
Maysa masih dibuat bingung saat ini, wanita itu terus memikirkan ucapan dari Mario tadi yang menawarkan padanya akan memberitahu mengenai bisnis yang dikerjakan oleh Harold. Akan tetapi, Mario mengajak Maysa untuk pergi ke suatu tempat bersamanya. Tentu saja Maysa amat bingung dan tak tahu harus apa, pasalnya ia khawatir jika Mario akan melakukan hal yang tidak-tidak padanya.
Kini Maysa pun terdiam sembari menundukkan wajahnya, sedangkan di hadapannya tampak sosok Mario yang terus memandang ke arahnya. Mario tersenyum melihat Maysa tengah dilanda kebingungan, pria itu tahu kalau Maysa pasti tak akan mungkin mau melewatkan kesempatan ini. Apalagi, Maysa juga terlihat sangat penasaran ingin tahu bisnis apa yang dikerjakan suaminya sekarang.
"Apa tidak bisa anda bicarakan saja semuanya disini sekarang? Saya gak punya waktu untuk pergi dengan anda ya, jadi tolong kasih tahu ke saya sekarang juga!" ucap Maysa mencoba bernegosiasi.
Mario menyeringai dibuatnya, ia tentu tak setuju dengan permintaan Maysa tadi yang memintanya untuk bicara disana saat ini juga. Mario sangat ingin jika Maysa mau menurut padanya, lalu mereka bisa sama-sama pergi dan menikmati waktu berdua. Maka dengan begitu, pastinya Mario akan dapat merasakan kenikmatan tubuh wanita itu.
"Dengar ya Maysa, informasi ini gak gratis loh! Kalau kamu mau tahu banyak tentang Harold, ya kamu harus lakukan sesuatu dulu ke saya!" bisik Mario sembari membelai lembut kulit leher Maysa disertai seringaian tipisnya.
Sontak Maysa langsung menghentak tangan Mario dan menjauh darinya, ia tak terima dengan kelakuan Mario yang kurang ajar karena berani menyentuh tubuhnya begitu saja. Ia tampak begitu emosi, lalu meminta Mario untuk tidak melakukan hal itu lagi mengingat dirinya sudah memiliki suami. Namun, Mario tidak mau menurut dan seolah tak perduli dengan status Maysa saat ini.
"Jangan lancang ya anda! Kalau suami saya tahu soal ini, anda pasti akan dihajar habis-habisan!" sentak Maysa penuh emosi.
"Saya hanya ingin membantu kamu Maysa, jadi kamu harusnya berterima kasih ke saya dan bukan malah marah-marah seperti ini! Apa kamu tidak ingin tahu tentang bisnis suami kamu?" bujuk Mario.
Maysa menggeleng cepat, "Saya memang butuh informasi itu, tetapi saya juga masih menghargai suami saya!" ucapnya tegas.
"It's okay, saya terima keputusan kamu. Berarti kamu gak pengen saya kasih tahu tentang bisnis yang dijalankan suami kamu kan? Kalau begitu, kamu sabar aja karena gak banyak yang bisa kasih tahu kamu soal itu!" ucap Mario tersenyum puas.
"Saya bisa cari tahu sendiri, saya gak butuh bantuan anda!" sentak Maysa.
Setelah itu, Maysa pun memutuskan pergi dari sana melewati tubuh Mario tanpa mengatakan apa-apa lagi. Ia sudah terlewat kesal dan tidak mau mendengar apapun dari mulut lelaki itu saat ini, karena ia tahu Mario hanya ingin memanfaatkan dirinya dengan berpura-pura hendak memberitahu mengenai bisnis Harold.
"Maysa tunggu!" tiba-tiba saja, Mario berteriak dan kembali mendekati wanita itu.
Sontak Maysa terkejut lalu spontan menghentikan langkahnya, ia menoleh ke arah Mario dengan wajah bingung sembari mengernyitkan dahinya. Kini Mario tersenyum menatapnya, pria itu mengambil sesuatu dari dalam saku celananya.
"Ambil ini, nanti kalau kamu berubah pikiran silahkan datang ke alamat yang tersedia di kartu itu!" ucap Mario seraya memberikan kartu nama pada Maysa.
Maysa melongok saja dibuatnya, ia tatap kartu nama itu tanpa berniat mengambilnya. Ya justru Maysa menolak mentah-mentah tawaran dari pria itu, kemudian berbalik dan kembali melangkah menuju mobilnya. Mario pun hanya bisa menggeram kesal, kedua tangannya terkepal menandakan betapa emosinya pria itu saat ini.
•
•
Bruuukkk
Satu persatu anak buah Jeevan mulai berguguran di depan sana, peluru dari Rendy berhasil membuat mereka semua terkalahkan saat ini. Rendy pun merasa sangat puas, ia tersenyum tipis lalu meletakkan senjatanya. Kini setelah semua berhasil dikalahkan, maka Rendy bisa lebih leluasa menemui Jeevan dan meminta kembali barang miliknya.
