
Harold bertemu dengan adiknya di dalam ruang pribadinya, ia ingin membahas mengenai sosok Mawar yang diketahui sebagai putri dari Rendy alias musuh bebuyutannya. Tentu Harold ingin memastikan semua secara langsung kepada Javier, karena ia tak mau salah menduga nantinya. Apalagi, ia tahu kalau Javier sudah akan menikahi Mawar dalam waktu dekat dan ia harus sangat berhati-hati.
Tidak mungkin Harold akan merestui hubungan antara adiknya dan anak dari musuhnya itu, jika semua dugaannya memang benar. Harold pun terus berharap kalau Mawar kekasih adiknya adalah Mawar yang berbeda dengan anak dari mister Rendy, namun entah kenapa di dalam hatinya ia selalu cemas dan ketakutan sesaat setelah mendengar nama anak dari musuh terbesar dalam hidupnya itu.
"Bang, ada apa sih? Aku sampe buru-buru loh datang ke kantor ini buat temuin kamu, padahal tadi niatnya aku tuh pengen temuin Mawar," ucap Javier.
"Nah pas, cakep tuh! Saya minta kamu kesini karena mau bahas soal Mawar, karena ada sesuatu yang mengganjal disini. Saya minta kamu jawab dengan jujur ya pertanyaan saya!" ucap Harold.
"Hah? Emang kamu mau tanya soal apa sih, bang?" Javier terlihat begitu penasaran kali ini.
"Mawar pacar kamu itu, apa dia bernama Mawar Calista? Tolong jawab dengan jujur, Javier!" ucap Harold bertanya pada adiknya.
Javier mengangguk sebagai jawaban, ia tak berbohong kali ini karena memang benar bahwa nama panjang dari kekasihnya itu adalah Mawar Calista. Hanya saja, Javier masih tampak bingung mengapa Harold menanyakan soal itu kepadanya dan sampai seserius ini.
"Iya benar, itu emang nama lengkap Mawar. Kenapa ya bang? Kok kamu tanya begitu ke aku?" ucap Javier dengan wajah terheran-heran.
"Kalau begitu, saya minta kamu jauhi Mawar dan jangan pernah kamu berhubungan lagi dengan dia! Saya gak akan pernah setuju, kalau kamu menikah dengan wanita itu!" pinta Harold.
Javier mengernyitkan dahinya, "Kenapa bang? Kok mendadak kamu jadi bilang kayak gini ke aku?" tanyanya tak menyangka.
"Ya Javier, jelas saya gak akan kasih restu kamu untuk menikahi wanita itu. Dia bukan wanita yang baik untuk kamu, sebaiknya kamu lupakan dia dan tinggalkan dia!" ucap Harold.
"Gak bisa bang, aku gak mungkin bisa ngelupain Mawar. Aku cinta sama dia, dan aku harap kamu bisa pahami semua itu!" tegas Javier.
Javier dengan tegas menolak permintaan yang diajukan abangnya itu, ia tentu tidak bisa menjauh dari Mawar apalagi melupakan gadis yang sangat ia sayangi itu. Javier pun berniat pergi, ia bangkit dan terlihat begitu kecewa dengan keputusan abangnya tadi. Namun, dengan cepat juga Harold menahan Javier agar tetap berada disana.
"Mau kemana sih Vier? Ucapan kita belum selesai, duduk lagi dan masih ada yang mau saya bicarakan sama kamu!" titah Harold.
__ADS_1
"Gak ada yang perlu dibicarakan lagi bang, semua udah jelas sekarang. Kamu gak setuju kan sama hubungan aku dan Mawar? Yaudah, kalo gitu mulai detik ini aku keluar dari keluarga Vincenzo!" sentak Javier.
Deg
Harold benar-benar terkejut dengan perkataan adiknya itu, ia tak menyangka kalau cinta telah membuat sikap Javier berubah drastis dan lebih mementingkan Mawar dibanding keluarganya. Harold pun bingung harus melakukan apa kali ini, sebab Javier terlihat begitu emosi.
"Sabar dulu Vier! Kamu belum tau apa alasan saya melarang kamu dan Mawar berhubungan, sebaiknya kamu duduk sekarang dan kita lanjut bicara lagi!" pinta Harold.
Javier menggeleng, "Gak, aku gak mau dengar apa-apa lagi dari kamu!" ucapnya.
"Vier, saya ngelakuin ini demi keluarga kita. Mawar itu anak dari mister Rendy, orang yang udah bikin anak di dalam kandungan Maysa kehilangan nyawanya. Selain itu, dia juga yang buat Saskia meninggal dunia!" ucap Harold menjelaskan.
