Jodohku Di Tangan Duda Somplak

Jodohku Di Tangan Duda Somplak
BAB 14. Membuatku Bangkrut Saja


__ADS_3

"Dasar adik laknat lu ya, bisa-bisanya mulut gue di sumpal pakai ikan asin." Edo terus saja mengumpat karena kelakuan sang adik yang brutal.


"Makanya jangan menari-nari di atas penderitaan orang, makan tuh. Amis, amis dah tuh." Dengan di iringi gelak tawa Dia merasa puas.


Sedangkan Emaknya kembali ke warung untuk membeli ayam untuk di buat lauk lagi, karena ulah sang putri membuat Emak Ita belanja dua kali pagi ini.


"Brengsek lu emang." Ucap Abangnya penuh dengan rasa kesal.


"Bodoh amat, wlek."


Di kamar.


Dia masuk kedalam kamar untuk melihat jam yang berada di gawai nya, namun ada beberapa panggilan yang ia tak tau, ternyata bosnya yang di beri si somplak baru saja menelpon sebanyak 6 kali.


Mau apa dia pagi-pagi sudah meneleponku. Batin Dia.


Akhirnya Dia, memutuskan untuk menelepon kembali bosnya yang di beri nama somplak itu di deretan nama kontak yang berada di gawai nya.


Tuut..


Panggilan pun terhubung.


["Ha..."] Belum sempat Dia bertanya namun sudah terdengar suara dari balik telepon yang begitu nyaring.


["Kamu sengaja ya, menolak telepon dari saya, huh."]


["Udah marahnya."] Jawab Dia dengan suara malas.


["Jika pagi Bapak menghubungi saya pagi-pagi buta juga percuma, lha emang saya gak butuh buat bantu-bantu Emak, dan beberes rumah, atau Bapak kira, saya ini orang kaya semua ada yang kerjain jadi saya leha-leha untuk mentengin ini HP."]


Ucapan Dia tak kalah menyakitkan di banding ucapan Adi.


Iya kali gue anak orang kaya, jam segini masih tiduran sambil main HP, dasar emang ya orang satu ini. Umpat Dia di dalam hatinya.


["kenapa ini bocah omongannya sudah mirip petasan saja sih"] gerutunya dengan Gawai yang masih menempel di telinga.


["kalau mau ngatain yang keras Pak."]


Adi langsung tercekat tatkala suara Dia, menyadarkan Adi dalam buai lamunan.


["Diam!"] bentak Adi di balik telepon.


["Saya hanya menyampaikan, kalau nanti ke rumah untuk mengantar makanan, masak masakan yang ada di rumah kamu."] Sambung Adi lagi.


["Apa Bapak ingin membuat saya bangkrut."]


["Bisa di bilang seperti itu, ya sudah awas kalau kamu sampai lupa, ingat saya gak akan segan-segan kick kamu."]


"Apa Ba...."

__ADS_1


Tut.


Tut.


"Dasar brengsek, berani-beraninya orang belum kelar ngomong sudah main di matiin. Aaaa sial, sial." Di dalam kamar Dia tak henti-hentinya mengumpat bos gilanya itu.


Satu kata yang saat ini di rasakan oleh Dia.


PUSING.


Bagaimana tidak, singa yang baru saja tertidur jika melihat Dia, memberantakan dapur. Bisa-bisa bangun lagi.


Apa gue jujur kali ya sama Emak, supaya gak dapat amukan lagi. Seperti itulah yang berada di otak Dia.


Kenapa pagi gue udah apes bener ya.


Akhirnya Dia pun memasak makanan seadanya yang berada di dapur, dalam hatinya masa bodoh jika bosnya tak menyukai menu yang ia buat saat ini.


Bau harum dari sambal ikan asin, dan tumis kangkung, membuat perut siapapun meronta-ronta untuk segera di isi dengan makanan.


"Alhamdulillah, kelar juga" gumam Dia.


Setelah masakan di tata rapi dan di letakkan di kotak makan, kini dirinya segera berjalan menuju kamar mandi untuk melakukan ritual wajibnya.


Tak membutuhkan waktu lama, sekitar 15 menit, Dia sudah selesai menjalankan ritualnya.


