Jebakan Satu Malam Duda Liar

Jebakan Satu Malam Duda Liar
Sama-sama kritis


__ADS_3

Dean masih terjebak dalam sebuah pertarungan sengit melawan kurang lebih tujuh orang sekaligus disana, ia sudah hampir kelelahan karena sedari tadi ia terus dicecar oleh mereka semua. Meski begitu, Dean juga berhasil menjatuhkan beberapa dari mereka dengan kekuatan tubuhnya. Ya Dean adalah asisten sekaligus anak buah Harold yang paling kuat dibanding yang lainnya, itulah alasan mengapa Dean bisa bertahan sampai sekarang ini.


Setelah beberapa dari mereka terjatuh, Dean kembali bersemangat untuk bisa memenangkan pertarungan itu. Ia menghadapi empat orang pria di depannya yang masih cukup kuat, sedangkan tiga lainnya tampak tergeletak disana. Namun, tanpa disadarinya olehnya salah satu dari mereka terlihat sudah menyiapkan sebuah pisau di tangannya dan bangkit sembari melangkah perlahan menuju ke arah Dean untuk menikamnya dari belakang.


Dean yang masih fokus dalam bertarung, tak mengetahui jika seseorang di belakangnya sedang mengincar dirinya. Ia mengira musuhnya hanya tinggal empat orang, sehingga fokusnya kini terhadap keempat pria tersebut. Tapi nyatanya, ada bahaya yang tengah mengintainya di belakang sana dan Dean harus waspada. Apalagi, pria itu terus melangkah mendekat dengan pisau di tangannya.


Saskia tak sengaja melihat hal itu, ia sontak terbelalak dan membuka mulutnya lebar-lebar. Saskia menggeleng perlahan, lalu bergegas turun dari mobil untuk menyelamatkan Dean dari tikaman orang itu. Tentu saja Saskia tak ingin Dean celaka seperti Harold dulu, ia harus segera turun dan mencegah terjadinya sesuatu yang tidak diinginkan olehnya karena ia tak mau Dean terluka.


"KAK DEAN AWAS!" tepat ketika orang itu hendak menancapkan pisaunya ke punggung Dean, gadis itu bergerak lebih cepat dan memasang badannya untuk melindungi Dean.


Jlebb


Ya saat itu juga Saskia tertikam pisau tepat pada bagian perutnya, sontak pria yang memegang pisau terkejut karena ia salah sasaran. Darah langsung keluar dari tubuhnya, Saskia benar-benar merasa sakit dan terus memegangi perutnya. Sedangkan Dean yang menyadari itu tampak terkejut, tak menyangka jika Saskia rela melakukan hal itu untuk bisa melindunginya.


"Hah Saskia??" Dean berteriak kaget, ia langsung menghampiri Saskia dan menahan tubuh gadis itu agar tidak terjatuh.


"Ugghh.." Saskia melenguh menahan sakit di tubuhnya.


"Saski, kamu kenapa begini sih? Seharusnya kamu gak ngelakuin ini Saski, biar aja saya yang menerima tusukan itu!" ucap Dean panik.


Saskia menggeleng perlahan, "Enggak kak, kamu gak boleh kenapa-napa. Kamu itu pelindung di keluarga mas Harold, kalau kamu terluka nanti siapa dong yang bisa melindungi kakak aku itu?" ucapnya lirih.


"Ta-tapi Saski, kamu juga gak boleh ngorbanin diri kamu kayak gini! Mana mungkin saya bisa tega lihat kamu terluka seperti ini, Saski?" ucap Dean terisak.


Saskia tersenyum dan berusaha menahan dirinya untuk tidak pingsan, ia masih ingin mengucapkan sesuatu yang menurutnya sangat penting. Dean pun terus mengusap wajah gadis itu, yang kini berada di atas pangkuannya. Pria itu melupakan tujuh orang yang tadi menyerangnya, karena ketujuhnya juga sudah melarikan diri saat ini.


"Kak Dean, aku mau bicara sesuatu sama kamu." Saskia terus berusaha membuka mulutnya, meski rasa sakitnya sudah semakin menjalar.


"Apa itu? Kamu sakit ya? Ayo kita ke rumah sakit, saya akan sembuhkan kamu Saski!" ucap Dean.


