
Maysa masih tak menyangka kalau ternyata bisnis gelap yang dijalankan suaminya adalah penjualan senjata ilegal, tentu saja Maysa merasa kecewa dengan Harold karena sudah menafkahi keluarganya menggunakan hasil uang gelapnya itu. Selama ini Maysa mengira Harold adalah orang baik, tapi nyatanya Harold tak lebih dari sosok pria jahat yang melakukan pekerjaan ilegal di belakangnya.
Harold sendiri merasa lega setelah berhasil bercerita kepada istrinya mengenai bisnis itu, meski ia sempat menyesal karena telah melakukan itu. Harold kini khawatir Maysa akan menjadi incaran dari para musuh-musuhnya, namun pastinya Harold tidak mungkin membiarkan Maysa terluka dan akan terus berusaha melindungi wanita itu agar tidak ada yang bisa melukai sang istri tercintanya itu.
"Mas, jadi selama ini kamu jualan senjata? Kamu kenapa gak pernah bilang sih sama aku, ha? Kalau tahu begini, aku gak akan mau nikah sama kamu!" ucap Maysa tegas.
Deg
Harold sampai terbelalak mendengar ucapan spontan istrinya, ia tak menyangka Maysa justru semakin marah padanya saat ini. Bahkan, Maysa juga mengatakan bahwa dia menyesal telah menikah dengannya. Sungguh kata-kata itu amat menyakiti Harold, karena yang ia tahu Maysa sudah benar-benar mencintainya selama ini.
"Maksudnya gimana sayang? Kamu nyesel nikah sama aku?" tanya Harold terheran-heran.
"Bisa dibilang begitu, andai aja kamu jujur dari awal soal pekerjaan kamu mas. Mungkin sekarang ini kita gak akan menikah," jawab Maysa tanpa ragu.
"Kamu kok bilangnya gitu sih sayang? Emangnya kamu gak cinta sama aku?" ucap Harold.
Maysa sontak memalingkan wajahnya dan menarik lepas tangannya dari genggaman sang suami, ia meneteskan air mata seolah menandakan kekecewaan yang ada di dalam dirinya. Harold pun memahami apa yang dirasakan Maysa saat ini, karena pastinya sangat berat bagi Maysa untuk menerima semua yang terjadi.
"Aku minta maaf mas, aku cinta kok sama kamu! Tapi, aku gak suka sama bisnis yang kamu jalani itu. Sekarang kalau emang kamu mau pertahankan rumah tangga kita, sebaiknya kamu tinggalin bisnis gelap kamu dan fokus ke aku!" pinta Maysa.
Kembali Harold dibuat terkejut dengan permintaan yang diajukan istrinya, ia kini sangat bingung harus melakukan apa. Harold tak mungkin meninggalkan bisnis yang ia jalani itu, namun ia juga tidak akan mungkin mengakhiri hubungannya dengan Maysa. Apalagi, Harold sangat menyayangi Maysa dan menganggap Maysa sebagai separuh nafasnya.
"Sayang, udah ya kita gausah bahas lagi soal itu? Aku janji gak akan menggunakan uang hasil senjata itu untuk menafkahi kamu ataupun calon anak kita di perut kamu, aku mohon sayang maafin aku ya cantik!" ucap Harold berusaha membujuknya.
"Tetap aja mas, aku gak suka kamu punya bisnis gelap kayak gitu. Aku takut terjadi sesuatu yang buruk sama kamu mas!" ucap Maysa.
Kali ini Harold tersenyum mendengar kekhawatiran yang Maysa tunjukkan, ia pun mendekat dan menangkup wajah istrinya itu dengan antusias. Harold sangat senang karena ternyata Maysa masih perduli padanya, meski saat ini Maysa juga belum mau menunjukkan sikap manisnya seperti dulu dan tetap memperlihatkan wajah kesalnya.
"Aku ngerti kamu khawatir sama aku, itu tandanya kamu sayang dan perduli sama suami kamu yang tampan ini," kekeh Harold.
"Ih apa sih mas? Gausah senang dulu ya kamu, aku ini bilang begitu supaya kamu mau berhenti dan gak jalanin bisnis gelap itu lagi! Sekarang kamu pilih, mau tetap ada di bisnis itu atau enggak!" ucap Maysa tegas.