Celana jins dan hem lengan panjang menjadi pilihannya, serta rambut yang di kuncrit kuda membuat dirinya semakin terlihat masih bocah, tak ada polesan bedak yang menempel di wajahnya.


Dia sampai di depan rumah Adi, dan memarkirkan motornya di garasi, tanpa mengetuk pintu terlebih dulu, Dia menyelonong masuk, dan segera menuju ke dapur.


Aaaaaaaaaa.


Aaaaaaaaaaa.


Mereka berdua sama-sama berteriak sekencang-kencangnya.


Ada yang tau apa yang tengah terjadi, yuk lah jangan main tebak-tebakan langsung cus.


"Dasar gak punya malu!" dengan menutupi kedua matanya agar semakin tak terlihat pemandangan yang membuat kotor matanya.


"Dasar bocah ceroboh." Umpat Adi, pada Dia.


"Apa kau sengaja ingin melihatku sedang bertelanjang dada, dan hanya memakai handuk." Dengus Adi.


"Apa saya semesum itu."


"Saya tidak tahu."


"Aish, lebih baik Bapak segera masuk ke dalam kamar, lalu cepat berganti."

__ADS_1


"Memangnya kau siapa! Huh."


"Menurut Bapak saya siapa pakai tanya lagi. Ck..ck."


"Sekarang buka lah, karena aku memakai Bokser."


Tanpa curiga Dia pun membuka matanya dengan cepat, dan.


Aaaaaaaaa.."Bapak mesum."


Hahahaha..


"Sukurin emang enak di kerjain." Dengan berlari ke arah kamar, Adi sengaja menggoda Dia. Dengan hanya berbalut handuk sebagai penutup adiknya.


Ck..ck..Nasib-nasib kenapa aku apes mulu sih heran deh gue. Dalam hati Dia tak henti-hentinya merutuki hari kesialannya selama seharian ini.


Sedang kan di kamar, Adi tak henti-hentinya tertawa puas karena sukses mengerjai Dia.


Memakai lilitan handuk setelah mandi itu adalah kebiasaannya, namun siapa sangka jika hari ini Adi yang bak maling terpergok oleh pemilik rumah, membuatnya merasa malu, ya antara malu dan puas pastinya.


Kini Adi telah rapi, bau harum maskulin yang di dapat dari aroma Adi, membuat Dia sedikit terhipnotis, namun ia berusaha sadar akan tak terbuai oleh wewangian yang di pakai oleh Adi.


Dor.


"Bapak!" karena Dia sedikit terkejut oleh dirinya yang dikagetkan oleh Adi.


"Jangan bilang kalau kamu masih di penuhi oleh bayangan tadi, ngaku gak kamu, hayo ngaku."


"Bapak ini apaan sih, siapa juga yang nasih mengingat kejadian yang sangat memalukan itu." Sanggah Dia, karena dirinya tak terima jika Adi berujar seperti itu.


"Alah gitu saja kamu pakai malu."


"Bisa diam gak!" Dia yang tak tahan lagi akhirnya membentak Adi.


"Kamu berani sama saya."


"Bapak yang salah kenapa jadi nyerang balik saya sih." Dengan menghentakkan kakinya dirinya lalu mengambil piring untuk meletakkan tumis kangkung yang di bawanya dari rumah.


Lihat saja nanti apa yang terjadi setelah ini. Batin Dia, dengan senyuman licik yang terlukis di bibirnya Dia sudah tak sabar untuk segera melihat tontonan gratis.


"Apa kau tak waras sehingga tersenyum sendiri." Adi dengan memicingkan mata merasa aneh saat tak sengaja melihat wajahnya tiba-tiba tersenyum sendiri.


Aaaaa..Bapak, apa saya terlihat tak waras, hem, hem." Dengan suara yang menggoda serta menautkan kedua alisnya, membuat Adi bergidik ngeri.


"Apa kau sengaja menggodaku dengan suara jelek mu itu."


Bukannya menjawab Dia malah memainkan kedua matanya, dan itu membuat Adi semakin geli.


"Ingat kamu belum pantas jadi wanita penggoda karena keahlian mu masih kurang."

__ADS_1


Dia tak peduli dengan ocehan bosnya yang terpenting saat ini dirinya merasa puas.


__ADS_2