Jebakan Satu Malam Duda Liar

Jebakan Satu Malam Duda Liar
Mungkin hamil


__ADS_3

"Papa!!" saat Harold dan Maysa sedang asyik berdansa, tiba-tiba saja suara teriakan anak kecil terdengar di telinga mereka seolah hendak memanggil pria tersebut.


Sontak baik Harold maupun Maysa sama-sama menghentikan gerakan mereka, keduanya menoleh ke asal suara untuk memastikan siapa yang datang. Betapa syoknya Harold saat ini, ketika ia sadar bahwa putrinya lah yang ada disana dan kini tengah berlari ke arahnya sambil tersenyum lebar.


Maysa sendiri tampak terbelalak melihatnya, jika Zanna ada disana maka pasti Clara alias ibunya juga berada di restoran itu. Tidak mungkin Zanna datang seorang diri, tentu saja Maysa pun merasa bingung dan langsung melepaskan tangannya dari leher Harold lalu menundukkan wajahnya karena belum siap jika harus berhadapan kembali dengan Clara.


"Papa, kok papa ajak tante ini nari begitu juga? Bukannya cuma mama ya yang boleh kayak gitu sama papa?" tanya Zanna dengan wajah curiga.


Harold terlihat heran mendengar pertanyaan putrinya itu, ia pun tersenyum sekilas menatap wajah Maysa sebelum kini berjongkok mendekati Zanna yang ada di hadapannya. Perlahan pria itu mengusap rambut panjang putrinya yang masih berusia diantara lima sampai enam tahun itu, ia tahu tak mungkin Zanna berkata seperti itu tanpa ada yang mendalangi.


"Iya dong sayang, kamu lupa ya kalau tante Maysa ini mau jadi mama baru kamu? Kan papa udah pernah bilang ke Zanna waktu itu, bahkan Zanna juga udah pergi jalan-jalan sama tante Maysa juga kan?" ucap Harold dengan santai.


"Oh iya ya, Zanna baru ingat pa. Abis, Zanna kaget tadi lihat papa nari sama perempuan lain," ucap Zanna sambil tersenyum.


Harold yang gemas akhirnya mencubit hidung putrinya itu, kemudian memeluknya erat dan memberikan kecupan hangat pada kening gadis mungil itu. Sedangkan Maysa masih terdiam memperhatikan, terlihat ia juga menatap sekeliling seolah mencari-cari dimana Clara berada.


"Yaudah, Zanna ikut sama papa dan tante Maysa aja yuk! Sekalian malam ini juga papa mau bawa kamu nginep di rumah papa, Zanna mau kan?" ucap Harold.


Zanna terlihat begitu bahagia mendengarnya, dengan sangat antusias ia mengangkat kedua tangannya dan mengangguk cepat. Ya tentu saja Zanna sangat ingin menginap di rumah papanya, karena sudah lama ia tidak melakukan itu. Apalagi, mamanya selalu saja membatasi waktu bertemu diantara Zanna dan Harold.


"Zanna!" benar saja dugaan Maysa tadi, kini Clara pun ikut menampakkan dirinya dan bergerak menghampiri mereka.


"Mama? Kebetulan mama ikut kesini, aku mau jelasin ke mama kalau tante ini tuh calon mama baru aku!" celetuk Zanna.


"Sayang, kamu gausah bicara ngaco ya! Ayo kita pulang sayang, ini udah malam!" ucap Clara.


Disaat Clara hendak mendekati putrinya itu, tanpa diduga Zanna justru menghindar dan lebih memilih bersama papanya. Sontak Clara mendengus kesal menatap tajam ke arah Harold sembari menunjukkan kekesalannya, namun itu tak membuat Harold terpancing sedikitpun karena pria itu malah terkekeh seolah senang dibuatnya.


"Aku gak mau pulang sama mama, malam ini aku mau nginep di rumah papa! Aku juga pengen tidur bareng sama papa dan mama baru aku," ucap Zanna dengan tegas.


Deg


Di luar dugaan, Zanna justru mengatakan itu di depan mamanya serta banyak orang. Maysa pun sampai melotot lebar dibuatnya, ia tak mengira jika Zanna akan meminta untuk dapat tidur bersama dirinya dan juga papanya. Tidak mungkin Maysa melakukan itu, sebab ia dan Harold belum resmi menjadi pasangan suami-istri.


"Iya kan pa, aku boleh kan tidur bareng sama papa dan tante Maysa malam ini?" tanya Zanna kepada papanya itu.


