Jebakan Satu Malam Duda Liar

Jebakan Satu Malam Duda Liar
Pulang aja


__ADS_3

Setelah mengantarkan Clara pulang ke rumahnya, kini Harold berniat membawa Maysa menuju tempat yang indah sesuai janjinya saat di rumah sakit tadi. Akan tetapi, entah kenapa pikirannya tidak bisa tenang dan terus saja memikirkan sosok Clara yang baru keluar dari rumah sakit. Rasanya Harold begitu cemas kali ini, mengingat Clara tengah mengalami hilang ingatan dan tak bisa mengingat apapun.


Akibatnya, pikiran Harold tidak bisa tenang kali ini dan terus mengarah ke sosok Clara. Bahkan, ia sampai tidak dapat fokus ke arah jalan dan nyaris saja mobil yang ia kendarai itu menabrak kendaraan dari arah berlawanan. Beruntung Harold cepat sadar karena bunyi klakson pengendara itu, sontak Harold memilih menginjak rem dan menghentikan mobilnya sejenak ke pinggir untuk menenangkan diri disana.


"Duh mas! Kamu ini gimana sih? Kenapa coba kamu bisa sampai nyaris nabrak kayak gitu, ha? Kamu gak fokus ya nyetirnya?" protes Maysa.


Harold melirik wajah istrinya, ia menggerakkan satu tangannya dan mulai mengusap puncak kepala sang istri dengan lembut bermaksud menenangkan wanita itu. Ya Harold tahu jika Maysa pasti panik, karena ia pun juga merasa demikian ketika mobil yang ia kendarai nyaris menabrak kendaraan lain.


"I-i-iya sayang, aku minta maaf ya? Aku gak fokus banget tadi nyetirnya, maafin aku ya sayang?" ucap Harold merasa bersalah.


Maysa menghela nafasnya, "Hadeh, kamu itu kenapa sih mas? Mikirin apa coba sampai kamu jadi gak fokus kayak gitu, hm? Oh atau jangan-jangan kamu lagi mikirin Clara ya?" ujarnya curiga.


"Hah? Enggak kok sayang, aku sama sekali gak mikirin Clara. Kamu jangan mikir yang aneh-aneh deh sayang!" elak Harold.


"Ck, masih aja gak mau ngaku kamu! Terus kalau bukan karena Clara, kenapa coba kamu bisa sampai hampir nabrak mobil lain tadi? Untung aja gak tabrakan beneran," ucap Maysa.


"Ya aku lagi bingung aja sayang, gimana ya caranya kita jelasin ke Zanna nanti tentang kondisi mamanya? Aku khawatir banget kalau dia nanti tanya soal mamanya ke aku," ucap Harold.


Maysa sontak terdiam dan ikut berpikir keras kali ini, ia pun juga baru teringat kalau sampai sekarang Zanna belum mengetahui apa-apa tentang ibunya yang baru saja mengalami kecelakaan dan hilang ingatan. Pastinya Zanna akan merasa sangat terpukul nantinya, apalagi jika Zanna tahu mamanya tak mengingat apapun tentang dirinya.


"Kamu benar sih mas, aku juga belum tau harus gimana. Ya semoga aja deh dia bisa ngerti nanti!" ucap Maysa lirih.


"Hm, iya deh semoga. Kalo gitu kita lanjut jalan ya sayang? Aku mau lihatin tempat yang indah banget ke kamu, aku yakin kamu pasti suka deh sayang!" ucap Harold berusaha menggoda sang istri.


"Umm, kayaknya jangan sekarang deh mas! Mending kita langsung pulang aja yuk!" ucap Maysa menolak.


Deg


Harold terkejut dengan permintaan istrinya itu, ia tak menyangka kalau Maysa justru akan menolak tawarannya tadi dan malah meminta pulang. Ada sedikit rasa kecewa di dalam hatinya, sekaligus ia juga merasa heran mengapa Maysa berubah pikiran secara tiba-tiba seperti itu.

__ADS_1


"Kamu yakin sayang? Kamu gak lagi marah kan sama aku?" tanya Harold memastikan.


Maysa menggeleng perlahan, "Gak lah mas, buat apa aku marah sama kamu? Aku emang lagi capek aja, kita pulang ya mas? Terus jangan lupa kamu beliin titipan Zanna tuh tadi!" ucapnya.


"Iya sayang, aku ingat kok soal itu. Yaudah, aku nurut aja deh sama istri aku ini. Kamu emang kelihatan capek banget sih sayang," ucap Harold.


Maysa hanya tersenyum kali ini.




