
Harold dan Rendy kini pergi dari bandara dan membatalkan jadwal penerbangan mereka ke Kanada untuk sementara waktu, ya karena mereka harus mengurus terlebih dahulu barang milik Rendy yang dicuri oleh kelompok lain. Tentu saja hal ini membuat Harold bahagia, karena itu artinya Harold masih dapat menemui Maysa nanti dan meminta maaf pada wanita itu atas kesalahannya tadi.
Berbeda dengan Harold yang terus tersenyum sedari tadi, Rendy justru terlihat kesal dan tidak berhenti memaki-maki anak buahnya disana. Rendy merasa emosi karena kelalaian dari para anak buahnya, sehingga barang miliknya itu hilang dicuri. Padahal, mereka saat ini sudah ditunggu oleh seorang klien yang amat penting bagi keberlangsungan bisnis mereka dan tentunya akreditasi sosok Rendy.
"Aaarrrgghhh kurang ajar emang! Siapa orang yang sudah berani main-main dengan saya? Lihat saja, saya akan habisi siapapun itu mereka!" geram Rendy sambil memukul-mukul kursinya.
Harold yang melihat itu tersenyum saja sembari melirik sekilas ke arah mister Rendy, ia sebenarnya senang dengan hal itu meski ada juga rasa kecewa karena biar bagaimanapun hilangnya barang-barang itu juga pasti berimbas kepada dirinya. Ya Harold yakin jika Rendy akan semakin menekannya untuk bisa membantunya dalam membalas dendam.
"Mister, apa mungkin ini semua ulah dari kelompok Jeevan? Mereka itu kan saingan berat kita, pasti mereka tidak mau kalau kita memperluas bisnis ini sampai ke Kanada. Lalu, mereka juga pernah kan mencuri dokumen dari kantor saya," ujar Harold.
"Entahlah, saya belum bisa menebak siapa pelaku pencurian kali ini. Mungkin saja kamu benar, tapi bisa jadi juga salah," ucap Rendy.
"Kenapa kita gak coba cari aja mereka ke markasnya? Kita pastikan sendiri, apakah ada barang kita disana atau tidak! Kalau memang benar mereka pelakunya, barang kita itu pasti masih ada disana sampai sekarang!" usul Harold.
"Bagaimana jika dugaan kamu salah? Permusuhan ini akan semakin memburuk Harold," ucap Rendy.
"Itu resiko yang harus kita ambil, sebagai sesama pelaku bisnis ilegal maka kita juga pasti akan mendapat banyak musuh. Saya rasa mister tahu dengan resiko itu," ucap Harold.
Rendy manggut-manggut paham, kemudian setelah berpikir sejenak pria itu pun setuju dengan usul yang diberikan oleh Harold tadi. Rendy memang masih khawatir dengan resiko yang akan terjadi nanti, tapi semua ini demi keberlangsungan bisnisnya juga dan lagipun ada Harold yang kini menemaninya untuk menyerbu markas milik saingannya itu.
"Yasudah, saya setuju dengan usul kamu. Kalau begitu kita ke markas Jeevan sekarang, tetapi kamu juga harus bantu saya dengan memberikan pasukan kamu Harold!" ucap Rendy.
Harold menyeringai dibuatnya, "Mister butuh pasukan saya? Saya rasa tidak perlu mister, saya yakin pasukan mister saja sudah cukup untuk kita menyerbu markas Jeevan sekarang! Mister gak perlu takut begitu dong!" ucapnya.
"Apa maksud kamu? Saya bukan takut, saya hanya ingin meminimalisir terjadinya korban nanti! Kamu mengerti kan maksud saat?" ucap Rendy.
__ADS_1
"Ya itu sama aja mister, artinya mister takut dan gak percaya sama pasukan mister sendiri!" cibir Harold.
Rendy terpancing emosinya, ia langsung menatap tajam wajah Harold dan menarik kerah baju Harold dengan kasar. Melihat reaksi Rendy saat ini, Harold tersenyum santai dan mengangkat dua tangannya sambil mengatakan bahwa perkataannya tadi hanya gurauan dan tak seharusnya Rendy sampai terbawa emosi seperti itu.
