
Hari yang du nanti-nanti telah datang, Indah tampak anggun dengan gaun berwarna putih. Begitupula dengan Haikal dengan mengenakan jas yang berwarna senada dengan milik pengantin perempuannya.
Ijab qobul pun di telah berlangsung dengan hikmat.
Sah.
Sah.
Seketika Haikal berteriak bersorak gembira.
"Hore, saya punya bini!" teriakan Adi seketika membuat semua orang tertawa.
Sedangkan Indah menunduk malu.
"Kau ini sangat memalukan!" seru Adi yang langsung memegang erat krah jas yang di kenakan oleh Haikal.
"Kan mengungkapkan rasa bahagia, bos." Jawab Haikal dengan senyuman menawannya.
"Iya tidak begitu juga," ucap Adi sedikit kesal melihat ulah Haikal.
"Apa dulu kamu tidak seperti ini?" tanya Haikal. Sedangkan Adi menatap kesal pada seseorang yang berada di sebelahnya.
Bagaimana mau merasakan, orang nikahnya pakai di grebek sama warga. Kalau gak di grebek mana mungkin macan tutul jadi istriku, gumam Adi dalam hatinya.
"Makanya jangan enak-enak di tempat umum, di grebek kan." Setelah berucap Haikal langsung pergi meninggalkan Adi, dan langsung menggandeng wanita yang baru saja sah menjadi istinya.
"Dasar asisten laknat," umpat Adi dengan wajah memerah karena menahan malu. Kenyataannya memang begitu, kalau ia menikah dengan hasil terciduk. Ah momen menyakitkan namun hasilnya membuat hati berbunga-bunga.
Sedangkan Dia yang tengah menggendong Cahaya, kini menghampiri Adi yang masih berdiri mematung akibat ulah Haikal, yang terus saja mengatainya.
"By," panggil Dia.
"Eh iya sayang, kenapa?" tanya Adi pada sang istri.
"Apa kamu akan terus berdiri di situ, sampai para undangan sudah tidak terlihat." Ucapan Dia sontak membuat Adi tersadar.
"Eh, udah pada pulang semua ya?"
"Kamu bertanya apa sedang menanyai aku, By." Dia sedikit kesal karena suaminya sedang do mode loading.
"Jadi aku salah ya," ucap Adi.
"Kamu tidak salah, hanya sangat menjengkelkan." Jawab Dia, lalu dirinya meninggalkan Adi yang masih berdiri, dengan posisi yang tetap.
Sebelum meninggalkan acara sakral yang di gelar pagi ini, sebelumnya Dia sudah berpamitan pada Indah, dan nanti kalau acara resepsi ia akan datang lagi.
Melihat Dia yang sudah tidak terlihat, Adi buru-buru menyusul sang istri. Tidak mau jika sampai Dia merajuk, jadi Adi sedikit berlari.
__ADS_1
"Sayang tunggu! sayang." Adi terus berlari sambil berteriak memanggil sang istri.
Dia pura-pura tidak mendengar dan langsung masuk ke dalam mobil, biarpun Cahaya terus memanggil nama sang ayah.
Huf.
Dengan nafas yang tersengal akhirnya Adi sampai di mobilnya, dengan segera membuka pintu mobil, ia pun langsung masuk di tempat kemudi.
"Sayang kamu marah," ucap Adi dengan menatap istri yang sangat ia cintai.
"Siapa yang marah." Jawab Dia dengan suara datar.
"Itu," ucap Adi dengan mata memandang.
"Aku gak marah," sungut Dia menimpali.
"Terus ngapain kamu ninggalin suami kamu," ujar Adi.
"Aku kesal sama kamu By, bisa-bisanya kamu melamun dan tidak segera berjalan untuk pulang." Jawab Dia dengan wajah yang masih menghadap ke arah jendela.
Adi yang merasa salah, hanya diam tidak lagi bertanya. Jika tidak! Istrinya akan berubah menjadi macan tutul.
Mobil pun di nyalakan dan meninggalkan tempat di mana Indah dan Haikal mempersatukan cinta mereka dalam sebuah ikatan tali pernikahan. Di masjid, janji suci di ucapkan, dan di depan penghulu serta saksi mereka mengikrarkan kata suci.
Adi dan Dia sudah berada di jalan menuju arah pulang. Sedangkan Haikal dan Indah di kamar pengantin, tepatnya di hotel.