"Oh boleh dong sayang, apapun yang kamu minta bakal papa turutin. Kamu juga gausah khawatir, mama kamu ini pasti kasih izin kok buat kamu nginep di rumah papa!" jawab Harold tanpa ragu.


"Mas!" Clara menyentak dengan kasar untuk membantah ucapan lelaki itu.


Harold menoleh ke arah mantan istrinya dengan senyum merekah di pipinya, pria itu bangkit sembari menggendong tubuh Zanna. Clara yang melihatnya masih merasa tak terima, ia tentunya tidak akan memberi izin Zanna untuk pergi bersama Harold ataupun Maysa.


"Aku gak kasih izin ya, Zanna gak boleh nginep di rumah kamu!" ujar Clara.


"Saya gak perlu izin dari kamu Clara, saya akan tetap bawa Zanna ke rumah saya. Kamu itu mending pulang deh, jangan ganggu saya!" ucap Harold.


"Mas, aku yang menang di pengadilan atas hak asuh Zanna. Jadi kalau kamu mau bawa Zanna, kamu harus izin sama aku dulu!" ucap Clara.


Harold menggeleng perlahan, "Enggak Clara, itu gak perlu saya lakukan. Kalau saya mau, dari dulu saya sudah ajukan banding atas hak asuh Zanna. Tapi, saya masih baik dan beri kamu keuntungan untuk itu. Jadi, sebaiknya kamu menurut saja supaya kamu tidak kehilangan Zanna!" ucapnya santai.


"Tapi mas, Zanna—"

__ADS_1


Belum sempat menyelesaikan ucapannya, Clara sudah lebih dulu berhenti lantaran Harold menempelkan jari telunjuk di bibirnya. Harold juga meminta Clara untuk diam, karena ia tak mau lagi mendengar apapun keluar dari mulut Clara. Bagi Harold, semua hak mengenai Zanna itu juga masih sepenuhnya menjadi milik pria itu.


Setelahnya, Harold pun mengajak Maysa serta Zanna untuk pergi dari sana. Mereka bertiga sama-sama melangkah keluar dari restoran, membuat Clara tak berkutik kali ini. Namun, terlihat Maysa masih ragu-ragu untuk pergi bersama Harold dan Zanna saat ini. Wanita itu khawatir jika Harold akan memaksanya pulang ke rumah pria itu, lalu tidur bersamanya dan juga Zanna.




Benar saja dugaan Maysa di perjalanan tadi, kini mobil yang ditumpangi Harold tiba di depan sebuah rumah besar bak istana yang sekitarnya dipenuhi oleh cat berwarna ungu. Maysa terbelalak dibuatnya, bahkan Harold sampai tega mewarnai tembok di rumahnya dengan warna ungu hanya untuk membuatnya terkesan dan merasa nyaman.


Harold tersenyum lebar kali ini, lalu mengajak Maysa dan Zanna turun dari mobil untuk segera masuk ke dalam sana. Zanna tampak keheranan melihat kondisi sekitar yang dipenuhi warna ungu, gadis mungil itu bingung karena sebelumnya tembok disana tidak ada yang berwarna ungu. Saat Zanna bertanya, Harold hanya tersenyum tanpa memberi jawaban apapun padanya.


"Mas, ini semua kamu lakuin gara-gara aku ya? Harusnya kamu gak perlu kayak gini, tuh Zanna jadi gak suka kan lihatnya!" ucap Maysa.


Harold menghentikan langkahnya, menatap wajah Maysa dan memberikan senyuman manisnya. Perlahan Harold menurunkan Zanna ke bawah, lalu fokus menatap Maysa sembari menggenggam telapak tangannya. Harold ingin meyakinkan Maysa, bahwa semua yang ia lakukan untuk wanita itu sama sekali tidak berpengaruh pada putrinya.


"Sayang, kamu gausah mikir begitu. Zanna pasti suka kok, dia ini cuma kaget aja tadi. Lagian gak ada yang terlalu berubah kok dari rumah saya ini, semua masih tetap bagus dan indah," ucap Harold.


"Iya sih mas, tapi kan aku jadi gak enak. Kita belum resmi menikah, apa kata orang nanti kalau tahu kita udah tinggal bareng?" ucap Maysa gugup.


Harold tersenyum dan mendekati Maysa, ia rangkul pundak wanita itu dengan erat sembari mencolek pipinya. Entah mengapa Harold selalu merasa gemas tiap kali berada di dekat Maysa, itulah sebabnya ia tidak ingin kehilangan sosok Maysa dan berharap bisa memiliki wanita itu seutuhnya.


