
"Gak usah kepo." Jawab Dia, dan gawai miliknya terus saja berdering.
"Angkat lah, berisik tau." Ujar Adi sembari meminum kopi saat dirinya mendengarkan dering gawai yang nyaring.
Lagian ini no siapa sih, kok gak ada namanya. Batin Dia.
["Halo Assalamualaikum."] Sapa Dia terlebih dulu.
[" Waalaikumsalam, hye saya mau nagih janji sama kamu."] Ucap seseorang dari sebrang sana.
Lantas Dia pun berpikir apa dirinya ada janji dengan orang.
Ah iya, gue lupa. Ini kan orang yang waktu itu di Cafe. Batin Dia.
Dia yang tengah asik mengobrol dengan seseorang. Sedangkan Adi menatapnya dengan rasa tidak suka.
"Ekhem." Dia tak bergeming saat Adi berdehem.
"Ekhem, hem, uhuk uhuk." Untuk beberapa kalinya Dia tak menoleh, hingga akhirnya.
Bugh.
"Dasar bocah tengil." Suara lantang Adi, karena dirinya di lempar oleh bantal yang berada di sofa.
Sssst.. Dia memberikan Isyarat untuk Adi, dengan meletakkan jarinya di mulut, agar tak bersuara lagi.
Adi yang merasa kesal karena hampir setengah jam di abaikan oleh istri kecilnya itu, lantas mengambil gawai yang masih menempel di telinga Dia, dan mematikannya.
Click.
"Apaan sih, Om." Dengan kesal Dia membentak Adi.
"Apaan, apaan, kamu yang apa apaan! Dasar istri durhaka orang ada laki nya telponan sama cowok lain." Adi tak kalah kesal dan menyerang balik Dia.
Dia tak bergeming saat suami hasil terciduk itu memarahinya dan berkata kalau dirinya durhaka.
"Apa, masih mau ngeles kayak sepeda," tutur Adi lagi.
"Enggak," jawab Dia.
"Ya sudah buat sarapan, ini hampir siang. Apa kita akan seperti ini terus." Ujar Adi.
Lalu Dia melangkah ke dapur untuk mencari makanan apa yang bisa di olah nya. Di dalam kulkas ada ayam, kangkung masih cukup lumayan setok sayuran untuk beberapa hari ke depan. Dan dengan cekatan dirinya mengolah kangkung menjadi menu sarapan pagi yang sederhana namun nikmat. Dan ayam yang di masak lengkuas menjadi pilihannya, tak lupa ia menyediakan kerupuk di atas meja sebagai pelengkap.
__ADS_1
"Ah, akhirnya selesai juga." Ucap Dia, dan setelah itu dirinya memanggil suami nya.
PUKUL 7:00.
Semua sudah tertata rapi di meja.
"Om Duda, udah kelar noh buruan sarapan," Dia lekas memanggil suaminya untuk segera sarapan.
"Bisa kah kamu memanggil yang sepantasnya sebagai pasangan pasutri." Keluh Adi, pada Dia.
Kapan aku di panggil sayang, hubby atau mas, ini boro-boro panggil gitu, om duda dan om duda lagi yang di sebutin, cih. Saya kan udah gak duda lagi.
"Kenapa itu muka, senyum, senyum kagak jelas." Dia yang melihat Adi senyum senyum sendiri merasa merinding pasalnya pasti otak nya lagi traveling, pikir Dia.
"Apaan sih." Setelah mengatakan itu Adi lekas berdiri dan menuju ke meja makan.
"Yakin enak," Dengan memicingkan sebelah matanya Adi berkata.
"Kalau gak enak jangan di makan, dan gak usah protes." sergah Dia.
Emm, enak. Melebihi makanan di resto, pinter juga ini bocah masaknya. Puji Adi dalam hatinya.
"Lumayan." Ucap Adi.
Bener-bener kebangetan, gue yang masak malah gak di kasih sisa, sebenernya lapar apa doyan sih orang ini. Yang pastinya dua-duanya kali ya." Hanya protes lewat batinnya, dan tak ingin menjadi panjang jika dirinya protes di hadapannya.
