
Maysa kini menemui Javier di kamarnya, ia hendak meminta saran dari pria itu terkait permintaan Harold yang ingin agar ia menjadi pengganti pria itu sebagai pemimpin di perusahaan miliknya. Maysa merasa jika Javier pantas tahu mengenai hal ini, mengingat Javier adalah adik dari Harold. Meski Javier tak ada hubungannya dengan perusahaan itu, namun Maysa tetap saja merasa tidak enak saat ini.
Javier pun cukup terkejut ketika membuka pintu kamarnya dan melihat sosok Maysa berdiri disana, ia mengernyitkan dahinya seolah bingung mengapa Maysa bisa ada di depan kamarnya. Sontak Javier menutup pintunya, lalu fokus menatap wajah Maysa dengan ekspresi penuh heran. Maysa sendiri masih terdiam di tempatnya, tersenyum ke arah adik iparnya itu sambil melipat kedua tangannya.
"Maysa, ada apa? Kamu sakit lagi? Mau aku telpon dokter buat periksa kondisi kamu, hm?" tanya Javier dengan cemas.
Maysa menggeleng kali ini, "Bukan itu, aku udah sehat kok. Aku temuin kamu karena mau bicarakan sesuatu yang penting, tapi kita bicaranya di bawah aja yuk!" ucapnya.
"Oh boleh boleh, ayo mumpung aku juga lagi gak ada kerjaan kok!" ucap Javier setuju.
Setelahnya, mereka berdua kini mulai melangkah menuruni tangga dan duduk berdampingan pada sofa depan tv. Maysa ingin agar Javier dapat mengetahui keinginan Harold itu, sebab ia tak mau jika sampai terjadi salah paham nantinya. Apalagi, Javier merupakan adik kandung dari Harold yang juga berhak atas perusahaan itu.
"Jadi, kamu mau bicara soal apa Maysa? Aku penasaran nih," tanya Javier.
Maysa mulai membuka mulutnya, perlahan ia menjelaskan semua isi surat yang diberikan Clarissa tadi kepadanya. Maysa juga menyerahkan surat itu kepada Javier, tentu supaya Javier bisa membaca semuanya sendiri dan tidak terjadi kesalahpahaman. Namun, Javier justru terkekeh setelah membaca semua yang ada dalam isi surat tersebut.
"Loh, kamu kenapa malah ketawa Vier? Ada yang salah ya sama suratnya? Perasaan bener kok itu surat dari mas Harold, kamu bacanya sampai habis dong Vier!" ucap Maysa terheran-heran.
"I-i-iya Maysa, ini aku udah baca semuanya kok. Mas Harold minta kamu buat gantiin posisi dia sementara kan? Lalu, apa masalahnya?" ucap Javier.
"Ish, ya itu dia masalahnya Javier. Aku sama sekali gak ngerti loh tentang perusahaan itu, tapi mas Harold malah tiba-tiba minta aku buat gantiin posisi dia. Kan aku sekarang bingung Vier, aku gak tahu harus ngapain," ucap Maysa.
"Oh begitu, ya gampang aja sih Maysa. Kamu tinggal ke kantor nanti, terus gantiin posisi mas Harold deh disana. Mudah kan?" ucap Javier sambil terkekeh.
"Vier, aku serius loh! Kamu aja ya yang gantiin mas Harold disana?" pinta Maysa.
Javier tersentak dan sampai memajukan tubuhnya, ia tak mungkin melakukan itu karena permintaan Harold adalah Maysa lah yang harus menggantikan posisinya di kantor. Lagipula, sejak dulu Javier memang tidak ingin bergabung dengan perusahaan milik abangnya itu dan lebih memilih bekerja di tempat lain.
__ADS_1
"Aku gak bisa Maysa, itu kan tugas kamu loh. Kamu dong yang harus handle semuanya dan tanggung jawab ke perusahaan," ucap Javier.
"Tapi Vier, aku gak ngerti apa-apa," ucap Maysa.
Bukannya membantu, Javier justru menertawakan Maysa karena reaksi wanita itu. Javier pun berulang kali juga menakut-nakuti Maysa mengenai perusahaan yang akan dia jalani, sehingga membuat Maysa merasa jengkel dan reflek berteriak menegur adik iparnya itu. Javier memang sosok yang iseng, ia seringkali menjahili orang-orang di dekatnya.