Melalui kode matanya, Rendy mengajak Harold beserta anak buahnya untuk masuk ke dalam dan mencari keberadaan Jeevan. Namun belum sempat melangkah, mereka sudah dikejutkan dengan keberadaan Jeevan bersama pasukannya. Rendy tampak senang dengan kemunculan Jeevan, karena ia tidak perlu repot-repot lagi mencarinya.
"Berani sekali kalian mengusik tempat saya, apa kalian mau cari gara-gara dengan saya?" ucap Jeevan menggeram kesal.
"Kamu sendiri yang memulai lebih dulu Jeevan, andai saja kamu tidak mengganggu bisnis saya maka saya juga tak akan melakukan ini semua ke kamu!" balas Rendy.
"Maksud anda apa? Dengar ya mister Rendy, saya tidak pernah melakukan apa-apa seperti yang anda tuduh barusan!" elak Jeevan.
"Masih saja kamu mau mengelak ya, padahal sudah jelas kalau kamu dan pasukan kamu lah yang mencuri barang-barang milik saya di pelabuhan tadi!" ucap Rendy.
"Jangan sembarangan menuduh mister! Saya tidak pernah melakukan itu, saya juga tidak mau tahu soal bisnis kalian!" ucap Jeevan dengan tegas.
"Banyak omong, serang!"
__ADS_1
Rendy memerintahkan anak buahnya untuk maju menyerang Jeevan beserta pasukannya itu, lalu tanpa berlama-lama lagi mereka semua mulai bergerak maju dan menghabisi seluruh pasukan Jeevan secara cepat. Tak lupa Harold juga ikut menyerang, kini pria itu berhadapan satu lawan satu dengan Jeevan yang dikenal cukup kuat.
"Haha, sekarang anda sudah jadi budak mister Rendy? Saya gak nyangka, sejauh ini anda mundur dari posisi anda!" ucap Jeevan mengejeknya.
"Cih, saya begini karena saya perduli dengan keluarga saya! Sekarang anda lebih baik mengalah, saya tidak ingin menghabisi orang untuk saat ini!" ucap Harold.
"Jangan sombong anda Harold! Anda lupa bagaimana saya mengalahkan anda saat itu?" ucap Jeevan terkekeh kecil.
Harold menyeringai dan langsung maju menyerang Jeevan dengan cepat, ia tak ingin membuang waktu karena ia sudah tidak sabar untuk segera pergi dari sana menemui Maysa dan putrinya. Namun, Jeevan juga tak semudah itu untuk dikalahkan oleh Harold dan butuh banyak tenaga bagi Harold untuk bisa melakukan itu.
Sementara Rendy hanya memantau dari tempatnya, ia melirik ke sekeliling berusaha mencari tahu dimana Jeevan menyembunyikan barang miliknya. Lalu, Rendy pun menyusup masuk ke dalam sana untuk mengambil kembali miliknya. Ya tentu saja tak ada yang dapat menghalanginya, karena seluruh pasukan Jeevan tengah sibuk saat ini.
Pertarungan antara Harold dan Jeevan berlangsung cukup sengit, keduanya saling berbalas pukulan dan sulit untuk menentukan siapa yang menang atau lebih kuat saat ini. Seluruh pasukan Jeevan juga berhasil menjatuhkan anak buah Rendy meski jumlahnya lebih sedikit, ya kini berganti Harold lah yang tertekan dan kesulitan.
"Hahaha, segini doang kemampuan anda Harold? Memang lemah!" ejek Jeevan.
Emosi Harold tersulut dan membuatnya bertambah semangat untuk menghabisi pria di hadapannya itu, tetapi justru Jeevan yang berhasil memukul wajah Harold berkali-kali sampai lelaki itu tersungkur ke jalan sembari memegangi wajahnya. Jeevan menyeringai puas, lalu mendekat dan menginjak kaki Harold dengan kasar.
"Aaakkhhhh!!" pekikan keras keluar dari mulut Harold, ia merasakan sakit yang amat sangat setelah perbuatan Jeevan barusan.
•
•
Sementara itu, Rendy yang berhasil menyusup tampak tengah mengelilingi markas Jeevan demi bisa menemukan barang miliknya. Namun, Rendy cukup kesulitan karena tata letak disana yang begitu membingungkan. Ia sendiri juga tak tahu apakah benar Jeevan yang mengambil barangnya, karena ia tidak memiliki bukti apapun itu.
