Jebakan Satu Malam Duda Liar

Jebakan Satu Malam Duda Liar
Ganti rugi


__ADS_3

Di luar kantor, Maysa baru sampai bersama Fariq yang memang ditugaskan untuk mengantarnya kesana. Ya Maysa segera turun dari mobilnya dengan rantang yang ia bawa, tetapi ia terdiam sesaat memandangi gedung perkantoran milik Harold yang begitu besar dan megah. Maysa pun sangat terpesona melihatnya, ia tak menyangka bisa menjadi istri dari pria kaya raya seperti Harold.


"Waw besar banget! Beneran ini kantornya mas Harold, pak?" tanya Maysa kepada anak buah dari suaminya itu.


Fariq pun mendekat dan memberikan jawaban, "Benar bu Maysa, ini itu perusahaan milik tuan Harold yang dibangun dan dirintis sendiri olehnya dari kecil."


"Wah keren banget emang mas Harold! Yaudah, kalo gitu antar saya ketemu sama dia ya!" pinta Maysa.


"Baik bu, silahkan!" Fariq memberi jalan bagi Maysa untuk melangkah lebih dulu, dan barulah ia mengikuti dari belakangnya.


Baru saja mereka hendak masuk ke dalam sana, tanpa diduga Harold lebih dulu muncul bersama Clara yang ia tarik secara paksa dan ia dorong sampai terjatuh ke jalan. Saat itu juga dua bola mata Maysa terbelalak menyaksikannya, ia tak menyangka suaminya bisa setega itu pada seorang wanita yang merupakan ibu kandung dari Zanna.


Harold memang terlihat sangat marah, pria itu seolah tak terima karena Clara sudah menjelekkan Maysa di hadapannya tadi. Akan tetapi, Maysa tetap tidak tega melihat kondisi Clara saat ini yang berada dalam bahaya. Maysa pun bergegas mendekati mereka, lalu berniat menolong Clara yang masih terjatuh di depan sana karena ulah suaminya.


"Dengar ya Clara, kamu pergi sekarang dari sini dan jangan pernah kembali! Atau saya akan—"


"Mas Harold!" ucapan pria itu terhenti, karena Maysa dengan cepat berlari ke arahnya dan berhenti tepat di hadapannya dengan ekspresi kesal.


"Maysa? Ka-kamu...."


"Mas, tolong jangan begini! Kamu gak boleh kasar sama dia, biar gimanapun Clara ini ibu kandung Zanna loh mas!" sela Maysa.


Pria itu memalingkan wajahnya, berusaha menahan emosi karena perkataan Maysa yang malah membela Clara. Padahal, seandainya Maysa tahu bahwa Clara adalah orang jahat dan sudah sering sekali menjelek-jelekkan namanya di hadapan Harold. Itulah sebabnya mengapa Harold sangat marah pada Clara, namun Maysa justru membela wanita jahat tersebut saat ini.


Bahkan, kini Maysa mendekat ke arah Clara dan membantunya bangkit dari posisinya. Kali ini Clara mau menerima bantuan dari Maysa, tentu supaya wanita itu dapat berdiri kembali. Tapi setelahnya, Clara langsung menghentak tangannya agar lepas dari genggaman Maysa alias wanita yang sangat ia benci sampai kapanpun.


Harold hanya bisa diam membiarkan Maysa melakukan keinginannya, walau di dalam hatinya ia amat kecewa dengan sikap istrinya itu. Harusnya Maysa memang tidak membela Clara, karena Clara sudah banyak berbuat jahat padanya. Namun, untuk saat ini Harold juga tidak bisa mencegah Maysa lantaran wanita itu terlalu kekeuh dan sulit untuk diberitahu walaupun olehnya.


"Clara, kamu gapapa kan? Maafin mas Harold ya, mungkin dia tadi kebawa emosi sampai bisa bertindak kasar sama kamu begitu!" ucap Maysa.


