
Setelah perdebatan waktu itu, Riki dan Cahaya semakin tidak terpisahkan. Hari-hari yang sudah di rancang saat menjadi sebuah keluarga, terasa indah bagi orang yang mendengarnya.
Adi beserta sang istri yang berada di taman menikmati semilirnya angin, saling mengungkapkan tentang isi hatinya dan mencurahkan. Segala kegundahan antara keduanya.
"Sayang, apa kita akan hanya menua berdua saja di rumah ini?" Dia nampak sedih dan itu terlihat wajahnya yang tertunduk.
"Bisa jadi seperti itu. Biar bagaimanapun setelah menikah Cahaya bukan lagi hak kita. Sama halnya dengan kamu dulu setelah menjadi istriku, kamu pun bukan lagi hak Almarhumah emak. Bukan begitu," Dia yang mendengar penuturan dari sang suami hanya bisa pasrah, berharap jika keduanya mau pulang ke kediamannya.
"Iya aku tahu, tapi apa tidak bisa mereka tinggal di sini saja." Jawab Dia yang penuh pengharapan.
"Itu semua terserah mereka nanti sayang," timpal Adi.
Kini sepasang suami istri duduk di bangku panjang, Dia yang bersandar di pundak sang suami dengan tangan yang melingkar di perut. Membuat suasana sedikit berbeda.
Angin sore yang berhembus sesekali menerpa anak rambut milik Dia, hawa yang mulai dingin membuat keduanya memutuskan untuk masuk. Nampaknya hujan akan turun karena terlihat awan putih yang kini, sudah menjadi kelabu.
"Sayang masuk, sepertinya hujan akan segera turun." Adi pun mengajak sang istri untuk masuk karena angin cukup kencang, hingga dedaunan berguguran dan saling berjatuhan terbawa angin.
Dia hanya mengangguk.
Tepat saat mereka berdua masuk dan benar saja hujan mulai turun dan membasahi tanah, memberikan kesuburan bagi semua tanaman meski rumput sekalipun.
"By, kenapa putrimu belum juga pulang?" Dia sangat kuatir dengan Cahaya karena hujan cukup lebat.
"Cahaya masih bersama Rury, nanti juga pulang itu anak." Adi mencoba menenangkan sang istri yang terlihat gusar. Bagaimanapun dia adalah seorang ibu yang punya rasa cemas dan kuatir terhadap sang anak.
"Iya By, harusnya kan Cahaya secepatnya pulang. Toh perginya pakai mobil juga kan," ujar Dia berkata pada suaminya.
"Iya juga sih," jawab Adi yang membenarkan ucapan istrinya.
Hingga malam menyambut hujan belum juga reda. Sedangkan Dia terus menghubungi nomor Cahaya pun tidak bisa.
Tuuut.
NOMOR YANG ANDA TUJU SEDANG DI LUAR JANGKAUAN.
Maka seperti itulah bunyi operator yang menjawab.
"Duh kemana sih ini anak! Teleponnya tidak aktif pul," gerutu Dia di dalam hati.
Sekarang telah melewati waktu magrib. Namun, sang putri belum juga pulang.
__ADS_1
"Sayang, berdoa saja jika anak kita sedang baik-baik saja." Adi masih berusaha untuk menenangkan Dia yang terus kuatir.
"Apa aku telepon Riki saja ya? siapa tahu itu anak tahu akan keberadaan Cahaya?" Dia pun meminta pendapat dari sang suami yang akan menghubungi Riki.
"Coba saja, sayang." Adi pun mengangguk setuju.
Akhirnya Dia pun menghubungi Riki dan telepon pun terhubung.
Tuuut.
📞"Halo, Riki."
📞"Iya ada apa calon mama mertua?" tanya Riki di balik telepon.
📞"Apa kamu sedang bersama Cahaya," ucap Dia dengan perasaan gelisah.
📞"Oh, Cahaya? Itu anaknya sedang tidur dengan Rury, tadi Cahaya mengeluh sakit perut dan selesai minum obat ternyata dia ketiduran." Mendengar penjelasan dari Riki, Dia pun sedikit lega.
📞"Lantas mengapa bisa ada di rumah kamu?" cerca Dia.
