
Di dalam perjalanan pulang menuju rumah, Harold bersama Dean dan Saskia dicegat secara tiba-tiba oleh sekelompok pemotor asing yang berhenti tepat di depan mobil mereka. Sontak Dean reflek menginjak rem untuk menghentikan mobilnya, ia terlihat heran ketika cukup banyak pemotor di sekelilingnya saat ini dan meminta pada mereka semua untuk turun menemui orang-orang itu.
Harold juga tak kalah terkejut dengan apa yang ada di hadapannya saat ini, ia heran mengapa para pemotor itu mencegatnya. Padahal, Harold tak merasa memiliki kesalahan apapun kepada pemotor yang menghadang jalannya tersebut. Bahkan kalau diingat, Harold juga tidak pernah memiliki urusan dengan pemotor seperti mereka yang memang tak ada urusannya dengan bisnis yang ia jalani.
"Kak, mereka siapa sih? Kenapa mereka cegat kita kayak gini? Aku takut tahu kak, gimana kalau mereka itu begal?" tanya Saskia ketakutan.
"Jangan takut Saski! Kamu tenang aja, selagi ada saya disini pasti kamu akan baik-baik aja kok! Kalau cuma bocah-bocah ingusan kayak gitu mah kecil buat saya," ucap Dean menoleh ke belakang.
"Heh! Kalau emang kecil, yaudah kamu turun terus hadapi mereka! Bilang ke mereka mau apa, abis itu usir mereka!" suruh Harold.
"Oke, saya keluar nih bos!" ucap Dean tanpa takut.
Dean pun langsung keluar dari mobilnya sesuai perintah Harold tadi, hal itu membuat Saskia merasa cemas dan mencoba menghalangi niat Dean walau gagal. Ya Saskia juga ditenangkan oleh Harold yang berada di sampingnya, sebagai ipar tentu Harold tak mau Saskia terluka karenanya dan meminta gadis itu untuk berdiam di dalam mobil sampai semua situasi terasa aman bagi mereka.
"Sas, udah biarin aja si Dean itu hadapi mereka! Kalau kamu ikut-ikutan keluar, nanti malah jadi masalah. Saya gak pengen kamu kenapa-napa, kamu itu kan adiknya Maysa!" ucap Harold.
"Tapi kak, itu orangnya banyak banget loh. Kakak yakin kak Dean bisa menang?" ucap Saskia.
Harold terdiam, sebenarnya ia juga ragu jika Dean bisa mengalahkan seluruh pemotor yang tiba-tiba mencegat mereka itu. Namun, Harold bingung harus melakukan apa untuk bisa pergi dari sana dengan selamat tanpa terluka sedikitpun. Terlebih saat ini ia sedang bersama Saskia, ia khawatir akan keselamatan gadis di sebelahnya itu.
"Yasudah, kalo gitu kamu diam aja disini ya Kia! Saya akan bantu Dean di luar, ingat loh jangan pernah keluar dari mobil kalau bukan saya yang suruh! Kamu ngerti kan Saskia?" ucap Harold memperingati adik iparnya itu dengan tegas.
Saskia manggut-manggut paham, setelah itu Harold ikut serta keluar dari mobilnya menyusul Dean yang lebih dulu menemui pemotor itu. Tampak Dean tengah berbincang dengan para pemotor disana, jumlah mereka sangat banyak dan pastinya akan sulit bagi Dean maupun Harold untuk bisa menghadapi orang-orang itu.
Dean yang melihat bosnya ikut turun pun merasa heran, ia khawatir jika Harold akan terluka nanti karena perkelahian ini. Ya meski Dean sendiri belum tahu apa keinginan orang-orang itu sekarang, karena mereka tak kunjung menjawabnya. Namun, dari ekspresi yang ditunjukkan pemotor itu Dean tahu bahwa mereka memiliki niat yang buruk.
"Heh! Apa mau kalian sebenarnya? Kenapa kalian cegat mobil saya?" tanya Harold dengan tegas.
"Hahaha, kita kesini mau hajar lu dan kasih pelajaran buat lu karena udah berani main-main sama kita!" jawab salah seorang pemotor itu.
