Jodohku Di Tangan Duda Somplak

Jodohku Di Tangan Duda Somplak
130. HARI BAHAGIA (RIKY DAN CAHAYA


__ADS_3

Sesuai yang di bilang Dia, jika hari ini edo beserta anak dan istrinya akan berkunjung ke rumah Dia, sang adik satu-satunya.


Dia dan suaminya sudah menunggu kedatangan abangnya karena mereka bilang, setengah jam lagi akan sampai di kediaman Dia.


Saat Dia dan Adi tengah bersantai di ruang tamu, terdengar suara deru mobil yang terparkir di area depan rumahnya.


Tidak lama kemudian terdengar suara ketukan yang berasal dari pintu rumahnya.


Tok.


Tok.


Tok.


"Iya tunggu sebentar," Dia pun menimpali sebuah ketukan agar segera berhenti mengetuk.


"Pasti itu mereka, sayang." Adi pun yakin jika itu keluarganya.


"Hye apa kabar kalian."


"Kalian sehatkan," ucap Edo lagi.


"Apa dia pikir aku sedang tidak waras," gerutu adi di dalam hatinya.


"Apa kamu pikir kami sedang gila, makanya kalian bertanya sehat atau tidak!" ucapan Dia rupanya mewakili isi hati Adi sepertinya.


"Jadi saya salah dong," tukas Adi.


"Ya salah! Lagian tanya kabar kok sehat, tanya itu gimana keadaan kalian, baik-baik saja gitu kek." Dia berkata panjang lebar.


"Aunty, apa kita akan di sini terus dan tidak boleh masuk." Rupanya Satria yang berkata karena hampir 15 menit, mereka masih di depan tanpa menyuruh mereka masuk.


"Astaga, maaf ya lupa." Dia cengengesan sembari mempersilahkan ketiganya untuk masuk.


De, kamu tidak berubah ya, tetap bar-bar." Kini istri dari abangnya ikut angkat bicara mengenai sikap Dia, yang menurutnya hampir tidak ada perubahan.


"Lah si Mbak ipar ada-ada saja. Memangnya batuk apa bisa diobati, ini kan watak," ucap Dia dengan wajah bodohnya.


"Kamu memang selalu benar wahai adik ipar yang budiman." Akhirnya semua tertawa.


Saat ini di mana keluarganya sedang berkumpul di rumahnya, ada satu hal yang membuatnya sedih dan masih teringat, akan kenangan-kenangan bersama emak nya dulu.


Sekarang hanya tinggal nama dan sebuah Doa yang ia kirimkan pada emak nya, yang berada di atas sana. Tenang bersama sang ayah, bahagia dengan tuhan yang membawanya pergi ke tempat di mana para manusia akan kembali.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hari-hari yang sudah di nanti akan terlaksana. Di mana acara lamaran antara Cahaya dan Riki akan segera di mulai.

__ADS_1


Dengan hati yang bergetar serta keringat yang sudah sebesar biji kacang. Telah menghiasi wajah Riki. Dirinya pun tidak bisa memungkiri kalau saat ini dirinya amat risau. Kali pertama untuknya menyematkan cincin di jari seorang perempuan, yang nantinya akan menjadi istrinya.


Dengan mengenakan hem batik Riki terlihat sangat tampan. Sedangkan Cahaya masih di dalam kamar dengan seorang MUA atau yang di sebut (makeup artis) tengah mendandani Cahaya. Dengan polesan sederhana dan terlihat simpel, siapa sangka ternyata membuat Cahaya bak putri raja yang kecantikannya tiada duanya.


"Wah, tanpa polesan berlebihan, Mbak Cahaya begitu cantik sampai-sampai terpanah lho saya." Keterangan yang di berikan membuat Cahaya penasaran juga dengan ucapan MUA barusan.


"Masak sih," ujar Cahaya tidak percaya.


"Maka bercermin lah dengan benar, nanti Mbak Cahaya akan pangling dengan wajah Mbak sendiri." Jawab MUA tersebut.


Ucapan dari MUA tersebut membuatnya sedikit penasaran dan akhirnya Cahaya pun, bercermin dengan sungguh-sungguh untuk memastikan.


"Mbak, ini beneran saya." Dengan rasa tidak percaya Cahaya pun memastikan untuk melempar sebuah ucapan pada orang, yang sudah menyulapnya dengan begitu cantik.


Sedangkan di bawah semua orang sudah menunggunya untuk turun, hingga Rury pun memanggil untuk segera ke bawah karena, acara akan di mulai.


"Ay, kalau sudah selesai kita turun yuk. Semua sudah siap dan hanya tinggal menunggu elu doang," ujar Rury pada Cahaya.