Indah yang berada di kamar mandi hampir setengah jam belum juga keluar.
Sedangkan Haikal yang berada di luar, menunggu Indah tak kunjung keluar. Membuatnya resah, dan mondar-mandir bak setrika.
"Apa saya harus mengetuk, ah tapi kok gemetar ya tiba-tiba tubuh ini." Haikal berkata lirih.
"Sebaiknya ku ketuk saja pintunya," ucap Adi lagi.
Lantas ia pun berjalan dan menuju ke arah pintu kamar mandi.
Tok.
Tok.
Tok.
"Sayang, kamu kok lama banget si." Haikal memanggil-manggil Indah yang tak kunjung keluar juga.
Indah tidak menyahuti walau sebenarnya mendengar. Hanya saja dirinya terlalu gengsi jika harus meminta tolong pada lelaki yang baru saja telah sah menjadi suaminya.
"Indah, kamu denger kan." Haikal mengulang lagi ucapannya, karena Indah tak juga menimpali.
__ADS_1
CEKLEK.
"I--iya aku denger kok, ada apa?" tanya Indah dengan suara lirih.
"Kenapa kamu belum ganti juga, apa kamu nyaman memakai gaun itu?" Haikal ganti bertanya, karena istrinya tak kunjung ganti. Hampir memakan setengah jam lebih di dalam kamar mandi, tetapi masih mengenakan pakaian yang sama.
"I--itu resliting susah di turunin." Jawab Indah dengan kepala menunduk, ia sangat resah dan begitu sangat grogi. Bagi Indah ini yang pertama baginya sekamar dengan lelaki, meski Haikal telah sah menjadi suaminya.
"Kenapa tidak minta tolong padaku," ucap Haikal.
"Aku takut." Jawab Indah singkat.
"Hadap lah ke depan, biar aku bantu melepaskan." Haikal menyuruh Indah untuk berbalik, karena ia akan membantu menurunkan resliting.
Saat Indah sudah berbalik, dan Haikal secara perlahan menurunkan resliting yang ada di gaun tersebut.
Sejenak Haikal menelan ludahnya, karena melihat kulit mulut Indah yang terpampang jelas di matanya.
Glek.
Berulang kali Haikal mengusap bibirnya dengan telapak tangannya. Tak bisa di pungkiri kalau saat ini ia sudah tidak tahan, apa lagi sesuatu yang berada di bawah sudah seperti kayu. Mengeras dan ingin segera di senang kan.
"Kamu, kok lama amat sih." Ucapan Indah seketika membuat kesadarannya pulih, namun itu hanya sesaat. Nyatanya Haikal menurunkan gaun itu hingga sampai ke lengan.
Haikal tidak menggubris ucapan Indah, malah ia mendekatkan hidungnya di ceruk leher milik Indah, dan itu membuat sang pemilik tubuh merakan sedikit getaran yang membuatnya merinding.
"Sayang apa boleh," bisik Haikal pada Indah.
Bisikan itu semakin membuat panas dingin, namun ia juga harus tahu. Kalau masih ada acara satu lagi yang belum di gelar.
"Ingat kita masih ada acara lagi," ujar Indah memperingatkan Haikal.
"Tapi burung cucak rowo ku sudah mangut-mangut." Jawab Haikal.
"Memangnya di bawah mana, cucak rowo nya?" tanya Indah dengan wajah polos.
"Kamu gak tahu, ada lagunya lho." Adi mencoba menghilangkan rasa tegang yang ada di bawah sana. Jadi, ia menghibur dirinya sendiri agar tidak semakin terpancing oleh hasrat yang kian menjadi.
"Boleh." Jawab Indah.
Manuk ku manuk cucak rowo ... Cucak rowo ... Dowo buntute...."
STOP!
Indah sangat geli kala mendengar lagu jawa tersebut, karena memang ia asli dari jawa jadi mengerti akan lagu yang di nyanyikan oleh Haikal.
"Aku belum selesai," ujar Haikal.
__ADS_1
"Memangnya kamu dapat lagu dari mana, hum."
Sekilas Haikal menggaruk kepalanya, karena itu lagu yang di berikan oleh Adi. Jika akan melakukan malam pertama Adi menyuruh Haikal menyanyikan lagu tersebut.