Jebakan Satu Malam Duda Liar

Jebakan Satu Malam Duda Liar
Syarat aneh


__ADS_3

Harold masih berada di kantornya seorang diri dan tengah sibuk mengurus banyak pekerjaan miliknya, ia terlihat terus berkutat di depan layar laptopnya sambil mengerutkan keningnya. Rasanya ia begitu pusing karena kondisi keuangan perusahaan yang mulai menurun, apalagi kontrak kerjasamanya dengan perusahaan milik Mario yang ditahan tanpa alasan yang jelas dan membuatnya semakin pusing.


Biasanya Mario tidak pernah melakukan ini setiap kali mereka membahas perpanjangan kontrak, tapi kali ini semua sungguh berbeda dan Mario seolah sengaja menahan kontrak yang diajukan pihak Harold tanpa memberi alasan jelasnya. Tentu saja Harold tampak emosi, apalagi ia sudah kenal dengan Mario cukup lama dan ia rasa apa yang dilakukan Mario saat ini benar-benar kurang ajar.


Kini Harold harus memutar otak lebih keras lagi demi bisa mencari tambahan investor untuk bisnis yang ia jalani sejak lama itu, karena pamornya di dalam bisnis itu pun sudah mulai meredup dan tidak ada lagi pebisnis yang percaya pada proyek miliknya. Namun, pria itu tidak akan menyerah dan terus berusaha demi kebahagiaan keluarga yang ia cintai terutama istri dan juga anaknya.


TOK TOK TOK...


"Masuk!" Harold berteriak keras meminta seseorang di luar sana untuk masuk ke ruangannya.


Ceklek


Begitu pintu dibuka, Clarissa lah yang muncul di depannya dan langsung mendekat ke arah sang bos yang masih terduduk disana. Harold terlihat bingung mengapa sekretarisnya itu datang ke ruangannya, apalagi dengan kosong. Biasanya Clarissa hanya datang saat ada berkas yang harus ia tandatangani, atau karena ada tamu penting yang hendak bertemu dengan lelaki itu.


"Permisi pak, di luar ada pak Mario yang ingin bertemu dengan bapak! Sepertinya pak Mario mau membahas kontrak kerjasama yang bapak tawarkan kemarin," ucap Clarissa.


"Yasudah, suruh saja dia masuk dan lanjut bicara disini seperti biasa!" titah Harold.


"Baik pak, saya permisi!" Clarissa terlihat patuh dan kembali ke luar ruangan untuk memanggil Mario yang sudah menunggu disana.


Tak lama kemudian, Clarissa muncul lagi bersama Mario yang kini ada di sebelahnya. Harold pun mempersilahkan Mario untuk duduk, sedangkan Clarissa diminta keluar karena tugasnya saat ini sudah selesai dan dia harus kembali bekerja. Dengan senang hati Mario terduduk di hadapan Harold, ia tersenyum lalu fokus menatap wajah pria di depannya itu dengan santai.


"Mau apa anda datang ke kantor saya? Kalau cuma ingin menunda-nunda kontrak, lebih baik anda pergi saja sekarang!" ucap Harold dengan ketus.


"Sabar dulu pak Harold, dengarkan dulu saya bicara dan jangan dipotong!" pinta Mario.

__ADS_1


"Ya ya, silahkan bicara sekarang! Saya mau dengar, apa sih mau anda sebenarnya dan kenapa anda menahan kontrak dari saya!" tegas Harold.


Mario tersenyum dibuatnya, ia terlihat sengaja hendak membuat Harold terpancing emosinya dan menambah beban pikiran pria itu. Niat Mario datang kesana memang belum untuk menyetujui tawaran pembaruan kontrak dari Harold, apalagi ia merasa tidak ada untungnya terus berinvestasi di perusahaan milik Harold yang sedang merugi itu.


"Saya sebenarnya kurang ingin berinvestasi disini, tawaran dari anda juga sulit untuk membuat saya tergoda. Saya rasa sudah terlalu lama kita bekerjasama dan tidak ada hasil yang memuaskan, bukan begitu?" ucap Mario.


"Lalu, kenapa anda datang kesini? Hanya ingin bikin saya emosi gitu?" tanya Harold tampak emosi.


"Saya cuma mau bilang, kalau saya bisa saja menerima tawaran kontrak anda ini Harold. Tetapi, saya punya satu syarat untuk anda!" jelas Mario.


"Apa itu?" Harold kembali bertanya padanya.


