Jebakan Satu Malam Duda Liar

Jebakan Satu Malam Duda Liar
Pelarian Clara


__ADS_3

Daniel yang hendak mengecek situasi di sekitar gudang, dibuat terkejut ketika melihat para anak buah bosnya yang berjaga disana justru asyik tertidur. Sontak ia bergegas mendekat untuk memeriksa semua, dan ternyata Clara yang ditahan di dalam sana sudah tidak ada. Tentu saja Daniel tampak sangat geram, ia mengepalkan tangannya lalu menggebrak meja sampai mengejutkan kedua pria yang tertidur sebelumnya disana.


Baik Baron maupun Rony sama-sama terkejut saat ini, mereka tersadar dari tidur dan kompak mengucek mata akibat kelakuan Daniel yang tidak diduga itu. Mereka pun bangkit dari tempat duduk dan menghadap ke arah Daniel, keduanya sangat ketakutan saat ini. Ya tatapan Daniel sungguh menyeramkan, sepertinya pria itu memang sangat jengkel dengan apa yang terjadi. Daniel tentu tak terima, karena Clara telah berhasil kabur dari sana.


"Kalian ini kerjanya ngapain aja sih, ha? Bukannya jagain tahanan, kalian malah enak-enakan tidur disini! Lihat tuh di dalam, Clara kabur gara-gara kelalaian kalian!" sentak Daniel.


Baron serta Rony pun memastikan sendiri dengan melihat ke arah gudang, saat itu juga mereka terkejut lantaran Clara sudah tidak ada disana. Padahal, sebelumnya mereka yakin sekali kalau wanita itu masih terikat. Keduanya pun sangat ketakutan saat ini, mereka cemas jika nantinya akan diberi hukuman oleh Rendy atau Daniel sendiri.


"Kenapa kalian bisa lalai? Saya kan minta kalian jaga dia 24 jam, bukan malah ditinggal tidur!" ujar Daniel.


"Maaf pak, kami juga gak tahu kenapa tiba-tiba kami bisa ngantuk banget tadi! Kayaknya kami dikasih obat tidur deh pak, supaya Clara bisa kabur. Soalnya abis kita minum minuman dari si Vino, rasanya kami kayak ngantuk banget," ucap Baron.


"Betul pak, kepala kami pusing dan terus akhirnya kamu ketiduran deh! Kami yakin ini ulah si Vino itu pak, dia dalangnya!" sahut Rony.


"Ah saya gak perduli, kalian pokoknya harus cari si Clara itu dan bawa dia kembali kesini! Tangkap juga si Vino kalau memang kalian yakin dia yang sudah membantu Clara melarikan diri!" titah Daniel.


"Siap tuan!" ucap Baron dan Rony bersamaan.


Setelah itu, keduanya pun pergi dengan cepat meninggalkan tempat tersebut untuk pergi mencari Clara dan juga Vino. Mereka tak ingin terkena hukuman dari Daniel ataupun Rendy, karena pasti itu akan sangat menyakitkan. Untuk itu, mereka ingin segera menemui Vino lalu membawa lelaki itu ke hadapan Daniel dan Rendy.


Sementara Daniel masih tetap berada disana, ia menggeram kesal seraya memukul angin di sekitarnya. Niatnya untuk menyetubuhi Clara kini gagal sudah, karena wanita itu malah melarikan diri dari gudang tersebut. Akhirnya Daniel terpaksa menghubungi salah satu wanita pemuas yang biasa ia pakai, lalu memintanya datang kesana.


📞"Halo Claire! Datang kesini sekarang, saya butuh kamu untuk tuntaskan gairah saya!" titah Daniel.


📞"Baik om Daniel sayang!" balas wanita itu.


Daniel pun memutus telpon, lalu bergegas pergi menuju kamarnya sambil menunggu kehadiran wanita yang ia pesan tadi. Memang sudah sering Daniel menyewa wanita bernama Claire itu, sebab hanya Claire lah yang mampu memuaskannya. Meski begitu, tetap saja Daniel merasa bosan dan ingin mencoba goyangan dari wanita lain.


