Jodohku Di Tangan Duda Somplak

Jodohku Di Tangan Duda Somplak
BAB 16, Gara-gara Obat pencuci perut. Berujung Sakit


__ADS_3

Huh, akhirnya kelar semua pekerjaan gue, bikin es seger kali ya." Dia yang kini berada di dapur setelah menyelesaikan pekerjaannya. Di rasa tenggorokannya tercekat karena merasa haus, jadilah ia membuka kulkas untuk segera membuat minuman dingin. Namun saat Dia menikmati minuman itu tiba-tiba dikagetkan oleh suara dering gawai nya.


"Ish, siapa sih pagi-pagi telepon, baru juga jam sembilan" Gerutunya sambil melihat siapa yang menghubunginya. Ternyata oh ternyata yang menelepon bosnya.


"Mau apa orang ini" Gumamnya. Akhirnya Dia pun menggeser tombol yang berwarna hijau dan.


["Assalamualaikum,"]


["Waalaikumsalam, De cepat datang ke rumah saya sekarang juga."]


["Ta...."]


Tut..


Tut..


"Eh buset belum juga ngomong udah main matiin saja, apa sih maunya itu orang! sebal deh gue," umpat Dia mengeluh atas sikap bosnya yang semaunya dan seenaknya sendiri, dan main matikan Hp begitu saja..


Dasar songong, umpat Dia di dalam hatinya.


Satu jam kemudian.


Dia sudah sampai di rumah megah milik Adi, dan sewaktu tadi sebelum ia berangkat. Adi WhatsApp Dia, jika sudah berada di rumahnya di suruh masuk dan langsung menuju ke kamar.


Apa menurutnya itu sopan, ah jelas dan tentu tidak!


Seorang cewek datang ke rumah cowok, apalagi cowok itu sendirian di rumah, dan lebih parahnya alamak duda pula, nasib-nasib. Kalau bukan karena kerjaan ogah banget rasanya. Sepanjang kakinya melangkah dan selama itu juga Dia tak henti-hentinya mengumpat.


Ceklek.


Sengaja aku langsung menaiki tangga dan membuka pintu kamarnya, terlihat jelas jika Pak Adi sedang tidak baik-baik saja. Karena di atas kasur ia meringkuk di bawah selimut. Dalam hatiku bertanya-tanya, bukankah Pak Adi mempunyai Ibu, lantas apa ini, mengapa ia malah menyuruhku untuk datang. Sungguh membingungkan bukan.


"Ah, rupanya kamu sudah datang."


"Seperti yang Bapak lihat, bukankah Bapak punya orang tua mengapa saya yang harus di repot kan sih," seru Dia dengan kesal.


"Apa kamu merasa keberatan," ucap Adi datar


"sepertinya begitu." Jawab Dia.


"Maaf."


Tumben ini orang enggak kek biasanya, biasanya udah mirip kek burung Beo, apa ini orang beneran sakit ya.


Perlahan Dia mendekati Adi, dan memegang keningnya dengan telapak tangannya 'Panas' dalam gumamnya.


"Kenapa gak periksa," ujar Dia.

__ADS_1


"Saya takut jarum, nanti kalau di suntik bukannya sembuh yang ada bertambah sakit."


Hahaha..


"Badan saja di gedein tapi nyali ciut." Ledek Dia.


"Puas belum kamu menertawakan saya!" seru Adi dengan sedikit menahan sakit.


"Belum sih."


Selebihnya menertawakan saya juga. Karena apa! Karena saya juga takut jarum, batin Dia dalam hatinya.


"Kamu belum tau saja rasanya di suntik apalagi di ambil darahnya sakit ngilu jadi satu."


Saat Adi menjelaskan Dia yang ada bertambah bergidik ngeri, karena sudah membayangkan.


"Ih serem."


"Udah jangan di lanjut saya ngeri dengernya," ujar Dia.


"Apa kamu juga takut," ucap Adi dengan mata memandang.


"Eng-enggak kok, si-siapa bilang, udah jangan ngomongin itu, ntar saya panggilan dokter tau rasa lho." Dia mencoba tenang walau grogi dalam berucap.


Adi pun tak meneruskan ucapannya setelah mendapat ancaman.


"Bapak sudah makan."


Baiklah saya tinggal sebentar, ingat jangan tanya saya keluar kemana.


Adi pun mengangguk patuh dan tak bertanya Dia, akan keluar kemana dengan siapa. Eh kenapa gini amat ya.