"Berikan istri anda kepada saya untuk saya cicipi, maka dengan begitu saya akan berinvestasi dalam jumlah besar di perusahaan ini!" jawab Mario.


Braakkk




Disisi lain, Maysa dibawa ke sebuah rumah oleh Peter yang ia sendiri tak tahu dimana sekarang posisinya berada. Maysa tampak pasrah saja mengikuti langkah kaki pria yang menculiknya, ia tak bisa melakukan apa-apa karena Peter cukup kuat dalam mencengkram tangannya dan tidak membiarkan Maysa bergerak lebih banyak saat ini.


Setelahnya, kini Maysa dibaringkan di atas ranjang yang empuk di dalam sebuah kamar yang luas dan juga mewah. Maysa melihat ke sekelilingnya, ia merasa asing dengan tempat itu serta tidak tahu ada dimana dirinya sekarang. Wanita itu amat rindu dan mencemaskan kondisi Zanna, namun saat ini ia tak bisa bertemu kembali dengan putrinya itu.


"Peter, kamu bawa aku kemana ini? Lepasin aku dong Peter, please! Aku harus ketemu sama anak aku, aku cemas banget sama dia Peter!" ucap Maysa merengek pada lelaki di dekatnya.

__ADS_1


Namun, Peter justru menggeleng dan tidak mau menuruti kemauan Maysa yang meminta dikeluarkan dari kamar itu. Ya sudah kepalang tanggung tentunya, karena Peter cukup sulit untuk membawa Maysa kesini sebelumnya. Sekarang dikala Peter sudah berhasil mewujudkan mimpinya, tak mungkin tentu Peter akan melepaskan Maysa lagi.


"Kamu gausah mimpi Maysa, kamu sekarang punya aku dan kamu gak akan bisa lepas dari rumah aku ini!" ucap Peter disertai senyum seringainya.


"Kamu gila Peter! Aku ini istri orang loh, menculik seorang wanita yang udah jadi istri orang itu dosa besar Peter. Kamu mending lepasin aku sekarang, dan aku janji gak akan laporin kamu!" ucap Maysa.


"Aku gak takut sama siapapun Maysa, aku lakukan ini bukan tanpa persiapan. Aku yakin gak akan ada yang bisa bebasin kamu dari sini!" ucap Peter.


"Sebaik apapun rencana kamu, tetap aja aku yakin kalau mas Harold pasti bisa bebasin aku dari tempat terkutuk ini! Kamu hati-hati aja Peter, sebentar lagi pasti suami aku itu akan selamatin aku dan kamu bakal ditangkap sama dia!" ucap Maysa.


"Coba aja, aku yakin suami kamu gak akan bisa tembus tembok pertahanan aku!" ucap Peter.


Maysa tetap yakin kalau tidak lama lagi ia akan dibebaskan dari sana oleh suaminya, karena kini ia hanya dapat menggantungkan harapan kepada sang suami untuk bisa menyelamatkannya. Tentu Maysa tidak mau terus berada disana, apalagi bersama seorang lelaki yang merupakan mantan dan masih mencintainya itu.


"Aku pergi dulu ya, aku akan belikan makanan buat kamu. Jangan berpikir untuk kabur, karena kamu gak akan bisa melakukan itu!" ucap Peter.


"Terserah kamu," Maysa tampak jutek dan memalingkan wajahnya dari si pria.


Peter tersenyum lebar melihat ekspresi yang ditunjukkan Maysa saat ini, ia yakin lambat laun Maysa pasti bisa menerima semuanya dan akan kembali mencintainya. Meski cukup sulit, namun Peter akan terus berusaha demi bisa memiliki Maysa kembali seutuhnya sebagaimana yang dulu ia lakukan saat masih bersama wanita itu.


Kali ini Peter melangkah ke luar kamar meninggalkan Maysa sendirian disana, sesuai ucapannya tadi Peter pun pergi untuk mencari makanan yang bisa ia berikan kepada Maysa. Tentu saja bukan hanya sebuah makanan biasa, melainkan Peter sudah berniat menaruh sesuatu di dalam makanan yang nanti akan ia berikan itu.


Sementara Maysa sendiri masih tampak berbaring di ranjang sembari mengusap perutnya yang sudah mulai membesar, tampaknya Maysa begitu sedih karena ia telah gagal menjaga diri untuk bisa tetap bersama Zanna di tempat tadi. Kini wanita itu malah dikurung di sebuah rumah yang asing baginya, membuat Maysa begitu ketakutan.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2