Disaat ia sedang berkeliling di sekitar sana, tanpa disengaja ia malah melihat para pegawai Jeevan yang bersembunyi di kolong meja. Terdapat banyak wanita serta beberapa lelaki yang mungkin tak bisa berkelahi, mereka terus bersembunyi dan tampak ketakutan setelah melihat Rendy masuk ke dalam sana dengan membawa senjata.
Rendy sangat kesal saat ini, ia tidak tahu lagi harus mencari barang itu kemana. Akhirnya ia memutuskan keluar dari ruangan itu dan kembali menemui pasukannya, tetapi tanpa diduga ia malah melihat seluruh pasukannya tergeletak bersama Harold yang juga ikut terbaring kesakitan disana sambil mengerang panjang.
"Apa-apaan ini? Harold memang tidak bisa diandalkan, bisa-bisanya dia kalah dari Jeevan! Sia-sia saja saya meminta bantuan dia, dasar lemah!" gumam Rendy tampak emosi.
Kini Rendy mengambil kembali senjatanya dan menodongkan itu ke arah kepala bagian belakang Jeevan sembari melangkah mendekatinya, mau tidak mau Rendy melakukan itu agar Harold bisa selamat dan berhutang padanya. Selain itu, Rendy juga masih membutuhkan Harold karena kemampuan pria itu dalam meracik strategi.
"Lepaskan dia, Jeevan! Saya bisa hancurkan kepala kamu sekarang juga!" ancam Rendy.
Jeevan yang mendengar itu seketika terkejut, ia menoleh ke belakang dan terbelalak melihat Rendy yang sedang berjalan sambil menodongkan senjata ke arahnya. Hal itu langsung dimanfaatkan oleh Harold, dengan cepat Harold menendang perut Jeevan menggunakan kakinya yang lain dan berhasil membuat Jeevan terhuyung ke belakang.
Bugghhh
Setelah itu, Harold bergegas bangkit dan menghampiri Jeevan lalu melayangkan tinjuan untuk yang kedua kalinya. Bertubi-tubi Harold melakukan itu, sampai-sampai Jeevan tersungkur dan tak berdaya lagi. Melihat semangat Harold yang begitu menggebu, pasukan lainnya pun ikut bangkit lalu menghajar anak buah Jeevan secara membabi buta.
"Heh! Siapa yang lemah sekarang, ha?" Harold menarik kerah baju Jeevan, menatapnya tajam sembari hendak memukulnya kembali.
"Saya akan habisi kamu, kalau kamu tidak mau mengatakan dimana kamu menyembunyikan barang itu!" Harold begitu emosi dan tak main-main saat ini dengan ucapannya.
Rendy tersenyum mendengar dan melihat secara langsung tindakan Harold saat ini, ia senang karena Harold sepertinya sudah benar-benar membelanya. Meski begitu, Rendy tetap harus waspada karena Harold adalah pria yang licik. Kini Rendy ikut mendekati mereka, memaksa Jeevan agar segera mengatakan dimana barang miliknya.
"Sudah saya bilang daritadi, barang itu tidak ada sama saya. Bukan saya yang mengambil barang itu, jadi kalian sebaiknya pergi dan jangan cari gara-gara disini!" sentak Jeevan.
"Jangan bohong kamu! Katakan sekarang dimana barang itu, atau saya habisi kamu!" geram Harold.
"Saya gak bohong, memang bukan saya yang melakukan itu! Lagipula, apa buktinya jika saya yang mengambil barang itu?" ucap Jeevan.
__ADS_1
Harold terdiam seraya memalingkan wajahnya, ia juga tak memiliki bukti apa-apa kalau Jeevan lah yang melakukannya. Ia melirik ke arah Rendy, lalu tampak Rendy juga menggelengkan kepalanya seolah bingung harus melakukan apa. Harold pun melepaskan Jeevan, tapi sebelum itu ia kembali meninjunya untuk yang terakhir kali.
•
•
Maysa pun tiba di depan sekolah Zanna untuk menjemput gadis itu, ia bersama sang supir memang sengaja datang kesana setelah urusan Maysa selesai di kantor Harold tadi. Ya walau Maysa tak mendapat apa yang ia inginkan, namun setidaknya ia tahu jika Harold memiliki bisnis lain yang belum diketahui olehnya.
Tentu saja Maysa akan menanyakan itu kepada suaminya nanti, Maysa masih sangat penasaran mengenai bisnis lain yang dijalankan Harold. Namun, saat ini hanya Harold sendiri lah yang bisa memberikan jawaban itu tanpa syarat. Maka dari itu, Maysa harus bersabar menunggu Harold sampai pulang ke rumah menemuinya.
Setelah itu, Maysa langsung turun dari mobilnya dan melangkah menuju sekolah tersebut dan menunggu Zanna seorang diri. Wanita itu masih juga memikirkan bisnis apa yang dijalankan Harold saat ini, ia merasa jika pria itu menyembunyikan banyak hal darinya yang hingga kini belum diketahui olehnya dan entah seberapa banyak.
