
Hari demi hari telah di lewati, bulan demi bulan kian berganti. Satu tahun sudah Dia bekerja di tempat Adi, namun seperti yang sudah-sudah tak ada ke akuran di antara mereka berdua.
Seminggu lagi hari kelahirannya, dan saat itulah dirinya genap di usia 18 tahun.
"Mak bentar lagi ulang tahunku, Emak gak ada keinginan untuk ngebeliin aku kado," dengan memakan kue basah yang bernama dragon sari, ih kok sok inggris banget sih, maksudnya nagasari, ia itu.
"Kagak punya duit buat beli kado." Jawab Emak nya enteng.
"Halooo, sebulan De, kasih tujuh juta sama Emak buat apa saja! ingat Mak jangan boros-boros."
Cetakk..
"Wow sakitnya luar binasa Mak," ucap Dia.
"Mau nambah lagi," ujar Mak Ita.
"Ogah cukup satu kali kehilangan tongkat cukup sa...."
"Diam! Berisik tau gak."
"Lagi asik nyanyi suruh diam."
"Suara mu sama suara kentut Emak, masih enakan suara kentut Emak."
"Astaghfirullah, sadis amat Mak."
"Ini nih contoh lidah gak bertuan, eh maksudnya gak bertulang mulut ceplas-ceplos, orang sebulan kasih Emak jatah tujuh ratus. Pakai bilang tujuh juta, emang gaji mu berapa?"
"Ya elah Mak, jangan tanya gaji nyesek dengernya, udah setahun kagak naik-naik."
"Emak kan tanya gaji kamu ngapa juga sampai keluyuran ke sana-sana,"
"Mak mah gak ngertiin anak!"
"Lah ngapa anak itu ngambek yah. Hahaha lucu" Gumam Mak Ita.
"Makkk."
Bugh..
"Dasar Emak durhaka,"
"Apa lu bilang."
"Kagak jadi Mak."
"Dasar."
Huh dasar Emak gak bisa ngertiin sama sekali, heran deh gue, sebenernya gue itu anaknya atau bukan sih. Batin Dia,
" Eh tunggu-tunggu."
Lalu dirinya berdiri dan berjalan menghampiri lemari yang terdapat kacanya, sambil memegang hidung, mata, serta pipi dan beralih netra nya menyusuri seluruh badannya.
"Mak gue putih sedangkan kulit gue. Aish menyebalkan, tapi hidung gue mancung sedangkan Mak sama Abang pesek, pipi gue tembem punya mereka tirus." Dia terus bergumam membandingkan antara dirinya Emaknya dan Abangnya, semua gak ada yang sama.
"Lalu gue anak siapa dong," ucap Dia lagi.
"Anak Mak lampir."
Sesaat Dia menoleh, ternya yang mengatakan barusan adalah Abangnya.
__ADS_1
"Woi kampret jangan kabur lu,"
"Bodoh amat."
Wlek.
"Dasar Abang durhaka!" Dia berteriak memaki-maki Abangnya yang sehabis mengatainya.
Keesokan harinya.
"Mak! De, berangkat kerja dulu."
"Assalamualaikum."
"Iya, hati-hati waalaikumsalam."
Setelah berpamitan Dia melajukan motornya dengan kecepatan sedang, namun di tengah perjalanan motornya tiba-tiba mogok.
"Ayo dong nyala, ini kenapa juga sih pakai mogok pula kan ngeselin" Gerutu Dia sambil mengotak atik motornya namun tetap saja kagak mau nyala.
Tiiinn.
Tiinn
"Woi berisik!" Teriak Dia karen dirinya berjongkok suara klakson terus saja bunyi hingga akhirnya membuat Dia berteriak karena bising.
Tinn..
Bener-bener ya ini orang. Batin Dia yang begitu geram.
Dan saat dirinya berdiri untuk melihat siapa yang terus menerus menyembunyikan klakson.
Duar..
"Apa, masih mau memarahi saya!"
"Tidak,"
"Bagus."
"Lagian bisa kan turun Bapak, tanpa membunyikan klakson,"
"Serah saya dong, orang mobil, mobil saya juga."
"Dasar sombong." Gumamnya.
"Kamu bilang apa barusan."
"Enggak bilang apa-apa cuma bilang itu nasi pecel sepertinya enak."
