Jodohku Di Tangan Duda Somplak

Jodohku Di Tangan Duda Somplak
94 . MENYANDANG GELAR (AYAH DAN IBU)


__ADS_3

Adi yang saat ini tengah berjalan menyusuri koridor, guna menyelesaikan adminitrasi karena Dia sudah izinkan untuk pulang. Keadaan ibu dan anak sehat dan baik-baik saja, jadi dokter memperbolehkan pulang.


Adi juga sudah menghubungi Haikal soal pekerjaannya, jadi sementara Haikal yang akan menghandle semuanya.


Haikal juga akan melihat istri bos nya itu ke rumah sakit untuk melihat baby girl.


Sedangkan Adi yang sedang berjalan tak luput dengan tatapan orang-orang yang ada di sekitarnya.


Seperti seseorang yang sehabis di perkosa, baju dengan kancing yang lepas semua. Tangan lebam akibat gigitan dan cubitan, serta rambut yang amburadul karena jambakan yang sangat menyakitkan.


Tanpa di sadari Adi seseorang tengah menertawakannya di ujung jalan. Melihat dandanan yang tak karuan membuat lelaki itu terus tertawa tiada henti, namun itu dari kejauhuan. Jika dari jarak dekat bisa di pastikan nyawanya tak akan bisa kembali lagi.


Setelah puas tertawa, Haikal dan Indah menghampiri Adi.


"Di, kamu habis di tiduri sama bandot." Haikal berkata layaknya orang tidak memiliki dosa.


"Apa mulutmu minta di jahit, datang-datang bukan bawa makanan malah mengataiku." Adi menjawab dengan datar.


"Bos, lagian kok bisa amburadul gitu sih?" tanya Indah yang penasaran juga akan Adi yang sudah acak-acakan.


"Ini kelakuan teman kamu! makanya seluruh badan saya seperti ini," terang Adi pada Indah selaku karyawannya.


Haikal yang mendengar pun langsung bergidik ngeri, kala mendengar Adi berkata.


"Kenapa istrimu mirip macan, terlalu bar-bar." Haikal berkata sembari bergidik ngeri.


Adi tidak lagi menyahuti dan memilih langsung melengos meninggalkan sepasang kekasih itu.


"Kenapa itu orang?" tanya Indah pada kekasihnya.


Haikal tidak menjawab, hanya mengangkat kedua bahu. Lalu mengajak Indah berjalan untuk segera menemui Dia.


Tidak berapa lama kemudian mereka berdua sampai di ruangan di mana Dia berada.


"De, selamat ya." Indah mengecup pipi sahabatnya sembari mengucapkan selamat.


"Wahhhh ... Cantik sekali anak kamu De," ucap Indah berbunga-bunga saat melihat bidadari kecil itu berada di gendongan sang ayah.

__ADS_1


"Tentu orang Mak Bapaknya cantik sama tampan," cetus Dia dengan bangga.


Sedangkan Haikal merasa iri karena Adi telah menikah dan baru di karuniai anak, sedangkan dirinya. Dirinya di usia yang sama dengan Adi belum juga menikah, padahal ia sangat ingin segera menimang bayi kecil dan sangat menggemaskan.


"Kenapa kamu?" tanya Adi yang melihat Haikal melamun.


"Tidak ada apa-apa." Jawab Haikal datar.


...----------------...


Tadi setelah mengurus adminitrasi Bu Rosma dan Mak Ita beres-beres, karena mereka semua hari ini akan pulang.


Setelah menempuh satu jam, perjalanan dari rumah sakit ke kediaman Adi. Kini semua orang duduk di ruang tamu, dan ternyata nenek dari suaminya serta tante Adi. Sudah menunggu kepulangan seseorang yang telah mendapat gelar orang tua tersebut.


"Sayang selamat ya, telah menjadi seorang Ibu." Nenek Adi memeluk cucu menantunya dengan sangat hangat, begitu pula dengan tante Monika adik dari ibu Adi.


"Terimakasih ya Nek, Tante." Dia pun menjawab dengan perasaan haru , karena semua keluarga besar Adi menerima dirinya sepenuhnya.