"Gausah perduli apa kata orang, ini kan hidup kita jadi cuma kita yang bisa menentukannya! Bahkan kalau kamu mau, saya juga bisa bawa ibu dan adik kamu untuk pindah tinggal di tempat saya ini," ucap Harold sambil membelai wajah wanitanya.


Maysa mengernyitkan dahinya, "Loh kok gitu mas? Gak bisa, aku gak mau ngerepotin kamu. Lagian aku udah punya kontrakan kok," ucapnya menolak.


"Tinggal di kontrakan itu gak selamanya enak, sayang. Lebih baik kalian semua tinggal sama saya disini, gak perlu bayar sewa tiap bulan. Selain itu, disini kan juga nyaman," bujuk Harold.


Harold terkejut mendengarnya, tentu saja ia tak mengizinkan Maysa untuk pergi kemana-mana saat ini. Harold ingin Maysa tinggal di rumahnya, sampai mereka benar-benar menikah nanti. Lagipun, Harold juga ingin menuruti kemauan putrinya. Ya meski permintaan itu sangat tidak masuk akal, karena Maysa belum sah menjadi istrinya.


"Kamu gak boleh kemana-mana, kamu kan mau menginap di rumah saya ini! Kamu lupa ya sama permintaan Zanna tadi?" ucap Harold tegas.


"Itu gak mungkin mas, mana bisa aku nginep disini sama kamu coba?" ujar Maysa.


Namun, Harold justru tersenyum lebar dibuatnya. Kali ini ia merangkul dan kembali mengajak wanita itu untuk melangkah ke dalam rumahnya, tentu saja tak lupa juga ia menggandeng tangan Zanna dan berjalan bersama-sama. Meski Maysa terlihat masih sangat cemas, karena dia belum mau tinggal di rumah itu untuk saat ini.


Sepertinya Harold tak memperdulikan soal itu, terlihat ia malah terus mengajak Maysa untuk masuk ke rumahnya. Kini mereka telah sampai di area ruang tamu yang cukup luas, bahkan sampai membuat Maysa menganga dan terbelalak saat melihatnya. Di sekitarnya juga terdapat banyak barang dengan dominan warna ungu, Maysa pun geleng-geleng kepala melihatnya.


Zanna tampak melepaskan tangannya dari sang ayah, lalu berlari lebih dulu mengitari ruangan yang sudah lama tidak ia kunjungi itu. Harold cukup senang melihatnya, lelaki itu memerintahkan anak buahnya untuk menjaga Zanna selagi ia sibuk bersama Maysa kali ini. Ya Harold ingin menjelaskan pada Maysa, bahwa ia tak mau kehilangan wanita itu dan berharap Maysa tetap bersamanya.


"Mulai sekarang dan seterusnya, kamu akan tinggal disini bersama saya Maysa!" ucap Harold.


Maysa terkejut dan membelalakkan matanya, "Maksud kamu apa, mas? Kita belum menikah loh, mana bisa kita tinggal bareng di dalam satu rumah coba? Kamu mah ada-ada aja!" ucapnya heran.


"Ahaha, itu bukan suatu masalah sayang. Kita tetap bisa tinggal serumah kok, walau belum resmi menikah. Kamu gausah khawatir, saya akan tanggung semuanya nanti! Kamu cukup diam dan menurut aja sama saya!" tegas Harold.


"Tapi mas, kamu gak bisa ngelakuin itu. Emangnya kamu kira aku ini cewek apaan? Kamu nikahin dulu aku, baru—"


Belum sempat menyelesaikan ucapannya, Maysa sudah lebih dulu merasakan mual pada perutnya. Seketika Harold pun tampak panik melihat calon istrinya itu mual-mual, ia mendekatinya lalu coba bertanya padanya mengapa bisa itu terjadi. Namun, Maysa malah menggeleng dan mengatakan dia juga tidak tahu.


"Duh, kamu sakit sayang? Saya antar ke dokter ya?" ucap Harold panik.

__ADS_1


Maysa menggeleng sembari menutupi mulutnya, rasa mual itu masih melanda dan belum hilang sampai sekarang. Tiba-tiba saja, ia melepaskan diri dari dekapan lelaki itu dan berlari mencari kamar mandi berada. Harold terkejut, pria itu baru sadar kalau Maysa belum mengetahui dimana lokasi kamar mandi di rumahnya. Akhirnya Harold memutuskan mengejar Maysa dengan cepat, agar wanita itu tidak kesasar kemana-mana.


"Tunggu Maysa, kamar mandinya bukan di sebelah situ!" teriak Harold dengan keras.