"Eee aku...." Harold tampak bingung, ia menunduk lesu dan mengerutkan keningnya.
•
•
Cup!
__ADS_1
Satu kecupan mendarat di bibir Maysa, wanita itu sampai membelalak dan reflek memegangi bibirnya serta menatap ke arah Harold. Mereka kini tengah berada di dalam mobil, setelah sebelumnya Harold mengajak Maysa untuk pergi bersamanya. Maysa tak menolak, tak juga menyetujui ajakan itu karena ia hanya terdiam saja sedari tadi. Namun, Harold menganggap diamnya Maysa sebagai kata iya dan Harold pun langsung menarik lengan Maysa.
"Kamu apa-apaan sih, mas? Malu tau sama pak Adam, kamu mending jauh-jauh deh sana jangan ciumin aku terus!" ucap Maysa cemberut.
"Buat apa malu coba? Kita ini suami-istri loh, udah sepantasnya aku cium kamu kayak gitu. Lagian Adam juga gak mungkin protes, dia itu kan kerja sama aku," ucap Harold tersenyum lebar.
"Ya tetap aja, aku gak suka kamu main cium aku sembarangan kayak gitu!" ketus Maysa.
"Salahnya dimana? Apa karena bisnis aku itu, kamu jadi jijik terus gak mau dicium lagi sama aku?" tanya Harold.
Maysa tak menjawab pertanyaan suaminya, ia malah memalingkan wajahnya dan tidak mau lagi menatap ke arah Harold. Tentu saja Harold merasa heran, padahal tadi pria itu sudah berkata jujur pada Maysa sesuai permintaannya. Namun, sekarang ini Maysa justru masih saja cuek padanya dan bahkan tidak mau dicium olehnya.
"Sayang, aku harus gimana lagi sih biar kamu gak ngambek sama aku? Aku ajak honeymoon kamu gak mau, sekarang aku cium juga kamu gak mau. Terus kamu maunya apa sayang?" tanya Harold.
"Pake nanya lagi, jelas lah aku tuh mau kamu keluar dari bisnis gelap kamu itu!" jawab Maysa tegas.
Deg
Harold benar-benar tak menyangka dengan permintaan istrinya, kini ia menepuk jidat dan terlihat semakin bingung harus melakukan apa. Jika ia memaksa keluar dari bisnis senjata itu, maka pasti Rendy akan melakukan sesuatu yang buruk padanya atau bahkan pihak keluarganya. Tentu Harold tak mau itu terjadi, karena ia tahu Rendy bukan orang sembarangan dan dia patut diwaspadai.
"Kamu gak ngerti keadaan aku sayang, aku gak bisa keluar dari bisnis itu sekarang. Aku mohon, kamu ngertiin aku ya!" ucap Harold memelas.
"Gak bisa sayang, semua gak semudah yang kamu bayangkan. Aku minta maaf sama kamu, tapi aku janji kalau aku akan usahakan untuk keluar dari bisnis ini nanti!" ucap Harold.
"Kenapa gak sekarang aja sih mas? Aku tuh mau kamu kerja yang benar-benar aja mas, aku gak mau kamu terlibat dalam bisnis gelap ini," ucap Maysa.
"Iya sayang, aku ngerti kamu khawatir sama aku. Aku juga khawatir sama kamu, itu sebabnya kenapa aku gak bisa keluar sekarang. Kamu ngertiin aku ya, nanti begitu situasinya memungkinkan pasti aku bakal keluar dari bisnis ini!" ucap Harold.
"Terserah lah," Maysa tampak kesal dan langsung melipat kedua tangannya sembari merengut.
Drrrtt drrrtt
Tiba-tiba saja, ponsel milik Maysa berdering dan membuat wanita itu harus membuka tasnya untuk mengambil ponsel tersebut. Maysa terbelalak ketika melihat Saskia menelponnya, ia pun penasaran dan langsung mengangkat telpon itu untuk mencari tahu apa yang hendak disampaikan adiknya.
📞"Halo Saskia! Kenapa kamu telpon aku?" tanya Maysa dengan wajah penasaran.
📞"Gawat mbak! Ibu, penyakit ibu kambuh lagi!" jawab Saskia terdengar panik.