TAK BERAPA LAMA KEMUDIAN..
Pada akhirnya Dia tak jadi sarapan, dan hanya memakan selembar roti tawar yang di beri olesan coklat.
"De! cepetan." Adi berteriak memanggil Dia, yang tak kunjung keluar dari kamar.
"Apaan sih lebay deh." Timpal Dia.
"Dasar preman."
"Bodoh, uda deh jangan mulai, daripada Om duda nyali banci." Dia menyerang balik lontaran itu, karena memang menurutnya memang begitu. Badan besar otot gede, tatto macan yang hendak menerkam mangsanya. Tapi sayang, penakut.
"Berangkat yuk," ajak Adi.
"Kemana," jawab Dia.
"Ke kamar, kita kan belum belum belah semangka. Masa kamu lupa." Dengan senyuman menggoda Adi berkata.
__ADS_1
Dia langsung mendelik kan matanya.
"Pis sayang." tambah Adi lagi.
"Dasar mesum."
Saat mereka hendak melangkah ke luar, terdengar suara ketukan pintu.
"Buka gih Om, saya mau ambil tas dulu." Tanpa menjawab Adi langsung turun dari tangga dan akan membuka pintu.
"Menyebalkan, hampir karatan saya nunggu di bukain pintu tau gak!" Ternyata yang datang Bu Rosma, masuk sambil marah-marah karena cukup lama berada di depan pintu.
"Iya kan turun tangga dulu Bu," jawab Adi.
"Baru turun jam segini?" tanya Bu Rosma dengan senyuman yang merekah, entah apa yang di pikirkan nya saat ini.
"Iya." Tiga huruf yang keluar dari mulut Adi.
Asik, bentar lagi dapat anak kodok. Batinnya dengan rasa yang bahagia.
"O.." belum sempat Dia berkata, namum terhenti saat dirinya melihat siapa yang datang.
"Ibu," tegur Dia. Lalu menyalami Bu Rosma dan mencium tangannya dengan takzim.
Huh, katanya baru keluar dari kamar, kok rambutnya gak basa ya. Bu Rosma berpikir dengan keras, bukanya kalau pengantin baru itu biasanya akan melakukan malam pertama, tapi coba lihat jalannya pun biasa dan rambutnya kering.
"Bu, kenapa menatap De, seperti itu," Dia yang merasa di tatap dari mulai ujung kepala sampai ujung kaki seakan dirinya benar-benar merasa risih.
"Mantu, Kamu kok jalannya biasa dan rambut kamu gak basah? Bukannya kata Adi kalian baru saja keluar dari kamar ya."
Dia, dan Adi, langsung menepuk jidat nya masing-masing, ternyata Bu Rosma salah dalam mengartikan kata-kata Adi yang di ucapkan padanya, yang kata adi barusan dirinya dan Dia baru keluar kamar.
"Apa maksud Ibu kita belum mengadakan ritual belah semangka?" Adi menjawab apa yang di pikirkan oleh Ibunya tentang dirinya.
"Tentu, memang apa lagi," sahut Ibu nya.
"Dia lagi terkena palang merah Bu, dan untuk kita yang baru saja keluar kamar itu maksudnya, kita uda siap mau berangkat kerja, bukan begit De." Adi lantas menyenggol tangan Dia.
"I-iya Bu, De lagi kena palang merah." Dia lalu mengikuti sandiwara suaminya untuk membuat Ibunya percaya kalau apa yang di katakan itu benar. Ya walau salah dan berbohong pula.
Bu Rosma yang mendengar kan Adi serta Dia, langsung lemas. Pasalnya dirinya mengharap anak kodok dari Adi dan juga Dia.
"Tapi setelah berakhir palang merah, buat kan Ibu cucu ya," ujar Bu Rosma.
__ADS_1
Emang buat anak kek buat boneka apa, tinggal minta terus jadi, dasar mertua gak beres. Dia tak berhenti untuk terus mengumpat, karena dirinya pagi-pagi sudah di buat kesal dengan permintaan yang nyeleneh.