Sesudah memuntahkan semua isinya, Maysa kini keluar dari kamar mandi dan tampak mengambil nafas dalam-dalam. Ia tidak tahu apa yang menimpa dirinya, sampai tiba-tiba perutnya terasa mual dan ingin muntah. Untung saja ia bisa tepat waktu sampai di kamar mandi, sehingga tidak perlu muntah sembarangan.


Harold yang sedari tadi menunggu, kini tampak cemas begitu melihat calon istrinya itu keluar dari kamar mandi dengan kondisi lemas sembari memegangi perutnya. Perlahan ia mendekat, lalu coba memapah tubuh Maysa agar tidak jatuh. Harold benar-benar khawatir, ia takut terjadi sesuatu pada Maysa saat melihat kondisinya saat ini.


"Sayang, kamu gapapa? Kamu pucat dan lemes banget begini loh, kita ke rumah sakit aja yuk sayang!" ucap Harold begitu cemas.


Maysa menggeleng perlahan, "Aku baik-baik aja kok, mas. Kita gak perlu ke rumah sakit, lagian aku cuma sakit perut doang kok. Udah kamu gausah cemas kayak gitu, santai aja!" ucapnya lirih.


"Yakin sayang? Kamu harus diperiksa tau, saya gak mau terjadi sesuatu sama kamu!" ucap Harold.


"Gausah mas, nanti malah ngerepotin kamu. Aku mungkin cuma butuh istirahat, udah ya kamu lepasin aku!" ucap Maysa berontak.


"Enggak, kamu harus diperiksa! Saya takut kamu kenapa-napa sayang!" tegas Harold.


Maysa menatap wajah Harold dengan bingung, ia tak mengerti mengapa pria itu begitu kekeuh ingin membawanya ke rumah sakit. Padahal ia sudah mengatakan tidak usah, akan tetapi lelaki itu malah memaksa untuk mengajaknya diperiksa. Maysa pun tidak bisa menolak lagi saat ini, karena Harold sudah benar-benar sulit untuk dibantah.


"Ayo, kita ke rumah sakit tempat teman saya bertugas sekarang! Dia itu bisa periksa segala jenis penyakit, termasuk juga mengenai kehamilan," ucap Harold disertai senyum lebar.


Deg


Maysa terbelalak kaget mendengar perkataan lelaki itu, apalagi ekspresinya saat ini yang menunjukkan berbagai arti. Kini Maysa tahu mengapa Harold sangat memaksanya untuk pergi ke rumah sakit, karena rupanya Harold sudah mengira jika dirinya tengah mengandung saat ini.


"Ish, maksud kamu apa? Kamu pengen aku hamil gitu? Jahat banget sih, aku tuh masih kuliah tau!" kesal Maysa.


"Hahaha, gemesin banget sih kamu. Emang salah ya kalau saya berharap istri saya ini hamil?" goda Harold.


"Ih istri istri! Masih calon ya, kita belum nikah resmi!" tegas Maysa.


"Iya iya, tapi kan kita sama-sama udah merasakan milik masing-masing. Itu sama aja kamu udah sah jadi istri saya," kekeh Harold.


"Dih, dasar aki-aki mesum!" cibir Maysa.


Harold terkekeh dibuatnya, lalu tiba-tiba ia menggendong tubuh Maysa dan mengecup hidungnya dengan lembut. Maysa pun terkejut dan coba berontak dari gendongan itu, tetapi begitu sulit karena Harold benar-benar menggendongnya dengan erat dan tak memberi ruang kebebasan.


"Saya emang mesum, tapi kamu suka kan sama saya? Buktinya kamu selalu teriak-teriak sebut nama saya tiap kali kita ngelakuin itu," goda Harold.


Pipi Maysa langsung memerah seketika, ia memalingkan wajahnya dan merasa malu karena perkataan Harold tadi. Sedangkan Harold sendiri malah terkekeh puas melihat ekspresi Maysa saat ini, menurutnya wanita itu lebih menggemaskan saat sedang tersipu seperti sekarang.


"Udah gausah malu, i love you Maysa Najoan!" ucap Harold tepat di telinga wanita itu.


Setelahnya, jantung Maysa terasa berdetak lebih kencang dari biasanya. Sesaat kemudian, Harold tiba-tiba bergerak lalu membawanya keluar dari rumah dan masuk ke dalam mobil. Maysa masih tetap terdiam seolah tak menyangka apa yang diucapkan Harold tadi, mereka pun bergegas berangkat menuju rumah sakit tanpa membawa Zanna yang sudah dititipkan kepada anak buahnya.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2