Harold terbelalak ketika Maysa mengatakan itu, ia sungguh heran sekaligus tak percaya jika Maysa malah meminta maaf pada Clara atas nama dirinya karena sudah mendorong wanita itu tadi. Harold pun mengepalkan kedua tangannya, rahangnya bergetar serta dengusan kesal yang ia buat sekarang karena tindakan Maysa sudah terlalu baik.


"Heh! Kamu gausah sok baik deh sama aku, aku tahu kok kebaikan kamu ini cuma pura-pura karena ada mas Harold! Padahal, sebenarnya kamu itu orang yang jahat banget!" geram Clara.


"A-aku gak pernah kayak gitu loh, kamu jangan salah kira Clara!" ucap Maysa.


"Halah udah deh, kamu itu gausah drama terus di depan mas Harold! Mending kamu tunjukin aja identitas asli kamu itu sekarang!" sentak Clara.


"Maksud kamu apa sih? Aku sama sekali gak ngerti sama apa yang kamu bicarain," heran Maysa.


Clara menggeleng disertai dengusan kecil, ia sangat muak dengan sikap sok polos Maysa ketika berada di hadapan Harold seperti sekarang ini. Clara memang masih mengira bahwa Maysa memiliki rencana buruk bagi Harold dan juga putrinya, untuk itu ia tidak pernah mempercayai jika Maysa benar-benar tulus menyayangi mereka.


"Harold, kamu lihat sendiri kan sekarang gimana sikap istri kamu sekarang? Dia itu selalu aja begini tiap ada kamu, padahal aslinya dia orang yang jahat dan selalu berusaha pengaruhi Zanna buat benci sama aku!" ucap Clara tegas.


"Apa? Ka-kamu salah paham Clara, aku gak pernah ngelakuin itu!" elak Maysa.


Akhirnya Harold yang sudah tidak tahan lagi mulai bergerak maju, ia menarik tangan Maysa dan menjauhkan wanita itu dari Clara untuk mengurangi bahaya. Harold tidak mau jika sampai istrinya disentuh dan dilukai lagi oleh Clara yang jahat, ia juga tak mau terus terjadi keributan di depan kantornya saat ini.


"Sudah sudah, tidak ada yang perlu diperdebatkan lagi! Kamu pergi dari sini Clara, atau saya akan panggil security buat usir kamu!" ucap Harold.


Clara terdiam sesaat, ia pasti akan dipermalukan jika sampai security datang dan mengusirnya. Maka dari itu, Clara memutuskan pergi sendiri dari sana walau saat ini rencananya belum berhasil ia jalankan dengan baik. Ya Clara gagal meyakini Harold bahwa Maysa bukan wanita yang baik, tapi tentu Clara tidak akan berhenti sampai disitu dan akan terus mencoba berbagai cara demi bisa menyingkirkan Maysa dari kehidupan putrinya.


Setelah Clara pergi, Harold melirik sejenak ke arah Maysa sebelum akhirnya membawa wanita itu masuk ke dalam kantornya dengan menggandeng tangan sang istri. Maysa tidak bisa berbuat apa-apa, ia terdiam saja ketika suaminya membawanya masuk dan mengenalkan dirinya kepada seluruh karyawan di perusahaan tersebut tanpa rasa malu.


Banyak dari para karyawan Harold yang terkejut melihat keberadaan istri baru bos mereka disana, tapi mereka juga terlihat senang dan antusias dengan kehadiran Maysa karena wanita itu memang memiliki pengaruh yang baik dan selalu membawa keceriaan di setiap tempat yang ia datangi serta orang-orang yang ia temui.

__ADS_1


Harold juga meminta pada semua karyawannya itu untuk menghormati Maysa sebagaimana mereka menghormati dirinya, tentu saja karena Maysa merupakan istri Harold dan merupakan bos mereka semua juga. Semua disana kompak bertepuk tangan memberikan selamat bagi Harold dan juga Maysa, atas pernikahan mereka berdua serta bayi yang ada di dalam kandungan wanita itu.