"Terus kamu ngapain di situ! Bukannya berangkat kerja malah nongkrong di situ,"
"Emang Bapak gak tau ya."
"Enggak."
"Buset saya belum kelar ngomong."
"Dari pada saya darah tinggi mending Bapak cabut deh dari sini," karena Dia kesal akhirnya menyuruh bos nya itu pergi.
"Kamu ngusir saya."
__ADS_1
"Iya, nanti kalau Bapak tetap di sini, pertama gak ada yang bantuin, ke dua gak ada cowok yang mau deketin saya, dan yang ke tiga, di kira saya sugar baby nya Bapak puas."
Bukannya pergi Adi malah tertawa terbahak-bahak dan masih diam di posisinya.
"Saya kan udah bilang, kalau kamu gak bakal laku,"
"Bapak nyumpain saya, jadi prawan tua."
"Kalau emang iya kenapa?"
"Dasar bos gila, bos nyebelin gak punya perasaan." Dia begitu emosi, tanpa di duga motornya sekarang tiba-tiba nyala, dan langsung menarik gas begitu kencang. Dan tak memperdulikan orang di sekitarnya yang terus memandangnya.
Tak lama kemudian sampai lah ia di tempat kerjanya.
"Sumpah gue kesel banget tau gak sama si bos itu," Dia mencoba menumpahkan kekesalannya pada Indah.
"Memangnya elu diapain sama si bos, jangan benci terlalu berlebihan nanti jadi cinta lho."
"Idih, apaan si elu itu, masa gue di sumpahin kagak laku dan gak cowok yang mau sama gue, dan ini bukan kali pertama lho ya dia bilang kek gitu, kan jadinya gue geram banget sama si bandot itu."
"Masa sih,"
"Masa gue bohong. Lagian untungnya apa coba, kesel gue pagi-pagi udah ketemu sama itu orang."
"Emangnya elu ada masalah apa sih sama bos, sampai-sampai segitunya?" Indah pun akhirnya memberanikan diri untuk bertanya, sudah setahun tapi sepertinya sulit di percaya bagi Indah. Mereka hanya sebatas bawahan dan atasan tapi mengapa sepertinya dua-duanya mempunyai dendam pribadi. Dan yang membuat Indah semakin pusing kadang akur kadang juga tidak! Kalau di pikir-pikir manalah mungkin gak punya hubungan khusus sedangkan hanya Dia yang berani mengumpat, mengatai dan memaki habis-habisan. Dan bosnya juga, bosnya akan terlihat hangat jika ada Dia, dan sekaligus jika mereka sedang bertengkar maka kekonyolan pun terjadi, jika tak ada Dia, maka sikap arogan pun muncul.
"Gak ada, hanya tadi pagi gue ketemu sama si bos karena gue ngumpat dia, jadinya ganti gue yang di beri sumpah serapah, masa iya sih gue kagak bakalan laku hanya karena kata-kata yang di lontarkan."
"Sumpah ya kalau ketemu orang itu lagi, gue bakal pecek di cabe gue kasih cabe yang banyak terus gue lempar ke empang."
Tanpa di sadari orang yang di omongin nongol.
Bisa-bisa perang dunia ke dua ini mah.
"Siapa yang kamu bikin pecek terus kamu lempar ke empang."
"Bapak," Dengan santainya Dia berujar.
"Kamu..." Sambil meremas tangannya di hadapan Dia, membuat nyalinya sedikit ciut.
"Ikut saya,"
"Kemana?"
"KUA,"
"Ngapain."
"Dasar bodoh, cepat ikut saya dan jangan banyak tanya ngerti kamu."
Dia pun langsung bungkam, dan menuruti kemauan Adi untuk mengikutinya kemana arah perginya.
"Segera masuk!" titah Adi pada Dia.
Dalam batinnya Dia sangat takut, kalau-kalau mau di bawa ke suatu tempat, lalu di ikat terus di perkosa, iiihhh serem.
Peletak.
"Auh, sakit tau, kenapa sih suka banget nyentil kening gue."
"Biar otak kamu encer."
__ADS_1
"Buang pikiran kotor kamu, saya tidak seperti apa yang kamu pikir." Sambungnya lagi.
Bagaimana dia tau kalau gue sedang ngebayangin yang tidak-tidak tentang gue yang akan di bawa kemana.