"Mas Harold kerja apa sih? Aku heran banget sama dia, kenapa coba dia harus sembunyiin itu dari aku?" gumam Maysa kebingungan.
"Mama!" tiba-tiba saja, Zanna muncul dan langsung memanggilnya dengan antusias.
Sontak Maysa tersadar dari lamunannya, lalu reflek menatap ke arah Zanna sambil tersenyum lebar dan membungkukkan tubuhnya. Maysa pun menaruh dua tangannya di pundak Zanna, memeluknya erat sembari mengusap punggung gadis itu. Zanna juga merasakan hal yang sama, ya Zanna amat senang karena Maysa ternyata mau datang menjemputnya.
"Aku senang deh mama bisa jemput aku. Padahal kata mama Clara, mama ini gak sayang sama aku karena lagi gak ada papa. Eh ternyata ucapan mama Clara itu bohong ya, ma?" ucap Zanna.
Maysa tersentak mendengarnya, ia geram dengan sikap Clara yang malah menjelekkan dirinya di depan Zanna. Maysa pun berusaha meyakinkan pada Zanna, kalau dirinya amat menyayangi gadis itu dan sudah menganggapnya seperti anak sendiri. Maysa juga meminta Zanna untuk tidak terlalu percaya dengan perkataan Clara, karena Clara hanya ingin mengadu domba mereka saja.
"Zanna sayang, kamu jangan dengerin omongannya mama Clara lagi ya! Mama ini sayang banget kok sama kamu, gak mungkin lah mama cuma baik sewaktu ada papa doang. Zanna percaya kan sama mama?" ucap Maysa.
Zanna mengangguk perlahan, "Percaya kok ma, aku juga kan sayang sama mama Maysa!" ucapnya.
Maysa tersenyum puas mendengarnya, ia senang lantaran Zanna lebih mempercayai dirinya dibanding Clara saat ini. Maysa pun kembali memeluk gadis itu dengan erat seolah tak ingin melepasnya, ia luapkan semua kesenangan sekaligus kesedihan yang ia tahan sedari tadi. Bila bersama Zanna, entah kenapa Maysa selalu dapat merasa tenang.
"Zanna!" namun, secara mendadak seseorang muncul dari belakang dan memanggil nama gadis itu.
Dikala Zanna dan Maysa menoleh ke arahnya, mereka terkejut ketika menyadari yang hadir adalah Clara alias ibu kandung dari Zanna sendiri. Zanna tampak melebarkan matanya, ia tak percaya jika Clara juga akan hadir disana. Kini Zanna dibuat bingung harus melakukan apa, ia juga takut kalau Clara berbuat nekat dan melukai Maysa lagi.
"Sayang, kamu kok masih aja mau sih dipeluk sama perempuan sok baik ini? Mama kan udah bilang sama kamu, kamu harus hati-hati dan jangan mudah percaya dengan orang yang baru kamu kenal! Apalagi sama dia!" ucap Clara ketus.
Deg
Perasaan Maysa benar-benar sakit mendengar ucapan menohok Clara itu, ia emosi dan tentu saja tak terima dengan apa yang dikatakan Clara tentang dirinya. Terlebih, Clara mengatakan hal itu di hadapan Zanna yang pastinya bisa membuat Zanna salah paham lalu malah ikut membencinya.
Clara pun berniat memisahkan Zanna dari Maysa, ia kini menarik paksa tubuh Zanna dan meminta gadis itu mau ikut bersamanya. Namun, tak semudah itu bagi Clara untuk mewujudkan keinginannya. Ya Zanna bertahan cukup kuat sambil memegangi tangan Maysa, hal itu menandakan jika Zanna lebih memilih bersama Maysa dibanding Clara.
"Ayo sayang, kamu harus ikut mama! Mama ini yang udah melahirkan kamu, bukan dia! Kenapa kamu malah lebih pilih dia dibanding mama?" sentak Clara.
"Gak mau ma, aku maunya sama mama Maysa!" ucap Zanna dengan mata berkaca-kaca.
"Kamu itu benar-benar susah dikasih tahu ya! Ayo ikut mama, jangan bandel Zanna!" Clara terus memaksa dan mencoba menarik lengan Zanna.
"Akh mama, sakit ma!" Zanna merintih menahan sakit ketika lengannya ditarik cukup kuat.
Maysa yang melihat itu tidak tinggal diam, ia berusaha menghentikan semuanya dengan cara mendorong Clara secara kasar sampai terhuyung dan terjatuh dalam posisi duduk. Clara tak mengira hal itu akan terjadi, karena sebelumnya Maysa tidak pernah berani melawannya atau membalas semua tindakan yang dia lakukan kepadanya.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
__ADS_1