Jebakan Satu Malam Duda Liar

Jebakan Satu Malam Duda Liar
Tawaran satu malam


__ADS_3

Malam harinya, Harold pulang bersama Maysa setelah hampir seharian ini mereka berada di kantor dan berkeliling menikmati waktu berdua. Harold cukup puas hati ini karena bisa bersama istrinya, meski tadi hasratnya harus tertahankan lantaran Maysa mencolek keinginannya saat hendak bercinta di dalam ruangan pribadinya.


Kini mereka pun sama-sama turun dari mobil, lalu tampak Dean berdiri menyambut mereka disertai senyuman lebar dengan kedua tangan ditaruh di depannya. Harold pun melirik sekilas ke arah Maysa, kemudian meminta wanita itu masuk lebih dulu karena ia saat ini ada kepentingan dengan Dean yang tidak bisa diberitahu pada Maysa.


Untungnya Maysa mau mengerti, wanita itu pun berjalan masuk ke dalam rumah meninggalkan suaminya berdua dengan Dean. Sehingga kini Harold memiliki keleluasaan untuk berbicara bersama asistennya, sepertinya Dean memang mempunyai informasi penting mengenai bisnis yang mereka jalankan dan Harold harus tahu itu.


"Gimana Dean, apa yang mau kamu sampaikan ke saya sekarang?" tanya Harold penasaran.


Dean tersenyum sekilas dan mengambil sesuatu dari dalam saku jasnya, ia tunjukkan sebuah foto kepada Harold yang membuat pria itu menyeringai. Harold seolah puas dengan apa yang dilihatnya saat ini, begitupun Dean karena ia juga ikut tersenyum. Kini Harold mengembalikan foto itu pada Dean, dia juga meminta Dean untuk lebih berhati-hati.


"Bagus, saya suka kinerja kamu! Tapi ingat, pastikan kalau tidak ada siapapun yang tahu tentang ini! Baik itu Javier atau Maysa, karena saya gak mau melibatkan mereka!" titah Harold.


"Baik tuan! Saya janji akan rahasiakan semua ini dan menutup rapat-rapat semuanya! Tapi tuan, ada lagi yang mau saya bicarakan," ucap Dean.


Harold mengernyit dibuatnya, "Apa itu?" tanyanya.


"Eee jadi begini tuan, saya rugi banyak nih karena non Saskia tadi. Apa tuan gak mau tanggu jawab gitu?" jawab Dean gugup.


"Hah? Rugi banyak karena apa? Emangnya Saskia ngapain?" tanya Harold penasaran.


"Ya jadi tadi saya ajakin non Kia buat makan siang dulu di restoran, tapi begitu sampai disana eh non Kia pesan makanan banyak banget. Untung aja uang saya cukup, kalau enggak bisa malu tuh waktu di restoran tadi," jelas Dean.


"Hahaha, ya itu derita kamu dong Dean. Kan kamu sendiri yang minta ke saya buat antar jemput Saskia, jadi kamu terima aja semua itu!" kekeh Harold.


Dean benar-benar jengkel dengan ucapan Harold barusan, karena bosnya itu malah menertawakan dirinya dan bukan mengganti rugi semua uangnya yang digunakan untuk membayar makanan Saskia tadi. Namun, Dean sendiri juga tak bisa berbuat apa-apa atau memaksa Harold untuk mengganti rugi padanya saat ini.


"Yasudah, saya mau masuk juga. Kalau kamu udah keberatan buat antar jemput Saskia, nanti biar saya suruh orang lain untuk gantiin kamu!" ucap Harold.


Setelah mengatakan itu, Harold pun pergi ke dalam rumahnya menyusul Maysa. Dean sendiri masih terkejut dan tak menyangka Harold akan menyuruh orang lain untuk mengantar jemput Saskia, tentu saja ia tak terima dan berusaha mengejar Harold serta meminta padanya agar ia tidak digantikan nanti dalam tugasnya menjemput Saskia.


Namun langkah kaki Harold dan Dean terhenti, begitu mereka mendengar suara mobil yang berhenti tepat di halaman rumah itu. Harold menoleh ke arah mobil, matanya membulat melihat sebuah mobil yang sepertinya tidak asing bagi ia. Akan tetapi, Harold masih belum yakin apakah benar dugaannya mengenai pemilik mobil tersebut.


Benar saja sesuai apa yang ia pikirkan tadi, ya kini tampak sosok perempuan turun dari mobil tersebut dan berjalan ke arahnya dengan langkah ala selebriti. Harold mendengus kesal, lagi dan lagi ia harus dihadapkan dengan sosok Clara yang menyebalkan. Entah mengapa Harold merasa kalau sekarang ini Clara lebih sering menemuinya, padahal dulu wanita itu selalu saja susah untuk ditemui.


