Jebakan Satu Malam Duda Liar

Jebakan Satu Malam Duda Liar
Kejutan tak terduga


__ADS_3

Harold telah tiba di halaman kantor miliknya, ia dan juga Fandy kompak turun dari mobil yang mereka tumpangi untuk bergerak menuju ke depan sana. Tampak juga Dean sudah berdiri menunggu kehadiran bosnya, apalagi cukup lama juga mereka tak saling bertemu. Baik itu Harold maupun Dean, sama-sama merasa rindu mengingat hubungan mereka cukup dekat sebagai bos dan asisten.


Begitu melihat Harold turun dari mobilnya, Dean bergerak cepat menghampiri bosnya itu untuk melampiaskan kerinduan yang selama ini tertahan. Apalagi, Dean paham betul bahwa ia adalah penyebab dari keterpurukan yang dialami oleh Harold dan juga keluarganya. Ya Dean telah sadar, akibat apa yang ia lakukan sudah membuat Harold kehilangan calon anak dan juga adik iparnya itu.


"Bos, syukurlah bos bisa sampai dengan selamat! Saya udah cemas waktu bos bilang akan pergi ke timur dan membawa pasokan senjata untuk para pemberontak disana," ucap Dean merasa lega.


"Kamu seharusnya tidak perlu mencemaskan saya, Dean. Kamu kan tahu sendiri kalau saya ini kuat dan bisa jaga diri saya dengan baik, justru kamu sebaiknya memikirkan keluarga saya disini yang harus kamu jaga!" ucap Harold dengan tegas.


"Ma-maaf bos, saya memang tidak bisa diandalkan! Saya gagal menjaga keluarga Bks dengan baik, maafkan saya bos!" ucap Dean menyesal.


Harold menggeleng pelan dan meletakkan satu tangannya di atas pundak Dean, ia paham mengapa Dean sampai seperti itu kali ini. Penyesalan memang pastinya akan hadir di dalam diri Dean, mengingat pria itu telah gagal dalam menjaga calon anak di dalam rahim Maysa dan juga Saskia yang merupakan adik ipar dari bosnya sendiri.


"Sudahlah, kamu lupakan saja semua itu dan jangan dibahas lagi!" pinta Harold.


"Tapi bos, saya sudah lalai dalam menjalankan tugas. Saya pantas untuk diberi hukuman bos, saya terima apapun itu yang bos ingin berikan pada saya!" ucap Dean sambil terus menunduk.


"Tidak Dean, ini bukan waktunya untuk membahas yang sudah lalu. Saya temui kamu disini karena saya ada tugas baru untuk kamu," ucap Harold.


Dean mendongak, "Apa itu bos?" tanyanya.


Harold pun melirik sekilas ke arah Fandy yang masih setia berdiri di belakangnya, ia meminta Fandy untuk memberikan sebuah flashdisk pada Dean di depan sana. Tentu saja Fandy menurutinya, dengan cepat pria itu bergerak lalu meletakkan flashdisk itu pada telapak tangan Dean yang masih terlihat bingung.


"I-ini apa bos?" Dean sontak bertanya pada bosnya mengenai flashdisk tersebut, pasalnya ia belum mengetahui apa-apa saat ini.


Harold menyeringai, "Hm, itu merupakan data milik keluarga mister Rendy. Saya tugaskan kamu untuk cari mereka semua melalui informasi di dalam flashdisk itu, saya gak mau kamu gagal kali ini dan kamu harus berhasil!" jelasnya.


"Keluarga mister Rendy? Kenapa bos mau cari keluarga dari si orang jahat itu?" tanya Dean.


"Tentu saja karena saya memiliki sebuah rencana yang luar biasa, Dean. Orang itu harus tahu seperti apa rasanya kehilangan sosok yang paling kita cintai," jawab Harold.

__ADS_1


Deg


Dean sampai terbelalak mendengar jawaban dari bosnya, entah ia harus merasa senang atau tidak setelah tahu tugasnya kali ini. Sebenarnya Dean juga merasa kesal dan tak terima dengan kepergian Saskia, namun ia juga belum yakin untuk membantu bosnya membalas dendam pada mister Rendy.


"Kenapa kamu kaget gitu? Kamu keberatan buat bantu saya, hm?" tanya Harold.


"Ti-tidak bos, saya bersedia sekali untuk bantu menjalankan tugas ini. Saya janji kali ini, saya pasti akan membawa keluarga mister Rendy ke hadapan bos secepat mungkin tanpa ada salah sedikitpun!" ucap Dean dengan tegas.


