
Maysa telah berada di dalam mobil Harold dan masih terus menunjukkan ekspresi sebalnya kepada pria di sebelahnya itu atas kejadian di rumahnya tadi. Maysa sungguh kesal, lantaran Harold dengan seenak jidat mengenalkan diri sebagai calon suaminya. Padahal hingga kini, Maysa belum memberikan jawaban apa-apa terkait itu.
Sesekali Maysa melirik ke arah Harold saat ini, ia mengepalkan tangannya hendak meluapkan emosi yang selama ini ia tahan. Namun, kebaikan yang Harold lakukan padanya juga berhasil membuat Maysa bingung. Ia tak tahu harus apa nantinya, karena biar bagaimanapun Harold sudah sering sekali membantu dirinya belakangan ini.
"Kenapa ngeliatin saya terus kayak gitu, hm? Udah mulai naksir ya sama saya? Emang sih saya ini tampan, tidak ada perempuan manapun di dunia ini yang bisa menolak pesona saya!" ujar Harold.
Maysa terkejut, reflek ia menunjukkan ekspresi mual seakan hendak muntah akibat perkataan Harold tadi yang sangat tidak benar. Bagaimana mungkin ia bisa terpesona pada orang seperti Harold, yang telah merenggut kesuciannya sekaligus membuat hidupnya menderita seperti sekarang.
"Anda kalau bicara dijaga ya, tuan Harold! Gak mungkin saya naksir sama anda!" elak Maysa.
"Kamu bisa mengelak sekarang, tapi saya jamin kamu akan berubah dalam waktu sekejap nanti! Saya tahu itu Maysa, kamu menyukai saya sejak pertama kita bertemu!" ucap Harold percaya diri.
"Dih, ternyata selain mesum anda ini orang yang mudah pede ya tuan Harold? Seharusnya anda rubah sikap anda itu!" ucap Maysa ketus.
"Tidak mau, saya memang begini Maysa. Calon suami kamu ini ya karakternya memang selalu percaya diri dalam hal apapun, termasuk untuk dapat memiliki kamu!" ucap Harold menggodanya.
Entah kenapa Maysa tersenyum kali ini, bahkan ia sampai memalingkan wajahnya untuk menahan malu dan menyembunyikan pipinya yang bersemu. Maysa tidak tahu apa yang terjadi pada dirinya, mungkinkah ia memang sudah tertarik dengan pria di sebelahnya itu?
"Emangnya saya barang apa, yang bisa dimiliki sesuka hati anda?" geram Maysa.
"Kamu bukan barang, lagipun kamu hanya milik saya kok. Tidak ada orang lain yang bisa memiliki kamu, hanya saya Maysa!" tegas Harold.
"Nyenyenye...."
Harold tersenyum gemas melihat Maysa mencibir di sebelahnya, jika tidak sedang menyetir maka pasti ia akan langsung melahap bibir mungil wanita itu dengan ganasnya.
Tak lama kemudian, akhirnya mereka tiba di lokasi tempat kerja Maysa. Wanita itu pun mengucap terimakasih pada Harold, lalu berniat turun dari mobil dengan segera karena ia sudah hampir terlambat. Namun, Harold malah mencegahnya dan mencengkram lengannya dengan kuat.
"Tuan, lepasin saya! Saya harus bekerja sekarang, tolong tuan jangan halangi saya untuk bisa dapetin uang!" ucap Maysa.
"Untuk apa sih kamu kerja? Saya bisa biayai semua kehidupan kamu loh, termasuk keluarga kamu. Ya tentu asalkan kamu mau menikah dengan saya," ucap Harold tersenyum lebar.
"Tidak tuan, saya sudah bertekad untuk membayar semua hutang saya ke anda. Jadi setelah itu, anda tidak bisa lagi mengganggu saya!" ujar Maysa.
"Kamu keras kepala sekali ya? Saya beri penawaran yang mudah, tapi kamu malah mau yang sulit. Ayolah Maysa, menikah saja dengan saya supaya kehidupan kamu lebih mudah nantinya!" ucap Harold terus memaksa wanita itu.
