Jodohku Di Tangan Duda Somplak

Jodohku Di Tangan Duda Somplak
BAB 93. AKHIR DARI PERJUANGAN SEORANG IBU


__ADS_3

Sesampainya di rumah sakit, Adi memanggil suster, untuk ikut membantu sang istri.


"Sus, tolong istri saya."


"Baik Pak, tunggu sebentar." Kata suster itu memanggil seorang temannya untuk mengambil kursi roda.


"Suster sakit." Dia terus merintih kesakitan.


"Bapak mau menemani istrinya," ucap suster tersebut.


"Apa boleh?" tanya Adi.


"Tentu." Jawan suster.


Akhirnya Dia di bawa ke ruang bersalin dan dokter pun sudah ikut masuk ke ruangan tersebut.


"By, kemarilah." Dia memanggil suaminya untuk mendekat padanya.


Adi yang yang langsung mendekat, dan seketika berteriak.


Adoooh.


Aaaaaaa.


Argh..


Sedangkan dokter dan suster itu tertawa dalam hati karena baru kali ini mendapatkan, pasien seperti mereka.


Dia yang menyiksa suaminya secara brutal, membuat suster itu bergidik ngeri kala melihat wajah tampan, dan pakaian yang sudah amburadul.


"Bu, tarik nafas keluarkan pelan-pelan." dokter memberi instruksi pada Dia, agar si calon ibu tidak gugup.


"Semua ini karena kamu By, kamu yang ngebuat aku sekarat!" Dia berteriak mengoceh tak jelas, karena perpaduan antara sakit dan perjuangan. Membuatnya terus berteriak.


Astaga pasangan ini, batin suster.


Aaaaa.


"Sakit."


"Ayo, Bu dikit lagi! jangan di angkat bokongnya." dokter yang membantu persalinan Dia, memberi peringatan agar saat mengejan usahakan tidak mengangkat pantat.


Adi yang mulai penasaran pun bertanya, kenapa tidak di perbolehkan untuk tidak mengangkat bokong di saat mengejan.


"Dok, memangnya kenapa kalau di angkat?" tanya Adi dengan wajah yang sudah acak-acakan.


"Jika itu terjadi maka akan sobek, sampai ke anus." Jawab dokter dengan cepat.


Adi yang mendengarkan penjelasan pun, tak bisa membayangkan kalau itu benar-benar terjadi.


Dalam benak Adi, bagaimana bisa, lubang sekecil itu bisa mengeluarkan kepala bayi. Di tambah jika ceroboh maka bisa berakibat fatal.


Adi berjanji jika tak mau membuat istrinya hamil dan mempunyai anak lagi, karena ia tidak tega jika melihat istrinya kesakitan seperti sekarang ini. Apalagi penyiksaan yang di buat oleh Dia, membuat seluruh tubuh Adi berasa remuk bak tulang lunak.


"Ayo Bu, dorong terus. Sedikit lagi." teriak dokter antusias.

__ADS_1


"Bu, ayo, anda pasti kuat karena sudah terlihat kepalanya." Lantas dokter itu pun menjelaskan.


Di waktu dokter mengatakan kalau kepala bayi sudah terlihat, seluruh tubuh Adi tiba-tiba panas dingin.


Keringat yang bercucuran, serta rasa pusing tiba-tiba melanda tubuh Adi.


Semakin lama semakin tak terdengar suara riuh tersebut. Hinga tiba-tiba tubuh Adi tidak mampu menahan beban tubuhnya, hinga.


BRUKH.


Adi terjatuh karena pingsan dan tidak sadarkan diri di bawah.


Sedangkan suster dan dokter itupun begitu sangat bingung, akibat melihat suami dari Dia tengah tergeletak di bawah.


Akhirnya suster lah yang harus mengurus Adi, sedang dokter menangani Dia.


"Dokter sakit."


Dia terus merintih.


Aaaaaaaaa.


Oe.


Oe.


Oe.


Akhirnya perjuangan Dia membuahkan hasil, bayi yang di nanti-nanti telah terlahir ke dunia.


"Selamat ya Bu, bayi nya cantik." Sembari berkata dokter itu meletakkan malaikat kecil itu di dada sang ibu.


Sesaat Bu Rosma dan Mak Ita telah masuk untuk melihat keadaan anak, menantunya.


"De, selamat ya. Sekarang kamu telah menjadi seorang Ibu," ucap Mak Ita pada sang anak.


"Iya sayang, selamat ya. Atas kelahiran putri kalian yang sangat cantik ini," kata Bu Rosma ikut menimpali.


"Iya Mak, Ibu, makasih ya." Dia masih lemas dan tak ingin berkata lebih banyak lagi.


