
Harold pun tiba kembali di markas Rendy dengan ekspresi geram dan penuh amarah, ia langsung mencari dimana keberadaan putrinya dan juga sang mantan yang ditangkap oleh Rendy disana. Tentu saja Harold tak ingin Rendy terus mengancamnya seperti itu, apalagi Zanna adalah sosok paling berharga di dalam hidupnya. Harold merasa jika Rendy sudah kelewatan, rasanya ia ingin sekali memberi pelajaran kepada pria itu nantinya.
Tak lama kemudian, Rendy pun muncul bersama Daniel untuk menyambut kedatangan Harold. Tampak keduanya tersenyum lebar seolah senang dengan Harold yang telah hadir disana, mereka tahu Harold pasti tidak akan menolak jika menyangkut anaknya. Itulah alasan mengapa Rendy ingin menculik Zanna dan mengurungnya di markas itu, sehingga Harold mau tidak mau akan hadir kesana.
"Mister, dimana anak saya? Sekarang saya mohon pada anda untuk melepaskan dia, karena saya sudah hadir disini!" sentak Harold.
Rendy menyeringai mendengar ucapan Harold saat ini, ia merasa puas dan berhasil karena telah membuat Harold begitu khawatir pada putrinya. Dengan begini, maka pasti Harold akan langsung mau menuruti apa yang ia perintahkan. Jika tidak, tentu saja Rendy akan dengan cepat menghabisi nyawa Zanna dan juga Clara nantinya.
"Kamu tidak perlu khawatir Harold, anak kamu aman di tangan saya sekarang! Dia tidak akan terluka walau sedikit, jika kamu mau menuruti semua ucapan saya!" ucap Rendy.
"Jangan banyak bicara mister, katakan saja apa keinginan anda!" geram Harold.
"Sudah jelas Harold, saya minta kamu berangkat sekarang ke timur dan serahkan senjata itu pada para pemberontak!" titah Rendy.
Deg
Jantung Harold seketika berhenti berdetak mendengar kata-kata Rendy, tadinya ia masih ingin berusaha mencari cara untuk menolak perintah pria itu karena ia tidak ingin pergi ke timur. Akan tetapi, saat ini Harold tak memiliki pilihan lain sebab anaknya ada dalam genggaman Rendy dan ia akan sangat terluka bila terjadi sesuatu pada putrinya.
"Baiklah, saya akan turuti kemauan anda itu mister! Saya mau pergi ke timur sekarang membawa semua senjata yang dipesan, tetapi anda juga harus melepaskan anak saya itu! Saya mau Zanna bebas dari tempat ini!" pinta Harold.
"Itu semua akan saya lakukan Harold, setelah kamu menyelesaikan misi ini dengan baik. Selagi kamu belum bisa mengurus semuanya, jangan harap putri kamu bisa bebas dari sini!" tegas Rendy.
"Mister, tolong jangan seperti ini! Saya mohon lepaskan putri saya!" ucap Harold merengek.
Bukannya menuruti kemauan Harold, kini Rendy justru terkekeh seolah mengejek Harold karena menangis di depannya. Rendy telah berhasil menemukan kelemahan Harold, tak ada alasan lagi bagi Harold untuk menolaknya kali ini. Rendy pun akan terus memanfaatkan ini untuk membuat Harold tunduk padanya.
"Kamu tidak perlu panik Harold, anak kamu aman disini selagi kamu bertugas dengan baik! Kamu percayakan saja semua pada saya!" ucap Rendy.
"Ya Harold, mending kamu lakuin aja semua perintah bos Rendy!" sahut Daniel.
Mata Harold menatap tajam ke arah dua pria itu, satu tangannya juga sudah terkepal kuat disertai rahang yang mengeras. Emosinya nyaris meluap kali ini, tetapi tak mungkin ia menghajar mereka sekarang karena Zanna masih ada di tangan Rendy. Harold tak mau Zanna terluka, apalagi ia belum tahu dimana Rendy menyekap putrinya.
"Saya akan berangkat ke timur sekarang, tapi tolong berikan saya waktu untuk bertemu dengan Zanna!" pinta Harold tampak memelas.