"Gak mau, saya gak cinta sama anda tuan! Gimana bisa saya menikah dengan laki-laki yang tidak saya cintai? Apalagi anda itu yang sudah merenggut kesucian saya!" ucap Maysa menolak dengan tegas.
"Justru itu masalahnya Maysa, kamu cuma bisa menikah dengan saya. Coba gini deh, mana ada laki-laki lain yang mau terima kamu disaat kamu sudah tidak perawan lagi sekarang? Gak akan ada yang mau, sayang!" ucap Harold.
Maysa terdiam menunduk, kata-kata Harold barusan berhasil mempengaruhi pikirannya. Namun, tentu tak mungkin ia akan menerima tawaran Harold untuk menikah dengannya. Sampai kapanpun, Maysa akan selalu membenci Harold dan tidak mungkin mau menjadi istrinya. Ia juga tidak yakin jika Harold benar-benar mencintainya, ia khawatir Harold hanya mengincar tubuhnya saja dan jika sudah bosan maka pria itu akan membuangnya kembali.
•
•
Setelah berdebat cukup lama, akhirnya Maysa berhasil turun dari mobil dan bersiap untuk masuk ke dalam cafe tempatnya bekerja. Akan tetapi, Harold juga masih belum melepaskan Maysa dan kini pria itu malah ikut turun dari mobilnya lalu berdiri di dekatnya. Membuat Maysa merasa risih dan tidak nyaman, terlebih saat ini Harold malah tiba-tiba merangkulnya dari samping.
"Ohh, ini ya cafe yang bikin kamu tega mau tinggalin saya?" ujar Harold sambil tersenyum.
__ADS_1
Maysa berusaha melepaskan dirinya, "Ish, tuan tolong lepasin saya! Gak enak tahu dilihat sama orang-orang, anda harus bisa jaga diri dong di tempat umum kayak gini!" ucapnya kesal.
"Berarti kalau di tempat sepi, saya boleh ya peluk kamu atau cium-cium kamu?" goda Harold sembari mengendus leher Maysa dan mengecupnya.
"Mmhhh, gak gitu juga tuan. Tolong lepasin saya, biarin saya kerja supaya saya bisa membayar semua hutang-hutang saya ke anda!" rengek Maysa.
"Tidak Maysa, kamu tidak akan bisa membayar semua hutang kamu itu. Setiap hari hutang kamu akan terus bertambah, sampai kamu tidak punya cara lain selain menuruti kemauan saya!" ujar Harold.
"Apa maksud anda? Jangan macam-macam ya, atau saya laporkan anda ke polisi!" ancam Maysa.
"Silahkan, laporkan saja Maysa jika kamu bisa! Kenapa kamu belum melaporkan saya sampai sekarang, apa karena kamu tidak tega? Atau justru kamu memang sebenarnya sudah mencintai saya?" ucap Harold.
Deg
Maysa tersentak dan sampai membulatkan kedua matanya, ia terkejut bukan main saat mendengar ucapan Harold yang barusan. Pria itu benar-benar terlalu percaya diri, sampai-sampai dia mengatakan kalau Maysa kini sudah mulai mencintainya dan tidak ingin kehilangan dirinya.
"Bukan begitu, saya masih tahan diri karena saya tidak mau keluarga saya tahu masalah ini. Jika saya melapor, maka pasti mereka nantinya jadi tahu!" ucap Maysa.
"Yaudah, kamu menikah aja dengan saya. Setelah itu, kamu kan gak perlu khawatir lagi kalau keluarga kamu tahu kamu ini sudah tidak perawan," ucap Harold.
"Seenaknya aja anda bicara begitu, saya gak mau nikah sama anda!" tegas Maysa.
"Awhh aduh!!"
Dengan kasar, Maysa berhasil menginjak kaki Harold sampai pria itu meringis kesakitan dan reflek melepaskan tubuhnya. Maysa pun menggunakan kesempatan itu untuk berlari masuk ke dalam cafe, ia terkekeh sejenak sembari menatap tubuh Harold yang masih kesakitan disana. Lalu, barulah wanita itu masuk sepenuh ke dalam cafe dan membuat Harold tidak bisa melakukan apa-apa.