"Duh, mister Rendy kemana sih? Gara-gara dia gak ada di markas, sekarang malah terjadi kekacauan besar!" gumam Daniel.


•


•

__ADS_1


Sementara itu, Vino telah berhasil membawa Clara ke kamar tempat Zanna berada. Mereka masuk secara diam-diam menemui Zanna yang sudah menunggu sedari tadi, sontak Clara langsung bergerak cepat menghampiri putrinya itu. Tak hanya Clara, bahkan Zanna sendiri tampak sangat bahagia dapat melihat dan bertemu kembali dengan ibunya.


Mereka berpelukan erat disana untuk melepaskan rasa rindu yang selama ini mereka pendam, setelah cukup lama akhirnya mereka dapat berpelukan kembali dan meredakan kerinduan di hati. Clara menangis sejadi-jadinya, ia sungguh cemas dengan putrinya itu dan khawatir kalau Rendy serta anak buahnya akan melukai Zanna.


"Mama khawatir banget sama kamu sayang, mama takut kalau kamu disakitin sama mereka! Tapi syukurlah, kamu baik-baik aja dan gak luka sama sekali!" ucap Clara terisak.


Clara terus mengusap dan mengecup wajah putrinya, ia benar-benar senang karena dapat bertemu lagi dengan putri kesayangannya itu. Tentu saja momen itu mengundang haru di dalam hati Vino, pria itu senang ketika melihat sepasang ibu dan anak itu saling berbahagia. Tanpa sadar, air mata ikut menetes di pipi Vino saat ini.


"Om, om Vino kok nangis?" Zanna tak sengaja melihat Vino meneteskan air mata, sontak ia bertanya pada pria itu dengan polosnya.


"Ah eee i-ini, om senang aja lihat Zanna bisa ketemu lagi sama mama Zanna. Dari kemarin kan Zanna terus minta hal ini sama om, tapi maaf ya om baru bisa wujudin itu sekarang!" ucap Vino.


"Gapapa kok om, aku makasih banget sama om karena udah mau tepatin janji om!" ucap Zanna.


"Iya, sama-sama Zanna cantik." Vino tersenyum dan terus menyeka air matanya.


Tanpa diduga, Zanna melepaskan pelukannya dari sang mama dan beralih menuju Vino yang berdiri di depannya. Lalu, Zanna memeluk erat tubuh pria itu dan membuat Vino merasa terkejut seolah tak percaya. Baru kali ini Zanna mau memeluknya seperti itu, padahal sebelumnya Zanna sering bersikap cuek dan ketus setiap bertemu dengannya.


"Makasih banget ya om, aku sayang deh sama om Vino! Maafin aku ya om, kalau selama ini aku jahat sama om!" ucap Zanna sambil tersenyum lebar.


"Kamu serius Vino? Apa kita gak bakal ketahuan sama pasukan yang lain?" tanya Clara.


"Tenang Clara, aku yang jamin keselamatan kalian! Ayo ikut saya sekarang!" titah Vino.


"Baik!" Clara kini percaya sepenuhnya pada pria yang tadi telah menolongnya itu.


Ketiganya kini mulai melangkah secara perlahan ke luar dari kamar tersebut, Vino juga telah menyiapkan senjatanya berjaga-jaga kalau ada salah satu anak buah Rendy yang memergoki mereka. Tentu Vino tak ingin rencananya kali ini gagal, karena ia harus bisa membawa Clara serta Zanna keluar dari tempat yang menyeramkan itu.


Vino tak perduli jika nantinya ia dicap sebagai pengkhianat oleh Rendy, atau bahkan diberi hukuman mati karena telah mengkhianatinya. Vino hanya tidak mau kejadian yang menimpa anak dan istrinya dulu kembali terjadi kepada Clara serta Zanna, ya sebagai pria yang memiliki hati tentu saja Vino sangat perduli pada mereka.


•


•

__ADS_1


Singkat cerita, mereka hampir berhasil meloloskan diri dari markas Rendy yang cukup luas itu. Ya Vino pun sudah bernafas lega kali ini, ia merasa sebentar lagi akan berhasil membawa Clara serta Zanna keluar dari sana. Dengan begitu, maka tugasnya untuk menyelamatkan Zanna dari tempat yang berbahaya itu akan segera selesai.