•
•
Singkat cerita, Maysa terpaksa mengikuti perintah suaminya dengan menjadi pimpinan di perusahaan milik pria itu untuk sementara waktu. Ia pun tiba di depan kantor yang besar dan luas itu bersama Theo, sang pengawal sekaligus supirnya. Meski gugup, namun Maysa harus tetap kuat dan berusaha demi membanggakan suaminya saat ini.
Kehadiran Maysa disana langsung disambut oleh para karyawan yang telah lebih dulu hadir, mereka semua juga telah diberitahu bahwasanya saat ini pimpinan mereka yang baru adalah Maysa. Tak hanya itu, Clarissa sang sekretaris kini juga berdiri tepat di hadapannya dan tersenyum sembari menyapa bos barunya itu.
"Selamat pagi, bu Maysa!" ucap Clarissa dengan sopan dan ramah.
"Siap bu, saya akan selalu bantu ibu kok! Ibu tinggal bilang saja apa yang ibu mau, nanti pasti saya bantu!" ucap Clarissa dengan tegas.
"Baiklah, sekarang dimana ruangan saya ya?" tanya Maysa sambil celingak-celinguk.
"Disini bu, mari ikuti saya!" Clarissa langsung memberitahu pada Maysa dimana ruangannya berada, ya tentu Clarissa akan membawa Maysa menuju ruangan Harold sebelumnya.
Namun, saat di jalan mereka malah dihadang oleh Dean yang terlihat berdiri dan menatap ke arah Maysa kali ini. Sontak Maysa serta Clarissa kompak menghentikan langkah mereka, karena penasaran akhirnya Clarissa bertanya pada Dean mengapa pria itu menghalangi jalan mereka. Begitu juga dengan Maysa, ya ia tampak heran melihat Dean saat ini.
"Pak Dean, ada apa ya?" tanya Clarissa tampak bingung.
"Gak ada kok Clarissa, saya mau bicara aja sama bu Maysa empat mata. Biar saya yang antar bu Maysa ke ruangannya," jawab Dean sambil tersenyum.
__ADS_1
"Oh begitu, baik pak. Maaf ya bu Maysa, saya tinggal dulu sebentar!" ucap Clarissa.
Maysa mengangguk saja, sedangkan Clarissa langsung berjalan pergi meninggalkan Maysa bersama Dean disana. Setelah itu, Dean pun mengajak Maysa untuk kembali melanjutkan langkahnya menuju ruangan. Sejujurnya Dean masih merasa tidak enak pada Maysa, sebab ia sadar kalau ia lah yang menjadi penyebab kepergian Saskia.
"Dean, kamu kok udah kerja aja sih? Kamu itu kan diberi jatah libur loh sama Javier, harusnya kamu gunakan itu dengan baik dong. Kenapa kamu malah di kantor sekarang?" tanya Maysa heran.
"Iya bu, saya gak bisa kalau diam di rumah aja. Saya malah terus kepikiran sama non Saskia," jawab Dean sambil menunduk lesu.
"Eee yang kamu bilang itu benar sih, saya juga merasakan itu setiap kali sendirian di kamar. Apalagi, kepergian Saskia ini bersamaan dengan janin di rahim saya," ucap Maysa lirih.
"Maaf ya bu?" ucap Dean tiba-tiba.
Maysa mengernyitkan dahinya, "Maaf untuk apa?" tanyanya penuh heran.
"Maaf karena saya gagal dalam menjaga non Saskia, padahal bu Maysa sudah memberi kepercayaan saya untuk menjaga non Saskia!" jawab Dean.
Maysa menghentikan langkahnya sejenak, ia beralih menatap Dean dan tersenyum lebar. Dean yang melihat itu sontak kebingungan, tadinya dia pikir kalau Maysa akan memarahinya atau malah menghukumnya. Tapi, ternyata Maysa justru tersenyum dan meletakkan satu tangannya di atas pundak pria itu.
"Kamu tuh harus dikasih tau berapa kali sih, ha? Ini semua bukan salah kamu Dean, jadi kamu gak perlu ngerasa bersalah kayak gitu!" ucap Maysa.
"Iya bu, maafkan saya. Saya cuma belum bisa terima aja dengan semua ini," ucap Dean.
"Gapapa Dean, saya yakin lambat laun kamu pasti bisa! Lebih baik kita bahas yang lain aja ya? Supaya kita juga gak perlu sedih-sedih terus kayak gini," ucap Maysa.
Dean mengangguk kali ini, mereka pun kembali melangkah dan memasuki lift untuk menuju ruang kerja Harold di lantai atas.
...~Bersambung~...
__ADS_1
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...