
Setelah Harold pergi ke kantornya, kini Maysa pun tengah mengantar Zanna bersama sang supir dan juga Theo yang mengawalnya menuju sekolah. Awalnya perjalanan mereka baik-baik saja, bahkan Zanna tampak ceria dan begitu antusias menyanyi sambil bertepuk tangan bersama mamanya. Ya Zanna sepertinya sudah ikhlas saat ini, gadis itu tidak lagi memikirkan papanya yang kembali pergi.
Akan tetapi, keceriaan itu hanya berlangsung sebentar dan harus hilang ketika tiba-tiba ban mobil yang mereka tumpangi pecah dan nyaris saja terjadi kecelakaan pada mereka. Beruntung Adam sang supir masih bisa mengendalikan mobil dengan baik, lalu berhenti ketika mereka berada di pinggir untuk mengecek kondisi ban mobil mereka yang tadi sempat pecah sampai terdengar cukup keras.
"Pak Adam, ada apa sih? Hampir aja tahu kita nabrak tadi, hati-hati dong lain kali nyetirnya!" ucap Maysa sembari memeluk putrinya.
"Eee maaf bu, tapi barusan ban mobil kita pecah bu! Sebentar, biar saya cek dulu ke luar!" ucap Adam.
"Apa??" Maysa terkejut dan melongok dibuatnya.
Kemudian, Adam turun dari mobil untuk memeriksa kondisi ban yang tadi pecah. Theo pun juga melakukan hal yang sama, namun tak lupa Theo meminta Maysa serta Zanna untuk tetap di dalam mobil karena tidak ingin mereka kenapa-napa. Kondisi di luar cukup sepi, maka dari itu Theo tak mau mengambil resiko bila nantinya terjadi sesuatu.
"Ma, bakal lama gak ya? Aku ada latihan buat pentas drama soalnya, buat acara hari ayah nanti," tanya Zanna pada mamanya.
Maysa menoleh sambil tersenyum, "Enggak kok sayang, kamu berdoa aja supaya pak Adam sama pak Theo bisa selesaikan semuanya secepat mungkin ya!" ucapnya.
Zanna manggut-manggut paham, lalu membenamkan wajahnya pada bahu sang ibu yang tepat berada di sampingnya. Maysa sontak memberi usapan lembutnya pada puncak kepala Zanna, ia senang karena Zanna kali ini begitu menurut padanya. Meski begitu, Maysa juga was-was jikalau proses pergantian ban itu akan lama.
"Umm sayang, mama mau coba keluar sebentar ya ketemu pak Theo sama pak Adam? Kamu disini dulu ya, nanti mama balik kok! Mama cuma mau pastiin kondisi ban mobil kita," ucap Maysa.
"Iya ma." Zanna mengangguk menurut.
Setelahnya, Maysa keluar dari mobil untuk menemui Theo serta Adam yang sedang sibuk membetulkan ban di luar sana. Maysa hanya ingin memastikan bahwa mereka tidak akan lama, sebab Maysa tak mau jika Zanna merasa jengkel nantinya. Apalagi, gadis itu tampak sangat antusias untuk berlatih pentas drama hari ayah di sekolahnya.
"Theo, apa masih lama prosesnya? Kasihan Zanna harus latihan drama di sekolah," ucap Maysa.
"Eh bu Maysa, begini bu ini sih bannya harus diganti sama yang baru. Mungkin sekitar sepuluh sampai lima belas menit lagi bu," jawab Theo.
"Yah lama dong ya? Apa saya pesan taksi online aja biar cepat sampai ke sekolah Zanna?" ucap Maysa.
"Hah? Jangan bu, saya takut kena omel sama tuan Harold kalau bu Maysa maksa buat naik taksi! Ibu tunggu sebentar ya, kita usahakan lebih cepat deh!" ucap Theo ketar-ketir.
"Yasudah, saya tunggu di dalam mobil. Kalau kelamaan, nanti saya ajak Zanna naik taksi," ucap Maysa agak kesal.
"Baik bu!" ucap Theo patuh.
Theo dan Adam pun fokus mengganti ban mobil tersebut dengan ban yang baru, sedangkan Maysa berniat kembali ke dalam mobilnya. Tetapi, di luar dugaan Maysa malah lebih dulu melihat seorang pria berlari membawa Zanna di pelukannya. Sontak Maysa berteriak histeris, putrinya itu telah diculik tanpa sepengetahuan darinya.
