
Dia pun menutup kedua matanya, karena burung-burung itu yang hinggap di pohon membuatnya takut dan begitu menakutkan jika di tatap.
Peletak.
"Auh." Terdengar suara kesakitan. Membuat Adi merasa puas mengerjainya meski dirinya tersiksa dengan keadaan yang sekarang.
Setelah membuka mata, Dia celingukan mencari bosnya karena tak terlihat.
Huff.
Terdengar helaan nafas lega, karena bos gilanya benar-benar pergi.
"Dasar manusia aneh, kadang galak kadang bodoh, kadang kocak juga. Dasar kepribadian yang membingungkan" gerutu Dia yang masih diam di taman.
Sedang kan di dalam kamar mandi. Adi tak henti-hentinya mengumpat bocah itu karena dirinya memakai baju tipis tanpa menggunakan dalaman lagi, sehingga tercetak jelas gunung kembar miliknya. Baju yang basah membuat ia tahu BH warna apa yang dikenakannya.
Adi pria dewasa di tambah normal dengan jiwa lelakinya, lantas salah kah dirinya jika merasa kan sesuatu hingga membuatnya berhasrat saat melihat pakaian yang di kenakan Dia, yang tembus pandang itu.
Khan saya hanya melihat keindahan yang tuhan tunjukan thor.π
"Naik, naik. Kepuncak gunung tinggi, tinggi sekali, kiri kanan ku lihat saja banyak pohon cemara"
Ahhhh.."Lega"
Setelah bernyanyi sambil bersolo ria, Adi lantas keluar kamar mandi karena sudah meyelesaikan sesuatu.
Apaan thor?
Gak usah kepo deh elu thor, pengen tau aja.
Ya iyalah.
Tanya aja sendiri ngapain ke kamar mandi.
Ok lha aku cus mau tanya.
Di taman.
Dia sedari tadi di taman merasa bingung karena harus apa, karena yang punya rumah pergi entah kemana, setelah mendaratkan jemarinya di keningnya. Dan lagi pula Dia juga tak mungkin pulang dengan baju serta celana yang benar-benar basah oleh kelakuan bosnya itu.
Tak berapa lama Dia melihat Adi berjalan menuju ke arahnya yang sudah berganti pakaian.
Tak banyak omong, Dia langsung berbicara. Karena ingin segera pulang, karena tak mau setelah sampai rumah dirinya di jadikan santapan singa betina.
"Pak, saya mau pulang," ucap Dia.
"Lha kan tinggal pulang ngapa harus lapor saya, memangnya saya ajudan kamu apa." Dengan muka yang lebih segar Adi menjawab.
"Bapak benar-benar bodoh atau memang berlaga kagak tau sih!" Dia yang tak tahan akhirnya memarahinya dengan suara yang kencang.
"Kau beraninya mengatakan saya bodoh! Apa kamu mau saya pecat, Huh."
__ADS_1
"Enggak Pak, maaf tadi khilaf,"
"Khilaf, khilaf. Kepalamu! berani-beraninya kamu sama saya,"
"Ya kan saya sudah minta maaf."
"Baik saya memaafkan, tapi ada syaratnya, mau."
"Baik lah aku menerima tawaran Bapak asal saya jangan di pecat,"
Duh kenapa jadi bodoh sih elu De, kan salah lagi. Rutuk De, dalam hati dan mengumpat dirinya sendiri karena sudah lancang mengatai bos gilanya itu.
"Bikin kan saya kopi, jangan terlalu pahit dan jangan terlalu manis mengerti kamu! dan segeralah membuat, oh angkat kepalamu." Setelah itu Adi berjalan untuk duduk di bangku yang terdapat di taman sambil menunggu kopi pesanannya datang.
Belum juga Adi berjalan namun ia berbalik dan tertawa sekeras mungkin.
Gedebuk.
Anggap seperti itu yah suara seseorang yang sedang terjatuh.
"Auh, sakit." Dia meringis kesakitan bukan malah di tolong tetapi malah ditertawakan dengan tawa yang begitu nyaring.
Hahaha..
