Jebakan Satu Malam Duda Liar

Jebakan Satu Malam Duda Liar
Ditinggal lama


__ADS_3

Drrrtt drrrtt


Tanpa diduga, ponsel milik Harold tiba-tiba berbunyi dan membuat pria itu memiliki alasan untuk dapat pergi dari sana sehingga ia tak perlu menjawab pertanyaan Maysa tadi.


"Eh klien aku telpon nih sayang, sebentar ya?" ucap Harold pamit pada istrinya.


Pria itu langsung bangkit dari tempat duduknya, kemudian melangkah menjauh dari Maysa sambil mengangkat telponnya. Tentu saja Maysa semakin heran karena itu, Maysa pun ikut beranjak dan memutuskan untuk menyusul suaminya disana.


"Sebenarnya mas Harold sembunyiin apa sih dari aku?" lirih Maysa.




Kini Harold berada di dekat toilet restoran dan sudah mengangkat telpon dari mister Rendy itu, ia tampak sangat kesal karena mister Rendy telah mengganggu acaranya bersama Maysa yang padahal ingin sekali ia manfaatkan. Maka dari itu, Harold tidak terima dan terlihat begitu emosi pada sosok lelaki yang ada di sebrang sana.


📞"Iya halo mister Rendy! Ada apa sih anda masih telpon saya terus? Kan saya sudah bilang, saya minta waktu satu hari ini aja untuk bicara dengan istri saya!" geram Harold.


📞"Ya saya tahu Harold, saya telpon kamu hanya untuk memperingatkan kamu agar tidak main-main dengan saya! Jika kamu berubah pikiran dan tidak jadi ikut bersama saya, maka saya pastikan hidup kamu akan hancur!" ucap Rendy mengancam.


📞"Anda mengancam saya? Tenang saja mister, saya ini orang yang tidak suka ingkar janji! Jika saya sudah mengatakan ya, maka pantang bagi saya untuk merubahnya!" tegas Harold.


📞"Baguslah, saya tunggu kamu besok di tempat biasa! Ingat, jangan terlambat!" titah Rendy.


Tut Tut Tut....


Telpon itu diputus begitu saja oleh mister Rendy, sehingga Harold tampak sangat emosi dan memukul dinding di dekatnya. Tanpa ia sadari, Maysa saat ini berada tepat di belakangnya dan mendengar semua kata-kata Harold di telpon tadi. begitu Harold membalikkan tubuhnya, ia amat terkejut ketika melihat Maysa juga berada disana.


"Eh sayang, kok kamu ada disini sih? Kan aku udah bilang tadi, kamu tunggu aja di meja dan kalau kamu mau makan duluan juga gapapa!" ucap Harold.


"Mas, tadi yang telpon kamu siapa sih? Kok nada bicara kamu kayak lagi kesal gitu? Ada apa sih mas? Cerita dong sama aku, aku kan juga pengen tahu!" ucap Maysa sangat penasaran.


"Gak ada apa-apa sayang, udah kamu gausah terlalu mikirin itu ya! Kamu kan lagi hamil, fokus aja sama kesehatan kamu!" ucap Harold.


Maysa menggeleng dengan kuat dan tetap meminta Harold untuk bercerita padanya, ya Maysa tidak mungkin bisa tenang saat ini jika memang suaminya itu sedang memiliki masalah. Namun, Harold sendiri tak ingin Maysa mengetahui semuanya sekarang. Harold belum siap jika Maysa nanti mengetahui hal itu, karena pasti Maysa akan amat bersedih.


"Kita balik aja yuk ke meja, nanti aku ceritain semuanya di rumah!" ajak Harold.


Maysa terdiam saja seraya memalingkan wajahnya, ia terlihat begitu jengkel dengan sikap Harold yang tak ingin menceritakan semua itu padanya. Tampak juga Maysa mengerucutkan bibirnya saat ini, ya karena ia benar-benar penasaran apa sebenarnya yang disembunyikan Harold darinya sampai membuat pria itu begitu ketakutan.