"Ya sudah Bu, biarkan De beristirahat. Kasian setelah berjuang demi menghadirkan bidadari cantik yang saat ini berada di gendongan mak Ita.


Akhirnya Dia berpamitan pada semua orang untuk istirahat, dan untuk sementara dirinya menempati kamar yang ada di lantai utama, karena tidak mungkin untuknya jika harus naik turun tangga.


DI KAMAR.


"Sayang, terimakasih sudah memberi kado spesial buat aku." Adi sangat bahagia dan perlahan mendekati sang istri, lalu menciumnya dengan perasaan yang begitu bahagia.


"Sama-sama." Dia yang menimpali, sembari meletakkan bayi mungil yang belum di beri bari nama oleh mereka.


"Sayang, untuk nama kamu apa aku yang ngasih?" Adi bertanya soal nama untuk anak mereka.


"Kamu saja By," ucap Dia pasrah.


"Cahaya Adia Dwipangga, menurut kamu bagaimana." Adi meminta saran atas nama yang ia berikan.


Dia diam sejenak guna mencari arti dari nama tersebut.


"Bagus By, lantas Adia itu artinya apa?" kini berganti Dia yang bertanya soal nama tengah yang di berikan oleh suaminya.

__ADS_1


"Adia itu singkatan dari Adi dan Dia, sayang. Itu di ambil dari nama kita, sedangkan Dwipangga kan marga yang ada di keluargaku." Adi menjelaskan secara detail soal nama beserta artinya.


"Bagus, baik lah aku setuju." Jawab Dia dengan di iringi senyuman.


Adi mencoba mendekati Cahaya yang sedang terlelap di dalam Box bayi, ia mengelus lembut pipinya, serta menciumi pipi gemolnya.


"Sayang, kita hanya akan mempunyai satu orang anak saja." Ucapan Adi membuat Dia seketika mengentikan aktifitasnya yang sedang menata baby Cahaya.


"Kenapa?" tanya Dia yang penasaran, karena tidak ingin menambah anak lagi.


"Aku gak mau kamu kesakitan lagi, seperti tadi pagi. Aku gak tega kalau harus mendengan rintihan kamu yang sedang bertaruh nyawa demi menambah anak lagi." Dia sangat terharu mendengar jawaban dari suaminya. Akan tetapi bukankah itu sudah kodratnya sebagai wanita.


Dia diam dan tidak menyela ucapan dari Adi, karena Dia pikir kalau itu memang benar. Namun rasa sakit itu terbayar sudah dengan kehadiran baby Cahaya di tengah-tengah mereka berdua.


Oe ... Oe ... Oe.


Baby Cahaya menangis, sepertinya lapar dan ingin segera menyusu. Namun sampai detik ini Asi Dia tidak dapat keluar sama sekali, biarpun sudah di pancing.


"Sayang anak kita sepertinya lapar," ucap Adi memberi tahu sang istri.


"Asi ku gak keluar, By." Jawab Dia lesu, padahal ia tahu kalau Asi itu lebih bagus dari formula, nyatanya Dia malah tidak bisa memberikan Asi secara eksklusif pada anaknya.


"Adi yang bingung, dan di samping itu yang melihat istrinya sedih. Berusaha menghibur.


" Sayang, sudah lah jangan di paksa. Biar aku buatkan susu sebentar ya," ucap Adi pada Dia.


Adi sosok suami yang sangat baik, dan tak pernah sekalipun bergantung pada Dia, karena ia tahu. Kalau umurnya jauh berbeda dengan umur sang istri, maka dari itu. Selama ia bisa di situlah Adi tidak akan membuat repot istrinya...


Bayi mungil itu terus menangis, hingga mengundang orang-orang yang ada di ruang tengah.


"Sepertinya itu suara cucu kita, Mak." Bu Rosma menatap ke arah sang besan sembari berkata.


"Mungkin saja haus," sahut tante Soraya.


"Sepertinya ia." Mak Ita menimpali.


Namun itu hanya sesaat dan sudah tidak terdengar lagi, suara tangisan Cahaya.

__ADS_1


"Sudah tidak terdengar lagi, mungkin tadi haus," ucap Indah yang masih berada di kediaman Adi bersama Haikal.


"Bisa jadi." Jawab mereka berbarengan


__ADS_2