"Ahaha, kamu tidak perlu minta maaf begitu Maysa. Saya mewajarkan kok kalau kamu terlambat, kan kamu juga punya kesibukan sendiri," ucap Javier.
Maysa mengernyitkan dahinya, "Maksud bapak gimana ya? Kesibukan saya itu kan ya bekerja di cafe ini, karena saya juga tidak punya pekerjaan lain di luar sana," ucapnya keheranan.
"Ya saya tahu kok Maysa, kamu juga butuh waktu untuk berduaan sama pacar kamu kan?" ucap Javier.
"Hah??" Maysa tersentak mendengarnya.
Javier kini tersenyum saja, lalu tiba-tiba pria itu mengajak Maysa ke ruangannya dan mengatakan kalau ada sesuatu yang ingin ia bahas dengannya. Maysa menurut kali ini, karena tidak mungkin dia menolak permintaan bosnya itu.
Keduanya pun sama-sama melangkah menuju ruangan pribadi pria itu, tampak kini Javier terus memandangi tubuh Maysa dengan senyuman lebar di wajahnya. Entah karena apa, tetapi rasanya Javier mulai menaruh rasa kepada wanita yang memang terlihat cantik dan seksi di matanya.
•
•
Kini Maysa telah berada di ruangan pribadi bosnya, duduk tepat di hadapan pria itu sambil menatap ke sekelilingnya. Jujur Maysa sangat gugup kali ini, sebab ia tak biasa berduaan dengan seorang lelaki seperti saat ini. Apalagi Javier adalah bosnya, yang tentu membuat Maysa merasa tidak enak saat berduaan seperti ini.
Javier sendiri terus mengamati wajahnya, sesekali ia tersenyum ke arah wanita itu dan membuat Maysa merasa tersipu lalu memalingkan wajahnya. Javier akui kalau Maysa memang benar-benar sempurna, mungkin itulah alasan kakaknya alias Harold ingin memiliki Maysa seutuhnya dan melakukan berbagai cara demi bisa mewujudkan mimpinya.
"Umm, ada apa ya pak? Kenapa daritadi bapak diam dan terus ngeliatin saya kayak gitu, apa ada yang salah dari penampilan saya malam ini?" tanya Maysa.
Javier tersenyum dibuatnya, "Tidak Maysa, sama cuma kagum dengan kecantikan kamu. Setelah saya perhatikan lebih dekat, kamu ternyata memang cantik sekali ya Maysa. Pantas saja pacar kamu tadi tidak mau melepaskan kamu," ucapnya.
__ADS_1
"Pacar saya? Maksud bapak siapa ya, pacar saya yang mana?" tanya Maysa keheranan.
"Ya itu yang tadi antar kamu kesini, dia pacar kamu kan May? Jangan bilang enggak, soalnya kalian kelihatan mesra banget kok tadi! Udah akui aja, saya mah gak masalah kok!" ucap Javier.
"Hah? Waduh, kalau itu sih bukan pacar saya pak! Dia mah cuma orang gak jelas yang selalu ganggu hidup saya!" elak Maysa.
"Loh kok gitu? Kamu akui aja Maysa, disini gak ada aturan yang melarang karyawan untuk berpacaran kok. Kalau dia memang pacar kamu, ya gak masalah," ucap Javier tersenyum menggoda.
Maysa terkekeh seraya menggelengkan kepalanya, lagi-lagi ia kembali menolak tuduhan Javier yang menyatakan bahwa ia berpacaran dengan Harold. Tentu saja semua itu sangat tidak benar, karena nyatanya Maysa saja amat membenci Harold yang merupakan musuh besar di dalam hidupnya itu.
Javier pun ikut terkekeh mendengar jawaban Maysa, ia paham betul apa yang dimaksud wanita itu karena sebelumnya ia sendiri lah yang sudah membantu kakaknya untuk memperkosa Maysa. Pantas jika Maysa membenci Harold sampai sebegitunya, karena kesucian yang telah dijaga cukup lama telah diambil secara paksa oleh pria itu.