Akhirnya mereka sama-sama kembali menuju meja tempat dimana makanan sudah disediakan, meski Maysa masih merasa kesal tetapi wanita itu juga tidak bisa meninggalkan suaminya setelah apa yang mereka alami tadi. Maysa akui kalau dirinya amat mencintai pria itu, dan ia akan sangat sedih bila ternyata Harold memiliki masalah yang tak ia ketahui.


"Aku minta maaf ya sayang, ka-kamu jangan marah dong sama aku! Aku lakuin ini untuk melindungi kamu dan Zanna, aku gak mau kalian kenapa-napa!" ucap Harold gugup.


Maysa menoleh ke arah suaminya dengan dahi mengernyit, "Maksud kamu gimana mas? Kok jadi bawa-bawa aku sama Zanna?" tanyanya heran.


"Eee aku harus pergi ke Kanada besok sayang, itu makanya aku culik kamu tadi dan bawa kamu kesini. Aku pengen punya waktu berduaan sama kamu seharian ini, karena besok kan kita gak bisa ketemu lagi," jawab Harold terpaksa jujur.


Deg


Betapa syoknya Maysa mendengar ucapan sang suami, ia tak menyangka jika ternyata itulah yang sedang disembunyikan Harold darinya. Ya Harold akan pergi ke luar negeri selama beberapa waktu dan meninggalkan Maysa serta yang lain, tentu saja Maysa tak terima karena ia masih ingin bersama lelaki itu.


"Apa mas? Kamu kok mendadak gini sih bilangnya, kenapa gak dari kemarin-kemarin coba? Aku kan jadi kaget banget dengarnya," protes Maysa.

__ADS_1


Harold menunduk lesu, ia sendiri bingung harus bagaimana karena tak memiliki kuasa untuk menolak kemauan mister Rendy. Walau sebenarnya ia sangat berat harus meninggalkan Maysa, tetapi hanya itu yang dapat ia lakukan saat ini. Jika sampai Harold tidak mengikuti perintah mister Rendy, maka mungkin lelaki itu akan nekat melakukan sesuatu yang buruk baginya ataupun keluarganya.


"Maafin aku sayang, tapi kamu tenang aja karena kan masih ada Dean disini yang bisa jagain kamu! Lagipula, aku pergi gak akan sampai setahun kok sayang," ucap Harold tersenyum lebar.


"Emang berapa lama mas?" tanya Maysa.


"Umm, mungkin sekitar dua sampai tiga bulan. Kamu sabar aja ya sayang, aku janji akan selalu kasih kabar ke kamu nanti!" ucap Harold.


Maysa benar-benar terkejut mendengarnya, dua atau tiga bulan adalah waktu yang lama dan belum tentu Maysa akan kuat ditinggal selama itu olehnya. Namun, Harold sendiri juga tidak bisa berbuat apa-apa selain menuruti saja kemauan mister Rendy yang memang memiliki kekuatan di atasnya.


"Sebenarnya kamu mau apa sih ke Kanada, mas? Kamu cerita dong yang detail!" tanya Maysa lagi.


Disaat Harold hendak berbicara menjawab pertanyaan Maysa, ponselnya justru kembali berbunyi dan membuatnya sedikit kesal. Tanpa menunggu lama, Harold segera membuka ponselnya untuk melihat siapa yang menelpon. Rupanya tercantum nama Clara di layar ponselnya saat ini, yang membuat Harold menatap penuh heran.


"Ini Clara telpon aku sayang, ada apa ya?" ucap Harold terheran-heran.


"Mana aku tahu mas, kamu angkat aja lah kalau penasaran mah!" ucap Maysa dengan ketus.


Harold cukup kaget dengan ucapan Maysa tadi, sepertinya Maysa masih kesal padanya sehingga terlihat bahwa wanita itu tidak perduli dengan apa yang ia katakan barusan. Akhirnya Harold memilih mengangkat telpon dari Clara itu di depan Maysa, membiarkan Maysa juga ikut mendengar apa yang diobrolkan mereka nanti.