Harold mengernyitkan dahinya, "Maksud kalian gimana? Saya gak pernah bikin masalah sama kalian ya, kenal aja kagak. Kenapa kalian bilang saya pernah main-main sama kalian?" ujarnya.
"Banyak omong lu, ayo serang!" orang-orang itu langsung maju menyerang Harold dan Dean secara membabi buta.
Sangking terkejutnya, Harold serta Dean pun kesulitan untuk menghadapi mereka. Apalagi, jumlah mereka yang sangat banyak membuat kedua pria itu kebingungan dan tak tahu harus bagaimana cara untuk melawannya. Harold semakin terpojokkan saat ini, karena ia harus melawan lima orang sekaligus yang ahli dalam beladiri.
__ADS_1
Perkelahian itu semakin memanas disana, membuat Harold dan Dean kelelahan karena sulit untuk menaklukkan orang-orang itu. Bahkan, Dean sudah babak belur dibuatnya dan terus menjadi bulan-bulanan geng motor tersebut. Tinggal Harold yang masih bisa bertahan, tetapi itu juga sangat sulit karena ia terus dibombardir oleh serangan mereka.
Saskia yang melihat kejadian itu tampak syok dibuatnya, ia tak menyangka jika Harold dan Dean akan terluka sampai seperti itu. Ingin rasanya Saskia turun membantu mereka, tetapi ia juga tidak tahu harus melakukan apa. Saskia pun dibuat bingung saat ini, ia coba menghubungi salah satu pengawal di rumah Harold untuk meminta bantuan.
Bruuukkk
Kelima anggota geng motor itu ambruk satu persatu setelah terkena pukulan dari Harold, ya sangking kuatnya pria itu sampai berhasil menumbangkan kelimanya saat ini. Meski wajah sudah dipenuhi luka dan banyak darah, namun Harold masih kuat untuk menghadapi mereka dan membuat mereka terjatuh karena pukulan darinya.
"Kalian semua gausah sok kuat di depan saya, mau sebanyak apapun kalian itu gak ngaruh buat saya! Kalian belum tahu siapa saya, jadi jangan pernah coba-coba menantang saya!" gertak Harold.
Tanpa disadari olehnya, dari belakang seseorang yang memegang pisau telah bersiap menusuknya dan berjalan perlahan mendekatinya. Harold sendiri masih tampak fokus menatap lima orang yang ada di depannya, ia terlalu meremehkan mereka sampai tak menyadari bahwa bahaya tengah mengintainya kali ini di belakang sana.
Dean yang melihat itu sontak melongok lebar, di tengah kondisinya yang terluka parah dan lemas pria itu masih berusaha menolong bosnya dan memberitahu pada Harold kalau ada bahaya yang sedang mengancamnya. Dean berteriak keras, lalu berusaha bangkit dan mendekati Harold meski kondisinya sangat sulit.
"Awas pak Harold!" teriaknya sembari memegangi bagian perutnya.
Harold terkejut lalu spontan menoleh, disaat bersamaan orang itu langsung berlari dan menikam tepat pada bagian ulu hatinya.
Sleeppp (suara ditusuk)
"Kak Harold!!!"
•
•
Disisi lain, Maysa mengajak Zanna pergi makan siang ke sebuah restoran mewah yang biasa mereka datangi bersama Harold beberapa waktu lalu. Zanna pun tampak sangat senang dibuatnya, ia bahagia dengan apa yang ia alami sekarang ini. Apalagi, makan bersama mamanya adalah sebuah hal yang sangat ia inginkan sedari tadi.
Pesanan mereka pun tiba, sepiring daging steak besar beserta satu gelas banana split untuk Zanna diletakkan di atas meja. Zanna tersenyum lebar seolah tak sabar ingin menikmati semuanya, begitu pula dengan Maysa yang sudah lapar saat ini. Maysa sengaja hanya memesan satu jenis makanan, karena khawatir Zanna tidak habis jika dibelikan sendiri.
"Sayang, mau mama suapin atau coba makan sendiri nih?" tanya Maysa sambil tersenyum.