"Hey penculik, berhenti kamu! Penculik!!" teriakan Maysa itu membuat Theo dan Adam ikut panik, lalu kompak mendekat ke arahnya.
"Bu, ada apa bu?" tanya Theo dengan wajah paniknya.
"Pake nanya lagi kamu, itu Zanna diculik! Cepat kamu kejar penculiknya!" sentak Maysa.
__ADS_1
"I-i-iya bu, ibu tunggu sini ya! Biar saya yang kejar si penculiknya, eh Adam kamu jagain bu Maysa jangan sampai kenapa-napa!" ucap Theo.
"Siap!"
Theo bergegas mengejar penculik yang kabur membawa Zanna itu, terlihat Maysa amat histeris dan ketakutan sendiri kalau sampai Zanna tidak dapat diselamatkan. Maysa terus saja menggigit jarinya, berharap-harap cemas sambil berdoa supaya Zanna baik-baik saja dan Theo berhasil mengejar si penculik yang melarikan diri itu.
"Duh, Zanna semoga kamu gak kenapa-napa! Mama khawatir banget sama kamu sayang, maafin mama ya karena tadi mama tinggal kamu sendirian di mobil!" gumam Maysa.
Maysa masih belum bisa tenang saat ini, ia pun melirik ke arah Adam yang ada di sebelahnya dan terlihat bingung itu. Seketika Maysa berpikir, daripada Adam terus berada disana tanpa melakukan apapun, alangkah lebih baik jika Adam ikut mengejar penculik itu bersama Theo agar Zanna cepat juga kembali ke pelukannya.
"Heh Adam, kamu kejar juga sana penculiknya! Saya takut Theo gagal tangkap penculik itu, kamu bantu dia ya!" titah Maysa.
"Tapi bu, tadi kan pak Theo nyuruh saya tetap disini jagain ibu. Kalau saya pergi, nanti siapa dong yang temenin bu Maysa disini? Saya takut kena marah sama tuan bu," ucap Adam kebingungan.
"Udah kamu gausah mikirin saya, keselamatan Zanna sekarang jauh lebih penting!" ucap Maysa.
"Tapi bu—"
"Cepat Adam!" Maysa terus memaksa pria itu dan membuat Adam tak memiliki pilihan lain.
"Yaudah deh bu, saya kejar pak Theo sekarang. Tapi, bu Maysa diam disini aja ya jangan kemana-mana sampai saya kembali!" ucap Adam gugup.
Maysa mengangguk saja sembari memutar bola matanya, ia lalu mendorong tubuh Adam agar segera pergi dari sana untuk bisa menyelamatkan Zanna. Kini tidak ada yang lebih penting bagi Maysa selain keselamatan putrinya, karena Maysa tidak mau dianggap lalai dalam menjaga Zanna dan membuat suaminya marah.
"Maysa!" tiba-tiba saja, suara seorang lelaki terdengar di telinganya dan mengejutkan wanita itu.
Disaat menoleh, Maysa terkejut ketika melihat sosok Peter berdiri di hadapannya sambil tersenyum dan melangkah ke dekatnya. Sontak Maysa mulai gelagapan dan terlihat panik saat ini, tidak ada siapa-siapa disana yang bisa menolongnya dan kini Peter juga semakin mendekat lalu seolah hendak meraih kedua tangannya.
"Aku senang banget akhirnya kamu sendiri, jadi aku gak perlu repot-repot hajar dua pengawal kamu itu. Ikut sama aku yuk sayang!" ucap Peter.
"Ka-kamu...."
"Iya ini aku Maysa, aku laki-laki yang kamu cintai dengan tulus. Aku bukan orang yang sudah memaksa kamu untuk menikah, jadi kamu itu memang seharusnya memilih aku dibanding suami kamu itu!" ucap Peter.
"Enggak Peter, aku cinta sama suami aku. Lagipula, aku gak mungkin ikut sama kamu sekarang. Aku harus tunggu anak aku pulang!" ucap Maysa.
"Anak itu bukan anak kamu, Maysa. Buat apa kamu perduli sama dia?" ujar Peter.
