
Maysa masih setia di rumah sakit untuk menjaga ibunya sampai tersadar dan pulih kembali, karena Maysa sangat cemas dengan ibunya itu. Hingga kini belum ada kabar yang jelas dari dokter mengenai ibunya, membuat Maysa merasa makin bingung dan khawatir pada ibunya. Namun, kehadiran Harold di sisinya berhasil sedikit menenangkan Maysa agar wanita itu tidak terus merasa cemas atau panik.
Harold terus merangkul dan mengusap Maysa dengan lembut, menggodanya serta mengecup pipinya berulang kali untuk membuat Maysa lebih tenang dan nyaman. Harold tahu Maysa sangat cemas saat ini, tetapi ia juga tak ingin wanita itu terlalu cemas mengingat ada bayi di rahimnya. Biar gimanapun, Harold tidak mau terjadi sesuatu yang buruk pada calon bayinya nanti.
"Kamu tenang ya sayang, kita harus yakin kalau ibu kamu bakal baik-baik aja dan bisa melewati masa kritisnya! Sekarang kamu bantu doa aja buat ibu kamu, supaya kondisinya bisa makin membaik dan cepat keluar dari sini!" ucap Harold.
Maysa mengangguk kecil, "Ya mas, makasih ya kamu selalu ada di samping aku dan mau support aku terus!" ucapnya.
Kembali Harold mengecup pipi Maysa dengan lembut, ia usap puncak kepalanya sembari semakin mengeratkan pelukannya. Ia tak mau Maysa terus khawatir, karena itu bisa mempengaruhi kondisi bayi di dalam perut Maysa. Bagaimanapun caranya, Harold akan berusaha membuat Maysa tetap tenang dan tidak panik seperti sekarang.
"Mbak!" Saskia yang baru kembali dari kantin, kini menghampiri mereka dengan membawa bungkus makanan untuk sarapan.
Sontak Harold dan Maysa menoleh ke arah Saskia, ia tak melepaskan pelukannya pada sang istri yang tetap berada di sampingnya. Lalu, Saskia menyodorkan bungkus makanan itu pada mereka dan mengajak mereka untuk sarapan bersama. Ya tadi Harold memang menyuruh Saskia membeli makanan, karena ia tahu Maysa belum mengisi perutnya sampai sekarang.
"Mbak, kita makan dulu yuk! Ini aku udah beliin sarapan buat mbak sama kak Harold, kita sarapan bareng-bareng yuk!" ucap Saskia dengan lembut.
"Ah Saskia, kamu ini gimana sih? Kondisi lagi begini gimana caranya coba aku bisa makan? Aku tuh cemas banget sama ibu, aku gak mungkin makan sedangkan ibu lagi berjuang di dalam!" ucap Maysa.
Saskia menunduk bingung, "Tapi mbak, gimanapun juga mbak harus tetap makan biar kondisi mbak tetap sehat!" ucapnya.
"Iya sayang, kamu dengerin Saskia ya! Kamu itu harus makan sekarang, kalau gak gitu nanti kamu malah ikutan sakit loh! Aku yakin, ibu pasti juga gak mau kalau kamu jatuh sakit!" sahut Harold.
"Mas, aku—"
Belum sempat Maysa selesai bicara, Harold sudah lebih dulu membungkam mulutnya dengan satu jari yang ia tempelkan disana. Tatapan Harold menjurus tajam ke arah matanya, membuat Maysa tampak gugup dan kebingungan. Apalagi, suaminya itu juga menarik dagunya serta mencengkram dengan kuat seolah tak membiarkannya bergerak.
"Kamu dengerin aku ya sayang, aku gak mau kamu ataupun bayi kita kenapa-napa! Kamu masih perduli kan sama calon anak kita, hm?" ucap Harold tegas.
Maysa melirik ke arah lain, ia terdiam dan tak sanggup untuk menjawab perkataan pria itu. Tetes air mata muncul membasahi pipinya, ia masih tidak bisa tenang sebelum mendapat kabar dari dokter mengenai ibunya. Pikirannya terus saja merasa kacau, ia khawatir ibunya tidak akan dapat diselamatkan dan pergi meninggalkannya.
"Hiks hiks, aku cuma gak mau ibu pergi ninggalin kita, mas! Aku masih pengen sama ibu terus, aku mau ibu ada di dekat aku!" ucap Maysa terisak.