Rendy terlihat melirik ke arah asistennya untuk berdiskusi, setelahnya ia pun mengangguk dan memberi izin pada Harold untuk menemui Zanna sebentar. Rendy memerintahkan Daniel untuk mengantar Harold ke tempat Zanna berada, sedangkan ia sendiri tetap disana dan tampak tersenyum lebar penuh kemenangan.
__ADS_1
"Hahaha, tidak sia-sia saya menerima info dari Mario! Dia itu memang bisa diandalkan, sekarang saya jadi bisa memanfaatkan Harold sesuai keinginan saya!" gumamnya dalam hati.
•
•
Singkat cerita, Harold dibawa oleh Daniel menemui Zanna yang dikurung di dalam sebuah kamar bersama Clara. Saat itu Harold melihat jelas ketakutan di wajah putrinya, tapi untung masih ada Clara yang bisa menemaninya disana. Harold amat khawatir dibuatnya, ia tidak tega melihat putrinya begitu bersedih saat ini.
Harold pun berniat masuk ke dalam kamar tersebut, tetapi dengan cepat Daniel mencegahnya dan menghalangi niatnya. Sontak Harold menatap heran wajah Daniel, ia tak mengerti mengapa pria itu malah menahannya kali ini. Padahal, tadi Rendy sendiri sudah memberi izin baginya untuk dapat menemui Zanna walau sebentar.
"Apa-apaan ini, kenapa kamu cegah saya? Saya mau bertemu anak saya!" geram Harold.
"Tidak hari ini Harold, kamu hanya diizinkan untuk melihat putrimu itu dari sini! Kalau kamu memaksa masuk ke dalam, saya akan beritahu semua pada mister Rendy nantinya!" ancam Daniel.
"Sial! Kalian ini benar-benar kejam, seharusnya kalian tidak melakukan ini pada saya! Anak saya itu tidak tahu apa-apa, dia tidak bersalah!" ujar Harold.
"Diam lah Harold, menurut saja dengan kami dan jalankan perintah dari mister Rendy! Kamu pasti gak mau kan terjadi sesuatu yang buruk pada putri kamu itu?" ucap Daniel dengan tugas.
"Aaarrrgghhh kurang ajar!" Harold mengumpat kesal dan menghentak tangannya lepas dari cengkraman Daniel.
"Sebaiknya kamu melihat saja putri kamu dari jendela, kamu bisa pastikan kalau dia tidak terluka dan baik-baik saja!" ucap Daniel.
Harold menggeleng pelan, "Gak bisa Niel, saya harus masuk ke dalam temuin Zanna langsung! Saya benar-benar gak tega lihat dia menangis begitu, saya cuma mau bujuk dia!" pintanya.
"Kamu jangan melawan perintah mister Rendy, Harold! Kalau tidak, maka putri kamu itu akan kami sakiti!" ancam Daniel.
Harold terdiam, ancaman yang dilontarkan Daniel sungguh mengerikan dan membuatnya bingung bukan main. Harold sungguh ingin menemui Zanna di dalam sana, namun ia tidak bisa memaksa karena khawatir terjadi sesuatu pada putrinya itu. Akhirnya Harold hanya bisa melihat Zanna dari balik jendela, sembari meneteskan air mata kesedihan.
"Zanna sayang, kamu yang sehat ya nak! Papa janji akan cepat bebaskan kamu dari sini, tunggu papa ya sayang!" ucap Harold lirih.
Daniel menyeringai mendengar ucapan Harold barusan mengenai Zanna, ia puas melihat Harold terpukul seperti itu dan tak memiliki pilihan lain. Rencana Rendy telah berhasil saat ini, karena dengan begitu maka Harold tidak bisa berbuat apa-apa. Zanna adalah kunci bagi Rendy untuk menekan Harold, itulah alasan Rendy menangkap Zanna dan mengurungnya di markas saat ini.
"Maafin papa sayang, papa sudah gagal jaga kamu! Papa memang bukan papa yang baik untuk kamu, maafin papa!" batin Harold.