📞"Halo Clara! Ada apa nih kamu telpon aku sekarang?" tanya Harold di dalam telponnya.


📞"Ah Harold, akhirnya kamu bisa juga ditelpon! Begini loh, aku sama yang lain lagi panik sekarang karena Maysa tiba-tiba hilang! Kamu lagi dimana? Bisa bantu kita gak buat cari Maysa?" ucap Clara terdengar sangat panik.


Mendengar ucapan Clara barusan, Harold justru terkekeh karena sebenarnya Maysa sekarang ada bersamanya di restoran itu.




Saskia cukup kaget melihat keberadaan Dean disana, langsung saja gadis itu mendekat ke arahnya dan menyapa si pria dengan lembut sambil menepuk pundaknya. Dean terkejut dan spontan menoleh ke belakang, ia tak menyangka kalau saat ini Saskia sudah berada disana dengan mengenakan pakaian khas taekwondo.


"Kak, ngapain tidur di depan sekolah aku kayak gini? Emangnya kak Dean gak punya rumah sekarang, terus udah jadi gelandangan gitu?" tanya Saskia.


"Eh sembarangan aja kamu, masa orang tampan begini dibilang gelandangan? Saya ini ketiduran tadi karena nungguin kamu, abisnya kamu lama banget sih pulangnya!" ucap Dean.


"Ohh, iya tadi aku kan ikut ekskul dulu. Nih lihat aja baju aku sekarang, kece kan?" ucap Saskia.


"Hm, kamu ikut taekwondo? Emang kamu bisa? Nanti yang ada pas mau mukul orang, malah kamu encok duluan!" cibir Dean.


"Yeh ngaco! Aku udah ikut taekwondo dari SD ya, makanya kamu jangan macam-macam sama aku! Aku hantam nanti tahu rasa kamu!" ucap Saskia.


Dean terkekeh geli mendengar ucapan gadis itu yang disertai gerakan anehnya, ia begitu gemas dengan Saskia dan reflek mencubit hidung Saskia sampai membuat sang empu berteriak risih. Bukannya berhenti, Dean justru kembali melakukan itu karena rasa gemasnya.


"Ish, udah cukup ya kak Dean! Ayo kita pulang, aku capek nih pengen bobok!" kesal Saskia.


"Iya iya...."


Saskia pun masuk ke dalam mobil itu, ia duduk di samping Dean dan memasang sabuk pengaman pada tubuhnya. Gadis itu lalu meminta Dean untuk segera menancap gas, yang tentu diangguki saja oleh Dean yang langsung melajukan mobilnya. Namun, tiba-tiba saja Saskia menyadari bahwa ada luka lebam di bagian pipi pria itu.


"Loh kak, itu muka kenapa lebam lebam begitu? Kamu habis berantem ya, hayo sama siapa? Bandel banget sih udah tua masih berantem aja, bukannya tobat!" ucap Saskia amat penasaran.


Dean tersenyum dibuatnya, "Haha, kamu perhatian juga ya sama saya? Gemes deh!" godanya.

__ADS_1


"Ih jangan kepedean ya jadi orang! Aku tuh cuma penasaran aja, abisnya muka kamu lebam kayak gitu kan bikin kepo!" ucap Saskia mengelak.


"Iya cantik, ini tadi saya abis berantem. Ya wajarlah namanya juga laki-laki kan?" ucap Dean santai.


"Gak wajar itu mah, sok jagoan dasar! Giliran udah lebam gini nanti kan bisa infeksi loh, mending diobatin dulu aja!" ucap Saskia.


"Kamu mau ngobatin saya?" tanya Dean menggoda.


Saskia tersentak dan melongok lebar dengan ucapan Dean barusan, gadis itu sebenarnya sama sekali tidak berniat untuk mengobati luka di wajah Dean. Akan tetapi, sekarang Dean malah meminta Saskia untuk melakukannya. Tentu saja Saskia tampak bingung, sedangkan Dean terus berusaha menggodanya saat ini.