📞"Jangan salah paham dulu. Kita tadi habis makan bertiga tapi dalam perjalanan Cahaya mengeluh sakit perut. Merasa kasihan makanya ku bawah ke rumah," ucap Riki panjang lebar.
Mendengar penuturan dari Riki, Dia yakin kalau lelaki itu bisa menjaga Cahaya dengan benar. Pada akhirnya telepon pun terputus.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sedangkan di rumah Riki yang tidak kalah megahnya. Cahaya tertidur dengan sangat pulas, bersama dengan Rury.
Riki yang sedang berkutat di dapur hendak memasak untuk memberi makan anak orang, kini dirinya sudah siap dengan celemek yang sudah menempel di tubuhnya.
Tidak membutuhkan waktu lama. Sekitar setengah jam Riki sudah menyiapkan hidangan sederhana.
"Semoga Cahaya suka dengan masakanku," gumamnya seraya menata piring di meja makan untuk tiga orang.
Di saat Riki akan membangunkan mereka berdua, terlihat dua sahabat itu keluar dari kamar.
"Kalian akhirnya bangun juga," tegur Riki pada mereka.
"Maaf Om, aku terlalu nyenyak tidur sampai membuat repot."
"Iya, kami minta maaf." Rury menyahuti ucapan Cahaya.
__ADS_1
"Sudah-sudah. Lebih baik sekarang kalian cuci muka dan setelah itu kita makan," ujar Riki yang menyuruh keduanya untuk membersihkan diri.
Mereka tidak menjawab karena keduanya langsung berjalan ke arah wastafel, yang berada di tidak jauh dari tempat mereka kini berdiri.
Tidak lama kemudian keduanya telah selesai mencuci muka dan sekarang, berjalan ke arah dapur mengikuti langkah sang pemilik rumah.
"Duduklah dan segera makan. Setelah itu saya akan mengantarkan kalian pulang," ucap Riki menjelaskan.
"Oh iya, tadi mama kamu telepon menanyakan keberadaan kamu dan ku jawab kalau kalian, sedang berada di rumahku." Riki berkata lagi karena ia juga baru ingat kalau calon mertuanya sedang menghubunginya.
"Terus Om, bicara apa sama mama?" Cahaya menatap lekat ke arah lelaki yang berada di depannya.
"Saya bilang kalau kalian sedang berada di sini dan sedang tidur," ujar Riki dengan mulut yang dipenuhi oleh nasi.
Mereka berdua sedang menikmati masakan yang di olah, oleh lelaki yang dengan umur yang sudah terbilang matang.
"Om, masakanmu enak." Cahaya memuji masakan sang kekasih karena rasanya memang menggugah lidah.
"Jangan memujiku seperti itu. Saya bukan koki seperti ayah kamu," tandasnya pada Cahaya karena memuji yang sangat berlebihan.
"Tapi memang betul kalau masakan Om Riki enak," sahut Rury yang membenarkan perkataan Cahaya. Jika, masakan Riki memang juara dan itu ada di urutan ketiga, dari masakan sang mama dan juga ayahnya.
"Ya sudah buruan habiskan nanti keburu malam," ujar Riki memberi tahu agar secepatnya menyelesaikan makannya.
semua telah selesai makan, Cahaya dan Rury pun membersihkan meja sebelum di tinggal pulang olehnya.
"Ay, elu beruntung bisa menikah dengan lelaki impianmu." Rury ingin sekali menikah dengan sosok yang bisa menghargai wanita serta menghormati setulus hatinya.
"Elu terlalu berlebihan, mungkin ini sudah takdir yang tuhan kirimkan padaku." Jawab Cahaya.
Tanpa mereka sadari ternyata orang sedari tadi di bicarakan telah mendengar, semua percakapan antara Cahaya dan Rury.
Lalu Riki pun perlahan menghampiri keduanya yang masih asik dengan obrolan, yang tidak jelas menurut Riki.
Ekhem.
Riki berdehem agar berhenti untuk bercanda.
Ekhem.
Deheman sedikit lebih keras namun itu berhasil. Membuat Cahaya langsung menoleh ke arah Riki yang menyilangkan, kedua tangannya berada di dada.
__ADS_1
"Mau sampai kapan kalian terus mengobrol," ketus Riki pada mereka berdua.
"Eh."