Jebakan Satu Malam Duda Liar

Jebakan Satu Malam Duda Liar
Dimakamkan


__ADS_3

Tangis haru memenuhi sesi pemakaman Saskia saat ini di sebuah tempat pemakaman umum, mereka semua yang hadir disana terlihat begitu sedih dan masih tak menyangka atas kepergian Saskia. Ini tentu adalah suatu hal yang sulit untuk diterima, terutama bagi Melinda dan juga Maysa. Tampak Melinda begitu histeris, ia tak bisa berhenti menangis sejak mendengar kabar itu dari Maysa.


Pantas saja tiba-tiba Melinda teringat pada anaknya saat sedang jatuh sakit, rupanya terjadi sesuatu yang buruk kepada kedua putrinya itu. Setelah Maysa dinyatakan keguguran, kini giliran Saskia putrinya yang lain lah yang mengalami kejadian buruk. Bahkan bisa dibilang lebih buruk, karena Saskia harus pergi untuk selamanya dan membuat Melinda begitu syok serta tak menyangka dengan semua ini.


Maysa terus memeluk ibunya dengan erat saat ini, ia berusaha menenangkan Melinda agar dapat menerima kepergian Saskia. Meski Maysa sendiri juga masih tak bisa menerimanya, namun sebagai anak tertua maka Maysa harus bisa bersikap tegar dan mampu menghibur ibunya. Apalagi, tampak sekarang Melinda sangat histeris dan tidak mau pergi dari kuburan anaknya yang ia sayangi itu.


"Hiks hiks, Saskia! Kenapa kamu ninggalin ibu secepat ini sayang? Padahal kamu sudah janji mau terus temenin ibu disini, tapi kenapa malah kamu sekarang pergi seperti ini?" isak tangis Melinda.


Baik Maysa maupun para orang yang hadir di acara pemakaman itu, tampak ikut bersedih melihat kesedihan yang ditunjukkan Melinda. Terutama Dean, ya pria itu masih terlihat begitu menyesal atas kepergian Saskia saat ini. Pasalnya, Saskia tertusuk pisau di bagian perutnya karena untuk menyelamatkan dirinya.


"Bu, udah ya bu! Kita pulang yuk bu, biarin Saskia tenang disini!" ucap Maysa membujuk ibunya.


Melinda menoleh ke arahnya dengan tajam, ia raih satu tangan Maysa dan digenggamnya dengan kuat seolah hendak mengatakan sesuatu. Maysa cukup terkejut dibuatnya, baru kali ini ia melihat ibunya bertindak seperti itu. Entah karena apa, tapi yang pasti Melinda memang terlihat berbeda dibanding biasanya.


"Maysa! Kamu sudah janji akan menjaga adik kamu itu, tapi apa yang terjadi sekarang? Kamu lalai dalam menjaga dia, kamu gak bisa diandalkan Maysa! Harusnya Saskia gak meninggal, kalau kamu bisa jaga dia dengan baik!" sentak Melinda.


"I-i-iya bu, aku tahu aku salah. Emang aku gak becus dalam menjaga adik aku, kalau ibu mau hukum aku silahkan bu! Tapi, aku mohon ibu jangan sedih terus kayak gini ya!" ucap Maysa terisak.


"Kamu itu emang bukan kakak yang baik Maysa, kamu payah!" ucap Melinda emosi.


Ucapan yang dilontarkan Melinda kepadanya, membuat Maysa merasa tersentak dan tidak percaya jika ibunya bisa berkata seperti itu. Ia pun turut meneteskan air mata, ia benar-benar sedih karena telah gagal menjaga adiknya. Akibatnya, ibunya itu kini harus kehilangan satu orang anaknya dan terlihat begitu kecewa padanya.


"Maaf tante, tapi ini semua bukan salah bu Maysa! Kalau tante mau menyalahkan orang atas kepergian non Saskia, sudah sepantasnya tante salahkan saya!" ucap Dean yang langsung menyela.


"Dean, kamu—"


Kali ini Dean tidak merasa ragu lagi, ia bahkan meminta Javier untuk diam dan membiarkan ia mengakui kesalahannya. Dean tak ingin jika Melinda menyalahkan Maysa, karena memang semua itu bukan kesalahan Maysa. Dean merasa kalau ia lah yang paling bertanggung jawab kali ini, atas kepergian Saskia dalam kondisi mengerikan.


"Saya yang sudah lalai dalam menjaga non Saskia, tante. Kalau tante mau menyalahkan, salahkan saja saya!" ucap Dean kembali.


Melinda hanya terdiam, lalu sesaat kemudian ia bangkit dan menatap tajam ke arah Dean. Maysa yang melihat itu ikut mendekati ibunya, tampak jika saat ini Melinda sudah mulai terpancing dengan apa yang dikatakan Dean barusan.

__ADS_1


"Maksud kamu apa? Kamu tahu kenapa putri saya pergi?" tanya Melinda.


Dean mengangguk perlahan, "Jelas saya tahu tante, non Saskia itu tertusuk karena ingin menyelamatkan saya. Jadi, susah sepantasnya tante menyalahkan saya dalam hal ini!" jawabnya.


"Apa??" Melinda terbelalak dan terkejut bukan main mendengar pengakuan Dean.