"Ada apa lagi sih Clara? Gak bosan-bosan apa ya kamu ganggu kehidupan saya terus sampai sekarang? Hubungan diantara kita itu udah selesai, jadi seharusnya kamu enggak ganggu saya kayak gini!" geram Harold.


"Rold, kamu jangan emosi kayak gitu dong! Aku kesini cuma mau ketemu Zanna kok, sekalian aku pengen ajak dia makan malam!" ucap Clara.


Harold terkekeh mendengar kata-kata Clara barusan, bagaimana mungkin Harold akan mengizinkan mantan istrinya itu mengajak Zanna makan malam berdua setelah apa yang dia lakukan sebelumnya. Harold tidak perduli lagi dengan status Clara yang merupakan ibu dari putrinya, karena kelakuan Ciara sudah semakin di luar batas dan Harold khawatir wanita itu akan melakukan yang lebih parah.

__ADS_1


"Kamu pikir saya akan kasih izin kamu bawa Zanna, itu gak bakal terjadi Clara! Kamu gausah ngarep buat bisa ketemu Zanna lagi, sebelum kamu minta maaf ke Maysa atas kesalahan kamu!" tegas Harold.


"Untuk apa aku minta maaf sama dia? Aku gak ada salah kok," ucap Clara.


"Yaudah, kalau kamu emang merasa begitu. Saya juga gak akan pernah kasih izin kamu untuk bawa pergi Zanna dari sini," ucap Harold.


"Hey Rold, kamu gak bisa kayak gini dong! Zanna itu anak aku juga loh!" sentak Clara.


"Ya saya tahu itu, tapi saya tidak perduli dengan siapa status kamu itu. Selagi kamu berbuat jahat pada istri saya, maka kamu tidak akan pernah saya berikan kesempatan untuk bertemu apalagi membawa pergi Zanna!" ucap Harold.


Clara menggeleng kesal seraya mengepalkan tangannya, ia benar-benar heran karena Harold selalu saja membela Maysa dan membuatnya sulit untuk bertemu Zanna. Kini Clara sudah tidak punya pilihan lain, terpaksa ia pun mengiyakan permintaan Harold untuk meminta maaf pada Maysa demi bisa bertemu dengan putrinya saat ini.


"It's okay, aku bakal turutin kemauan kamu. Dimana Maysa? Aku mau ketemu sama dia dan minta maaf secara langsung, supaya kamu puas Harold!" ucap Clara dengan nafas tersengal.


Harold tersenyum dibuatnya, "Baiklah, mari ikut saya!" ucapnya lirih.


Setelah itu, Harold berbalik dan pergi ke dalam rumahnya dengan dua tangan dimasukkan ke saku celananya. Sedangkan Clara tampak terdiam sejenak sambil berpikir keras, wanita itu sebenarnya malas sekali menemui Maysa apalagi meminta maaf padanya. Jika bukan karena Zanna, maka pasti Clara tidak mungkin melakukan hal itu.


Akhirnya Clara mengikuti langkah Harold memasuki halaman rumah itu, ia terlihat sudah tidak sabar ingin segera menemui putrinya yang amat ia rindukan itu. Walau selama ini Clara memang jarang memiliki waktu bersama putrinya, tetapi sebagai seorang ibu tentunya Clara juga bisa merindukan putrinya. Clara ingin menikmati waktu berdua dengan Zanna, meski sekarang kesempatan itu sudah sangat jarang untuk ia dapatkan.




Disaat yang sama, terlihat seorang pelayan datang membawakan minuman selanjutnya untuk mereka. Javier tertegun melihatnya, tubuh pelayan wanita itu begitu seksi dan amat menggoda dirinya. Gairah di dalam tubuhnya meningkat setelah cukup lama tidak ia salurkan, Javier pun terus menatap ke arah belahan milik si wanita yang ada di dekatnya.


"Silahkan dinikmati tuan!" ucap pelayan itu sembari meletakkan semua minuman di atas meja, lalu bangkit dan hendak pergi kembali ke tempatnya.


"Tunggu!" Javier tiba-tiba saja bersuara dan menahan pelayan itu untuk tetap disana.


"I-i-iya tuan, ada apa?" tanya pelayan itu dengan gugup dan wajah menunduk.


"Duduk sini bareng kita-kita, saya yakin kamu pasti lelah kan bekerja daritadi! Nikmati semua yang ada disini, kamu gak perlu khawatir masalah biaya!" ucap Javier memberi perintah.