Maysa terdiam dan melongok dibuatnya, memang benar Zanna bukanlah putri kandungnya tetapi entah mengapa Maysa sudah terlanjur menyayangi gadis itu dan tidak akan mudah baginya melupakan Zanna begitu saja. Namun, Peter tak menggubris ucapan Maysa dan malah meraih dua tangan wanita itu lalu memaksanya untuk ikut bersamanya.
"Ish, lepasin aku Peter! Aku gak mau ikut sama kamu, lepas!" Maysa coba berontak, tetapi sia-sia saja karena tenaga Peter jauh lebih besar.
•
__ADS_1
•
Bugghhh
Satu tendangan berhasil tepat mengenai punggung si penculik dan membuat pria yang memakai masker serta topi itu terkejut saat ini, tentu saja tendangan itu berasal dari Theo yang akhirnya dapat menyusul penculik tersebut. Sedangkan Zanna terlihat masih dalam keadaan sadar, meski mulutnya terus dibekap oleh si penculik.
"Lepaskan gadis itu, jangan kamu berani-berani buat culik dia!" pinta Theo dengan tegas.
"Hahaha, ambil saja kalau kamu bisa!" penculik itu menantangnya dan meletakkan Zanna ke bawah sejenak, karena dia ingin menghadapi Theo.
"Dengan senang hati," Theo langsung bersiap dan bergerak maju menyerang si penculik.
Perkelahian pun terjadi disana, tapi tidak terlalu sulit bagi Theo untuk bisa menumbangkan penculik tersebut hingga tak berdaya. Hanya dalam beberapa detik, penculik itu pun tumbang di aspal dan merintih kesakitan. Theo tersenyum puas melihatnya, tanpa basa-basi lagi ia langsung saja mendekati Zanna dan menolongnya.
"Non, non Zanna gapapa kan?" tanya Theo yang kini berjongkok di dekat putri majikannya itu.
"Huuu huuu aku takut om!" Zanna tampak begitu ketakutan dan sudah banjir air mata.
"Sssttt, tenang ya non! Sekarang non udah aman, yuk kita kembali ke mama Maysa!" bujuk Theo berusaha menenangkan gadis itu.
Zanna mengangguk disertai isakan tangisnya, kemudian Theo pun menggendong gadis itu lalu membawanya pergi kembali menuju mobil. Namun, di dalam perjalanan mereka malah bertemu dengan Adam yang hendak menyusul. Ya sontak Theo merasa heran, pasalnya ia sudah memerintahkan Adam untuk berjaga di dekat mobil.
"Pak, non Zanna udah selamat? Terus penculiknya gimana?" tanya Adam penasaran.
"Penculiknya saya biarin aja di jalan, yang terpenting non Zanna selamat. Tapi, kamu ngapain malah disini? Bu Maysa gimana?" ucap Theo.
"Eee saya tadi disuruh bu Maysa buat susul pak Theo selamatin non Zanna," jelas Adam.
"Apa? Waduh, kamu ini gimana sih! Sudah ayo kita cepat kembali kesana!" ucap Theo tampak panik.
Kedua pria itu bergegas kembali menuju mobil yang terparkir di pinggir jalan untuk memeriksa apakah Maysa masih ada disana atau tidak, dan ternyata dugaan Theo sedari tadi benar karena terbukti saat ini Maysa tidak ada di area sekitar mobil. Baik Theo maupun Adam langsung terlihat panik, mereka kebingungan harus mencari Maysa dimana.
"Tuh kan, bu Maysa gak ada. Ini semua gara-gara kamu Adam!" ucap Theo.
"Duh, saya mana tahu kalau bakal begini pak! Tadi bu Maysa juga yang nyuruh saya pergi, saya kira bakal aman kalau dia saya tinggal," ucap Adam merasa bersalah.
"Aaarrrgghhh sial!" Theo mengumpat kesal.
"Om, mama Maysa mana?" Zanna yang berada di gendongan Theo justru bertanya seperti itu.
Theo pun hanya bisa diam seraya memalingkan wajahnya, ia tak tahu harus memberi jawaban apa kepada Zanna supaya gadis itu tidak cemas dan panik bertanya mengenai kondisi mamanya yang saat ini entah ada dimana.
...~Bersambung~...
__ADS_1
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...