"Sssttt, kamu gak boleh bicara begitu! Ibu pasti selamat kok, percaya sama aku! Aku akan minta dokter untuk melakukan yang terbaik, kalau peralatan disini kurang memadai, aku pasti akan bawa ibu ke rumah sakit yang lain!" ucap Harold.
Akhirnya Maysa bisa lebih tenang kali ini, ucapan serta perlakuan sang suami berhasil membuatnya sedikit lega. Ya setidaknya Maysa tak perlu khawatir dengan proses pengobatan ibunya, karena Harold sudah berjanji akan membantunya. Maysa pun memeluk erat sang suami, lalu menumpahkan air matanya di tubuh pria itu.
"Aku sayang banget sama kamu mas, makasih banyak ya udah mau bantu aku!" ucap Maysa disertai isakan tangisnya.
•
•
Braakkk
Sementara itu, Rendy terlihat begitu emosi dan menggebrak meja dengan kasar. Ucapan Harold sebelumnya berhasil memancing amarah di dalam dirinya, ia tak terima dengan pengunduran diri yang diajukan oleh Harold. Apapun caranya, pasti akan Rendy lakukan demi bisa membuat Harold kembali berada dalam bisnis tersebut.
Rendy tak akan mungkin melepaskan Harold begitu saja, karena baginya Harold adalah sosok yang amat ia butuhkan di dalam bisnis itu. Kini Rendy pun mengumpulkan para anak buahnya, ia tampak mengepalkan tangan dan rahangnya mengeras. Ingin rasanya Rendy segera menangkap Harold, lalu memaksa Harold untuk kembali bersamanya.
"Daniel, saya mau kamu pergi sekarang dan bawa beberapa anak buah kamu untuk bisa menangkap Harold secara hidup-hidup ke hadapan saya! Saya butuh Harold sekarang juga, saya mau dia ada di bisnis ini!" ucap Rendy dengan tegas.
"Baik mister, tugas itu akan segera saya laksanakan! Harold tidak mungkin bisa kabur dari sini, dia itu pria yang lemah!" ucap Daniel.
__ADS_1
"Saya tidak butuh kata-kata, saya mau Harold kamu bawa kesini! Jika kamu gagal, maka saya pastikan kamu akan mendapatkan hukuman yang berat Daniel!" ucap Rendy.
"Saya berjanji mister, kali ini saya akan melaksanakan tugas dengan baik!" ucap Daniel.
"Baiklah, saya pegang ucapan kamu! Kalau begitu cepatlah kamu pergi, cari dan tangkap Harold! Bawa dia ke hadapan saya dengan segera!" titah Rendy.
"Siap mister!" ucap Daniel mantap.
Setelahnya, Daniel beserta beberapa anak buahnya keluar dari ruangan itu dan bersiap melakukan tugas yang diberikan oleh Rendy. Semua ucapan Rendy adalah perintah bagi Daniel, dan tentunya pria itu harus melakukan semuanya dengan baik. Jika tidak, maka Daniel harus siap untuk mendapat hukuman berat dari bosnya tersebut.
"Haish, kenapa kamu memilih melakukan semua ini Harold? Apa kamu tidak sayang dengan nyawa kamu dan keluarga kamu? Kamu lupa siapa saya, saya pastikan kamu akan menyesal!" geram Rendy.
TOK TOK TOK...
"Masuk!" Rendy langsung memerintahkan seseorang di luar sana untuk masuk ke dalam ruangannya.
Ceklek
Begitu pintu dibuka, rupanya Alisia alias sekretaris dari Rendy lah yang tadi mengetuk pintu dan kini melangkah masuk menemuinya. Rendy pun mempersilahkan gadis itu untuk duduk, ia juga menegakkan posisi duduknya menatap ke arah Alisia. Tampaknya sudah ada yang hendak didengar oleh Rendy dari Alisia, karena terlihat Rendy begitu antusias saat melihat Alisia datang ke ruangannya.
"Bagaimana Alisia, apa sudah ada kabar mengenai keberadaan putri saya? Ini sudah hampir seminggu, tapi saya masih belum tahu dia ada dimana! Apa kamu menemukan sesuatu yang bisa dijadikan petunjuk?" tanya Rendy pada sekretarisnya itu.