Maysa sangat senang dibuatnya, tapi ada yang ia dan suaminya tak sadari saat ini. Ya dari kejauhan Javier terus memandangi mereka dengan ekspresi tak suka, seolah-olah memperlihatkan kecemburuan yang pria itu rasakan karena sebelumnya dia pernah menyukai Maysa. Ya walau akhirnya Javier harus merelakan Maysa untuk Harold, karena dia tidak bisa berbuat apa-apa.




Singkat cerita, Harold telah membawa istrinya ke dalam ruangan pribadinya alias tempat dimana ia selalu bekerja dan juga beristirahat selama disana. Harold pun mempersilahkan Maysa untuk duduk di sofa yang tersedia, serta membantu wanita itu meletakkan rantang dan tas yang dia bawa tadi di atas meja. Keduanya tersenyum, saling memandang dan larut dalam kebahagiaan berdua.


Satu tangan Harold bergerak menarik wajah sang istri, mula-mula ia belai dengan lembut bibir mungil nan merah muda itu sebelum dikecupnya secara singkat. Maysa cukup terkejut, namun akhirnya tersenyum ketika diperlakukan manis oleh Harold. Tanpa banyak basa-basi lagi, Harold segera menyatukan kembali bibir mereka dan melahap dengan ganas serta membuat suasana panas.


Bunyi decapan kedua bibir mereka terdengar keras di dalam ruangan itu, mereka sama-sama menikmati ciuman panas tersebut dan semakin bergairah. Harold bahkan menahan tengkuk Maysa agar wanita itu tak banyak bergerak, tangan-tangannya pun terus bergerak liar menyusuri bagian tubuh Maysa yang membuatnya tergoda dan tidak ingin melepasnya.


Lalu setelah dirasa puas, Harold pun mengakhiri ciumannya dan membelai rambut serta wajah Maysa. Dibukanya kancing baju milik Maysa karena sepertinya ia sudah sangat bergairah, namun sepasang tangan Maysa menghentikan gerakan pria itu disertai gelengan kepala yang menandakan bahwa dia tak setuju jika Harold ingin bermain disana saat ini.


"Mas, jangan ya udah cukup sampe tadi aja! Ini kan waktunya makan siang, kalau keterusan nanti malah kita gak bisa makan. Kamu gak kasihan apa sama calon anak kita ini?" ucap Maysa sembari mengusap perutnya.


Harold tersenyum dibuatnya, "Iya iya, aku ngerti kok sayang. Emangnya kamu masak apa nih buat aku?" ucapnya lirih.


Maysa tersenyum lebar dan membuka isi rantang tersebut di hadapan suaminya, ia pun menunjukkan beberapa masakan yang ia buat tadi khusus untuk suaminya. Saat itu juga kedua bola mata Harold terbelalak lebar, pria itu menjilat bibirnya sendiri melihat banyaknya makanan buat Maysa yang tentu sangat dia sukai.


"Wah banyak banget itu sayang, pasti enak deh rasanya! Aku jadi gak sabar buat ngerasain masakan kamu ini, secara kamu kan pintar banget masak!" ucap Harold menggodanya.


"Hmm, kamu emang paling bisa kalau soal muji aku dan bikin aku malu. Yaudah, kita makan sekarang ya mas?" ucap Maysa.


Harold mengangguk kecil, "Iya dong, tapi sebentar aku panggil ob dulu buat bawain piring dan gelas kesini ya?" ucapnya yang kemudian diangguki oleh Maysa dengan senyuman tipis.


Harold pun menghubungi salah seorang kepala ob yang bekerja di kantornya, lalu meminta padanya untuk membawakan dua piring serta gelas bagi mereka berdua disana yang hendak menikmati makan siang bersama. Setelah itu, Harold kembali memeluk Maysa dan mengecupi pipinya yang memang sangat menggemaskan.


"Umm, udah biarin aja dia mah paling makan di luar!" jawab Harold santai.


"Ih parah kamu mas, sama adik sendiri kok kayak gitu sih! Emangnya kamu gak kasihan apa sama Javier?" ujar Maysa.


"Enggak, ngapain?" singkat Harold.


Saat itu juga Maysa terkekeh dan mencubit lengan suaminya karena kesal, namun Harold membalas dengan sebuah kecupan hangat pada kedua pipi dan juga leher mulus wanita itu.