Javier terbelalak lebar, niatnya untuk pergi dari ruangan itu terhenti ketika Harold mengatakan semua itu padanya.
•
•
Kini ia menunggu kehadiran Zanna tepat di depan gerbang sekolah gadis itu, sedangkan kedua orang suruhan Harold itu tetap menjaga di dekat Maysa tanpa ada yang lalai sedikitpun. Mereka melakukan tugas dengan baik, mengingat nyawa mereka lah taruhannya jika sampai Maysa atau Zanna terluka dan berhasil diculik oleh kelompok Rendy.
Selagi menunggu, Maysa dibuat kaget saat Clara kembali muncul disana dan juga ingin menjemput Zanna di sekolah itu. Tentu saja Maysa merasa jengkel melihatnya, sebab Clara sering sekali mencari keributan dengannya seperti ketika mereka bertemu di kantor kala itu.
"Eh eh eh, ada yang sok baik dan ngaku-ngaku jadi ibu dari anak aku nih. Ngapain lagi sih kamu kesini Maysa, hm? Gak ada kerjaan ya selain ganggu anak aku?" tegur Clara.
Maysa menggeleng pelan, "Hadeh Clara, kamu lagi kamu lagi. Mau sampai kapan sih kamu ganggu keluarga aku kayak gini? Apa kamu gak sadar ya sama status kamu sekarang? Kamu itu udah bukan istri mas Harold lagi," ucapnya mencibir.
"Ck, gausah sombong kamu Maysa! Kamu mungkin sekarang istri dari Harold, tapi aku tetap masih jadi ibu kandung Zanna yang sah!" tegas Clara.
__ADS_1
"Iya aku tahu, terus dimana masalahnya? Aku sebagai ibu sambung Zanna, berhak juga dong buat antar jemput dia ke sekolah. Kamu gak perlu cari ribut deh disini!" ucap Maysa kesal.
"Bukan cari ribut, aku cuma pengen kamu ngerti aja sama posisi dan status kamu Maysa!" ucap Clara.
Maysa tersenyum dibuatnya, ia tak lagi memperdulikan perkataan Clara dan memilih berpaling ke arah lain. Pasalnya, jika ia terus meladeni Clara maka bukan tidak mungkin pertikaian diantara mereka akan semakin panas. Jika itu sampai terjadi, pastinya Zanna akan sangat sedih nanti dan kecewa karenanya.
"Mama!!" benar saja apa yang dipikirkan Maysa tadi, tak lama kemudian Zanna pun muncul kesana dan menyapa mamanya dengan antusias.
"Yeay, mama Maysa sama mama Clara datang jemput aku barengan! Aku senang banget deh!" ucap Zanna yang tampak bahagia begitu melihat kedua mamanya datang sekaligus disana.
Maysa pun ikut senang mendengarnya, namun disaat ia hendak mendekati Zanna, langkahnya diserobot oleh Clara yang lebih dulu mendekat ke arah putrinya itu. Maysa hanya bisa bersabar, karena ia tak mau Zanna merasa sedih. Meski, di dalam hatinya Maysa merasa sangat kesal.
"Ah Zanna, mama sengaja emang mau jemput kamu siang ini sayang. Abis itu kita nanti pergi ke wahana mandi bola ya?" ucap Clara sambil tersenyum.
"Hore asyik! Mama Maysa ikut juga kan, ma?" tanya Zanna.
Clara melotot seketika, pandangannya mengarah ke posisi Maysa berada dan tampak tidak menyukai perkataan Zanna barusan. Sungguh Clara ingin mengusir Maysa dari sana saat ini juga, namun ia masih memikirkan perasaan Zanna yang sangat ia sayangi itu.
"Pasti dong sayang, kemanapun kamu pergi ya mama bakalan ikut. Papa kamu kan titip pesan ke mama buat terus jagain kamu, jadi mama gak akan biarin kamu pergi tanpa mama," ucap Maysa.
Clara benar-benar kesal mendengarnya, ucapan Maysa itu seolah mengejek dirinya dan menganggap ia sebagai orang yang ingin menjahati Zanna. Padahal, niatnya saat ini hanya untuk membawa Zanna pergi dari Maysa dan tinggal bersamanya.
"Kurang ajar banget si Maysa ini! Dia sengaja pengaruhi Zanna kalau aku ini jahat, emang dasar gak tau diri!" batin Clara.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
__ADS_1