"Oma!" begitu sampai di rumah, Melinda langsung disambut oleh Zanna dengan antusias dan tampak sangat bahagia.


Ya Zanna bahkan langsung memeluk erat tubuh neneknya itu, seolah menandakan bahwa Zanna begitu merindukan sosok Melinda. Namun, sikap Melinda terlihat dingin dan tidak suka ketika Zanna memeluknya. Wajar saja, karena kali ini Melinda sedang dalam kondisi berduka setelah kepergian putrinya tadi.


"Oma, oma udah sehat kan? Aku senang deh bisa ketemu sama oma!" ucap Zanna.


Melinda hanya terdiam kali ini, ia bahkan tidak mau menatap wajah Zanna yang ada di bawahnya dan terus mendongak ke arahnya. Melinda sepertinya masih begitu syok, yang ada di pikirannya saat ini hanyalah Saskia. Tak ada yang bisa membuatnya tersenyum kembali seperti dulu, kecuali kehadiran Saskia di dalam hidupnya.


"Iya Zanna, mending kamu main sama om yuk sini!" sahut Javier.


Akhirnya Zanna menurut, ia melepaskan pelukannya dari tubuh Melinda dan beralih mendekati Javier lalu memeluknya. Zanna tampak kecewa kali ini, karena sikap neneknya tadi yang tidak sesuai dengan apa yang ia inginkan. Padahal, Zanna sudah sangat merindukan Melinda dan ingin bermain bersama wanita itu lagi seperti dulu.


Sementara Melinda dibawa pergi oleh Maysa menuju kamarnya, Maysa ingin terus menemani ibunya itu dan berusaha membujuknya agar mau mengikhlaskan kepergian Saskia. Cukup sulit tentunya, namun Maysa akan tetap berusaha. Ya Maysa tak ingin jika Melinda terus seperti itu, karena itu bisa membuat kesehatannya menurun.


"Om, oma itu kenapa sih? Oma gak suka ya dipeluk sama aku?" tanya Zanna pada pamannya.


Javier terkejut mendengarnya, "Kamu jangan bicara kayak gitu Zanna! Oma pasti suka kok dipeluk kamu, tapi kamu kan dengar sendiri kata mama Maysa tadi. Oma itu lagi capek dan butuh istirahat, kamu maklumi ya sayang!" ucapnya.


"Iya sih om, tapi kan aku pengen dekat sama oma juga. Aku kangen tau sama oma, kan udah lama kita gak ketemu," ucap Zanna.


"Nanti ya sayang, sekarang biarin dulu oma kamu istirahat di kamarnya!" ucap Javier.

__ADS_1


Zanna hanya bisa mengangguk menuruti ucapan pamannya, lagipula tak ada salahnya apabila ia bermain bersama Javier saat ini. Sudah lama juga Zanna tak bertemu dengan pria itu, mungkin inilah saatnya bagi Zanna untuk bermain dengannya. Meski, Zanna masih tampak sedih karena Melinda tadi terlihat cuek padanya.


"Nah Zanna, kita main di luar yuk! Atau kamu mau jalan-jalan sekarang, bilang aja sama om! Kamu pilih yang mana?" ucap Javier.


"Umm, aku mau jalan-jalan dong om! Kita ke tempat bermain ya om, soalnya aku bosen dari kemarin di rumah terus! Kalau jalan ke luar kan pasti seru tuh," ucap Zanna dengan antusias.


"Boleh boleh, tapi kamu siap-siap dulu sana sama bik Arum! Om juga mau ganti baju," ucap Javier.


"Siap om!" Zanna menurut dan pergi bersama Arum menuju kamarnya, ia terlihat kembali ceria dan melupakan kejadian dengan omanya tadi.


Setelah Zanna pergi, Javier pun melangkah ke luar untuk menemui Dean yang masih berjaga di depan sana. Dapat dilihat dengan jelas, saat ini Dean tengah terduduk dan menangis karena memikirkan Saskia. Tampak juga Theo bersama pengawal lainnya menemani Dean disana, berusaha membujuk Dean agar dapat menenangkan dirinya.


"Dean!" Javier memanggil sang asisten kakaknya itu, membuat empunya nama menoleh ke arahnya.


"Eh tuan Vier?" Dean reflek bangkit dari tempat duduknya, menyeka air mata di wajahnya lalu mendekati Javier disana.


"Ada apa tuan? Apa ada yang bisa saya bantu?" tanya Dean sambil terisak.


"Saya cuma mau bilang ke kamu, kalau saya berikan kamu waktu libur sampai kamu bisa tenangin diri kamu. Ya saya tau kesedihan kamu, jadi saya mau kamu istirahat dulu di rumah!" jawab Javier.


"Tapi tuan, saya gak dipecat kan?" Dean kembali bertanya dengan wajah penasaran.


"Hahaha, ya enggak lah Dean. Saya beri kamu libur, bukan dipecat. Lagian soal pecat kamu itu bukan wewenang saya," jelas Javier.


"Terimakasih tuan." Dean mengangguk perlahan.


Setelahnya, Javier menepuk pundak Dean dan kembali ke dalam rumahnya.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...

__ADS_1


__ADS_2