Harold menganggukkan kepalanya, meski ia melihat ada keraguan di wajah Dean saat mendengar rencana balas dendamnya kepada Rendy.




Malam harinya, Maysa yang baru pulang dari kantor langsung bergegas memasuki rumahnya dan berniat untuk segera beristirahat di dalam sana. Ia merasa begitu lelah hari ini, sebab ada banyak pekerjaan yang harus ia urus secara langsung. Maysa kini baru tahu bagaimana rasanya menjadi seorang pemimpin perusahaan, padahal tadinya ia mengira jika pekerjaan seperti ini sangatlah mudah.


"Happy birthday to you, happy birthday to you!" begitulah nyanyian yang dilantunkan Harold, Javier dan juga Melinda di depan sana.


Maysa pun terdiam saat itu juga, memandang ke arah sang suami yang ternyata sudah kembali. Maysa sama sekali tak percaya, sebab Harold tak pernah memberi kabar padanya dan sekarang pria itu tiba-tiba sudah berada di rumah dengan memberi kejutan ulang tahun untuknya.


"Happy birthday happy birthday, happy birthday Maysa!" perlahan Harold mendekati istrinya sambil membawa kue disertai lilin yang menyala di tangannya.


"Selamat ulang tahun, istriku yang cantik!" ucap Harold dengan senyum lebarnya.


Maysa masih tak bisa berkata apa-apa kali ini, ia hanya terus memandangi wajah pria tersebut seolah tak mempercayai kejadian di depan matanya. Di malam ulang tahunnya ini, Maysa sungguh dibuat bahagia dengan kejutan manis yang diberikan suaminya. Apalagi, selama ini Maysa memang amat merindukan sosok Harold yang meninggalkannya.


"Sayang, kenapa kamu diam aja? Ditiup dong lilinnya, terus kamu minta apa yang kamu mau saat ini!" ucap Harold.


"Eee a-aku...." Maysa tergagap kali ini.

__ADS_1


"Gak perlu gugup gitu, aku emang sengaja siapin semua ini buat kamu. Aku tahu hari ini kamu ulang tahun, maka dari itu aku pulang dan langsung kasih kejutan buat kamu," sela Harold.


"Iya sayang, ibu aja sampai kaget loh tadi waktu suami kamu ini pulang dan minta bantuan ibu buat siapin kejutan ke kamu," sahut Melinda.


Mendengar itu, sontak Maysa meneteskan air mata dan tampak bersedih. Ia tak menyangka kalau suaminya itu begitu perduli padanya, bahkan sampai ingat hari ulang tahunnya dan mau memberikan kejutan manis untuknya. Maysa merasa sebagai orang yang paling beruntung di dunia saat ini, meski sebelumnya ia sempat membenci pria itu.


"Sekali lagi, selamat ulang tahun ya istriku yang cantik! Semoga kamu sehat selalu dan diberikan kelancaran dalam hidup!" ucap Harold.


Harold lalu mendekatkan kue di tangannya ke arah sang istri, dengan antusias kini Maysa memejamkan mata dan berdoa untuk meminta apa yang dia inginkan kepada Tuhan. Setelah itu, Maysa pun meniup lilin tersebut sampai benar-benar mati dan disambut sorak-sorai dari arah dalam rumahnya.


"Horeee mama udah tiup lilinnya!" Zanna yang sedari tadi memantau, kini ikut merasakan bahagia.


Maysa tersenyum dibuatnya, "Makasih ya semua, kalian benar-benar udah bikin malam ulang tahun aku ini terasa sangat menyenangkan!" ucapnya.


"Sama-sama sayang, sekarang kita masuk yuk! Kamu potong kuenya di dalam biar gampang," ucap Harold yang diangguki oleh Maysa.


Melinda mengambil alih kue tersebut dari tangan Harold dan meletakkannya di atas meja, sedangkan pria itu sendiri tampak memeluk istrinya yang sangat ia rindukan itu dan berjalan memasuki rumah. Maysa tak menolak, justru kali ini Maysa terlihat sangat nyaman berada dalam pelukan suaminya.


"Aku kangen kamu mas," bisik Maysa.


"Aku juga, maafin aku ya kalau udah bikin kamu khawatir?" balas Harold.


"It's okay, mas." Maysa mengangguk pelan.


Tampak Maysa membenamkan wajahnya di bahu sang suami, membuat Harold reflek mengecup kening wanita itu dengan lembut disertai usapan hangat pada puncak kepalanya.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...

__ADS_1


__ADS_2