"Yaudah, kamu ada obatnya gak?" ucap Saskia dengan santai.


"Ada kok di dashboard," ucap Dean tersenyum.


Glekk


Saskia kesulitan menelan saliva nya setelah Dean menunjukkan obat yang ada di dalam dashboard, mau tidak mau Saskia pun terpaksa mengobati Dean karena ia juga khawatir padanya.




Mawar mengantar Javier sampai ke depan apartemen tempat dimana pria itu tinggal, ya kini Javier memang baru diperbolehkan pulang dari rumah sakit oleh dokter yang merawatnya karena kondisi pria itu telah membaik. Tentu saja Javier sangat senang dengan itu, ya karena sekarang ia bisa bebas berduaan bersama Mawar.


Tiba-tiba saja, Mawar menghentikan langkahnya dan menatap ke arah Javier dengan wajah bingung. Tampak Mawar sepertinya ragu untuk ikut sampai ke dalam unit apartemen pria itu, karena pastinya disana tidak ada orang lain lagi selain mereka. Mawar khawatir jika Javier akan melakukan sesuatu yang buruk padanya, apalagi ia tahu Javier adalah orang yang menginginkan tubuhnya.


"Kenapa berhenti? Ayo kita masuk ke dalam, aku belum kuat jalan sendiri tahu! Katanya kamu tadi mau bantu aku sampai sembuh, ya kan?" ucap Javier sambil menyeringai.


"Eee aku antar sampai sini aja ya? Kamu kan tinggal masuk ke dalam aja tuh, lagian berat tahu kalau aku harus rangkul kamu terus. Kamu gak kasihan apa sama aku sekarang? Punggung aku bisa-bisa bungkuk nanti loh," ucap Mawar mengeluh.


"Ohh, jadi kamu gak mau nih anterin aku sampai ke dalam? Yaudah deh gapapa, cukup tahu aja aku mah kalau kamu ternyata suka ingkar janji!" cibir Javier.


"Eh eh..."


Mawar yang mendengar itu seketika merasa bersalah dan mengurungkan niatnya, ya Mawar tentu tak mau membuat Javier kecewa atau marah padanya karena ia telah ingkar janji. Lagipula, saat ini kondisi Javier juga tak memungkinkan untuk bisa melakukan hal yang buruk sesuai pikirannya tadi.


"Iya deh maaf, aku mau antar kamu sampai ke dalam. Tapi, abis itu aku pulang ya?" ucap Mawar.


Javier manggut-manggut saja sambil tersenyum ke arah gadis itu, lalu ia pun kembali mengambil kesempatan untuk merangkul pundak Mawar dan meminta diantar ke dalam unitnya. Setelah pintu dibuka, keduanya pun masuk begitu saja secara perlahan dan segera melangkah menuju kamar Javier yang ada disana.


Perlahan-lahan Mawar membantu Javier merebahkan tubuhnya di atas ranjang, sampai pria itu benar-benar bisa beristirahat disana. Kini Mawar berdiri memandang tubuh lelaki itu dari dekat, entah mengapa jantungnya selalu berdetak lebih kencang disaat ia berada dekat dengan Javier seperti saat mereka masih di rumah sakit tadi.


"Nah, sekarang kamu kan udah sampe nih terus udah tiduran juga. Kalo gitu aku pamit dulu ya? Gak enak kalau aku lama-lama disini," ucap Mawar.


"Mawar tunggu!" tiba-tiba saja, Javier menahan lengan Mawar dan mencengkeramnya kuat.


"Apa lagi sih? Aku kan udah anterin kamu loh, jangan macam-macam ya Javier! Aku mau pulang sekarang, lepasin aku!" sentak Mawar.


"Nanti dulu dong, aku kan gak bisa ngapa-ngapain sendiri sekarang. Kamu disini aja ya?" pinta Javier.


"Hah??" Mawar terkejut bukan main mendengar permintaan pria itu barusan, bagaimana bisa ia tinggal satu atap dengan pria yang bukan suaminya dan baru ia kenali itu.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2