Sesaat bayi di bersihkan, begitupula dengan Dia. Bu Rosma dan Mak Ita saling pandang karena mereka berdua tidak melihat Adi, yang seharusnya mengadzani putri kecilnya itu.


"Bu besan, anak kamu kemana?" tanya Mak Ita pada Bu Rosma.


"Iya, saya juga lagi mencarinya." Cukup simpel sebagai bentuk jawaban yang di berikan oleh Bu Rosma.


"De, kemana suami kamu?" kini tatapan Bu Rosma mengarah ke Dia, dan beliau pun bertanya tentang Adi.


"Buka saja kelambu sebelah, Bu." Bu Rosma mengeryitkan dahinya.


Kelambu, apa Adi tidur? atau dia juga ikut sakit.


Tanpa berkata apapun Bu Rosma langsung menyibakkan kelambu yang berada di sebelah Dia. Setelah selesai membuka rahang Bu Rosma mengeras.


"Bisa-bisanya, istri sedang berjuang dan bertaruh nyawa malah tidur. Di sini!" Bu Rosma sangat emosi kala melihat anaknya memejamkan mata, tanpa ia tahu kejadian yang sesungguhnya.

__ADS_1


"Bu," panggil Dia lirih.


"Kenapa sayang, nanti kalau suami kamu bangun biar Ibu hukum." Bu Rosma menimpali panggilan sang mantu dengan nada emosi, karena melihat Adi yang tak memperdulikan istrinya.


"Suami De, pingsan. Itu bukan tidur," ucap Dia menjelaskan.


"Apa!"


Bu Rosma begitu syok dan sangat terkejut, mendengar perkataan dari menantunya.


"Kenapa bisa pingsan De?" tanya Bu Rosma.


"Lebih baik nanti tanya saja sama orangnya, biar jelas kenapa bisa pingsan." Jawab Dia pada mertuanya.


Mak Ita yang baru saja keluar dari kamar mandi pun, menatap ke arah Dia dan besannya.


"Kalian kenapa menatap saya seperti itu." Mak Ita yang di tatap merasa risih.


"Tidak ada apa-apa," ucap mereka berdua berbarengan.


Sesaat kemudian.


Adi telah sadar dari pingsannya, dan bertanya-tanya mengapa dirinya bisa di tempat tidur khusus pasien.


"Perasaan tadi lagi menemani Dia, kok sekarang ada di sini ya?" Adi yang baru sadar dan teringat kalau sewaktu tadi ia menemani sang istri.


Akhirnya Adi bangun dan berjalan untuk menemui istri dan buah hatinya.


Saat Adi sudah berada di sebelah Dia, yang ada tatapan ketiga perempuan yang sangat dicintainya itu tampak aneh.


"Kenapa tatapan kalian sangat menakutkan," ujar Adi.


"Kau ini! bisa-bisanya pingsan gak tau situasi," kesal Bu Rosma.


"Kamu itu lelaki, kenapa cemen banget sih." Mak Ita menyahut.


"By, aku yang lahirin kenapa kamu yang mati, eh maaf pingsan." Dia juga ikut menyerang suaminya, karena tiba-tiba pingsan.


Adi hanya menggaruk kepalanya, dan menyengir kuda."


Jika di dalam novel atau di dunia perfileman, saat sang istri melahirkan setelah memakan begitu banyak perjuangan. Maka sang suami akan mengucap kata terimakasih lalu mengecup kening istrinya. Namun di sini tidak ada keromantisan, yang ada saling maki.


Seperti sekarang.


"Badan saja di gedein, setempel di tubuh di banyakin. Nyatanya elu cemen," ucap Mak Ita memaki.


"I--iya bagaimana lagi Mak, bayangin itu kepala keluar dari lubang sekecil itu kan ngeri." Jawab Adi tanpa punya rasa malu, sedangkan Mak Ita dan yang lain menghela nafas dan tepok jidat.


"Besan, dulu kamu ngidam apa, sampai-sampai punya anak seperti itu?" tanya Mak Ita, yang ganti menatap wajah sang besan.


"Dulu cuma ngidam pengen naik kambing Mak, tapi gak kesampaian." Bu Rosma berkata sambil mengingat masa lalu nya.


Sekarang yang ada di pikiran Mak Ita, kenapa bisa sampai mempunyai menantu serta besan yang seperti mereka.


Iya kali naik kambing, belum sampai naik si kambing udah pada ngeluh duluan.

__ADS_1


Mak Ita kesal bercampur ingin tertawa, namun beliau masih punya takut dengan dosa. Jadi lebih baik di tahan.


__ADS_2