Alisia tertunduk lesu, "Belum mister, saya masih belum mendapat info apa-apa tentang non Mawar. Dari tempat dia bekerja, saya juga tidak berhasil mendapatkan apapun," jawabnya gugup.
"Apa? Kamu ini ngapain aja sih Alisia? Masa kerjain begitu aja kamu gak becus?" kesal Rendy.
"Ma-maaf mister, tapi memang cukup sulit bagi saya untuk mendapatkan informasi mengenai non Mawar! Saya tidak tahu dia ada dimana sekarang," ucap Alisia tampak ketakutan.
"Ya itu tugas kamu untuk mencari tahu, Alisia. Kamu ngerti gak sih sama perintah dari saya, ha? Apa harus saya jelaskan sekali lagi?" geram Rendy.
Rendy geleng-geleng kepala dan mengusap dagunya, ia heran bagaimana mungkin Alisia tak berhasil mendapatkan info apa-apa mengenai putrinya. Padahal yang ia tahu, Alisia cukup pandai setiap kali diberi tugas untuk mencari tahu tentang musuh-musuhnya. Akan tetapi, kali ini gadis itu malah gagal dalam menemukan putrinya.
"Saya beri kamu kesempatan sekali lagi, kamu harus bisa temukan putri saya itu! Saya tidak mau dia kenapa-napa, kamu mengerti?" titah Rendy.
Alisia mengangguk, "Baik mister, saya mengerti! Saya janji akan berusaha lebih baik lagi, saya tidak akan menyerah sebelum berhasil mendapat info mengenai non Mawar!" ucapnya.
"Bagus, sekarang kamu pergi!" ucap Rendy.
Alisia menurut, kemudian ia bangkit dan pergi dari ruangan itu meninggalkan bosnya. Sedangkan Rendy tampak begitu kesal, pria itu benar-benar khawatir pada kondisi putrinya yang saat ini tidak tahu ada dimana.
"Mawar sayang, kamu dimana sih nak? Kenapa kamu tiba-tiba menghilang kayak gini?" gumamnya.
•
•
"Zanna, Zanna sayang! Ini mama nak, kamu dimana? Ayo sini ikut sama mama sayang, kita pulang yuk!" Clara berhasil menerobos masuk ke dalam rumah Harold dan berusaha mencari keberadaan putrinya.
Arum serta Theo tampak kecolongan, mereka pun bergegas mengejar Clara ke dalam sana dan mencegah wanita itu menemui Zanna. Kesalahan yang mereka lakukan tentunya sangat fatal, pastinya Harold tidak mungkin memaafkan mereka begitu saja nantinya.
Sedangkan Zanna yang tengah termenung di kamarnya seorang diri, merasa terkejut mendengar suara teriakan sang mama dari arah luar. Zanna pun bergerak turun dari ranjangnya, lalu melangkah ke luar kamarnya. Zanna tampak celingak-celinguk mencari keberadaan mamanya, tanpa berpikir panjang ia pun melangkah menuruni tangga.
__ADS_1
"Zanna, ayo keluar nak! Mama disini, mama kangen banget sama kamu! Mama pengen ketemu kamu, jangan takut sayang!" ucap Clara berteriak.
"Mama!" ucap Zanna lirih.
Sontak Clara terkejut dan spontan menoleh ke asal suara, ia menemukan sosok putrinya ada disana tengah menuruni tangga. Clara pun tersenyum lebar, kemudian bergegas menghampiri Zanna dengan begitu antusias. Namun, tiba-tiba sebuah tangan lebih dulu mencekal lengannya dan menghadang Clara yang ingin mendekati Zanna.
"Maaf bu Clara, anda sebaiknya tidak mendekati non Zanna! Keberadaan anda saja sudah dilarang disini, apalagi anda ingin membawa non Zanna pergi dari sini!" ucap Theo dengan tegas.
"Ish, kamu lagi kamu lagi! Lepasin saya, saya cuma mau ketemu anak saya! Kamu itu gak pernah ngerasain jadi saya ya? Bayangin aja deh, gimana perasaan kamu kalau dihalangi menemui anak kamu sendiri ha?" ucap Clara emosi.
"Saya hanya melakukan tugas saya bu, mohon dimengerti!" ucap Theo yang sebenarnya juga tidak tega pada Clara.