Kini mereka terus berjalan menyusuri lorong rahasia yang ditunjukkan oleh Vino, pria itu terus mengawasi sekitar berjaga-jaga jikalau ada salah seorang anak buah Rendy yang memergoki mereka. Senjata Vino telah bersiap siaga di tangannya, ia tak ingin rencana melarikan diri kali ini gagal dan bisa membuat hidup Zanna dalam bahaya nantinya.


"Hey Vino, berhenti!" tiba-tiba saja, suara teriakan terdengar di telinga ketiganya dan membuat Vino menoleh ke asal suara itu.


Vino terkejut bukan main, disana berdiri sosok Baron dan juga Rony yang bersiap menangkapnya. Kedua pria itu telah menyodorkan senjata ke arahnya seolah bersiap menembaknya, namun Vino bersikap santai dan meminta Zanna meneruskan langkahnya. Untungnya baik Baron maupun Rony tak melihat keberadaan Zanna atau Clara disana, ya karena Zanna dan Clara sudah lebih dulu melangkah.


"Mau kemana lu Vino? Lo gak bisa melarikan diri lagi sekarang, lu harus ikut sama kita menghadap ke tuan Daniel!" tegas Baron.


"Tahan senjata kamu, Baron! Kita bicarakan ini baik-baik, saya bisa jelaskan ke kalian!" pinta Vino.


"Ah banyak omong lu!" Rony yang sudah tidak sabar lagi, langsung mengangkat pistolnya dan menembak Vino tepat di bagian kaki.


Dor!


Seketika Vino terjatuh dan senjatanya terhempas dari tangannya, kakinya terluka parah akibat tembakan itu. Ia melirik ke arah Zanna, disana gadis itu tampak histeris dan hendak berteriak karena melihat kondisinya. Hanya saja, Clara dengan cepat menutup mulut Zanna agar tidak ada yang mendengar suara teriakannya itu.


Vino tersenyum menatapnya, lalu memberi kode pada mereka untuk segera pergi dari sana sebelum Rony dan yang lainnya mengetahui keberadaan mereka. Dengan sangat terpaksa Clara menuruti permintaan Vino, wanita itu membawa paksa Zanna untuk pergi sesuai perintah Vino karena Clara juga tak ingin mereka diketahui.


Sementara Vino tetap tergeletak disana dengan kaki yang terluka, ia meraih kembali senjatanya dan menembak ke arah Baron serta Rony yang terus mendekatinya. Namun, semua tembakannya meleset karena dalam posisi sulit. Sehingga, Baron justru berhasil menembak tepat sasaran mengenai lengan Vino yang membuatnya menjerit keras.


Dor!


"Aaakkhhhh!!" pekikan itu terdengar sampai ke telinga Zanna, ya sontak gadis itu menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang.


Zanna benar-benar terkejut dan mencemaskan kondisi Vino, ingin rasanya ia menghampiri pria itu disana dan menyelamatkannya. Tapi tentu saja ini bukan waktu yang tepat, sebab mereka harus segera melarikan diri. Clara pun memaksa putrinya itu untuk pergi dari sana, karena tidak ada waktu lagi bagi mereka saat ini.


Zanna tak memiliki pilihan lain, ia tak bisa berbuat apa-apa selain menurut dengan ucapan mamanya. Akhirnya ia terpaksa pergi bersama sang mama keluar dari tempat terkutuk itu, Zanna terus terisak membayangkan sosok Vino disana. Gadis itu tak berhenti memeluk boneka pemberian Vino kemarin, ia benar-benar bersedih karena harus berpisah dengan Vino dan tak mengetahui kondisinya.


"Hiks hiks, om Vino!" Zanna menangis sesenggukan sembari memeluk erat boneka di tangannya.


Clara memaklumi kesedihan putrinya itu, ia pun juga tak menyangka kalau Vino harus rela mengorbankan dirinya demi keselamatan mereka berdua kali ini. Clara tentu sangat berterima kasih pada Vino, meski ia juga tidak ingin hal ini terjadi.

__ADS_1


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2