"Sukurin minum tuh air." Seakan puas dan Dia pun sesaat sudah mirip dengan komedi putar yang sukses membuat perutnya di kocok oleh tingkah Dia yang kocak.
Pluk.
Hahahaha.
Sekarang berganti Dia yang tertawa.
"Kau!" Sambil menuding namun ia tak melanjutkan ucapannya.
"Kenapa! Salah sendiri bukannya di tolongin malah terus menerus tertawa, apa saya sudah mirip dengan topeng monyet, makanya Bapak tertawa."
Bodoh lah jika harus di pecat, bisa gila gue lama-lama sama ini orang, batin Dia dalam hati.
"Lagian jalan itu pakai mata dodol,"
"Di mana-mana jalan itu pakai kaki, dasar bodoh! Kalau jalan pakai mata kakinya buat apa."
"Ini orang benar-benar bodoh, iya kali jalan pakai mata." gumam Dia.
Eh iya, ya kalau jalan pakai mata, terus kakinya buat apa dong, lagian mata kan gak punya kaki, kecuali mata kaki. dalam diam Adi merutuki kebodohannya.
"Bantuin napa Pak, jangan kek patung berjalan."
"Kau begitu menyebalkan."
"Apa Bapak juga tidak, tapi menurutku iya."
__ADS_1
"Setelah ini cucilah mukamu yang sudah di penuhi lumpur, karena kamu sudah mirip monster lumpur." Dengan senyuman yang mengejek Adi berjalan mendekati Dia, yang terbaring di tanah akibat terjungkal karena selang.
"Jika saya monster lalu Bapak apa," ucap Dia dengan dahi yang berkerut.
"Kelinci, imut kan." Telunjuk dari kedua tangannya di letakan di pipinya dengan cara menyilang, seakan-akan bahwa dirinya memang seekor kelinci yang sangat lucu.
Huekkk.
Seketika Dia berpura-pura untuk muntah, bisa-bisanya lelaki yang berada di hadapannya berkata jika ia mirip kelinci yang lucu.
"Yang ada jijik kali Pak," Dia yang berbicara sesekali dengan bergidik, bisa-bisanya dengan narsisnya ia berucap seperti itu.
"Sudah lah jangan banyak omong, sini tangan kamu."
Tanpa banyak kata kedua tangannya sudah di atas dan siap untuk menerima bantuan.
"Eh bocah, kamu makannya pakai besi ya, badan kurus tapi berat." Keluh Adi yang sudah menarik tangan milik Dia.
"Bapak laki apa bencong dari dari tadi ngeluh mulu, saya makan batu tadi pagi puas!" Dia lagi-lagi yang di buat kesal oleh Adi, langsung mengatainya.
Saking gregetnya Adi pun di tarik oleh Dia, dan akhirnya.
BRUK.
Auh.. Keluh mereka berdua karena jidat mereka saling bertatapan.
"Brengsek, bangun bodoh!"
Sudah kepentok eh sekarang malah di tindih malang nasib mu Dia.. Diaββ
Adi bukannya berdiri malah merasakan sengatan tawon yang membuat dirinya merasakan sensasi luar binasa.. Eh ralat ulang maksudnya luar biasa.
CUP..
"Bapakkkk..Brengsek awas kau." Entah keberanian dari mana tiba-tiba Adi mencium bibir Dia, hingga membuatnya murka.
Dan Adi, Adi benar-benar menjadi seorang yang teramat bodoh. Dia yang merasa kesakitan bukanya segera bangun malah menikmati naik ke atas gunung.
Plak.. Akhirnya Dia melayangkan tamparan di pipi mulus Adi, supaya sadar akan kelakuannya.
Setelah itu.
"Hye kenapa kau menampar saya!"
"Apa Bapak benar-benar buta, lihat lah sekarang Bapak berada di mana." Adi yang celingukan ternyata baru menyadari.
"Apa Bapak akan pura-pura telah mengambil ciuman pertama saya juga."
Matanya mendelik seakan tak percaya, jika dirinya berbuat mesum pada bocah.
"Kau berbo...." Belum sempat Adi berkata namun sudah mendengar teriakan dari seseorang yang teramat di kenali.
__ADS_1
"APA YANG KALIAN LAKUKAN HUH!"