
Zanna terbangun dari tidurnya dan langsung membuka kedua matanya, ia bangkit lalu menatap ke sekeliling dan kebingungan mencari-cari sosok ibunya yang tidak ada disana. Padahal, tadi sebelum ia tidur sang ibu masih ada di dekatnya dan berjanji tidak akan meninggalkannya. Namun, sekarang ini justru Zanna tak dapat menemukan keberadaan Clara di sekitar kamar itu yang membuatnya cemas.
Zanna pun berteriak panik, ia beranjak dari tempat tidurnya dan berjalan menuju pintu kamar sambil berusaha membukanya. Zanna tentu sangat ketakutan, apalagi saat ini ia ditinggal sendiri dan tak tahu ibunya ada dimana. Gadis mungil itu terus berteriak minta tolong sambil memanggil ibunya, tapi tetap tidak ada jawaban apa-apa dari luar sana yang menambah rasa cemas di hatinya.
Ceklek
Tiba-tiba saja, ada yang membuka pintu kamar itu dari luar dan membuatnya terkejut. Zanna kini memundurkan langkahnya, matanya menatap tajam ke arah sosok pria yang baru masuk itu. Zanna merasa asing dengan sosok itu, baru kali ini ia melihat dan bertemu dengannya. Akan tetapi, sosok itu kini berjongkok di hadapannya lalu menyodorkan satu buah es krim ke arahnya sambil tersenyum.
"Halo cantik! Kenalin, nama om Vino! Nama kamu siapa sayang?" sapa pria itu mengenalkan diri.
"A-aku Zanna, om." gadis kecil itu menjawabnya.
"Ohh, nama kamu Zanna? Nah Zanna, ini om ada hadiah loh untuk kamu supaya kamu gak sedih lagi! Kamu mau kan?" ucap Vino seraya menyodorkan bungkus es krim ke arah Zanna.
Zanna terdiam sejenak, rasa ragu menguasai dirinya saat hendak mengambil es krim itu dari si pria. Pasalnya, Zanna ingat betul nasihat papanya kalau ia tidak boleh menerima barang atau pemberian apapun dari orang yang dikenalinya. Seolah tahu dengan pemikiran Zanna, pria itu pun mendekat dan mencoba meyakinkan Zanna dengan perlahan.
"Kamu gausah takut, om ini baik kok! Om cuma mau kasih es krim ini ke Zanna, soalnya tadi om dengar Zanna teriak-teriak ketakutan gitu," bujuk Vino.
"Iya om, aku mau ketemu mama. Mama aku dimana om?" tanya Zanna.
Spontan Vino memalingkan wajahnya, entah apa yang disembunyikan pria itu dari sana saat ini sampai membuatnya terlihat cemas untuk berkata yang sejujurnya kepada Zanna. Bahkan, pria itu malah mengalihkan topik dengan cara meraih satu tangan Zanna dan meletakkan es krim itu disana lalu kembali menatap wajah gadis itu.
"Kamu makan dulu ya es krimnya, Zanna cantik! Mama kamu itu lagi pergi sebentar kok, nanti om bakal kasih tahu ke mama kamu kalau kamu cariin dia!" ucap Vino.
__ADS_1
"Tapi om, kata papaku aku gak boleh terima pemberian apapun dari orang asing," ujar Zanna.
Vino terkekeh, kemudian ia mengusap lembut puncak kepala Zanna yang tampak masih ketakutan karena baru kali ini gadis itu menemuinya. Vino pun mewajarkan hal itu, apalagi gadis seusia Zanna pasti akan sulit mempercayai orang asing sepertinya. Namun, Vino tak ingin menyerah dan terus berusaha meyakinkan Zanna kali ini kalau dirinya baik.
"Kamu gak perlu takut sama om, om ada disini buat lindungi kamu kok! Dimakan ya es krimnya, abis ini om mau keluar sebentar?" ucap Vino.
"Om, tolong cariin mama aku ya!" pinta Zanna dengan wajah memelas.
Deg
Jantung Vino seperti tersengat mendengar ucapan yang dilontarkan Zanna, ada rasa kasihan di dalam dirinya saat melihat wajah gadis itu. Akan tetapi, ia hanya seorang pesuruh disana dan tak mungkin ia bisa menentang perintah bosnya. Untuk bisa membawa Clara kembali kesana, bukanlah suatu hal yang mudah bagi seorang Vino.