•
__ADS_1
•
Keesokan harinya, disaat Saskia hendak pergi ke sekolah dan sedang menunggu supir menyiapkan mobil untuknya, tanpa diduga gadis itu malah melihat sebuah mobil berhenti di depannya. Saskia pun tampak penasaran dibuatnya, ia terus menatap ke arah mobil tersebut sambil mengernyitkan dahi pertanda bahwa ia begitu ingin tahu.
Lalu, tak lama kemudian seorang pria turun dari mobil itu dan menemuinya sambil tersenyum lebar. Melihat itu, Saskia geleng-geleng kepala karena yang ada di hadapannya adalah Dean alias asisten pribadi kakak iparnya. Sudah lama juga mereka tidak saling bertemu, sehingga Saskia agak sedikit kaget dengan kedatangan Dean disana saat ini.
"Eh ada princess Saskia yang cantik, ups maksudnya non Saskia! Pagi non!" Dean langsung mendekat dan menyapa gadis itu dengan lembut.
Saskia menggeleng pelan, "Apa sih kamu? Udah aku bilang panggil nama aja!" ucapnya lirih.
"Hehe, iya deh iya. Pagi Saski yang cantik dan manis!" ucap Dean mengulang kalimatnya sesuai permintaan gadis itu.
"Udah udah ah, misi aku mau berangkat sekolah! Mobil kamu jangan ngalangin dong!" pinta Saskia.
"Ohh, kamu mau pergi sekolah ya Saski? Yaudah, saya aja yang anterin kamu yuk! Udah lama kita gak ketemu kan, jadi kita bisa melepas rindu dengan cara pergi bareng sekarang!" ajak Dean.
"Gausah kak, kamu kan baru sampai. Pasti kamu capek kan ya?" ucap Saskia menolak.
Dean tersenyum dan melangkah semakin dekat ke arah gadis itu, ia genggam dengan erat kedua lengan Saskia sambil menatapnya secara intens. Dean merasa senang bisa bertemu kembali dengan Saskia, apalagi setelah sekian lama ia ditugaskan di luar kota dan tidak pernah berkabar lagi dengan gadis itu selama beberapa waktu.
"Saya gak capek kok, biar sekalian aja gitu. Kamu mau kan diantara sama saya, hm?" ucap Dean.
Awalnya Saskia merasa ragu untuk menerima tawaran pria itu, namun kemudian Saskia malah menganggukkan kepalanya menyetujui usulan dari Dean. Saskia tak memiliki pilihan lain, karena ia juga harus pergi ke sekolah dengan cepat. Tentu saja Dean merasa sangat senang, apalagi Saskia terlihat begitu cantik dengan tampilannya saat ini.
"Iya aku mau kok, kak. Tapi ingat loh, bukan aku yang minta buat dianterin sama kamu! Nanti jangan salahin aku ya kalau kamu kecapekan!" ucap Saskia.
"Siap Saski yang cantik dan imut, yuk kita langsung masuk ke mobil saya sekarang!" ajak Dean.
Saskia mengangguk saja kali ini, ia juga menerima saat Dean menggandeng tangannya dan membawanya masuk ke dalam mobilnya. Tak lupa Dean membantu membuka pintu, agar memudahkan Saskia masuk kesana. Barulah Dean menyusul, ia terduduk tepat di sebelah gadis itu seperti biasanya ketika ia pergi bersamanya.
Namun, Saskia terlihat begitu kesulitan saat hendak memasang sabuk pengaman pada tubuhnya. Sontak Dean merasa kasihan dengan gadis itu dan berniat membantunya, ia mendekat lalu memasangkan sabuk pengaman itu di tubuh Saskia. Dalam posisi seperti ini, jantung Saskia berdetak lebih kencang karena rasa gugupnya.
"Kak Dean tampan juga kalau dilihat dari dekat kayak gini, aku jadi kagum sama dia! Eh eh, ini apaan sih? Kok aku malah mikir yang enggak-enggak?" gumam Saskia di dalam hatinya.
...~Bersambung~...
__ADS_1
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...