Sementara itu, Saskia tiba di rumahnya bersama Dean yang tadi menjemputnya di sekolah. Gadis itu langsung turun begitu saja dan berniat masuk ke dalam meninggalkan Dean, tetapi Dean tak membiarkan Saskia pergi karena menurutnya masih ada yang perlu dibicarakan oleh keduanya sehingga Dean menghalangi langkah Saskia saat ini.


Tentu saja Saskia merasa heran dengan tindakan Dean yang tiba-tiba berdiri di hadapannya serta memintanya untuk tidak pergi, padahal tugas Dean hanya menjemput dan mengantarnya sampai ke depan rumah. Namun, saat ini Dean malah meminta Saskia untuk bicara sejenak dengannya seolah ada hal penting yang hendak dibicarakan padanya.


"Kamu mau apa lagi sih? Pengen minta kontak teman aku di sekolah tadi, hm? Boleh boleh, sebentar ya aku kasih ke kamu?" kekeh Saskia.


"Eh eh, gak begitu non. Buat apa saya minta nomor teman non itu? Saya aja sukanya sama non Saskia kok," ucap Dean disertai senyuman lebar yang membuat gadis itu terkejut.


"Hah??" Saskia sama sekali tak mengerti dengan apa yang dimaksud Dean tadi.


"Ahaha, bercanda kok non. Saya tuh cuma mau tanya sama non Kia, apa non gak ada niat gitu buat bilang terimakasih sama saya?" ucap Dean.


"Ohh, kamu perhitungan ya sama aku? Okay, aku bakal bilangin ke kak Harold nanti!" ancam Saskia.

__ADS_1


Dean tersentak dan wajahnya berubah takut mendengar ancaman gadis itu, siapa yang tidak khawatir jika diancam seperti itu dan akan dilaporkan kepada bosnya. Bukan tidak mungkin Harold bisa memecatnya, jika sampai tahu kalau saat ini Dean meminta Saskia mengatakan terimakasih padanya sebagai imbalan.


"Eee hehe bercanda doang kok non, jangan lah main ancam-ancam begitu!" kekeh Dean.


Saskia merotasi bola matanya, kemudian melangkah lebih dulu melewati tubuh Dean dan memasuki rumahnya. Kali ini Dean hanya diam membiarkan Saskia pergi, karena menurutnya masih banyak waktu yang bisa digunakan untuk berduaan dengan Saskia lagi lain kali. Ya apalagi sekarang ia sudah ditugaskan untuk menjemput gadis itu di waktu pulang sekolah.


Saat di dalam, Saskia bertemu dengan ibu serta keponakannya yang sedang bermain bersama di ruang tamu. Mereka bahkan langsung menoleh ke arahnya begitu melihat Saskia muncul, ya terutama Zanna yang memang sangat senang tiap kali melihat tantenya itu. Zanna pun bergerak mendekati Saskia disana, lalu memeluk erat tubuh tantenya yang baru pulang sekolah.


"Akhirnya aunty Kia pulang juga, aku udah kangen banget tahu sama aunty! Kita main yuk aunty, bareng sama oma juga!" ucap Zanna.


"Ahaha, iya nih aunty juga udah kangen banget sama ponakan aunty yang cantik ini. Tapi, sebentar ya aunty mau mandi dulu terus ganti baju? Gapapa kan Zanna main sama oma dulu?" ucap Saskia.


"Iya Zanna, kasihan dong aunty Kia kan baru pulang sekolah pasti masih capek!" sahut Melinda.


Zanna mengangguk paham, gadis itu juga tidak kesal atau marah pada tantenya karena ia memahami bahwa Saskia baru pulang sekolah. Zanna pun kembali bermain bersama oma nya disana dengan membawa boneka pemberian papanya dulu, sedangkan Saskia tentu melangkah menuju kamarnya di atas untuk berganti pakaian.




