Jebakan Satu Malam Duda Liar

Jebakan Satu Malam Duda Liar
Kelompok baru?


__ADS_3

Harold masih berkutat di dalam ruang kerjanya dengan ditemani Dean yang memang bertugas sebagai asisten pribadinya, tentu setiap Harold butuh sesuatu maka Dean lah yang akan memberi bantuan padanya. Untuk itu, Harold sengaja meminta Dean tetap stay di dekatnya agar ia lebih mudah meminta bantuan atau hanya sekedar memberi perintah kepada sang asisten tersebut.


Kali ini kerja Harold jadi lebih mudah setelah ia mengukuhkan diri sebagai seorang pemimpin di bisnis gelapnya, sehingga ia tak perlu takut lagi pada siapapun saat ini. Justru orang-orang lah yang akan takut padanya, bahkan mungkin tidak akan berani menatap matanya nanti. Apalagi, Harold telah menguasai seluruh wilayah Rendy dan juga anak buahnya yang kini turut membelot kepadanya.


"Bos, ini laporan keuangan perusahaan kita bulan ini. Disitu tertera kalau kita mengalami sedikit penurunan, walau tidak terlalu besar tapi cukup berbahaya bos," ucap Dean.


Harold tersenyum tipis, "Tidak apa-apa, wajar apabila dalam bisnis kita mengalami fase naik dan turun. Tapi, kamu sudah selidiki semua masalah di proyek yang saya tugaskan itu kan? Bagaimana hasilnya?" ujarnya lirih.


"Oh iya bos, saya lupa mengabari. Semuanya sudah diurus sama bu Maysa kok bos," jawab Dean.


"Maysa? Ah saya baru ingat, waktu itu kan saya yang minta Maysa untuk mengurus perusahaan. Yasudah, tapi semua sudah beres kan Dean? Gak ada masalah lagi di proyek itu?" tanya Harold.


"Sudah pak, sekarang proyek itu kembali berjalan lancar dengan pimpinan baru yang saya pastikan dia tidak akan berbuat kotor," ucap Dean.

__ADS_1


"Baguslah, saya suka itu!" puji Harold.


Tapi tak lama kemudian, Harold tiba-tiba mendapat telpon dari Fandy yang membuatnya terkejut serta langsung meraih ponselnya. Harold tampak penasaran, ia ingin tahu ada apa sebenarnya sampai Fandy harus menghubungi nomornya saat ini disaat ia tengah berada di kantor.


📞"Halo Fandy! Kenapa kamu telpon saya? Ada kabar apa?" tanya Harold di dalam telpon.


📞"Begini bos Harold, saya dapat info kalau ada kelompok lain yang menyerang wilayah barat. Mereka membantai beberapa anak buah kita sampai meninggal bos," jawab Fandy.


📞"Apa? Kurang ajar! Siapa kelompok itu, darimana mereka berasal?" geram Harold.


📞"Ah sial! Pokoknya saya gak mau tau, kamu harus cari tau semuanya tentang mereka!" titah Harold.


📞"Baik bos, saya akan lakukan semua perintah bos! Ini saya juga sedang mencoba menyelidiki tentang penyerangan yang dilakukan orang-orang itu, tapi saya belum tahu apapun bos. Nanti setelah saya dapat info, pasti saya akan kabarkan!" ucap Fandy.

__ADS_1


📞"Ya jelas, kamu harus kabari apapun itu info yang kamu dapatkan ke saya! Jika tidak, maka biar saya sendiri yang turun tangan nantinya!" ucap Harold.


📞"Jangan bos! Saya janji saya akan cari tahu semua info tentang mereka secepat mungkin, bos hanya perlu duduk diam dan menunggu kabar dari saya!" ucap Fandy.


📞"Baiklah, cepat kamu lakukan itu Fandy!" ucap Harold memerintah dengan tegas.


Tut Tut Tut....


Telpon terputus saat itu juga, Harold merasa jika semuanya telah selesai dan tidak ada yang perlu dibicarakan lagi oleh mereka. Selain itu, Harold juga harus mengurus urusannya yang lain dan tak mungkin ia bisa membagi fokus ke dua masalah sekaligus saat ini.


"Bos, ada apa? Kenapa bos kelihatan panik kayak gitu?" tanya Dean penasaran.


Namun, Harold hanya terdiam dan melirik sekilas ke arah Dean tanpa menjawab apapun. Sepertinya ia masih tampak bingung saat ini, ya tentu karena ia belum tahu siapakah orang yang sudah menyerang para pasukan di wilayahnya.

__ADS_1


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2