"Ta-tapi tuan...."


Belum sempat pelayan itu berbicara, Javier sudah lebih dulu menarik kedua lengannya dan memaksa gadis itu terduduk di sebelahnya. Sontak kedua rekan Javier merasa heran dengan sikapnya saat ini, karena pria itu tak pernah melakukan hal tersebut pada setiap wanita seksi yang coba mendekatinya atau merayunya. Namun, kini justru dengan seorang pelayan lugu Javier mampu terpesona.


"Siapa nama kamu?" tanya Javier pada pelayan itu dengan tatapan tajamnya.

__ADS_1


Si pelayan hanya bisa terdiam menunduk dan tak berani bertatapan langsung dengan Javier, perasaan gadis itu amat gugup dan ketakutan karena ini kali pertama ia duduk disana. Gadis itu mencoba untuk tenang, tetapi apa daya rasa gugupnya berhasil mengalahkan semua pikirannya.


"Eee sa-saya Mawar, tuan.." akhirnya gadis itu berani angkat bicara dan menyebutkan namanya di hadapan Javier walau dengan suara lirih.


Tanpa sadar Javier tersenyum dibuatnya, bahkan ia memuji nama gadis itu yang sama dengan kecantikannya.


"Nama yang indah, pantas aja wajah kamu secantik ini." Javier belum pernah merayu wanita sebelumnya, bahkan ia lah yang seringkali dirayu oleh para wanita yang coba mendekatinya.


Namun, kali ini semuanya terasa berbeda. Javier benar-benar bukan seperti pria yang dikenal oleh George dan Rafa sebelumnya, karena pria itu cukup berani menggoda seorang pelayan yang baru dia temui sekarang ini di bar itu.


"Te-terimakasih, tuan." dengan gugup gadis itu berbicara, jantungnya bahkan terus berdetak kencang sedari tadi.


Javier yang merasa gemas akhirnya menggeser posisi duduknya lebih dekat ke arah gadis itu, satu jarinya digerakkan untuk menaikkan dagu gadis bernama Mawar itu ke atas agar menatapnya. Ia pun tersenyum dan memandanginya sejenak, betapa bahagianya ia dapat melihat pemandangan seindah itu di depan matanya saat ini.


"Kamu luar biasa! Kenapa bisa wanita secantik kamu bekerja di tempat ini, hm? Apa kamu butuh uang?" tanya Javier dengan senyum seringainya.


"Ya tuan, semua orang pasti membutuhkan uang. Saya ini kan tidak lahir di keluarga yang berada, jadi saya butuh uang untuk menghidupi diri saya dan mencukupi semua kebutuhan saya!" jawab Mawar.


"Itu mudah, saya bisa berikan semua yang kamu mau dan saya akan cukupi kehidupan kamu. Jadi, kamu tidak perlu bekerja disini lagi," ucap Javier.


Baik George maupun Rafa kompak terkejut mendengar ucapan Javier barusan, mereka tak menyangka pria itu akan menawarkan sesuatu hal yang sangat mustahil kepada seorang wanita yang baru ia kenali.


Tak hanya mereka, Mawar sendiri yang mendengar itu pun ikut terkejut dan membelalakkan matanya. Ia benar-benar bingung harus berkata apa pada Javier, rasanya ia sangat gugup dan tidak tahu apa yang akan ia lakukan sekarang ini. Penawaran Javier sungguh menarik perhatiannya, tetapi ia tak tahu apa syarat yang diberikan Javier nantinya.


"Kenapa anda menawarkan itu pada saya? Memangnya saya ini siapanya tuan? Saya tidak mau menerima bantuan apapun secara cuma-cuma dari orang yang tidak saya kenal," ucap Mawar tegas.


"Siapa bilang cuma-cuma? Saya mau penuhi kebutuhan kamu, asalkan kamu juga mau turuti kemauan saya Mawar!" ucap Javier.


Dahi Mawar mengernyit dibuatnya, "Kemauan apa?" tanyanya dengan wajah penasaran.


"Temani saya selama satu malam ini, berikan saya kepuasan yang belum pernah saya rasakan sebelumnya!" jawab Javier sambil berbisik tepat di telinga gadis itu.


Deg


Mawar terkejut bukan main, jantungnya serasa copot saat mendengar permintaan yang diajukan pria itu demi mau membantunya. Tentu saja Mawar sangat kesal, ia bangkit dan melayangkan tamparan keras ke arah wajah Javier disertai umpatan penuh emosi yang membuat seisi bar menoleh ke arah mereka.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...

__ADS_1


...|||...


...ABANG ADEK KELAKUAN SAMA AJA YA😁...


__ADS_2