Malam harinya, Harold pulang bersama Maysa setelah hampir seharian ini mereka berada di kantor dan berkeliling menikmati waktu berdua. Harold cukup puas hati ini karena bisa bersama istrinya, meski tadi hasratnya harus tertahankan lantaran Maysa mencolek keinginannya saat hendak bercinta di dalam ruangan pribadinya.


Kini mereka pun sama-sama turun dari mobil, lalu tampak Dean berdiri menyambut mereka disertai senyuman lebar dengan kedua tangan ditaruh di depannya. Harold pun melirik sekilas ke arah Maysa, kemudian meminta wanita itu masuk lebih dulu karena ia saat ini ada kepentingan dengan Dean yang tidak bisa diberitahu pada Maysa.


Untungnya Maysa mau mengerti, wanita itu pun berjalan masuk ke dalam rumah meninggalkan suaminya berdua dengan Dean. Sehingga kini Harold memiliki keleluasaan untuk berbicara bersama asistennya, sepertinya Dean memang mempunyai informasi penting mengenai bisnis yang mereka jalankan dan Harold harus tahu itu.


"Gimana Dean, apa yang mau kamu sampaikan ke saya sekarang?" tanya Harold penasaran.


Dean tersenyum sekilas dan mengambil sesuatu dari dalam saku jasnya, ia tunjukkan sebuah foto kepada Harold yang membuat pria itu menyeringai. Harold seolah puas dengan apa yang dilihatnya saat ini, begitupun Dean karena ia juga ikut tersenyum. Kini Harold mengembalikan foto itu pada Dean, dia juga meminta Dean untuk lebih berhati-hati.


"Bagus, saya suka kinerja kamu! Tapi ingat, pastikan kalau tidak ada siapapun yang tahu tentang ini! Baik itu Javier atau Maysa, karena saya gak mau melibatkan mereka!" titah Harold.


"Baik tuan! Saya janji akan rahasiakan semua ini dan menutup rapat-rapat semuanya! Tapi tuan, ada lagi yang mau saya bicarakan," ucap Dean.


Harold mengernyit dibuatnya, "Apa itu?" tanyanya.


"Eee jadi begini tuan, saya rugi banyak nih karena non Saskia tadi. Apa tuan gak mau tanggu jawab gitu?" jawab Dean gugup.


"Hah? Rugi banyak karena apa? Emangnya Saskia ngapain?" tanya Harold penasaran.


"Ya jadi tadi saya ajakin non Kia buat makan siang dulu di restoran, tapi begitu sampai disana eh non Kia pesan makanan banyak banget. Untung aja uang saya cukup, kalau enggak bisa malu tuh waktu di restoran tadi," jelas Dean.


"Hahaha, ya itu derita kamu dong Dean. Kan kamu sendiri yang minta ke saya buat antar jemput Saskia, jadi kamu terima aja semua itu!" kekeh Harold.


Dean benar-benar jengkel dengan ucapan Harold barusan, karena bosnya itu malah menertawakan dirinya dan bukan mengganti rugi semua uangnya yang digunakan untuk membayar makanan Saskia tadi. Namun, Dean sendiri juga tak bisa berbuat apa-apa atau memaksa Harold untuk mengganti rugi padanya saat ini.


"Yasudah, saya mau masuk juga. Kalau kamu udah keberatan buat antar jemput Saskia, nanti biar saya suruh orang lain untuk gantiin kamu!" ucap Harold.


Setelah mengatakan itu, Harold pun pergi ke dalam rumahnya menyusul Maysa. Dean sendiri masih terkejut dan tak menyangka Harold akan menyuruh orang lain untuk mengantar jemput Saskia, tentu saja ia tak terima dan berusaha mengejar Harold serta meminta padanya agar ia tidak digantikan nanti dalam tugasnya menjemput Saskia.


Namun langkah kaki Harold dan Dean terhenti, begitu mereka mendengar suara mobil yang berhenti tepat di halaman rumah itu. Harold menoleh ke arah mobil, matanya membulat melihat sebuah mobil yang sepertinya tidak asing bagi ia. Akan tetapi, Harold masih belum yakin apakah benar dugaannya mengenai pemilik mobil tersebut.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...

__ADS_1


__ADS_2