"Jaga batasan kamu Harold, jangan sampai saya emosi dan menghabisi kamu sekarang juga! Bukan suatu hal yang sulit bagi saya untuk melakukan itu, paham kamu!" geram Rendy.
"It's okay, saya hanya bercanda mister."
Akhirnya Rendy melepaskan Harold dan kembali menatap ke arah jalan, ia memerintahkan supirnya membawa mereka menuju markas Jeevan.
•
•
Maysa pun turun dari mobilnya, lalu bergegas masuk ke dalam kantor dan disambut dengan ramah oleh dua orang satpam yang berjaga disana. Tanpa menunggu lama lagi, Maysa segera melangkah menuju resepsionis. Kebetulan Maysa memang sudah dikenali oleh para karyawan disana, sehingga kedatangannya saat ini tidak membuat keheranan.
"Selamat siang bu Maysa!" resepsionis bernama Alista itu menyapanya.
"Ya siang, bisa saya bertemu dengan sekretaris suami saya sekarang? Ada hal yang ingin saya tanyakan padanya," pinta Maysa.
"Ohh, bisa kok bu. Sebentar ya saya panggil dulu mbak Clarissa nya?" ucap Alista.
Maysa mengangguk dan membiarkan Alista menghubungi Clarissa selaku sekretaris di kantor itu, kini Maysa tampak tidak sabar untuk segera menemui sekretaris suaminya. Ya Maysa berharap jika Clarissa bisa memberinya jawaban terkait pertanyaan yang terus muncul di kepalanya, karena jujur Maysa sangat penasaran apa sebenarnya pekerjaan yang hendak dilakukan Harold saat ini.
Setelah menghubungi nomor Clarissa, kini Alista kembali menatap wajah Maysa dan menyampaikan apa yang baru ia katakan dengan Clarissa di telpon tadi. Maysa pun begitu antusias mendengarnya, seolah-olah ia ingin segera bertemu dengan sekretaris suaminya itu.
__ADS_1
"Saya sudah hubungi mbak Clarissa ya, bu Maysa. Mohon ditunggu sebentar, silahkan duduk disana bu! Nanti mbak Clarissa akan datang kesini kok," ucap Alista dengan lembut.
"Ah ya, baik!" Maysa mengangguk paham dan berjalan menuju tempat duduk di dekatnya.
Tak lama kemudian, Clarissa pun muncul dan langsung menghampiri Maysa yang tengah terduduk disana menunggunya. Ya Clarissa sangat penasaran ada apa kiranya Maysa sampai datang kesana dan meminta untuk bertemu dengannya, padahal selama ini mereka tidak pernah saling bertemu tatap muka seperti ini selain ketika Harold mengenalkannya.
"Permisi, bu Maysa!" Clarissa menyapanya dengan ramah dan sopan disertai senyuman lebarnya.
"Eh kamu pasti Clarissa kan? Makasih ya udah mau repot-repot temuin saya disini!" Maysa pun bangkit dan bersalaman dengan sekretaris itu.
"Iya gapapa bu, saya lagian gak terlalu sibuk kok. Kalau gitu mari kita bicara di ruangan saya bu, atau ibu mau di tempat lain yang lebih nyaman?" ucap Clarissa.
Maysa menggeleng pelan, "Gausah, kita ngobrol disini aja. Saya cuma mau tanya soal mas Harold kok," ucapnya.
"Oh begitu, tanya tentang apa ya bu?" ujar Clarissa.
"Begini Clarissa, kamu tahu kan kalau suami saya itu sekarang lagi pergi ke Kanada? Kira-kira dia ada urusan apa ya? Soalnya setiap kali saya tanya begitu, dia selalu gak mau kasih tahu saya. Jujur aja saya jadi cemas Clar," ucap Maysa.
Deg
Clarissa pun langsung terbelalak dan kebingungan dibuatnya, ia cemas sekaligus tak tahu harus mengatakan apa di hadapan Maysa saat ini karena Harold telah memintanya merahasiakan hal itu.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
__ADS_1