📞"Apa??" Maysa terkejut bukan main.
__ADS_1
•
•
Disisi lain, Mawar sudah bersiap untuk pergi bekerja seperti biasa dan meninggalkan apartemen milik Javier karena ia merasa sudah terlalu lama tidak datang ke tempat bekerjanya. Ya gadis itu tak tahu sampai kapan akan tetap tinggal disana, sebenarnya ia sudah tidak tahan ingin segera pulang ke rumah.
Akan tetapi, tanpa diduga Javier justru muncul secara mendadak di hadapannya dan memberikan tatapan tajam ke arahnya. Javier tampak tidak suka dengan niat Mawar yang ingin pergi dari sana, sebab pria itu masih menginginkan keberadaan Mawar. Semenjak adanya Mawar disana, hidup Javier jadi lebih mudah karena ada orang yang mau membantunya beberes dan membuatkan makanan.
"Mau kemana kamu, Mawar? Aku kan udah bilang sama kamu, jangan pernah kamu pergi dari sini tanpa seizin aku! Kenapa sekarang kamu malah mau pergi diam-diam, ha?" sentak Javier.
Mawar cukup kaget mendengarnya, "Umm, aku cuma mau kerja kak. Aku udah lama gak kerja, semenjak aku bantu kamu disini. Aku juga butuh uang kali kak, tolong biarin aku kerja kali ini!" ucapnya dengan lirih.
"Buat apa? Kalau kamu perlu uang, kamu minta aja sama aku Mawar! Aku bisa kasih berapapun yang kamu mau, tinggal bilang aja!" ucap Javier.
Mawar menggeleng perlahan, "Gak kak, aku gak mau dapat uang dari kamu. Apalagi, aku juga kan bukan siapa-siapa kamu. Aku gak enak lah kalau minta uang ke kamu," ucapnya menolak.
"Kamu gak perlu ngerasa gak enak gitu kali, aku ikhlas kok. Lagian kamu belakangan ini udah banyak bantu aku loh, kamu pantas dibayar!" ucap Javier.
"Gak mau kak, aku mau kerja aja. Kamu tolong jangan halangi aku buat kerja ya, karena aku udah hampir gak pegang uang lagi sekarang!" ucap Mawar merengek.
Javier menghela nafasnya dan menggeleng dengan cepat, ia heran mengapa Mawar sulit sekali diberitahu dan tetap ingin pergi bekerja. Padahal, Javier sudah berulang kali mengatakan kalau ia tidak akan membiarkan Mawar pergi dari sana. Ya Javier ingin Mawar hanya menjadi miliknya, dan tidak boleh ada orang lain yang merebut gadis itu darinya walau sebentar.
"Maaf Mawar, tapi aku gak bisa kasih kamu izin buat pergi bekerja! Aku mau kamu tetap disini sama aku, atau aku akan bersikap kasar sama kamu!" ucap Javier sedikit mengancam.
Mendengar itu, Mawar sontak terperangah dan merasa bingung karena khawatir dengan ancaman yang diberikan Javier. Mawar tak tahu harus melakukan apa, terlebih pria di hadapannya itu terus berjalan mendekat ke arahnya. Bahkan, kini Javier juga meraih satu tangannya dan menggenggamnya dengan erat seolah tak ingin melepasnya.
"Mawar, sekarang kamu nurut sama aku ya! Kamu gak boleh kemana-mana, kamu harus tetap disini selamanya!" ucap Javier.
"Apa? Ta-tapi, perjanjiannya itu aku cuma ada disini sampai kamu sembuh dari sakit kamu ya kak. Kenapa sekarang jadi berubah kayak gini coba? Aku gak bisa, aku juga gak mau terus tinggal di apartemen kamu!" ucap Mawar berontak.
"Sssttt, tenang sayang gausah takut!" Javier menarik gadis itu dan mendekapnya dari samping.
Wajah mereka kini berjarak sangat dekat, sehingga jantung Mawar berdegup sangat kencang karena Javier menatapnya dan perlahan memajukan wajahnya lebih dekat serta bersiap menciumnya.
"Oh Tuhan, indah sekali ciptaan mu yang satu ini!" batin Javier.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
__ADS_1