"Maunya disuapin mama aja, kan aku belum bisa makan sendiri ma. Aku juga mau cobain es krimnya, itu kayaknya enak banget deh ma!" jawab Zanna tampak antusias.
"Boleh boleh, kamu makan aja sesuka kamu ya sayang! Nih, sini mama potongin dagingnya buat kamu. Mau dikit apa banyak?" ucap Maysa.
__ADS_1
"Banyak ma."
Maysa pun memotong daging steak yang besar itu untuk putrinya, lalu menyuapi Zanna dengan perlahan sambil tersenyum lebar. Zanna tampak sangat bahagia saat ini, ia menikmati daging tersebut yang diberikan oleh mamanya. Rasanya, Zanna ingin sekali melakukan momen seperti itu setiap hari bersama Maysa.
"Eemmhh enak banget mama, aku suka dagingnya lembut! Aku mau lagi dong ma, tapi yang banyak!" ucap Zanna.
"Iya sayang iya, nih banyak nih khusus buat anak mama yang cantik!" Maysa kembali memotong dagingnya dan menyuapinya kepada Zanna yang terlihat amat ketagihan.
Keduanya pun sama-sama menikmati steak itu sampai habis, tapi rupanya Zanna masih merasa lapar dan belum puas dengan semuanya. Padahal, mereka sudah makan cukup banyak dan menghabiskan steak serta banana split itu. Entah mengapa Zanna bisa merasa lebih lapar dari biasanya ketika bersama Maysa, walau selama ini Zanna selalu makan sedikit.
"Ma, aku mau tambah lagi dong steak nya! Aku masih lapar nih," pinta Zanna.
"Oh mau lagi? Yaudah, mama pesenin lagi ya buat kamu? Kamu tunggu disini aja, bareng sama om Theo ya!" ucap Maysa mengusap kepala putrinya.
"Iya ma." Zanna mengangguk saja.
Maysa beranjak dari kursinya, lalu menuju meja pesanan untuk menambah kembali makanan serta minuman yang ingin ia pesan. Awalnya Maysa tak menyangka Zanna bisa memakan cukup banyak, sehingga ia harus memesan kembali steak itu. Namun, Maysa merasa senang karena setidaknya ia bisa membuat Zanna bahagia saat ini.
"Mbak, saya pesan satu lagi ya steak nya!" ucap Maysa kepada si pelayan.
"Baik bu, ditunggu ya!" ucap pelayan itu.
Disaat Maysa hendak kembali ke mejanya, tanpa diduga lengannya ditahan oleh seorang pria dari belakangnya dan membuatnya terkejut. Maysa benar-benar kaget dengan apa yang terjadi saat ini, apalagi ketika ia menoleh dan menemukan sosok Peter di dekatnya. Sontak Maysa langsung menghentak tangannya, tetapi Peter masih cukup kuat menggenggamnya kali ini.
"Jangan pergi Maysa! Aku mau bicara sebentar sama kamu, aku mohon kamu mau ya ikut sama aku sekarang!" ucap Peter memaksa.
"Ih lepasin! Kamu apa-apaan sih Peter? Jangan kurang ajar ya, aku bisa loh teriak sekarang supaya kamu ditangkap dan dihajar sama pengawal aku yang ada disana!" ucap Maysa mengancam.
"Aku gak mau nyakitin kamu Maysa, aku cuma pengen bicara berdua sama kamu. Aku mohon, kamu ngertiin ya perasaan aku!" bujuk Peter.
"Gak bisa Peter, aku udah jadi istri orang. Kamu harus bisa moveon dari aku, lupain aku dan coba buka hati kamu untuk orang lain! Sekarang kamu lepasin aku, Peter!" sentak Maysa.
Peter menggeleng cepat dan malah menguatkan cengkeramannya, Maysa yang diperlakukan seperti itu sontak geram dan mencoba berontak. Maysa juga berusaha memanggil Theo yang ada di meja sana bersama Zanna, tentu untuk meminta bantuan darinya agar bisa lepas dari Peter.
...~Bersambung~...
__ADS_1
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...