tertidur di dalam rangkulannya. Tentu Harold tak ingin membuat Maysa terganggu, meski dengan gerakan kecilnya.


Akhirnya Harold memilih bangkit secara perlahan dengan membawa ponselnya, ia berhati-hati agar Maysa tidak terbangun dari tidurnya. Harold bersyukur dan bernafas lega karena ia bisa mengangkat telpon dengan leluasa, meski ia masih khawatir Maysa akan terbangun. Kini Harold pun berhenti setelah dirasa aman, lalu mengangkat telpon dari Rendy dengan suara lirihnya.


📞"Halo mister! Ada apa mister telpon saya malam-malam begini? Baru aja saya mau tidur, eh mister udah telpon aja. Kenapa sih mister?" ucap Harold di telpon.


📞"Kamu ini bagaimana sih Harold? Apa kamu lupa dengan instruksi saya, ha? Saya kan sudah minta kamu untuk mengurus pengiriman senjata ke timur, kenapa kamu malah belum melakukan itu juga?" sentak Rendy.


📞"Maaf mister, sepertinya saya tidak bisa melakukan itu! Sekarang ibu mertua saya sedang sakit, dan saya harus menemani istri saya karena dia sangat mencemaskan ibunya!" ucap Harold.


📞"Maksud kamu? Apa kamu ingin mengundurkan diri dari pekerjaan kamu?" tanya Rendy.


📞"Ya mister, maafkan saya! Saya mohon pengertiannya dari mister, karena saya harus terus ada di samping istri saya!" jawab Harold tegas.


📞"Tidak bisa, kamu itu sudah berjanji akan membantu saya dalam bisnis ini! Kamu tidak boleh keluar begitu saja, sebelum kamu melakukan apa yang saya perintahkan. Kalau kamu menolak, maka kamu akan merasakan akibatnya!" geram Rendy.


📞"Saya gak perduli, lakukan saja apa yang mister inginkan! Bagi saya, istri saya lebih dari segalanya dan saya tidak takut dengan ancaman anda!" ucap Harold.


📞"Kurang ajar kamu Harold!" umpat Rendy.


Tanpa perduli dengan ucapan Rendy, kini Harold langsung memutus telponnya dan merasa kesal karena sikap Rendy tadi. Ia sebenarnya memang sudah tidak mau berurusan dengan Rendy, terutama setelah Maysa mengetahui semuanya. Apapun caranya, pasti akan Harold lakukan demi bisa keluar dari bisnis kerjasama bersama Rendy itu.


"Gimanapun caranya, saya harus keluar dari bisnis ini! Saya gak mau Maysa kenapa-napa, karena pasti mister Rendy atau musuh-musuh saya lainnya akan mengincar Maysa!" gumam Harold.

__ADS_1


"Mas!" tiba-tiba saja, Harold dikejutkan dengan suara seorang wanita yang terdengar di telinganya dan berada sangat dekat dengannya.


"Hah Maysa??" Harold begitu terkejut ketika melihat istrinya sudah berada disana, pasalnya tadi ia tahu sekali Maysa masih tertidur.


Maysa menatapnya dengan penuh penasaran, perlahan ia mendekat dan terlihat curiga pada kelakuan suaminya itu. Apalagi, Maysa merasa heran setelah ia mengetahui bahwa Harold tidak ada di sisinya tadi. Awalnya Maysa mengira jika Harold pergi meninggalkannya, tapi ternyata pria itu masih berada di sekitar rumah sakit.


"May, kamu ngapain kesini? Kamu kan tadi lagi tidur, kenapa malah bangun coba?" tanya Harold.


"Aku kebangun mas, terus aku bingung waktu kamu gak ada di sebelah aku. Ya aku langsung cari kamu dong, aku kira kamu pergi tinggalin aku," jawab Maysa.


Harold tersenyum dan menangkup wajah istrinya, ia menjelaskan kalau dirinya tidak akan mungkin meninggalkan wanita itu. Sampai kapanpun, Harold akan terus ada di samping Maysa dan melindungi sang istri tercintanya. Kini tak ada lagi yang lebih penting bagi Harold selain Maysa, ia akan selalu memprioritaskan istrinya itu.


•


•


Paginya, Harold terbangun dari tidurnya dan melirik ke samping untuk memastikan apakah sang istri masih ada disana atau tidak. Ia tersenyum lebar ketika melihat Maysa tengah tertidur di sebelahnya, wajah wanita itu juga menempel pada bahunya. Sontak Harold menggerakkan tangannya, mengusap wajah cantik sang istri dan mengecupnya.


Tanpa diduga, kecupan dari Harold ternyata berhasil menyadarkan Maysa dari tidurnya. Seketika Harold panik saat Maysa membuka mata, lalu menatap ke arahnya dengan dahi mengernyit. Maysa menjauhkan kepalanya, mengusap-usap dahi yang sebelumnya dikecup oleh Harold sambil terus merasa heran.


"Mas, ngapain kamu cium-cium aku kayak gitu? Masih pagi loh ini, aku kira kamu belum bangun," tanya Maysa pada suaminya.


Harold tersenyum lebar, "Gapapa sayang, pengen aja aku cium istri aku yang cantik ini. Aku juga baru bangun tadi kok, selamat pagi ya sayangku yang cantik!" ucapnya dengan lembut.


"Iya mas, kalo gitu aku mau ke toilet dulu ya? Supaya abis itu aku bisa lihat kondisi ibu," ucap Maysa.


"Aku antar ya?" usul Harold.


Namun, Maysa menggeleng dan menolak tawaran dari suaminya itu. Maysa hanya ingin pergi ke toilet sendiri tanpa merepotkan Harold, lagipula tidak mungkin juga Maysa pergi ditemani Harold dan berduaan di dalam toilet. Maysa khawatir itu akan menimbulkan kecurigaan di pikiran orang-orang, terutama yang melihat mereka nanti.


"Gausah mas, aku bisa sendiri kok. Kamu disini aja temenin Saskia, kasihan dia kalau bangun nanti terus gak ada orang!" ucap Maysa.


"Tapi sayang, aku—"


"Mas, kamu jangan maksa dong! Aku malu tau kalo ke toilet aja harus ditemenin, aku ini kan udah gede mas. Kamu mending juga ke toilet laki-laki sana, cuci muka tuh biar seger!" sela Maysa.


"Aku gak perlu cuci muka juga udah ganteng kali, kan aku Harold Vincenzo suami Maysa Najoan yang cantik ini," ucap Harold menggoda istrinya.


Maysa tersenyum dibuatnya, pipinya memerah karena godaan dari sang suami. Harold juga tak berhenti mencolek dagu serta hidungnya, bahkan sesekali pria itu kembali mengecup wajah dan juga bibirnya. Maysa sampai terpejam saat ini, menikmati perlakuan lembut Harold yang selalu membuat dirinya merasa nyaman.


"Kamu cantik banget sih sayang, padahal kamu baru bangun tidur loh!" puji Harold seraya membelai lembut bibir mungil istrinya.


"Hm, dasar gombal!" cibir Maysa.


Sementara itu, Saskia tak sengaja terbangun karena mendengar suara bising dari pasangan suami-istri itu. Begitu ia membuka mata, tampak Maysa tengah bercumbu dengan Harold di depan sana dan membuatnya tercengang. Saskia tak menyangka akan melihat momen panas itu secara langsung, reflek ia menutup matanya karena tak sanggup melihat itu semua.


"Duh, pagi-pagi udah lihat yang hot aja sih! Jadi kepengen deh," batin Saskia.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2