"Tahan kak!" Saskia langsung menahan lengan Dean yang hendak menggendong tubuhnya.


Dean tentu mengernyitkan dahinya, "Apa maksud kamu?" tanyanya keheranan.


"Aku suka sama kamu, kak Dean. Aku udah lama mendam perasaan ini, akhirnya aku senang karena sekarang bisa ungkapin semua ini ke kamu. Aku lega rasanya," jawab Saskia.


Deg


Mata Dean melongok seketika, ucapan yang dilontarkan Saskia barusan sungguh amat membuatnya terkejut. Dean tak percaya jika selama ini Saskia juga memendam rasa pada dirinya, entah ia harus merasa senang atau sedih saat ini. Mengingat kondisi Saskia yang mengkhawatirkan, apalagi kini gadis itu terlihat cukup lemas.


"Aakkhh kak, aku titip ibu dan mbak Maysa sama kamu ya! Tolong jaga mereka! Aakkhh.." darah keluar dari mulut gadis itu, membuat Dean semakin panik.


"Saski, Saski tahan Saski! Kamu harus kuat, jangan bicara begitu! Ayo saya bawa kamu ke rumah sakit!" ucap Dean yang langsung bangkit dan menggendong tubuh gadisnya.


Saskia tersenyum di sela-sela gendongan itu, ia senang karena telah menyampaikan apa yang selama ini ia tahan. Lalu tanpa diduga, Saskia memejamkan matanya dan membuat Dean makin terkejut serta mempercepat langkahnya menuju mobil agar Saskia bisa segera diobati.



__ADS_1


Sementara itu, Javier tak sengaja melihat seseorang tergeletak di pinggir jalan dan tampak tak sadarkan diri. Ia yang penasaran serta paling tidak bisa melihat kejadian seperti itu, segera turun dari mobilnya untuk mengecek kondisi orang itu. Ia benar-benar terkejut, karena ternyata orang tersebut adalah perempuan yang tengah pingsan.


Javier melangkah semakin mendekati wanita itu, betapa syoknya ia ketika melihat ada banyak luka di bagian tubuh si wanita. Ia bertambah syok saat ini, setelah menyadari bahwa wanita itu merupakan Maysa alias kakak iparnya. Sontak saja Javier sangat terkejut, ia bingung mengapa Maysa bisa terluka dan pingsan di pinggir jalan seperti itu.


"Hah Maysa? Waduh, kenapa kamu bisa begini sih?" Javier panik, lalu mencoba membantu Maysa dengan cara mengangkat tubuhnya.


Perlahan Javier menggendong Maysa ala bridal style, ia bawa wanita itu menuju mobilnya dengan berhati-hati. Sungguh Javier tak mengerti apa yang terjadi pada iparnya itu, dan yang lebih ia khawatirkan adalah saat ini terdapat darah yang sangat banyak di bagian bawah kaki Maysa. Pikiran Javier pun melayang tak karuan, ia khawatir jika Maysa mengalami keguguran.


"Duh, ini Maysa kenapa sih ya? Kok bisa ada darah di kakinya? Apa jangan-jangan Maysa keguguran? Ah jangan sampe deh, bisa gawat nanti kalo bang Harold tau!" gumam Javier tampak kebingungan.


Kini ia meletakkan tubuh Maysa di atas kursi mobilnya, ia turut duduk di kursi kemudi dan segera menyalakan mesin mobil dengan cepat. Tanpa menunggu lama lagi, Javier pun melajukan mobilnya dan membawa Maysa menuju rumah sakit terdekat. Ia begitu kalut, rasanya ia menyesal karena tidak bisa menjaga istri dari kakaknya itu.


"Bertahan ya Maysa, kamu harus kuat! Janin di dalam perut kamu tidak boleh kenapa-napa, dia itu pewaris keluarga Vincenzo!" ucap Javier.


Javier segera menancap gas dengan kecepatan tinggi, ia berharap Maysa masih bisa selamat begitu juga dengan bayi di dalam kandungannya. Javier tak ingin terjadi sesuatu pada mereka, apalagi saat ini hanya ia yang bisa menolong mereka. Javier pun terus memanjatkan doa, meminta kepada Tuhan untuk membantu keselamatan Maysa beserta bayi yang dikandung olehnya.