Setelah menuruni anak tangga satu demi satu sampailah dirinya di dapur, dan mencari beras untuk membuatkan bubur bos nya. Jika bos nya itu sembuh maka Dia pun terbebas.


Satu jam kemudian Dia sudah beres untuk membuat satu mangkok bubur beserta teh hangat, untuk di berikan pada Adi.


"Ini makan lah," Lalu Dia menyodorkan bubur yang masih mengepul itu di tangan Adi.


"Tidak!"


"Apa takut saya racuni lagi."


"Tentunya ia, dan untuk kemarin itu pastinya ulah kamu yang memberikan obat pencahar di piringku." Karena Adi yang curiga dan dirinya juga yakin jika itu perbuatan bocah tengil itu.


"Elah, ketahuan..Hahaha."


"Nah kan, sudah saya duga."

__ADS_1


"Maaf, kemarin khilaf dikit."


"Dasar bocah nakal, lihat akibat perbuatan mu, saya jadinya lemas dan tak bisa bekerja."


Dia tak berani menatap wajah lelaki itu, diam dan tertunduk, karena aksi balas dendamnya berujung membuat bos nya sakit.


"Angkat wajahmu, jika benar kamu tak membumbui dengan racun lagi buktikan."


Akhirnya Dia, mengangkat wajahnya, terlihat penyesalan karena membuatnya sangat bersalah, kini ia segera mengambil mangkok yang berada di nakas, lalu menyuapkan satu sendok penuh ke dalam mulutnya.


"Lihat Pak, saya saat ini sedang jujur."


"Sekarang giliran Bapak." Ucapnya lagi.


"Apa kau sengaja memberikan sendok bekas kepada saya,"


"Jika saya tertular penyakit bisul penyakit kurap dan kudis apa ka...."


Hup.


"Jangan banyak bicara, habiskan bubur ini, setelah itu minumlah obat anda."


Dia yang merasa geram, sakit saja masih bisa ngoceh apalagi sembuh, dan belum sempat bos nya berkata namun dengan cepat Dia, menyuapkan bubur ke dalam mulutnya, agar berhenti untuk berceloteh.


Sedangkan Adi, Adi bak anak kecil yang habis di marahi oleh Ibunya, diam tanpa banyak kata, menunggu suapan demi suapan untuk masuk ke dalam mulutnya.


Tak terasa satu mangkok habis oleh Adi, entah dia lapar atau memang sakit karena kelaparan, jika biasanya orang sakit tak mau makan, berbanding terbalik dengan Adi. Karena begitu lahapnya memakan bubur buatan Dia.


"Ini obatnya, dan ini tehnya."


Adi pun mengambil obat yang berada di tangan Dia, lalu meminumnya.


Tak begitu lam, setelah Adi meminum obat, rasa kantuk mulai menguasai, dan alhasil dirinya perlahan terlelap.


Sedangkan Dia, dia juga lelah dengan menungguinya, karena menjaga orang sakit itu membuatnya bertambah lelah, entah berapa kali dirinya menguap dan tanpa di sadari dirinya juga ikut terhanyut di alam mimpi, dengan bersandar di sofa dirinya ikut memejamkan mata.


Kasian bocah itu tidur dengan cara duduk dan hanya bersandarkan sofa, Adi yang terbangun netra nya menangkap bocah yang merawatnya barusan.


"Berat juga ini bocah, makanan apa saja sih yang di makan, badan kecil tapi bobot mirip besi" gumamnya sambil membopong dan di letakkan di kasur.


Kini berganti Adi yang tidur di sofa panjang, dan tak mungkin juga dirinya tidur seranjang dengan bocah tengil itu, bagaimanapun dirinya normal.


Huammm..


"Huh, kenapa gue bisa pindah di sini" lirihnya, dan Dia pun melihat keadaan tubuhnya yang terbalut oleh bat caver, milik Adi yang di gunakan nya sewaktu tadi.


Ah syukur lah, masih utuh semua, eh tapi ... Di mana orang itu.

__ADS_1


Dia pun menghela nafas lega, dan kini netra nya mencari sosok yang memindahkannya tadi, dan Dia yakin akan hal itu. Sepertinya Dia juga tak punya keanehan saat tidur jadi di pastikan dirinya di angkat oleh seseorang.


Ternyata Adi tertidur di kursi panjang sebelah kiri, dari ranjangnya, pantas lah dirinya tak melihat. Karena posisinya tengah menyingkur.


__ADS_2