Disisi lain, Dean tengah terduduk santai di dalam sebuah bar sembari menikmati minuman yang ia pesan dengan panduan alunan musik yang indah di sekitarnya. Dean benar-benar kacau kali ini, ia sudah meminum cukup banyak minuman itu, tapi entah kenapa rasanya ia masih ingin terus meminumnya dan tak mau berhenti.


Kebetulan pria itu memang hanya datang seorang diri, sehingga tak ada yang bisa mencegahnya untuk tidak terus meminum minuman itu. Dean pun tampak sangat stres memikirkan hidupnya, meski ia punya banyak uang tapi sampai sekarang ia masih belum merasakan yang namanya pernikahan. Bahkan, ia sudah ditinggal oleh sosok gadis yang ia cintai dan akan sulit baginya untuk membuka hati.


Praanggg


"Dasar cowok gak bener, tukang selingkuh! Aku kurang apa sih buat kamu, ha? Bisa-bisanya kamu selingkuh sama modelan kayak gini!" sentak si cewek setelah memecahkan gelas tadi.


Pria disana itu pun mulai bangkit dan mencoba menenangkan kekasihnya, karena saat ini cukup banyak orang yang memperhatikan mereka, termasuk Dean tentu. Ya pria itu tidak mau jika keributannya ditonton oleh seluruh pengunjung di bar tersebut, pastinya ia akan menanggung malu.


"Sa-sayang, sabar dulu sayang! Aku bisa jelasin semuanya ke kamu, tenang ya!" ucap si cowok.


Bukannya mendengarkan kata-kata si cowok, cewek itu malah meraih gelas lainnya yang masih berisi minuman dan mengguyur wajah lelaki itu dengan kasar. Seketika semua disana terkejut, bahkan pria itu juga tak menyangka dengan tindakan gadisnya. Seluruh wajahnya kini basah karena air, ia pun menatap ke arah sang wanita kali ini.


"Kamu apa-apaan sih sayang? Kok kamu siram aku kayak gini? Kan aku udah bilang, kamu tenang dulu biar aku jelasin semuanya!" ucap si cowok.


"Apa lagi yang mau kamu jelasin, ha? Semuanya udah jelas buat aku, kamu itu laki-laki gak tau diri! Kamu bilang kamu sayang sama aku, tapi ini apa? Nyesel aku udah percaya sama kamu, aku benci banget sama kamu!" umpat si cewek.

__ADS_1


"Sayang, tolong jangan salah paham dulu! Dengerin omongan aku, kamu itu cuma salah paham sayang!" bujuk si lelaki sembari memegang tangan gadisnya.


"Ih lepasin, aku gak perduli lagi sama penjelasan kamu Hanif! Aku muak sama kamu!" si cewek semakin emosi dan menarik paksa tangannya, lalu menampar wajah si cowok dengan kasar.


Plaaakk


"Hah??" seorang wanita yang terduduk di dekat cowok itu kini ikut bangkit hendak membela kekasihnya.


"Hey, lu itu udah gila ya! Ngapain lu tampar cowok gue? Dasar cewek aneh, gak jelas banget sih lu!" ucap cewek itu sembari memeluk lelaki bernama Hanif yang tadi ditampar.


Gadis itu pun tersenyum dibuatnya, "Haha, hebat ya kalian? Pasangan selingkuh gak tahu diri!" ucapnya mengumpat.


"Apa maksud lu?" heran si cewek selingkuhan.


Sang gadis hanya bisa menggeleng kali ini, sebelum kemudian ia mengambil sebuah kue dan melemparkannya ke arah selingkuh kekasihnya. Saat itu juga wajah si cewek selingkuhan itu langsung dipenuhi oleh kotoran kue, yang tentunya membuat Hanif marah besar pada kekasihnya.


"Sayang, kamu apaan sih? Kendalikan diri kamu dong, jangan kayak gini!" tegur Hanif.


"Apa? Kamu lebih bela dia daripada aku, Nif? Tega ya kamu, pokoknya aku mau kita putus! Mulai sekarang antara aku dan kamu gak ada hubungan apa-apa lagi!" ucap gadis itu.


Deg


Setelah mengatakan itu, si gadis pun pergi begitu saja dengan rasa sedih dan kecewa yang amat sangat menyatu di dalam dirinya. Sedangkan Hanif berada dalam dilema yang besar, antara harus mengejar kekasihnya atau tetap disana bersama wanita selingkuhannya.


"Kasihan juga tuh cewek!"


Dean yang sedari tadi memperhatikan keributan itu, kini mulai bergerak mengejar si gadis yang tadi pergi ke luar dari dalam bar dengan kondisi menangis. Ya entah kenapa ia paling tidak tega saat melihat seorang wanita menangis, apalagi hanya karena masalah asmara.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2