
Sepulang dari cafe, Maysa kini tampak tengah menunggu taksi online yang ia pesan tepat di halaman depan cafe tempat ia bekerja. Suasana disana sudah cukup sepi, sebab para karyawan lainnya pun telah pulang ke rumah masing-masing begitu cafe ditutup tepat pukul sebelas tadi. Ya kini tinggal Maysa seorang disana, meski masih terlihat cahaya lampu dari post satpam di depan sana.
Ingatan mengenai kejadian sore tadi kembali terbayang di kepalanya, wanita itu sungguh tak percaya kalau Harold akan datang lagi menemuinya dan kembali menaruh luka pada dirinya. Maysa yang hendak belajar ikhlas dan melupakan kejadian dimana ia harus kehilangan mahkotanya, kini malah kembali dibuat tersakiti oleh ulah pria yang sama dan membuat dirinya semakin merasa kotor.
"Gue benar-benar bodoh, harusnya tadi gue lawan dia sekuat tenaga dan gue seret dia ke kantor polisi! Tapi ini gue malah cuma bisa diam dan pasrah, mana gue sempat keenakan lagi," batin Maysa.
Disaat Maysa terisak, tiba-tiba seseorang datang menyodorkan sapu tangan ke arahnya. Sontak Maysa terkejut, ia menoleh dengan cepat menuju asal sapu tangan itu berada. Dan dirinya kembali dibuat kaget, karena ternyata pria yang memberi sapu tangan itu adalah Javier alias pemilik cafe tempat dimana ia bekerja saat ini.
"P-pak Javier??" lirih Maysa dengan gugup dan rahang yang bergetar.
Javier tersenyum lebar melihatnya, "Ya Maysa, ini sapu tangan milik saya dan akan saya berikan untuk kamu. Saya tidak suka melihat wanita bersedih, kamu pakai saja ini ya supaya air mata kamu tidak mubazir," ucapnya lembut.
Maysa benar-benar syok mendengar ucapan sang bos, ia bahkan sampai tidak bisa berkedip menatap wajah pria tersebut. Bagi Maysa, ini kali pertama ia bertemu dengan pria sebaik Javier. Padahal yang ia tahu, Javier merupakan seorang bos besar di kota ini dan dia juga memiliki cafe yang bercabang dimana-mana sampai ke luar negeri.
Namun, sikap lelaki itu justru tak menunjukkan bahwa dirinya adalah seorang yang kaya raya. Dia tidak angkuh ataupun sombong, amat berbeda dengan Harold maupun Peter mantan kekasihnya. Maysa sampai terharu dengan perhatian yang diberikan Javier padanya, meski ia akan tetap waspada karena bagaimanapun Javier juga masih tergolong orang baru yang hadir di hidupnya.
"Kenapa kamu diam sambil ngeliatin saya terus? Awas naksir loh, saya gak tanggung jawab ya kalau kamu naksir sama saya!" goda Javier.
"Ahaha, bapak bisa aja. Saya cuma kagum sama bapak, karena bapak ternyata baik banget!" ucap Maysa sambil tersenyum.
"Saya memang begini kok, saya paling gak bisa lihat perempuan menangis. Oh ya, kamu bisa gak sih jangan panggil saya bapak terus? Saya ini masih muda, panggil aja saya mas atau kak gitu biar lebih enak!" ucap Javier protes.
"Eh iya iya, maaf mas saya lupa. Eee kalo gitu makasih ya atas perhatiannya?" ucap Maysa gugup.
__ADS_1
"Gapapa May, kamu mau pulang kan? Gimana kalau kamu bareng aja sama saya? Ini sudah malam loh, gak baik perempuan seperti kamu pergi sendirian," ucap Javier menawarkan diri.
"Hah? Duh gausah mas, nanti yang ada saya malah tambah ngerepotin mas Javier lagi!" tolak Maysa.
"Itu bukan masalah, Maysa. Kan saya yang menawarkan sendiri, lagipula saya juga gak mau karyawan saya kenapa-napa," ucap Javier.