Beberapa kali Clara mencoba berontak dari genggaman pria itu, akan tetapi Theo tak akan melepaskan Clara begitu saja. Zanna yang sebelumnya turun dari tangga, kini berhasil mendekat dan memanggil mamanya. Zanna terlihat heran ketika melihat Clara dipegangi oleh Theo, bahkan Theo terlihat cukup kasar saat ini.
"Mama, kenapa mama dipegangin sama om Theo kayak gitu?" tanya Zanna begitu penasaran.
"Ah Zanna sayang, mama kangen banget sama kamu! Mama senang sekali bisa lihat kamu lagi nak, mama setiap hari selalu mikirin kamu loh sayang!" ucap Clara begitu antusias.
Clara terus berusaha melepaskan diri dari cengkraman Theo, ia juga meminta pada pria itu agar mau melepaskannya kali ini. Clara hanya ingin memeluk putrinya itu, karena ia sangat rindu dengan sang putri yang ia lahirkan tersebut. Bagaimanapun, Clara masih memiliki hak untuk bertemu dan memeluk Zanna sampai saat ini.
"Theo, lepasin saya! Ayolah, saya cuma mau peluk putri saya Zanna! Kamu gak bisa halangi saya kayak gini, saya mohon sama kamu Theo!" rengek Clara.
"Iya om, lepasin mama dong! Aku juga pengen pelukan sama mama, aku bosen tau sendirian terus daritadi! Om jangan sakitin mama aku, atau aku laporin nih ke papa!" ucap Zanna merengut.
"Eee tapi non, om Theo gak nyakitin mamanya non Zanna kok. Yaudah deh, om bakal lepasin mama kamu sekarang ya?" ucap Theo mengalah.
Clara menyunggingkan senyumnya, ia senang ketika Zanna lebih membelanya kali ini dan ikut meminta pada Theo untuk melepaskan dirinya. Akhirnya Theo tak memiliki pilihan lain, pria itu pun terpaksa membiarkan Clara untuk mendekati Zanna. Kini Theo melepaskan tangan Clara, meski ada rasa khawatir di dalam hatinya.
"Ah Zanna!" langsung saja Clara membungkuk dan memeluk erat putrinya disana.
"Sayang, mama senang banget bisa ketemu dan peluk kamu lagi nak! Mama dari lama selalu ingin seperti ini, tapi papa kamu itu juga gak pernah mau kasih mama kesempatan untuk ketemu sama kamu!" ucap Clara di dalam pelukan itu.
"Iya ma, aku juga senang kok. Tapi, mama gak boleh bicara buruk ya tentang papa! Nanti aku gak mau lagi loh peluk mama begini," ucap Zanna.
"I-i-iya sayang, mama minta maaf! Kamu baik-baik aja kan nak? Mama khawatir loh sama kamu, karena kan sekarang papa dan mama baru kamu itu terlalu sibuk dengan urusan mereka sendiri," ucap Clara.
"Aku baik-baik aja kok ma, lagian papa sama mama Maysa pergi kan karena ada urusan penting. Aku juga gapapa ditinggal disini," ucap Zanna.
"Tapi sayang, tetap aja loh mereka itu gak benar jadi orang tua. Nanti mama akan bicara ke papa kamu itu, supaya dia bisa lebih baik buat urus kamu sayang!" ucap Clara.
"Gausah ma, aku gapapa kok. Mama jangan bicara apa-apa ya sama papa!" pinta Zanna.
Clara melepas pelukannya dan menatap heran ke arah putrinya, ia geleng-geleng kepala seolah tak mengerti mengapa Zanna selalu membela papanya. Padahal menurutnya, apa yang dilakukan Harold saat ini sudah kelewatan karena meninggalkan Zanna sendirian di rumah. Namun, sepertinya Zanna terlalu sayang pada papanya itu.
"Yaudah deh sayang, mama nurut sama kamu. Asalkan kamu mau ikut sama mama ya sayang?" ucap Clara.
"Kemana ma? Rumah aku kan disini, aku gak mau pergi-pergi tanpa izin papa. Mending mama temenin aku aja disini buat kerjain tugas sekolah aku, mau kan?" ucap Zanna tersenyum.
"Ahaha, ya pasti mau dong sayang. Mama bakal bantu kamu kok," ucap Clara.
Akhirnya Zanna membawa Clara ke kamarnya untuk mengerjakan tugas, sedangkan Theo dan Arum hanya bisa berdiam diri disana saat ini.
__ADS_1
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...