
Melihat putri satu-satunya terisak dalam pelukan sang mama, membuat Adi murka.
"I-tu tadi. Kami melihat om Riki jalan berdua sama perempuan dengan umur yang sejajar," terpaksa Rury memberi tahu kenapa Cahaya bisa seperti itu.
"Brengsek."
"Awas jika melihatmu nanti maka aku akan menghajarmu hingga puas karena kamu telah menyakiti anakku." Adi tidak berhenti mengumpat. Baru saja diberi restu malah anaknya dibuat sakit hati.
Cahaya semakin terisak tanpa tahu apa yang terjadi. Sedangkan kedua orang tuanya sudah merasakan kepulan di atas kepalanya.
Sedangkan di luar Riki terus berlari dan memaksa masuk ke ruangan Dia karena ia takut masalah akan semakin runyam.
BRAK.
Riki membuka pintu dengan kasar sehingga menimbulkan suara yang keras, sampai-sampai keempat orang tersebut menoleh secara bersamaan.
Tanpa melihat ada kedua orang tua Cahaya. Riki langsung menyakinkan kekasihnya itu, kalau tadi hanyalah salah paham.
BUGH.
PAKH.
BUGH.
Belum sempat Riki menjelaskan. Namun, sebuah bogeman mentah mendarat di pipi Riki beberapa kali, hingga terlihat di sudut bibirnya mengeluarkan darah segar.
"Kenapa kau malah memukulku!" sergah Riki dengan jemari yang mengusap darah di ujung bibirnya.
"Karena kau lelaki brengsek yang sudah melukai hati putriku," ucap Adi menyerang balik perkataan Riki.
"Ini hanya salah paham. Maka dengarkan penjelesanku," ujar Riki berharap jika semuanya mau mendengarkan apa yang akan dikatakannya.
__ADS_1
"Mau penjelasan apa lagi, Om! jelas-jelas Om telah mengkhianati aku dengan berjalan dengan wanita lain," Cahaya benar-benar sudah tertutup oleh kecemburuan yang berakibat fatal. Sehingga semuanya malah ikut campur dan menyerang Riki yang hanya seorang diri, tanpa ada pembelaan dari siapapun.
"Makanya dengar dulu! jika kita menikah lantas sikap kamu seperti ini maka ujung-ujungnya akan berakhir tragis. Paham kamu!" Riki mulai naik pitam karena selalu dipojokkan hingga ia berusaha membela dirinya sendiri.
"Apa maksud kamu!" Dia yang sedari tadi hanya diam dan mencoba menenangkan sang anak, kini ikut angkat bicara.
"Anak kamu sudah salah paham terhadapku, nyatanya apa yang dilihatnya bukan sesuai kenyataan yang sedang terjadi." Riki menjawab dengan suara lantang.
"Jangan banyak bicara! sekarang katakan dan jangan pula bertele-tele," seru Adi pada Riki.
"Ayah usir dia, aku tidak mau bertemu dengannya lagi." Cahaya menyuruh sang ayah untuk memerintahkan Riki keluar dari ruangannya.
"Tolong dengar saya dulu, Ay." Riki masih belum menyerah dan akan terus menyakinkan Cahaya beserta yang lain.
"Ayah."
Hiks … Hiks … Hiks.
"Tolong dengarkan sedikit saja, saya sangat mencintai kamu. Mana mungkin saya berpaling dan bermain api di belakang kamu," ucap Riki penuh penekanan.
Namun, lagi-lagi Cahaya tidak mau mendengarkan penjelasan dari mulut seorang Riki.
"Jika kamu tidak bisa untuk setia jangan menjanjikan anakku dengan surga yang akan kamu berikan, kalau pada akhirnya neraka yang kamu suguhkan." Sebuah kalimat sederhana namun bisa membuat seorang Riki, berkaca-kaca. Diam tanpa bergerak sedikitpun. Bak patung yang hanya diam tanpa bisa berkata.