Tak lama kemudian, mereka akhirnya sampai di rumah sakit. Javier kembali mengangkat tubuh Maysa dan berteriak seperti orang kesetanan, ia memanggil para petugas di rumah sakit itu untuk membantunya membawa Maysa. Setelahnya, Maysa diletakkan di atas brankar di dorong secara bersama menuju ruang pengobatan.


Javier pun diminta menunggu di luar, karena dokter harus segera memeriksa kondisi Maysa yang cukup mengkhawatirkan itu. Namun, Javier tentu tidak bisa tenang begitu saja selagi dokter belum memberikan informasi mengenai kondisi Maysa. Ia terus berjalan mondar-mandir sembari menggigit jarinya, ia cemas karena Maysa sedang dalam keadaan kritis.


"Haduh, semoga kamu baik-baik aja Maysa! Saya gak tahu harus jelasin apa ke bang Harold nanti, kalau sampai terjadi sesuatu sama kamu. Kamu pokoknya harus selamat Maysa!" gumamnya lirih.


Disaat yang sama, Dean juga berada di rumah sakit itu karena mengantar Saskia yang tertusuk pisau. Dean pun tak sengaja melihat Javier disana, segera ia mendekati pria itu karena penasaran sedang apa Javier di rumah sakit. Padahal, ia melihat kondisi pria itu baik-baik saja dan tidak nampak ada luka sedikitpun di tubuhnya.


"Tuan Javier!" Dean memanggilnya, membuat sang empunya nama menoleh ke arahnya.


Dean menggeleng, "Bukan tuan, saya kesini karena mengantar non Saskia yang terluka," jawabnya.


"Apa? Maksud kamu gimana, Saskia emang terluka karena apa? Kok bisa dia terluka? Kamu gimana sih jagainnya, ha?" tanya Javier dengan tegas.


"Ma-maaf tuan, saya tadi diserang oleh kelompok orang yang tidak dikenal! Mereka jumlahnya sangat banyak tuan, saya jadi tidak bisa fokus menjaga non Saskia. Setelah itu, saya melihat non Saskia sudah tertusuk pisau tuan," jelas Dean dengan gugup.


Deg


Javier menggeleng tak percaya, ia sungguh bingung mengapa bisa kejadian ini menimpa Saskia dan Maysa secara bersamaan. Kedua kakak-beradik itu tengah berjuang untuk hidup mereka saat ini, sehingga Javier terlihat amat bersedih. Dean sendiri masih tak berhenti mengeluarkan air mata, pria itu merasa sedih sekaligus menyesal karena telah membiarkan Saskia mengorbankan dirinya.


"Sekarang gimana kondisi Saskia? Dia baik-baik aja kan?" tanya Javier lagi.


"Saya tidak tahu tuan, dokter belum keluar dari ruangan dan sepertinya masih memeriksa non Saskia. Tuan Javier sendiri sedang apa disini, siapa yang sakit tuan?" ucap Dean.


"Eee Maysa, tadi saya gak sengaja temuin dia pingsan di pinggir jalan. Tubuhnya penuh luka, terus ada darah juga di kakinya," ucap Javier.


"Hah? Bu Maysa terluka?" kaget Dean.


Javier hanya bisa manggut-manggut kecil, ia sendiri tidak tahu detail jelasnya seperti apa yang sampai membuat Maysa terluka begitu parah. Lalu, tak berapa lama seorang dokter keluar dari ruangan tempat Maysa diperiksa. Sontak baik Javier maupun Dean bergegas mendekatinya, mereka sangat penasaran bagaimana kondisi Maysa saat ini.


"Dok, gimana kondisi kakak ipar saya dok? Dia baik-baik aja kan?" tanya Javier penuh penasaran.


Dokter itu terlihat menghembus nafas, Javier serta Dean pun saling bertatapan dan begitu bingung dengan apa yang dilakukan dokter itu. Mereka semakin penasaran, apalagi sikap sang dokter cukup membingungkan dan membuat mereka merasa cemas dengan kondisi Maysa.

__ADS_1


"Saat ini kondisi pasien masih kritis, kami tengah berjuang untuk bisa menyelamatkan pasien saat ini," jawab dokter itu.


"Lalu, gimana dengan anak di dalam rahim kakak saya itu dok?" tanya Javier lagi.