Tapi entah kenapa, Javier merasa tidak suka saat melihat kebersamaan Harold dan Maysa tadi. Ia yakin sekali, Maysa sepertinya mulai bisa membuka hati kepada Harold dilihat dari reaksinya saat Harold memeluknya di depan cafe tadi. Javier juga memiliki rasa pada Maysa, yang membuat pria itu ragu untuk membiarkan kakaknya memiliki Maysa.
"Saya sepertinya berubah pikiran Maysa, mungkin saya tidak akan lagi mengikuti perintah bang Harold untuk memiliki kamu. Saya cinta sama kamu, dan saya akan berusaha untuk diri saya sendiri!" gumam Javier dalam hati.
Setelah dirasa cukup, Maysa pun mengajukan permohonan pamit kepada Javier untuk keluar dari ruangan itu. Javier mengangguk memberi izin, membiarkan wanita itu keluar dari sana untuk kembali bekerja dan memakai seragamnya yang sudah disediakan di depan.
•
•
Ciiittt
Harold terpaksa menginjak remnya dan menghentikan mobilnya dengan cepat saat tiba-tiba sebuah motor berhenti tepat di hadapannya, Harold sungguh terkejut dan tak mengerti siapa pemotor yang ada di depannya itu. Pria itu pun berusaha menenangkan nafasnya, sebab motor itu amat membuatnya terkejut dan emosi.
Akhirnya Harold turun dari mobilnya dan berniat menemui si pemotor itu, ia berjalan mendekat ke arah motor itu untuk memastikan siapa dirinya dan apa maksudnya mencegat mobilnya. Harold menunjuk si pria pemotor tersebut, memintanya untuk turun dan membuka helm serta memperlihatkan siapa wajahnya.
Pemotor itu mengangguk menuruti kemauan Harold, ia turun dari motornya dan melepas helm yang ia kenakan itu serta menoleh ke arah Harold. Senyum mengembang di kedua pipinya, membuat Harold begitu terkejut melihat sosok orang yang ada di hadapannya saat ini. Harold tak menyangka, bahwa pria pemotor itu adalah orang yang tadi juga ia temui di rumah Maysa.
"Hahaha, jadi anda yang cegat saya? Anda ini mau apa sih, ha?" tanya Harold dengan bingung dan tawa meledek.
Ya lelaki itu adalah Peter, alias mantan Maysa yang tadi tak sengaja ditemui Harold di rumah wanita itu. Harold tampak heran dengan kelakuan Peter, ia bingung apa yang hendak dilakukan pria itu saat ini dengan mencegatnya. Padahal, Harold tak merasa bahwa ia memiliki masalah dengan pria itu.
"Perkenalkan, gue Peter pacarnya Maysa. Gue lihat-lihat lu sama Maysa sekarang makin dekat, jadi gue minta lu mending jauhi dia deh karena Maysa itu cuma punya gue!" ucap Peter.
"Cih, gak salah tuh anda bicara begitu? Maysa pacar anda? Masa sih?" kekeh Harold.
"Loh, memangnya apa yang salah? Beneran kok Maysa pacar gue, jadi lu gausah ngarep deh bisa jadian sama dia!" sentak Peter.
"Oh ya? Bukannya anda sendiri yang sudah melepeh dan membuang Maysa begitu saja ya? Anda lupa dengan itu?" tanya Harold meledek.
Peter menggeleng dengan cepat, "Ya emang gue pernah tinggalin dia, tapi gue gak merasa kalau gue sama dia udah putus. Jadi, sampai sekarang Maysa masih jadi milik gue!" jawabnya tegas.
Harold senyum-senyum dibuatnya, ucapan Peter barusan benar-benar membuatnya merasa ingin tertawa saat itu juga. Bisa-bisanya Peter masih mengakui Maysa adalah kekasihnya, padahal sebelumnya Peter sendiri yang sudah membuang dan memutuskan hubungan dengan Maysa.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
__ADS_1