"De, aku dulu kurang setia apa terhadap kamu. Aku dulu kurang berjuang apa supaya bisa mendapatkan hati kamu, nyatanya sedikitpun kamu tidak membalasnya. Kurang setia apa lagi sampai 20 tahun lebih rasa itu masih ada hingga saat ini. Hingga sosok Cahaya datang meluluhkan kerasnya hati yang sepenuhnya hanya ada nama kamu," Dalam hati Riki bersedih akan nasib percintaannya yang tidak pernah terbalas, sampai pada akhirnya hati yang sekeras baja luluh juga oleh kehadiran putri Dia.
"Kenapa diam!" sergah Dia lagi pada Riki.
"Aku akan selalu setia. Akan tetapi, jika seorang yang saya cintai lebih percaya dengan penglihatannya, dibandingkan saya. Lantas akan di bawah ke mana hubungan ini,"
"Mungkin kamu tidak benar-benar mencintai anakku," sanggah Dia yang masih kekeh jika di sini lah Riki yang bersalah.
__ADS_1
"Lebih baik kamu pergi jika tidak, saya akan menghajarmu lagi!" seru Adi dengan kedua tangan memegang kerah baju milik Riki.
"Saya tidak takut karena memang di sini saya tidak salah, saya akan pergi jika Cahaya mau mendengarkan penjelesanku dulu." Kata-kata yang keluar dari bibir Riki tidak membuat Cahaya luluh juga.
"Pergilah kejar cinta Om, aku tahu Om hanya kasihan melihat aku yang terus mengejar-ngejar iya kan." Cahaya pun menyahut dan ucapannya semakin memperkeruh suasana.
"Ya, saya memang tidak mencintai kamu karena sudah satu nama yang tidak bisa saya hapus dari hati ini. Namun, itu dulu sebelum saya benar-benar nyaman berada di dekat bocah mesum sepertimu!" Riki berkata dengan lantang berani karena menurutnya itu kenyataannya.
"Kenapa Om, selalu memanggilku gadis mesum!"
Huaaaaaa.
"Mama," Cahaya semakin membuat orang-orang sakit kepala akan tangisannya yang semakin keras.
"Aku sangat mencintai kamu, Ay. Saya … Saya tidak mau kehilangan kamu untuk saat ini maupun nanti," kini Riki berkata dengan kepala menunduk karena ia merasa benar-benar hancur.
"Ay, jika kamu sudah memilih jalan ini. Maka kamu pun harus bisa bersikap dewasa dan lebih baik dibicarakan dengan hati serta kepala dingin," Dia mencoba menasehati sang anak. Berharap jika Cahaya bisa menjadi gadis yang punya pikiran dewasa. Menyikapi masalah bukanlah dari emosi tapi dari hati ke hati menurutnya.
"Tapi, om Riki benar-benar jalan sama perempuan lain dan itu sangat jelas. Ma!" bantah Cahaya pada sang mama.
"Maka dengarkan apa yang sebenarnya terjadi!" gertak sang mama yang mulai geram akan sikap kekanak-kanakan Cahaya yang tidak mau, mendengar seseorang memberi penjelasan.
Cahaya yang mendapati dirinya di bentak pun langsung berlari ke arah sang ayah, menurutnya sikap sang mama terlalu berlebihan karena sudah membela orang yang salah menurutnya.
"Ay, alangkah baiknya jika kamu mendengarkan apa yang mama katakan." Adi pun setuju dengan usul sang istri.
"Ayah juga membela orang yang sudah berselingkuh di belakangku, apa Ayah juga membenarkan apa yang sudah dilakukan om Riki kepadaku?" dengan mata yang sudah sembab Cahaya menghakimi sang ayah, seolah-olah semua tidak menyayanginya dan lebih membela orang salah di matanya.
"Sekarang saya bertanya kepadamu, apa benar yang dituduhkan putriku terhadapmu?" tanya Adi pada Riki dengan tatapan yang seolah-olah meminta kejujuran.
"Apa yang dilihat oleh Cahaya tidaklah benar, maka dari itu di sini saya akan menjelaskan antara saya dan perempuan yang dibilang oleh Cahaya, adalah selingkuhan saya." Jawab Riki dengan wajah tegak.
__ADS_1
"Baiknya kita dengarkan penjelasan dari Riki, agar masalah clear dan tidak ada kesalahpahaman lagi." Dia mencoba menengahi pertengkaran antara Cahaya dan Riki.