•
•
Maysa yang panik berniat menolong Theo dengan cara keluar dari mobilnya, namun tanpa diduga ia justru dibekap dari belakang dan membuatnya sangat terkejut. Ia berusaha berteriak meminta tolong, namun cukup sulit lantaran mulutnya sudah terbekap kuat oleh seseorang di belakangnya yang ia sendiri tidak tahu siapa.
"Mmpphh mmpphh..." wanita itu terus meronta, tetapi cengkraman di tubuhnya sangat kuat dan menyulitkan dirinya.
Kini Maysa dibawa pergi dari sana, tentu saja tanpa sepengetahuan Theo yang sedang menghadapi perampok di hadapannya. Maysa pun dimasukkan ke dalam mobil yang terparkir, lalu kedua tangannya diikat dengan kuat saat ini. Tak lupa pria juga menutup kedua bola mata Maysa mengenakan kain hitam, sehingga Maysa tak dapat melihat apa-apa.
"Ish, lepasin saya! Siapa kamu, kenapa kamu berani culik saya kayak gini? Kamu jangan main-main ya, suami saya bisa bikin kamu menyesal seumur hidup!" sentak Maysa.
__ADS_1
Namun, pria itu bersikap acuh dan tak perduli dengan apa yang dikatakan Maysa. Ia duduk dengan santainya di kursi kemudi, lalu segera menancap gas membawa Maysa pergi ke suatu tempat yang misterius. Sontak Maysa tak berhenti berusaha untuk coba melepaskan diri, ia tak mau pasrah begitu saja karena saat ini ia harus berjuang sendirian.
Tanpa disangka, Maysa berhasil melepaskan ikatan di tangannya itu tanpa sepengetahuan pria yang menculiknya. Maysa pun tersenyum lega, setidaknya kini ia ada di jalur aman walau ia masih belum berhasil melarikan diri dari sana. Maysa memiliki ide yang terbilang berani, ya ia berpikir untuk meloncat keluar dari mobil yang melaju kencang itu.
Si pria masih asyik mengemudi di depan tanpa memperhatikan kondisi orang yang ia culik, kini Maysa masih tetap berpura-pura meronta dan meminta dilepaskan. Maysa tak ingin pria itu curiga, sehingga nantinya ia bisa melancarkan aksinya dengan baik. Meski ragu, namun menurutnya hanya itu yang dapat ia lakukan saat ini.
"Lepasin saya, kamu jangan macam-macam ya sama saya! Kamu belum tahu siapa suami saya, ayo cepat lepasin saya!" teriak Maysa.
"Ah diam kamu! Saya gak peduli mau siapapun itu suami kamu, yang penting sekarang saya harus bawa kamu ke tempat bos saya! Jadi, kamu lebih baik diam!" geram si penculik.
Maysa menyeringai, setelah dirasa aman ia pun mulai mengintip sekilas dan memastikan keadaan sekitar. Ya di dalam mobil itu hanya ada mereka berdua, sontak Maysa tidak berpikir dua kali untuk meloncat dari mobil itu. Digenggamnya pintu mobil yang ada di dekatnya, ia pejamkan mata sejenak sembari meyakinkan dirinya.
"Ayo Maysa, kamu bisa lepas dari sini!" batin Maysa meyakini dirinya sendiri.
Lalu, dengan cepat Maysa membuka pintu sebelah kiri dan meloncat keluar sampai terguling-guling di jalan raya. Sontak si penculik itu terkejut bukan main saat menyadarinya, ia tak menyangka Maysa akan nekat melakukan itu. Padahal, ia tadi telah mengikat dua lengan wanita itu dan memastikan kalau Maysa tidak mungkin bisa kabur.
"Aakkhh sial! Kurang ajar tuh cewek, berani banget dia loncat dari mobil gue! Gila sih, gue gak nyangka dia bakal bisa lepas dari ikatan gue! Tapi, mati gak ya tuh cewek? Gue harus pastiin!" gumam si pria.
Sedangkan Maysa tampak tergeletak di atas aspal dengan luka-luka di tubuhnya, ia meringis seraya memegangi kepala bagian belakangnya. Ada darah mengucur disana, Maysa tersentak ketika melihat itu dan mencoba menguatkan diri. Maysa harus berusaha kabur yang jauh dari sana, karena ia yakin penculik itu pasti akan kembali.
"Awhh, aku gak boleh lemah! Mas Harold pernah bilang ke aku, kalau aku harus jadi perempuan kuat!" gumamnya lirih.
...~Bersambung~...
__ADS_1
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...