"Tapi mas—"
Javier langsung mendekat dan membuat Maysa tidak dapat melanjutkan ucapannya, lelaki itu memberikan tatapan tajamnya sehingga Maysa sampai tak berkutik dibuatnya. Bahkan Javier juga meraih satu tangan Maysa, ia genggam dengan erat sembari memberikan senyumnya dan meminta wanita itu ikut dengannya.
Kali ini Maysa tidak bisa menolak, sepertinya ia telah terhipnotis oleh pesona yang diberikan Javier. Akhirnya Maysa pun memutuskan ikut bersama Javier menuju mobilnya, ya Javier berniat untuk mengantar Maysa ke rumahnya karena hari sudah malam. Tentu Maysa berharap jika Javier benar akan mengantarnya, meski ia sedikit takut.
•
•
"Kita sudah sampai, benar kan ini rumah kamu May? Atau aku salah ambil jalan tadi, soalnya kamu kebanyakan diamnya sih," ujar Javier.
"Eee ini benar kok mas, makasih ya udah anterin aku? Kalau gitu aku duluan ya?" ucap Maysa.
"Iya sama-sama, sampaikan salam saya ke keluarga kamu ya Maysa! Jangan lupa juga, besok kamu harus kembali bekerja!" ucap Javier.
"Siap mas, saya tidak mungkin lupa!" ucap Maysa tegas.
__ADS_1
Javier tersenyum lebar mendengarnya, ia senang dengan semangat Maysa yang ingin memperbaiki hidupnya. Meski Javier sendiri tahu kalau semua yang ia lakukan ini semata-mata hanya untuk membuat rencana kakaknya berjalan mulus, padahal Javier tidak tega melihat Maysa tersakiti karena perlakuan buruk Harold padanya.
Setelah Maysa turun dari mobilnya, kini Javier bergegas melaju pergi dan kembali ke rumahnya. Sedangkan Maysa sendiri tampak terus memperhatikan ke arah mobil Javier yang sudah menjauh, sampai ia tak sadar jika seorang pemotor datang menghampirinya tanpa menyalakan motor yang dia tumpangi itu.
"Ehem ehem!" pria itu berdehem menegurnya, membuat Maysa terkejut lalu menoleh ke arahnya.
"Peter?" ya Maysa sangat kaget karena ia melihat sang mantan kekasih disana, padahal sebelumnya Peter sudah mengatakan tak ingin lagi bertemu atau berurusan dengannya.
"Ohh, semudah itu ya kamu ngelupain aku? Baru juga kita putus beberapa hari, kamu udah dapat cowok baru aja," sindir Peter.
"Maksud kamu apa sih Peter?" tanya Maysa heran.
"Halah pake pura-pura segala, tadi itu kamu dianterin sama cowok kan! Dia pasti pacar baru kamu, aku gak nyangka sama kamu May! Katanya kamu trauma abis diperkosa, tapi kok cepat banget kamu buka hati buat cowok lain!" cibir Peter.
"Terserah kamu mau bilang apa tentang aku, intinya cowok tadi itu bukan pacar aku. Kamu tuh cuma salah kira Peter," ucap Maysa tegas.
"Salah kira gimana? Jelas-jelas dia nganterin kamu sampai depan rumah! Kalau emang dia bukan pacar kamu, terus dia siapa ha? Sugar daddy kamu, iya? Dan jangan-jangan sebenarnya kamu bukan diperkosa, tapi kamu dibeli sama om-om dan dipelihara kan!" ujar Peter.
Plaaakk
Maysa yang emosi langsung saja menampar wajah Peter dengan telapak tangannya, ia benar-benar tak terima karena Peter mengatakan demikian padanya. Itu merupakan sebuah penghinaan yang amat sangat, tentu saja siapapun perempuan di dunia ini tidak akan terima jika dirinya dihina seperti itu oleh orang yang dahulu pernah ia cintai.
...~Bersambung~...
__ADS_1
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...