"Iya, ini sudah selesai kok." Jawab Cahaya dengan tubuh yang sedikit gemetar akibat deg-deg kan karena kini, statusnya akan berubah jadi yang sebelumnya seorang pacar, kini menjadi seorang calon istri.


Wah ... Elu cantik banget, sampai pangling lho gue." Rury tak henti-hentinya memuji akan kecantikan Cahaya.


"Alah elu bisa saja," sela Cahaya yang merasa malah tidak senang saat di puji.


"Eh, di puji bukannya makasih malah kek gitu. Dasar manusia aneh," gerutu Rury pada Cahaya.


"Sudah lah lebih baik kita turun," ucap Rury.


Akhirnya mereka berdua turun dan pada saat berada di tengah-tengah tangga, semua mata tertuju pada Cahaya. Gaun yang menjuntai indah, rambut yang di curly serta di bentuk ke arah samping, membuat semua mata akan terpanah bila memandang.


Sosok Riki yang tak bisa mengalihkan pandangannya. Membuat seseorang harus menyikutnya agar segera sadar dari tatapan, yang membuat jiggong nya ajan jatuh.


Jantung keduanya sama-sama berpacu cepat, layaknya sedang menunggangi kuda yang sedang pacuan, tangan mereka sudah merasakan kebasahan akibat rasa grogi.


"Baik. Semuanya sudah berkumpul tinggal tukar cincin saja yang belum terlaksana. Jadi, mari kita mulai acara tukar cincinnya." Yang menjadi MC nya adalah Edo, jadi tidak terlalu banyak kata-kata yang di lontarkan karena memang dirinya, bukan ahli pembawa acara.


Saudara Riki bisa memasangkan cincin di jari manis milik Cahaya.


Setelah itu Riki mengambil cincin yang berada di kotak merah kecil, yang berisikan cincin tunangan yang sangat indah.


"Cahaya Adia Dwipangga, mau kau menjadi teman hidupku kelak?" tanya Riky sebelum cincin itu masuk di antara jemari milik wanita yang saat ini, tengah berbahagia.


"Iya aku mau." Cahaya menjawab dengan suara lirih.


"Maka dengan ini saya Riki Suseno mengikatmu, dengan cincin yang terpasang jarimu." Cincin itu akhirnya lolos dan masuk di jari manis milik Cahaya.


"Sekarang giliran kamu Cahaya, yang memasang cincin di jari milik calon suami kamu." Edi selaku pembawa acara pun menunjuk Cahaya untuk segera memasangkan cincin di jari milik Riki.

__ADS_1


Tidak ada kata-kata sebagai ucapan pada Riki. Dengan langsung memasukkan cincin itu di jari milik Riki, tandanya acara sudah selesai dan kini hany tinggal menyantap hidangan yang tersedia.


Acara tukar cincin berjalan dengan sangat lancar dan tidak ada kendala sedikitpun.


Di saat bersamaan Rury sedang berebut makanan yang berada di meja dengan anak bang Edo.


"Ini punyaku," kata Rury.


"Ini aku duluan yang ambil, kenapa kamu yang nyolot." Satria tidak terima dan terus mengambil kue tersebut dari tangan Rury.


"Kamu kan laki. Ngalah dong sama cewek!" sergah Rury.


"Tapi ini aku duluan yang ambil. Harusnya kamu yang ngalah," seru Satria.


"Kamu bener-bener ya, dasar bangsat."


Seketika Satria mendelik kan matanya.


"Apa kamu bilang,"


"Bangsat," ucap Rury enteng.


"Kenapa kamu jadi marah dan ngatain aku," ujar Satria.


"Siapa yang marah," ucap Rury.


"Itu barusan."


"Yang mana," kata Rury.


"Kamu ngatain aku bangsat, kalau bukan ngatain terus apa coba!" seru Satria dengan tatapan tidak suka.


"Cahaya panggil kamu dengan sebutan apa?" tanya Rury.


"Bang," jawab Satria.


"Nama panggilannya?" tanya Rury lagi.


"Bang Sat,"


"Eh, kamu ya. Darimana kamu tahu panggilan itu," ucap Satria tidak terima.


"Kagak penting."


Satria mengumpat habis-habisan. Kenapa bisa perempuan itu memanggilnya dengan sebutan 'bang Sat' itukan, panggilan khusus dari Cahaya yang selalu membuat mereka bertengkar.


"Ini pasti kerjaan si Cahaya," batin Satria karena selain Cahaya tidak ada yang memanggilnya seperti itu.

__ADS_1


__ADS_2