"Eee kalau itu kami memohon maaf yang sebesar-besarnya pak, karena kami tidak bisa menyelamatkan bayi itu. Bahkan, anak yang dikandung pasien sudah tidak bernyawa sejak dibawa kesini," jelas sang dokter.


Deg


Seketika Javier dan Dean melotot mendengarnya, mereka tak menyangka jika hal ini akan terjadi pada Maysa dimana bayi yang dia kandung harus meregang nyawa.




Malam harinya, Vino dengan topeng yang ia kenakan mencoba menyusup masuk ke gudang tempat Clara ditahan. Terlihat dua orang penjaga disana sudah tertidur pulas akibat minuman yang ia berikan, kini Vino pun membuka pintu gudang dengan kunci yang ia ambil sendiri dari saku baju Baron sebelumnya saat pria itu tertidur karena pengaruh obat darinya.


Setelah berhasil membukanya, Vino bergegas masuk menemui Clara yang ternyata juga sudah tertidur di depan sana. Kondisi Clara cukup memprihatinkan, tubuhnya berantakan dan rambut miliknya juga acak-acakan. Vino pun mendekati wanita itu, perlahan menyentuhnya dan membangunkan Clara dari tidurnya.


"Aaaaa siapa kamu? Mau apa kamu?" Clara terbangun dan panik ketika melihat seorang lelaki di hadapannya saat ini.


"Sssttt, tenang dulu Clara! Aku cuma mau bantu kamu supaya bisa keluar dari sini, aku akan bawa kamu ke kamar tempat Zanna ditahan! Kamu ikut sama aku ya!" ucap Vino menenangkan.


"Bohong, pasti kamu anak buah Rendy juga kan! Aku gak percaya sama kamu!" sentak Clara.


"Pelankan suara kamu itu, jangan sampai orang di luar bangun karena teriakan kamu! Kamu mau ketemu sama Zanna atau enggak?" bujuk Vino.


Clara terdiam seketika, jujur ia memang ingin bertemu dengan putrinya karena saat ini ia begitu mengkhawatirkan kondisi putrinya itu. Namun, entah mengapa Clara tampak ragu dengan sosok pria yang kini ada di hadapannya. Ia khawatir kalau pria itu hanya akan membohonginya, lalu malah membawa dirinya ke suatu tempat dan memperkosanya.


"Kamu masih gak percaya sama aku? Okay, aku akan tunjukkan sebuah video ke kamu!" ucap Vino seraya mengambil ponsel miliknya.


Saat itu juga Vino menyetel sebuah video rekaman yang mana disana berisi sosok Zanna yang tengah berbicara ke arah mereka, sontak Clara terkejut dan meraih ponsel itu dengan cepat. Clara meneteskan air matanya, ternyata benar kalau Vino adalah orang yang baik dan akan membawanya bertemu dengan Zanna malam ini.


"Gimana, kamu percaya kan sekarang? Itu Zanna sendiri loh yang bicara ke kamu, dia mau ketemu kamu sekarang Clara. Ayo cepat kamu ikut aku, sebelum ada yang lihat kita!" ucap Vino.


Clara mengangguk setuju, "Iya, aku percaya sama kamu. Tapi, lepasin dulu ikatan di kaki aku ini supaya aku bisa pergi!" ucapnya.


"Oh iya lupa."


Dengan segera Vino melepaskan ikatan pada kaki wanita itu, kemudian ia membantu Clara secara perlahan untuk bangkit dari posisinya. Tubuh Clara tampak sangat lemas, ya wajar saja karena seharian ini ia harus memuaskan banyak lelaki. Clara juga tak diizinkan untuk membersihkan tubuhnya, sehingga masih banyak bekas cairan percintaan mereka yang menempel di tubuh Clara.


"Siapa nama kamu?" tanya Clara sembari menatap wajah pria di sampingnya.


"Vino, panggil aku itu!" jawabnya pelan.


Mereka pun keluar dari dalam gudang itu, lalu bergegas menuju kamar dimana Zanna berada. Namun sebelumnya, Clara mengatakan bahwa ia ingin membersihkan tubuhnya lebih dulu dan meminta Vino mengantarnya ke kamar mandi. Ya Clara merasa tidak enak jika menemui Zanna dalam kondisi kacau seperti sekarang ini.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...

__ADS_1


__ADS_2